• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia
Filosofi Kopi karya Dee
Judul: Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: TrueDee Books dan GagasMedia
Halaman: 137 hlm

Sebenarnya sudah lama mengetahui buku kumpulan prosa dan cerpen ini dari teman, namun baru bisa membaca e-booknya, itu pun minta dari adik kelas. Dan begitu membacanya, aku masuk dalam dunia yang Dee rangkai dari untaian kata-kata prosanya yang membentuk dunia. Benar-benar dalam namun mengalir semudah aliran air terjun.


Filosofi Kopi adalah kumpulan prosa pertama yang kubaca. Belum pernah kubaca buku semacam ini, dan aku sangat menikmati aliran kata-kata yang begitu indah dan bermakna. Dee tetap memakai tata bahasa yang ada, baku namun tidak kehilangan kesan puitis dan indah. Dee memang penulis yang memiliki rasa yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Kumpulan prosa-prosanya yang bermakna dalam benar-benar menyentakku dan menemukan diriku sendiri sedang berdiri menghadap sebuah cermin besar.

Ada satu judul yang begitu menarik dan memiliki makna yang aku suka. Mencari Herman. Di sana ada sebuah pepatah yang mengatakan. Bila engkau inginkan satu maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan tapi dua melenyapkan. Aku melihat betapa hidup terkadang egois dan inginkan dua hal sekaligus meski tahu itu sulit.

Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. - Mencari Herman

Spasi. Prosa ini, atau harus kusebut puisi? SPASI. Sungguh, aku mengagumi tulisan Dee ini. Begitu logis dan bisa diterima, logika tentang jeda dan kata yang takkan bermakna tanpa kehadirannya. Spasi. Menjadi favorit juga seorang sahabatku yang juga menggandrungi tulisan Dee karena kutulari virus Perahu Kertas dulu. Aku melihat sebuah fakta yang unik, tanpa ada jeda dan ruang...maka semuanya takkan bermakna. Begitulah spasi, kehadirannya tak terlihat, seolah hanya jarak antarkata yang memisahkan, namun tanpa dia semuanya hanya rangkaian huruf tak bisa dibaca, tak memiliki makna.

Rico de Coro. Imajinasi Dee tidak melulu tentang manusia, benda mati, atau perasaan. Begitu membaca Rico de Coro aku melihat dunia kecil yang Dee sebut sebagai Kerajaan Kecoak Dapur. Dimana seorang pangeran bernama Rico de Coro ternyata jatuh cinta pada seorang manusia, Sarah, anak pemilik rumah dimana kerajaan mereka berdiri. Namun kisahnya berakhir dengan pengorbanan besar Rico demi Sarah, demi putri impiannya. Dari kisah ini terpetik sebuah pelajaran, bahwa pengorbanan memang menyertai cinta. Cinta dan pengorbanan seperti dua mata koin, peluangnya sama 1/2 untuk terjadi.

With You [book review]

Judul: With You

Penulis: Christian Simamora & Orizuka (GagasDuet)

Penerbit: GagasMedia

Halaman: 298 hlm

ISBN: 9797805735

Ini adalah salah satu novel GagasDuet yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Beautiful Mistake dan With You adalah GagasDuet adalah yang kedua. Saya memang agak ketinggalan, tapi tidak ingin melewatkan novel yang well, saya tahu dari teman-teman kalau GagasDuet Kak Chris dan Kak Orizuka ini bikin geger, dalam arti yang positif tentunya.

Duet Gagas kali ini emang rada-rada kontroversial, *ciee...lebay deeh...* karena kiblat dan aliran Kak Chris dan partnernya Kak Orizuka yang melenceng jauuuuh. Tulisan-tulisan kak Chris terkenal dengan gaya centil, romansa yang meletup-letup dan membuat berdebar jantung yang membacanya, (catet, dari judul-judul buku yang udah Kak Chris tulisan aja udah jelas banget kayak gimana ngegemesinnya tulisan kak Chris itu kaan?) dan Kak Orizuka yang memiliki penulisan yang kalem, teen-centered, melow seperti naik kano di danau paling tenang di dunia namun selalu memberikan kesan mendalam hingga terakhir-terakhir aku nangis baca buku Kak Orizuka yang berjudul Fate, lalu I For You yang juga diterbitkan oleh GagasMedia.

With You terdiri dari dua kisah yang masing-masing ditulis oleh Kak Chris dan Kak Orizuka. Cinderella Rockefella oleh Christian Simamora dan Sunrise oleh Orizuka. Dan berikut adalah review dari saya untuk masing-masing novela ini.

Cinderella Rockefella by Christian Simamora

Gaya centil, meletup-letup, dan selalu menyajikan suatu kisah dengan cara yang membawa nuansa santai dan mengalir selancar air terjun Niagara, Kak Chris emang rajanya bikin pembaca dag-dig-dug seperti yang dirasakan oleh karakter-karakter dalam novela ini. Memang sih saya baru kali ini membaca tulisan kak Chris, tapi dari beberapa teman yang saya jumpai, mereka selalu bilang kalau novel-novel kak Chris emang bener-bener maknyus. Cara bertutur yang terkesan ngeflow dan nggak dibuat-buat melankolis-malah terkesan cablak dan blak-blakan-membuat gaya penulisan seperti Kak Chris ini meninggalkan kesan ‘iiih, gemesss!’ di tengah perjalanan membaca hingga sampai di kata terakhir novelnya.

Dan Oh well, seriously! Abis baca Cinderella Rockefella biasanya di otakku akan berputar lagu apa yang seolah disetel otomatis untuk menyesuaikan kesanku setelah membaca. Dan apa lagu yang saat itu berdendang dalam benakku? Melinda – Cinta Satu Malam, OOOMAIGAT! Cindy beneran jatuh cinta dalam waktu semalaman! GILEEE, Jere kayaknya udah ngejampi-jampiin Cindy lewat kesederhanaan dan apa adanya cowok itu. Dan oh, shit, I gotta say it! And they’re tryin’ to attract one each other! Aku kadang gak terlalu suka sama romansa yang hanya didasari oleh ketertarikan fisik, (say it, dari penceritaan antara Cindy dan Jere udah jelas kalau fisik jadi main appeal di sini, tapi lambat laun mulai berubah dari hati ke hati, halah kayak rubrik di majalah aja.. -__-“). Tapi novela ini pengecualian, begitu membaca, aku terhipnotis sama cara kak Chris bercerita. OMG, master Chris emang jago bikin pembacanya ketawa-ketiwi-merengut-ketawa-senyum-senyum-merengut lagi-lalu akhirnya bilang ‘haaah, ya ampuuun...gemes deh gue!’

Abis baca tulisannya Kak Chris bentuk dan cara mereviewku jadi rada-rada nggak biasa yah...kok aku jadi ikutan centil, sih? Whooaa...

Sunrise by Orizuka

Khas Kak Orizuka. Cerita manis, bergaya remaja yang ringan dan mengalir seperti air mancur yang tenang tapi ada kejutan-kejutan manis yang terselip di scene atau plotnya. Tidak seperti Kak Chris yang hampir selalu membuat pembacanya kipas-kipas karena saking panasnya plot antara Cindy and Jere. Dua gabungan novella yang istimewa, seratus delapan puluh derajat berbeda tapi dengan cantiknya membuat kesan yang sulit dilupakan. Ide cerita di Sunrise ini menurutku tidak terlalu baru (tentang pasangan yang baru putus lalu balikan), tapi selalu Kak Orizuka membungkus kisahnya dengan ide-ide cemerlang lainnya. Memberikan sentuhan romantic dan exotic pantai dan laut di Karimunjawa sukses membawaku merasakan seolah-olah cerita ini bergerak seperti FTV yang kadang aku tonton sepulang dari kampus. Hahaha. Pesona Karimunjawa memang menjadi titik daya tarik dan poin plus. Tapi kisah-kisah antara Juna dan Lyla itulah yang membuatku kadang tersenyum dengan haru dan menahan tawa karena masa remaja mereka. Ungkapan-ungkapan yang dipakai Kak Orizuka inilah yang selalu menarik, membuat gaya penulisannya tidak membosankan dan berciri khas.

Dan patutlah saya memberikan bintang lima dari lima yang saya punya untuk duet ini. It’s totally different but damn so touching! After you stroke down from the roller-coaster effect as you finished reading Cinderella Rockefella, you are to dance slowly but gracefully like you’re dancing on the ocean’s wave when you’re in Sunrise pages. Believe me or not!

Judul: Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 300 halama
ISBN:9797805891

Karya ketiga dari Mbak Prisca Primasari (setelah E-clair dan Beautiful Mistake: Chocorreto) ini masih dibalik dengan sentuhan Eropa. Berlatarkan bumi Paris dan sentuhan khas Rusia yang menjadi ciri khas dari Mbak Prisca ini, novel Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa ini menyuguhkan kisah yang unik. Mengapa unik? Karena menurut saya ide cerita mbak Prisca ini tidak umum dipakai. Kisah cinta Vinter dan Florence yang dipertemukan dengan 'kebetulan' yang mungkin hanya bisa terjadi dalam imajinasi saja ini menjadi terasa bukan seperti kebetulan, melainkan takdir yang memang harus terjadi. Mbak Prisca membuat kisah yang begitu singkat, dengan tempo alur yang cepat untuk rentang waktu dan adegan yang terjadi. Namun hal itu tidak membuat saya kehilangan ketertarikan pada kisah Vinter dan Florence ini. Sungguh, kebetulan menjadi terasa nyata dan benar hanya dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Saya sering membaca adanya semacam hal-hal yang terjadi secara kebetulan di sebuah novel. Namun tidak ada yang senyata dan semasuk akal kebetulan yang terjadi antara Florence dan Vinter.


Florence melarikan diri dari rumah karena orang tuanya memaksanya untuk ikut kencan buta dengan laki-laki yang bahkan tidak dia kenal. Memiliki trauma dengan hubungan bersama laki-laki membuat Florence enggan untuk kembali mencobanya. Dia pergi ke Honflour demi melarikan diri dan bertemu secara kebetulan dengan Vinter, seorang laki-laki yang menarik perhatiannya lewat mata biru yang mengingatkannya pada simbol salju. Hari demi hari Florence lalui di Honflour bersama Vinter. Petualangannya bersama pemuda itu menyisakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan pada harinya dia harus meninggalkan Vinter untuk memenuhi janji pada ayah dan ibunya untuk pulang. Aku jadi ingat drama Rooftop Prince yang juga dihiasi dengan kebetulan-kebetulan seperti dalam novel ini. Sungguh, aku pasti sangat terkejut jika menjadi Florence. Mengapa? Yah, lebih seru baca langsung saja di novel ini.

Satu hal yang agak mengganggu saat membaca novel ini adalah, tempo alur yang berubah dengan cepat. Seolah terkesan terburu-buru. Namun itu semua tidak menjadi masalah dan aku tetap menikmati novel ini. Selain aku menyukai novel dengan setting luar negeri, puisi-puisi dan trivia tentang budaya dan musik klasik dalam novel ini membuatku memiliki pengetahuan lebih.

Novel ini memiliki nuansa romantis, melankolis dan dingin. Bukan dingin yang negatif, tapi sejuknya musim dingin. Suasana Eropa, Paris, membuat kesan klasiknya makin kental, terlebih lagi dengan ide menjadikan karakter-karakternya memiliki profesi sebagai seniman, pemain teater, pelukis, dan musisi membuat kesan seperti benar-benar membaca kisah klasik dari Eropa.

Dan saya sedikit bertanya-tanya, mengapa selalu Paris dan Rusia? Sepertinya penulisnya sengaja ingin membangun image karya-karyanya sebagai kisah klasik yang dramatis yah... ^_^
Judul : Remember When
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media (2011)
Halaman : 252 hlm
ISBN : 9797804879

“Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa.”
Pertama yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah sinopsisnya. Membaca sinopsisnya terasa menyayat hati. Begitulah, aku suka sinopsis yang sudah mampu mencuri perhatianku dengan kata-kata yang tertata rapi dengan makna yang dalam. Aku tidak mengira bila novel ini adalah novel remaja pada umumnya. Ceritanya menurutku sederhana, ide-ide ceritanya pun menurutku sudah sering dipakai oleh penulis lain. Tentang kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia. Empat sahabat yang disatukan dan dipisahkan karena satu hal, yang semua orang sebut sebagai cinta. Kisah remaja SMA yang sudah-sudah memang lebih sering tentang pacaran, putus-nyambung lalu happy ending. Namun entah mengapa Remember When ini membuatku melihat Freya, Adrian, Moses dan Gia seperti aku melihat kejadian nyata. Mereka, perasaan-perasaan mereka, dan kisah mereka seolah begitu real. Perasaan-perasaan yang terbangun pada masing-masing karakter membuat novel remaja ini tidak terkesan picisan seperti kebanyakan teenlit yang hanya mengandalkan konflik jatuh cinta dan pacaran-putus-nyambung lalu happy ending. Remember When, berkat cara penulisan yang bagus telah menegaskan bahwa ide cerita sesimpel dan sesederhana apapun bisa dibuat istimewa dengan cara penulisan dan rangkaian alur dan plot yang tepat.

Freya dan Gia. Dua sahabat yang seperti langit dan bumi. Freya dikenal sebagai gadis yang pintar, introvet dan antisosial entah bagaimana menemukan kecocokan dengan Gia yang dikenal lebih supel, periang, pandai bergaul dan tentunya memiliki kecantikan dewi khayangan. Kisah Remember When ini diawali saat keduanya menerima pernyataan cinta dari Moses dan Adrian yang juga merupakan sahabat karib.

Moses dan Adrian. Keduanya tumbuh dan besar bersama sebagai sahabat sejak kecil hingga merekapun saling mengetahui baik-buruknya masing-masing. Seperti Freya dan Gia, Moses dan Adrian juga merupakan dua pribadi yang bertolak belakang namun bisa menjadi sahabat. Moses lebih cenderung pendiam, kalem dan kutu buku seperti Freya. Sedangkan Adrian lebih ceria, ekspresif, dan populer. Moses adalah tipe cowok kalem yang suka menghabiskan waktu duduk belajar atau membaca buku sedangkan Adrian lebih memilih bermandikan keringat di lapangan basket.
Dan keempatnya memiliki kisah yang klise. Pernyataan cinta, hubungan yang mulai berubah seiring perubahan hati dan pada suatu ketika apa yang sudah mereka tata rapi memang selayaknya dipugar. Mengapa? Karena di tengah perjalanan, mereka menemukan cinta yang tidak lagi bisa disembunyikan, yang terjalin pada dua orang yang ‘dulu’ tidak mungkin terjadi.
Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang membaca kisah Remember When ini. Jadi sepertinya saya tidak akan mereview kisahnya sampai detail, (tidak ada spoiler lebih dari itu). Aku suka mendalami karakter-karakter novel yang kubaca, karena itu aku bisa belajar membuat karakter yang kuat untuk tulisanku sendiri. Nah, di sini aku khusus untuk mendalami karakter Moses. Mengapa Moses? Hm, karena dari Freya, Adrian, Moses dan Gia, Moses-lah yang entah bagaimana kurasa kurang kuat, kurang memiliki sikap. Entah mengapa, di kisah ini dia terkesan tidak begitu memiliki bagian (padahal bukannya ada empat karakter utama ya di sini?). Selain itu aku menemukan sedikit keburukan pada Moses yang memberikan kesan dia terlalu sempurna. Baiklah, inilah Moses di mataku.

Moses. Namanya terdengar asing bagiku karena belum pernah mendengar sebelumnya. Pemuda ini dikenal sebagai ketua OSIS yang memegang peringkat paling atas di sekolah. Pintar bahkan genius, begitulah Moses. Hari-harinya diisi rapat-rapat OSIS, bimbingan belajar, mengerjakan PR, membaca buku dan hal-hal lain yang sepertinya semua anak pintar lakukan. Namun aku tidak tahu mengapa Mbak Winna Efendi tidak memberikan deskripsi penampilan Moses secara fisik. Apakah dia tampan, biasa-biasa saja, aku bahkan nggak keren sama sekali, aku tidak tahu. Hanya ada satu hal ciri dari Moses, yaitu kacamatanya. Jadi gambaranku tentang Moses adalah cowok berkacamata, berseragam abu-abu putih rapi nan kelimis dan berwibawa karena dia ketua OSIS. Tidak ada ciri-ciri fisik tentang seperti apa wajah Moses hingga aku kesulitan membayangkan seperti apa Moses itu. Jika aku berpikir Adrian itu mungkin mirip Zac Efron di High School Musical, Gia seperti Selena Gomez dan Freya seperti Emma Roberts, maka aku tidak bisa membayangkan aktor siapa yang mewakili wajah Moses. Oh, Moses...aku penasaran seperti apa kamu dimata Mbak Winna sebenarnya...

Nah, lebih jauh tentang Moses adalah...aku nggak bisa lebih mengenalnya karena menurutku dia tidak mendapatkan lebih banyak porsi untuk menggambarkan perasaannya lebih jauh. Berbeda dengan Adrian dan Freya yang seolah-olah memiliki lebih banyak ruang untuk bercerita (ingat, Remember When dikisahkan dari sudut pandang masing-masing karakternya). Selain itu Moses berbeda dengan yang lain. Jika Freya memiliki masa lalu pahit karena kehilangan ibunya, dan begitu pula Adrian maka Gia memiliki kisah pahit karena dia sudah merelakan hal yang paling seorang gadis jaga untuk diserahkan pada Adrian meski pada akhinya mereka tidak bisa sama seperti dulu. Apa yang Moses miliki? Apakah hanya luka karena pengkhianatan pacar dan sahabatnya saja? Kurasa dari keempat karakter ini, Moses memiliki nasib yang lebih beruntung daripada yang lain. Freya dan Adrian sama-sama kehilangan ibu. Tapi Moses? Apakah Moses memiliki sedikit saja sejarah hidup yang pahit? Ini membuatku tidak bisa bersimpati pada Moses. Dia terlalu baik, terlalu sempurna. Setidaknya ada satu konflik yang Moses sendiri miliki, mungkin riwayat cintanya pernah ditolak atau dia mencintai seseorang tapi tidak sempat meraih, atau mungkin konflik keluarga seperti yang Freya dan Adrian miliki. Itu yang aku lihat dari Moses.

Mungkin Mbak Winna akan menjawab pertanyaanku, “Mbak, Moses itu kalau jadi nyata mirip aktor siapa, yah?” Hahaha, dan selain itu ada hal yang membuat Moses menjadi agak misterius, hm...Moses emang agak-agak misterius dengan segala sifat-sifatnya. Dan entah mengapa aku jadi terpikirkan apakah Mbak Winna akan membuat kisah Moses sendiri nantinya.
Sekian review dariku yang lebih fokus pada karakter Moses. Review ini memang khusus kubuat setelah membaca ulang Remember When yang sebelumnya sudah pernah kutulis review novelnya. Untuk mengingatkan kesan lagi, awal aku membaca novel ini kurasa ini tidak lebih dari novel-novel remaja biasa. Kebanyakan dan sudah standar dan bahkan konfliknya sangat klise dan cenderung seperti cerita sinetron. Tapi karena keajaiban cara menulis Mbak Winna lah yang membungkus kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia menjadi lebih dari sekedar cerita remaja saja. Seperti yang kukutip di awal review ini, Remember When memiliki makna yang mendalam.

“Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya,”

Namun ironisnya, tidak semua cinta seperti itu. Itu cinta Freya dan Adrian. Bukan Moses atau Gia. Dan bukan pula yang kurasakan. Cinta memiliki jalannya sendiri untuk mempertemukan kedua belahan jiwa, kurasa seperti itulah.

Judul: Lola and the Boy Next Door

Penulis: Stephanie Perkins

Penerbit: Dutton Books

Halaman: 338 hlm

ISBN:9780525423287

Lola Nolan is just trying to get over her first love by keeping up her relationship with Max, her rockstar boyfriend. Lola comes to the blur of her life when her beautiful nightmare across her over the night. The twins Bells come back, the two of Bell. Calliope and Cricket Bell. Those whom Lola won’t think about even she really tries to forget that in the past they had such a frienemiship. Calliope was too much about her and always be the one who put Lola in a pair of shoe that no one would take it upon to stand on. She always has a crash with Calliope as their last broken friendship. But Cricket? Lola spends all of her life to try to over him.

When the deal with her two dads, her mother who never wants to take care of her and put Lola in Nathan dan Andy’s side while she was supposed to try a new life but always failed. And the deal with the boyfriend, Max. Lola has to proof everyboby that she’s good and deserve to get the one, the one who’s good also, the one whose name is Cricket Bell.

Cricket (geek, innocent, unforgettable)

Kisah ini mungkin mirip dengan kisah-kisah lain serupa. Tentang cinta pertama masa kecil yang tetap tinggal di hati pemiliknya. Tentang keluarga yang harus dipertahankan dan tentang mendapatkan kepercayaan orang. Lola, I say she’s a kinda talented fashion designer someday. She’s smart dan knows what she should do with the wigs, make ups, dress, boots and other accesories rather than she knows how worth she is to deserve someone like a very valuable Cricket Bell. Lola melewati hari-hari terberat dalam hidupnya. Hari-hari dia menjadi pembohong, berbohong pada Nathan dan Andy, kedua ayahnya, berbohong pada Max, pada Cricket dan pada dirinya sendiri.

Clashes and clashes are the part of life. So does it with Lola’s. When she knew that the Bell’s family set back to the house next door, she can’t imagine how to survive when the twins are always shadowing at her windows. Actually, Lola can make it easy, but the more she runs the more everything’s blurred. So Lola stop and take the decision. Desicion to let her self saying the truth. The truth that she can try to love Norah, the mother, again despite of her disapearance when Lola is still baby up to before now. It’s also about the truth that Max is not the one anymore because the one has always been Cricket.

The cherries are meeting in time. When she can see thing clearly and filled with full of Lola. Not the one who was lost and insecured. The first love meets and tied together, like what she has dreamt about. She and Cricket. Lola and the boy next door.

The story is fast moving and naughty. Very teenagers I thought, those who like something like sweets and heartwarming will like this novel. Apart from the part of how stupid Lola, but I can’t judge that the stupiness of Lola doesnt take any part of the story, stupid Lola makes it story, I just can feel a ‘click’ when she and Cricket are going so much with their unrevealed desire each other. Making me jealous so badly, I shouldn’t say that Cricket deserves someone more than Lola while the fact they seem definitely made for being together. (T_T)

It’s the first english teenage novel I read and I surprised with a lot of slangs and free compounding form of words. It’s nnice and great to see that it’s easy made the word that explain the story. Yeah, maybe i am lame for not updating this but i should fill up the blank bottle of my experience in reading teens novels. Especially those written in english. It can help my exploring english and i can increase it as well as i use it when reading. You know what, I think english in the real one is like in the novel tales. The sentences, the expression and the words play. It’s a little distraction with how dump Lola and how coward Cricket, but that’s why this story ends perfectly because it’s like what Cricket said “I know you aren’t perfect. But it’s a person’s imperfections that make them perfect for someone else.”

I LOVE CRICKET!!! @_@


Judul: Best Friends Forever

Penulis: Orizuka

Penerbit: Puspa Populer

Halaman: 168 hlm

Tahun: 2012

ISBN: 9786028287760


Persahabatan Sid, Landa, Rama dan Cokie yang memiliki kisah unik ini benar-benar menarik untuk diikuti. Sayang, HSP dan Love United aku belum membaca dua judul sebelumnya. Hehe, karena ini adalah hadiah ulang tahun dari temanku, sungguh gak nyangka kalau aku dapat novelnya Kak Orizuka. Hohoho...


Aku pikir kalau ceritanya hanya romance remaja seperti yang sudah-sudah. Tapi aku salah. Aku benar-benar salah. Meskipun ceritanya tentang remaja SMP, SMA dan kuliah sama sekali nggak segampang dan seringan teenlit-teenlit lain. Best Friends Forever cenderung mengisahkan Sid, Lando, Rama dan Cokie melalui masalah mereka masing-masing yang disampaikan oleh penulisnya dengan apik. Ide cerita apa saja pasti akan menjadi luar biasa tergantung bagaimana penulis merangkai dan mengolah emosi jalan ceritanya. Dan Best Friends Forever inilah buktinya. Aku menyukai ide-ide sederhana yang digarap menjadi luar biasa. It’s like making something special from the ordinaries. Dan sekali lagi, kak Orizuka menulisnya dengan pas. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Semuanya pas. Hingga saat aku membacanya nggak kerasa udah berakhir ceritanya.


-Sid-

Sid diceritakan sebagai si pirang yang entah bagaimana dia mendapat rambut pirangnya itu. (Kak Orizuka, emangnya Sid kenapa ya kok rambutnya bisa pirang gitu?) hehe, karakternya periang, yang selalu jadi ice breaker bersama Julia pacarnya. Keduanya ini benar-benar cocok, si cowoknya cute dan usil, si Julia cerewet dan meletup-letup. Hahaha, mereka bikin suasana jadi nggak garing.

-Lando-

Lando. Nggak usah dipanjang-panjangin deh. Lando, ini keren, pinter tapi evil mood on-nya nggak bisa di turn off. Sampai-sampai Sid harus siap-siap kalau si Lando ngamuk. Sosok Lando ini seperti prince of ice, yak bener banget. Jika Sid ice breaker, Lando ini cool karena kepinterannya dan cool karena sikap dingin plus juteknya. Tipe-tipe kayak gini nih yang kadang malah bikin klepek-klepek. Jarang ngomong, sekalinya ngomong bikin orang beku jadi es. Whoa...prince of ice.

Rama

Si pahlawan kesiangan. Rama. Huuft. Benar kata Lando, Rama emang nggak pernah bisa berhenti mencampuri urusan orang lain. Dan memang Rama selalu bisa memecahkan masalah orang lain. Rama bahkan yang menyelamatkan Lando dari kemungkinan dia tidak bisa sekolah dan terus menjadi anak brandalan. Rama, the Hero. Yak, dia bijaksana dan suka ngasih ceramah ini itu buat nyadarin orang yang dia hadapin. Sampai-sampai Lando eneg liat Rama dan nggak tahan juga, tapi akhirnya mereka berteman juga. Rama, dia ini sosok penengah yang aduh...keren.

Cokie

Tampan. Tampan. Tampan. Apa lagi? Tampan. Duh, kayaknya Cuma itu yang bisa kubilang tentang Cokie. Eh, satu lagi. Dari keempat karakter itu. Cokie hanya satu kelebihannya, dia yang paling tampan paling banyak fansnya. -___- Cokie kelewat tampannya sih, jadi aku nggak bisa jelasin lebih. Kak Orizuka bisa menjelaskan tampannya Cokie tanpa harus menjelaskan Cokie punya ini, punya itu tapi ya yang baca pasti bayangin gimana tampannya si Cokie ini. Hebat, Kak Ori!

Huh, kayaknya kalau mau review jalan ceritanya nggak asik deh. Hehehe, karena pasti lebih seru kalau kalian dapet kejutan dengan langsung baca aja Best Friends Forever ini.

Kisah mereka berempat diawali dengan kisah Lando (mereka masih SMP nih). Mereka jadi berteman karena satu perkelahian dengan geng SMA lain yang malakin mereka. Nah lalu kisahnya masih pas mereka SMP, tapi udah kelas 9 nih ceritanya jadi udah mau jadi SMA. Nah, ini menceritakan Rama yang bertemu Lara dan seperti biasanya Rama mengurusi masalah orang lain (Lara). Setelah itu mereka lulus dan masuk SMA yang sama. Di sini mulai kisah Lando dan Aida (tapi sayang hanya sedikit). Lalu Sid dan Julia yang dapet masalah sama adik Julia. Dan pas kuliah, ganti kisahnya Cokie deh. Tapi dijamin ini keren banget. Sumpah. Kayak nonton film yang ada ‘several years ago...’ lalu berpindah jadi scene ‘several years later...’ keren deh!

Aku penasaran sama si Lando dan Aida. Gimana ceritanya mereka jadian? Hm, aku sempat berharap kalau akan ada plot tentang Lando dan Aida, udah ngarep eh ternyata udah ganti cerita. Yah, gak apa-apalah. Siapa tahu ntar kak Ori mau bikin lagi. Wehehehe. Pas baca Best Friends Forever sumpah yang ada di otakku, Harry, Liam, Zayn dan Nial yang One Direction! WHOAAA~~~

Baca BFF ini bikin aku lupa kalau novel ini hadiah ulang tahunku yang ke-20. Berasa umurku balik ke 4-5 tahun lalu deh. Hahaha. Bagi yang suka teenlit BFF cocok banget jadi bacaan pas senggang di liburan. Sekali duduk dan nggak bisa berhenti baca. And Orizuka’s novels make me want to meet her directly!!! @_@


Judul : Beautiful Mistake

Penulis: Sefryana Khairil & Prisca Primasari

Penerbit: GagasMedia (2012)

Halaman: 260 hlm

ISBN: 979-780-539-0

Well, meski agak telat membaca karya duet mbak Sefry dan mbak Prisca ini aku merasakan benang merah antara kedua kisah berbeda yang terbukukan dalam satu judul Beautiful Mistake. Dreamland dan Chokoreto memang dua kisah yang sama sekali tidak berhubungan namun punya benang merah sehingga bisa disimpulkan menjadi Beautiful Mistake. Salut untuk kedua penulis hebat ini!

Aku tidak terlalu rajin mereview buku, hanya sebagian yang jadi favortiku aku review. Karena itu mungkin reviewku terlalu dangkal, yah…hehehe, tapi memang ini yang mungkin bisa menjadi feedback dariku mengenai karya-karya penulis favoritku. Maklum ya mbak Sef, mbak Pris… :D

~~~Dreamland~~~


Ini tentang mimpi yang sudah tidak bisa Nadine lanjutkan, harapannya yang harus dia hapus. Tapi suatu ketika Nadine menemukan harapan baru dan mimpi yang baru bersama Fajar, hanya saja lelaki itu terlalu takut akan semua hal dan ragu pada mimpi yang ingin dia wujudkan bersama Nadine, sosok yang hadir dalam kehampaan yang ditinggalkan seseorang di hati Fajar. (Sedikit aja, nanti jadi spoiler gak seru, kan?)

Anyway, aku pikir kisahnya sederhana tapi penulisnya membuatnya istimewa dari caranya bertutur. Mbak Sefry yang kuketahui juga menyukai dunia fotografi seakan-akan menghadirkan sosok Nadine dari dirinya, kisah ini memang lebih baik ditulis sepanjang kisah Dreamland, tidak terlalu panjang…apabila kisah Nadine dan Fajar dijadikan satu novel sendiri mungkin tidak akan terasa ‘dreamland’nya, tidak akan menjadi seistimewa Dreamland ini. :) Aku menyukai quotes dan beberapa bagian dari Dreamland yang syarat makna. Khas mbak Sefry.

Salah satunya adalah: “Ada yang aneh dan ada yang hilang, aku coba cari ternyata nggak bisa aku temuin karena semua yang hilang itu ada di kamu.” – Dreamland by Sefryana Khairil.

Mungkin karena sudah dijatah berapa halaman, jadi kesannya plot bergerak begitu cepat. Aku agak bingung sama Fajar yang memang benar menurutku dia pengecut. Hehe, maaf ya Om Fajar, soalnya Om sih bikin mbak Nadine bingung…(iya nggak mbak Nadine?). Dan juga temennya Nadine yang terkesan tidak mendukung Nadine dan Fajar, berbeda dengan Omen yang seringkali menasihati Fajar dengan bijak. Setting Bali, fotografer dan bartender, ay! Mbak Sef, briliaant~~!

***Chokoreto***

Karya mbak Prisca identik dengan Jepang, Rusia, musik klasik, dan cokelat. Bagi mbak Prisca mungkin menulis karyanya adalah pekerjaan paling menyenangkan karena bisa menuliskan apa yang menjadi kesukaannya menjadi sebuah karya yang bisa dibaca banyak orang, menjadi lebih dari sekedar naskah, menjadi buku. :D Chokoreto…Hmm, cokelat dan musik klasik, alunan piano…yah, aku mungkin seperti Yuki dalam Chokoreto yang tidak pandai mengutarakan apa pikiran dan isi hatinya dengan mudah di depan banyak orang, tapi mungkin aku juga tidak sepandai mbak Prisca yang mampu menuliskan kisah Chokoreto menjadi begitu istimewa. :D

Masih tentang mimpi dan kenyataan yang bertolak belakang.

Akai tahu bahwa hatinya tidak berada di kafe cokelat Chokoreto karena setiap hari dia masih menyembunyikan mimpinya untuk bisa berdiri di balairung Eropa yang megah dengan piano grand gagah. Impiannya sejak dulu untuk menjadi pianis seperti yang ibunya impikan juga mau tidak mau harus menunggu atau bahkan ditinggalkan. Akai tidak ingin kehilangan ayah setelah dia kehilangan ibunya. Tapi hari itu dia tahu ada yang berubah dari dirinya, saat tetangga barunya Yuki memainkan piano mesikpun itu hanya simplifikasi dari gubahan ternama.

Yuki, nasibnya malang sekali. Dia tidak mampu mewujudkan mimpinya sendiri. Menjadi penulis ternyata tidak hanya tentang menulis, mengajukan ke penerbit, menunggu berbulan-bulan untuk tahu apakah akan terbit, menghadapi editor yang konon galak, ini itu dan lagi sebagainya, tapi juga membuatnya harus berhadapan dengan orang banyak dalam kegiatan promosi. Yuki phobia untuk berbicara di depan banyak orang, dia akan berubah kaku, seperti robot rusak saat menghadapi banyak orang. Tapi dia ingin sekali karyanya bisa dibaca banyak orang. Dan mau tidak mau dia harus berlatih untuk terbiasa berbicara di depan umum. Dan Kai-kunlah yang membantunya meniti mimpinya perlahan.

Begitu pula Yuki, dia pun membantu Akai untuk mengembalikan mimpi yang sempat Akai ingin lupakan. Karena Yukilah, Kai kembali bermain piano setelah meninggalkannya.

Bersama cokelat panas dan musik klasik, kisah Chokoreto benar-benar khas mbak Prisca. Dengan sentuhan musik klasik dan Rusia, lalu latar Jepangnya membuat Chokoreto enak dibaca. Ada juga quote favoritku. “Kita akan selalu bersama yang kita cintai…” terlepas bagaimana pengertian ‘bersama’ itu ya…aku memaknainya bersama bukan hanya kita hidup bersama orang yang kita cintai secara fisik, namun lebih. :) Hanya saja aku ingin sekali bertanya, mengapa selalu Jepang? Mengapa selalu musik klasik dan Rusia, mbak Pris? Kapan-kapan Korea atau asli Indonesia boleh juga mbak… :D hehehe.. ^^V

Beautiful Mistake. Dreamland dan Chokoreto memang dua kesalahan indah yang pada akhirnya menjadi terasa begitu benar dan indah. Disanalah benang merahnya. :-) Thanks to the duet!

…dan mungkin yang aku pahami dari novela ini adalah…

~~Terkadang kita membutuhkan orang lain untuk mewujudkan mimpi kita.~~


Juara Pertama 100% Romance Indonesia Gagasroman

Judul: Hujan dan Teduh
Penulis: Wulan Dewatra
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 256 hlm
ISBN: 9797804984

Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan....




Kisah Hujan dan Teduh ini sangat tidak terduga. Gak nyangka bakalan begini ceritanya. Padahal awalnya kupikir ini cerita remaja pada umumnya, tapi...oh ternyata kejutan-kejutan yang ada di dalamnya sangat membuatku harus geleng-geleng. Dari covernya kukira ceritanya sejenis dengan Remember When atau Once Upon a Love, tapi ternyata oooh jauh berbeda..

Kelebihan dari Hujan dan Teduh ini adalah bagaimana kata-kata puitis dan imajinatif yang dipakai mbak Wulan terangkai menjadi begitu bermakna. Memang di sanalah letak poin lebih dari Hujan dan Teduh yang mungkin membuat novel ini jadi Juara Pertama Gagas Romance. Meskipun aku tidak terlalu suka jalan ceritanya yang flash back yang menurutku kurang memiliki kaitan dengan kejadian sekarang di Hujan dan Teduh.. Jadi, di novel ini diceritakan secara flash back: ada part yang menceritakan masa lalu tokoh utama kemudian dilanjutkan dengan part pada masa sekarang tokohnya berada. Menurutku kurang berkaitan antara kisah Bintang dan Kaila yang diselang-seling dengan kisah Bintang dengan Noval.

Selain itu, entah mengapa aku tidak memiliki simpati pada semua tokoh di sini. Terkadang saat membaca novel, pasti akan ada tokoh yang menjadi favoritku atau paling tidak aku simpati pada tokoh itu. Tapi di Hujan dan Teduh entah mengapa aku tidak menemukan sosok tokoh yang pas di hatiku.

Kisah ini tidak bisa ditebak. Tapi ada part yang paling aku suka, yaitu endingnya yang memberikan kesan bahwa kisah Bintang dan Noval yang seolah-olah akan berakhir putus selamanya menjadi kembali berjalan dan...akan menjadi cerita yang panjang, menjadi kisah yang panjang bagi mereka.

Yang sudah membaca novel ini bagaimana menurut kalian? It's like unpredictable story with a sweet ending story.
Judul: Fate – saat nasib mempertemukan kita [New Edition]
Penulis: Orizuka
Penerbit: Authorized Books
Halaman: 297 hlm
Tahun terbit: 2012
ISBN: 9786029689426

sinopsis:

Jang Min Ho dan Jang Min Hwan.

Dua putra Keluarga Jang yang terpisah selama bertahun-tahun, sekarang harus bertemu kembali untuk mendengar wasiat ayah mereka yang telah meninggal dunia.

Min Ho, terlahir sebagai anak dari istri yang sah, hidup serba berkecukupan di Indonesia. Sementara itu, Min Hwan terlahir sebagai anak dari seorang pelacur, hidup susah di Korea.

Demi mendapat kekayaan Keluarga Jang di Indonesia, dua putra keluarga Jang harus memenuhi segala permintaan ayah mereka di dalam surat wasiat, termasuk tinggal bersama di rumah Keluarga Jang. Rasa dendam, sakit hati dan masa lalu yang pedih membuat kedua kakak-beradik ini lebih mirip seperti orang asing.

Kehadiran Dena, anak gadis kepala pelayan yang juga adalah teman masa kecil mereka, berhasil membuat mereka kembali bersatu. Namun, di saat mereka akhirnya merasa sudah mampu melewati masa itu, nasib berkata lain.

Nasib.
Ketetapan Tuhan.
Sesuatu yang tidak dapat diubah dengan tangan manusia.
Benarkah demikian?

Bagaimana Min Ho dan Min Hwan menghadapi nasib mereka? Sanggupkah mereka mengubahnya?


My Review

Well, saya dipermainkan oleh mbak Orizuka lagi. Hehehe...dengan sebuntel kisah yang [lagi-lagi] membuat saya bisa tidak tidur selama semalam penuh. Setelah Infinitely Yours, Fate membuka mata saya lebar-lebar tentang banyak hal. Dan ini point yang saya dapatkan dari membaca semalam.

Fate kisah yang mempertemukan persaudaraan dengan cara yang luar biasa sulitnya...
Kisah Jang Min Ho dan Jang Min Hwan yang begitu pelik. Sangat pelik, hingga membuat penulisnya harus memberikan satu per satu clue pada pembaca untuk membawa mereka kepada puncak klimaks emosi saat membaca kisah dua saudara senasib ini. Dari segi ide cerita, Fate sangatlah mencolok...tidak hanya menghadirkan konflik keluarga yang rumit namun juga konflik perasaan yang lebih pelik dari kisahnya sendiri. Seolah-olah, setiap kali satu tokoh merasakan rasa sedih dan senang, pembaca bisa merasakannya. Mbak Orizuka berhasil menyatukan kehidupan Jang Min Ho dan Jang Min Hwan dengan pembaca. Untuk yang satu ini saya tidak bisa membagi info lebih lanjut, kalian harus membacanya!

Setting Korea-Jakarta tidak lagi penting. Jadi yang terpenting adalag teruslah membaca hingga akhir cerita. Itu. Yang paling penting.

Karakterisasi yang sangat detail namun tidak deskriptif. Inilah yang saya suka dari sebuah novel. Saya menyukai gaya penulisan yang tidak menjelaskan, namun menunjukkan bagaimana karakter dan sifat-sifat tokoh di dalamnya dengan ungkapan kata-kata tokoh itu sendiri. Dengan perilaku mereka, hal-hal yang terjadi di sekitar mereka, tanpa harus menjelaskan bahwa tokoh ini blaa..blaa..blaa... Cara seperti novel Fate ini lebih berkesan dalam di hati dan membuat siapapun pasti membayangkan bagaimana bila tokoh dalam Fate benar-benar ada.

Jang Min Ho. Sosok laki-laki dan kakak yang kuat, tenang dan penyayang yang memiliki ketakutan akan kehilangan adik-adik yang dimilikinya. Min Ho, bisa dibilang menjadi sosok sempurna karena dia kaya, tampan dan pintar. Namun siapa sangka bila nasib berkata bahwa kehidupannya tidak seindah dunia dongeng...Min Ho tetap sosok kakak yang memiliki sihir ampuh untuk meluluhkan hati, Jang Min Hwan, adiknya.

Jang Min Hwan. kasar, tak punya hati, dan menyebalkan...seperti yang dikatakan Adena tentang Min Hwan. Sosok Min Hwan menjadi yang paling sentral di kisah Fate ini. secara semuanya bersumber dari dirinya. Laki-laki ini sungguh istimewa dengan segala kenyataan pahit hidupnya yang harus dia terima. Pesonanya sebagai penderita sindrom kelebihan rasa percaya diri ini tak ayal membuat Adena harus kalang kabut untuk mengakui bahwa dia juga menyukai pemuda ini. dari caranya memperlakukan Adena....oh sungguuuuh, Min Hwan adalah pemuda kasar yang melakukan perhatian melebihi yang dia duga. Min Hwan berhasil mengambil hati Adena dan tentu saya! Oh, man...for times I’m fallin in love with an imajinary guy...and he’s a fiction character...just wondering how if I can meet a guy like Min Hwan... He could make my heart warming before it getting messed badly...dia menyentuh tepat dimana seseorang tidak bisa menyadari perhatian besar yang dia tujukan sehingga membuat orang baru menyadari bahwa kepergian Min Hwan sangat menyiksa, itu berhasil Min Hwan lakukan pada Adena...ada saya akui terjadi pada saya... HAHAHAHAA...

Adena. Gadis ini tipe yang ngangenin dan enak buat dikerjain. Setidaknya itu bagi Min Hwan, tapi bagi Min Ho dia sosok adik yang dia sayangi. Oh, benarlah kata Nicole –kekasih Min Ho-bahwa Adena sungguh beruntung disayang dua Oppa... namun Adena juga menjadi kunci pada hubungan Min Ho dan Min Hwan...seandainya saja Adena tidak ada,,,bisa dibayangkan kisah Fate tidak akan sesemarak ini.

Anyway, tentang cover new edition ini, saya lebih suka yang lama... tapi agak menyesal juga mengapa saya telat membacanya. baru setelah new edtionnya sempat baca... Saya tidak bisa berbicara banyak lagi. Fate is a must read book for everyone who wants to find a good moral lesson and a such as heartwarming love story. I gave 5 stars of 5.
Till We Meet Again by Yoana Dianika
My rating: 4 of 5 stars

Juara Ketiga 100% Roman Indonesia

Judul Novel: Till We Meet Again – menjemput cinta di Austria
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: GagasMedia
Tahun terbit: 2011
Halaman: 294 hlm

Sinopsis:

Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi.

Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu,”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.


My review:

Semua penulis yang diorbitkan oleh GagasMedia sepertinya harus banyak berterimakasih kepada desainer cover yang membungkus kisah indah mereka dengan sentuhan apik dan menarik. Saya tidak pernah bosan untuk mengatakan bahwa setiap kali datang ke toko buku, cover yang menarik perhatian saya pastilah novel dari GagasMedia. Till We Mee Again memiliki sentuhan musik biola dalam ceritanya, ilustrasi animatis di covernya mewakili kisah di dalamnya dengan baik. Warna dan detail bercak-bercak seperti di kertas lama membuat penampilan luar novel ini seklasik kota Wina yang menyimpan banyak hal yang classic.

Well, based on the story...ini bukan cerita yang sangat spesial atau memiliki kesan unik. Kenangan yang berkesan di masa kecil dan akhirnya bergaung hingga dewasa. Sudah dari awal mereka (tokoh) diciptakan untuk bersama oleh penulisnya. Tapi, sisi menarik dari novel ini adalah detail-detail kecil yang terselip manis dan tidak berkesan seperti narasi datar. Riset yang dilakukan kemungkinan besar memanglah cukup sulit dan mendetail, dan tentunya berhasil memulas kisah sederhana di dalamnya menjadi semakin menarik untuk dibaca.

Penuturan penulisnya pun memiliki gaya bahasa yang enak dibaca dan cukup menarik. Meski banyak notes tentang bahasa asing yang sulit dilafalkan bila sama sekali tidak mengenal bahasa Jerman. Setting Wina, Austria, sudah dipersiapkan dengan matang karena cerita di novel ini based on classical music, and as for sure Wina adalah kota musik klasik, sepertinya semua musik klasik berasal dari sana dan berkembang di sana. Makanya pemilihan setting tempat memang sangat cocok bila digabungkan dengan kisah Elena dan Chris.

Nah, cuplikan singkat saja dari saya tentang kisah di novel Till We Meet Again ini. Elena adalah anak indo Austria-Indonesia yang memiliki kenangan yang tidak bisa dia lupakan. Tentang mendiang Mom-nya dan sudut taman Stadtpark dan seorang anak laki-laki yang sudah memberinya kue khas Austria yang tidak bisa dia lupakan. Hingga mimpi untuk kembali dan mencari pangeran itu hadir dalam bentuk nyata saat Elena diizinkan kuliah di Wina.

Elena seorang violinist yang berbakat seperti ibunya menemukan kisah cintanya di sini, di kota klasik yang menyimpan banyak hal kecil yang berkesan, mulai dari bahagia hingga pilu. Elena menemukan sosok yang dia cari meskipun harus mengalami kesalahan dalam ‘meletakkan cintanya’.

Hingga Chris membeberkan yang sebenarnya, Elena menyadari betapa dia sangat bodoh karena tidak sadar bahwa pangeran kaiserschmarrn-nya sudah ada di depan matanya, selalu ada untuknya di saat tertawa dan tangisnya. Christoper von Schwind dan Elena Sebastian Admaja sudah dipertemukan kembali di bawah naungan kota Wina yang melankolis dan klasik. Menjemput cinta di Austria. More about this story, you should read by yourself, this is classical and fluid story from Yoana Dianika, it’s third winner of 100% Roman Asli Indonesia.

View all my reviews
The Windflower - Pemenang RRA Award untuk kategori Best Classic Historical Romance (1994)

Judul: The Windflower – takluk di bawah pesonamu
Penulis: Sharon dan Tom Curtis
Penerbit: GagasMedia
Alih bahasa: Endang Sulistyowati
Halaman: 626 hlm
Tahun terbit: 2011
ISBN: 9789797805142
Genre: Dewasa/Adult

Sinopsis:
Merry Wilding mendambakan petualangan... namun yang dia dapat malah penculikan dan dikirim ke kapal yang paling ditakuti di lautan.

Merry tidak punya pilihan lain kecuali tunduk pada perintah pemilik kapal, sang bajak laut misterius berambut keemasan. Dan meskipun kata-kata setajam duri sering meluncur keluar dari sana. Bibir itu juga yang mengenalkan gadis itu pada ciuman memabukkan yang tak akan pernah dia lupakan. Laki-laki itu tampak begitu berbahaya, sekaligus membuatnya hampir tak bisa bernapas karena dikuasai gairah.

Devon Crandall hanya bermaksud untuk merayu tawanannya itu sedikit dan mengorek informasi darinya. Tapi dia tidak pernah menduga sepasang mata biru milik perempuan itu bisa membuat Devon semakin mengingininya.

Sang bajak laut dan tawanannya saling membujuk, saling menggoda...siapa akhirnya yang jadi pemenangnya?


My review:

The First is always about the cover. Dari semua edisi The Windflower baik dalam bahasa inggris atau yang sudah diterjemahkan, cover dari Mbak Anissa dari GagasMedia ini yang paling bagus dan sesuai dengan mata saya. Windflower itu sendiri adalah nama sejenis bunga yang menjadi sebutan untuk Merry dari Devon. Desainnya bagus seperti sebuah lukisan cat minyak. Always nice to see the cover.

Well, seharusnya saya pikir ulang untuk membaca novel bergenre dewasa. Ingat, DE-WA-SA. Tentunya saya sempat syok dan semakin terperangah dengan plot-plot yang menggambarkan genre dewasa tersebut. Tapi di sisi lain, cerita yang ditulis oleh pasangan suami-istri Sharon dan Tom Curtis ini sebenarnya menarik, tentunya bukan dilihat dari seberapa intens adegan romantis di sini.

Kisah yang menceritakan penculikan Merry dari kapal yang akan membawanya ke Inggris menjadi semakin menegangkan dan membuat ‘petualangan’ tidak terbayangkan. Merry, gadis yang polos tidak pernah tahu dunia luar kecuali ladang jagungnya, harus berhadapan dan mengalami serangkaian kejadian yang menyedihkan, memalukan dan menegangkan bersama segerombolan perompak di Black Joke. Belum lagi dia harus berurusan dengan pria misterius bernama Devon. Devon salah satu perompak di sana. Namun pesonanya sama sekali tidak memancarkan perompak bengis dan kejam, tapi bukan berarti Devon tidak memiliki sifat perompak itu. Merry harus menerima perlakukan tidak menyenangkan bahkan menyakitkan jika Devon mulai tidak bisa menguasai akal sehatnya. Tapi saat itulah, mereka berdua mulai menyadari bahwa sejak pertemuan pertama mereka di kedai minuman, dimana Merry dibawa oleh Carl, kakaknya untuk menggambar wajah-wajah perompak itu untuk kepentingan pemerintahan Amerika, mereka sudah jatuh cinta.

Perjalanan kapal Black Joke benar-benar memberikan banyak pelajaran pada Merry. Hingga cinta yang murni itu terbukti ketika malaria menyerangnya. Devon seperti orang gila karena setiap detik dia mengkhawatirkan kondisi Merry yang semakin buruk. Di sinilah Devon menampakkan betapa dia menyayangi Merry. Namun perlahan misteri di antara Merry dan Devon yang mereka sembunyikan mulai terkuak. Sang perompak dan tawanannya, mereka sudah mengetahui rahasia mereka.

Di luar bagaimana adegan yang menurut saya terlalu ‘romantis’, saya menyukai ceritanya, kecuali pada bagian yang membuat kepala saya pening. Yah, bisa dibaca sendiri novel yang menerima anugerah RRA tahun 1994 sebagai Best Classic Historical Romance ini, asalkan sudah sesuai dengan usia (Hehehehe). Baru di bab ke-24 dari 32 bab saya menyukai kisah ini. Tentang bagaimana takdir ternyata memang sudah berkata bahwa Merry dan Devon akan bersatu, tentang cinta yang bersatu dalam sebuah pernikahan. Tidak menyangka jika hubungan ‘aneh’ sang perompak dan tawanannya yang selama di kapal menjadi semakin aneh dan menegangkan itu berakhir dengan manis. Pada bagian bab ke 32, endingnya, saya sebut itu yang manis, bukan romantis ala novel-novel bergenre dewasa, yaa...

“Merry Wilding, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan di dunia ini,” ujar Devon dengan suara yang sangat lembut, “Mungkin termasuk satu atau dua hal yang tidak kau inginkan, Tapi pertama-tama, Cinta, aku akan memberikan namaku,”

Bukankah itu bisa disebut sebuah lamaran yang sangat manis? Siapa yang menyangka jika Devon adalah seorang the Duke of Cyr?

Ada beberapa bagian yang membuat narasi menjadi terlalu membosankan dan menjenuhkan. Narasi yang terlalu bertele-tele dengan kalimat berfrase panjang memang identik terjadi di novel terjemahan karena memang bahasa awalnya, bahasa Inggris, memiliki susunan kalimat yang tidak sesederhana bahasa indonesia. Saya tidak tahu apakah plot romantis di sini yang menjadikan novel ini meraih penghargaan, apakah karena penulisnya menggambarkan bagaimana adegan dua tokoh yang saling jatuh cinta itu yang membuat novel ini istimewa? Tapi menurut saya yang membuat novel ini berkesan baik dan bagus bagi saya adalah beberapa dialog yang saya kutip dari Merry dan Devon.

Quotes:

“Betapa indahnya hidup kita. Aku memberimu hidupku dan semua momen di dalamnya,” – Merry

“Dan, aku akan memberimu hidupku, dalam kedamaian, dan jika datang cobaan yang berat, aku juga akan memberikan jiwaku padamu,” – Devon.

“Cintaku, aku akan selalu membawanya bersamaku, dan menjaganya,” – Merry.

Untuk yang ingin membaca kisah perompak dan tawanannya ini, harus membaca sendiri bagaimana petualangan dan kisah yang terjadi di atas kapal Black Joke ini. Tapi tidak disarankan untuk pembaca remaja di bawah sembilan belas tahun yaaa... Ini genrenya belum sesuai untuk yang masih unyu-unyu dan imut-imut. Masih ada novel lain yang sesuai dan bagus kok. Inget, novel juga punya standarisasi usia yang membatasi siapa boleh membaca. Jadilah pembaca yang bijak dengan memilih bacaan yang sesuai dan bermanfaat, serta mendukung usia kamu. You should find the right and appropriate one to read if you want to have good mind after reading the book. Always nice to be wise, right? Ingat itu yaa. Saya juga akan menerapkan cara ini. Setelah ini lebih baik saya mengkonsumsi genre remaja dan anak-anak saja, bagi saya sendiri saya belum pantas membaca genre dewasa, *inget usia yang remaja bukan dewasa juga bukan...*

Dan saya nggak bisa membayangkan bagaimana jika novel ini difilmkan. Oh, Tuhan, tidak... *mungkin saya nonton yang udah disensor saja deeeh..., :P* Seandainya novel ini bukan genre dewasa, atau setidaknya masih di level remaja yang ringan-ringan, saya akan menjadikan The Windflower sebagai favorit saya. Tapi, sepertinya ada yang lain untuk jadi pilihan. Cukup dengan tiga bintang dari lima bintang saya.
Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd