• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia
Apakah kau pernah merasakan rasa heran dan takjub yang sangat dalam pada satu waktu sekaligus? Hanya ada rasa ingin tahu di otak dan juga hatimu? Hingga rasa-rasanya kau takkan melakukan apapun sampai kau menyuapi rasa ingin tahu itu dengan beberapa sendok penemuan-penemuan dan jawaban?

     
(picture from google)

Hal itulah yang kupelajari dari kisah Ben Wilson (Wonderstruck – Brian Selznick) dan Liesel Memminger (The Book Thief – Markus Zuzak). Kedua anak ini diliputi oleh rasa ingin tahu akan sesuatu yang memanggil hati mereka. Ben Wilson yang tuli melakukan perjalanan dari Minnesota, Gunflint ke New York City hanya berbekal alamat lama pada selembar pembatas buku demi menemukan siapa sebenarnya dirinya. Liesel Meminger yang baru saja kehilangan adik laki-lakinya dan harus tinggal bersama Pria Berhati Akordion dan Wanita Berjubah Petir tidak bisa berhenti mencuri buku-buku yang seharusnya terlarang pada waktu itu. Rasa penasaran mereka bagaikan makhluk buas yang kelaparan.

Sudah menjadi ciri-ciri para anak bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang tak hanya tinggi tetapi besar. Mereka tak akan berhenti setelah menemukan jawaban untuk pertanyaan pertama mereka, mereka terus mengejar jawaban untuk pertanyaan di kepala mereka yang sama tak terhitungnya dengan jumlah konstelasi bintang di angkasa.

Entah perasaaan saya saja atau bagaimana, saya merasa mirip dengan karakter Sophie dari Dunia Sophie, buku novel filsafat karya Jostein Gaarder yang beberapa waktu lalu rampung saya baca. Wajah Sophie dan penggambaran karakternya dari segi fisik membuat saya ingat saya kecil dulu. Rambut tipis lurus yang tidak bisa diapa-apakan, hidung sebesar buah ceri dan bibir yang entah tipis atau tebal. Saya terhenyak ketika mendapati halaman sketsa wajah Sophie.

dheril's photo

Saya ingin sekali merobek dan menyimpan halaman ini, tapi sayangnya itu buku pinjaman dari perpustakaan kampus. Selain itu saya ini sayang banget sama buku, jadi nggak tega mau mencuri selebar saja darinya.


Dunia Sophie
Dunia Sophie by Jostein Gaarder

My rating: 5 of 5 stars


“Wisest is she who knows she does not know.” ― Jostein Gaarder, Sophie's World

Langsung saja mari kita menikmati filsafat yang dibalut dengan dongeng yang begitu memikat.
Taman Firdaus—Sophie Amundsen menerima kiriman surat-surat misterius berisi ucapan selamat ulang tahun yang ditujukan kepada gadis bernama Hilde yang tinggal di Lillesland oleh ayahnya dari Lebanon, namun bukan itu saja yang misteri yang dihadapi Sophie. Seseorang berusaha mengajaknya bermain-main dalam dunia pemikiran—filsafat.

Hari demi hari Sophie diperkenalkan dengan filosof-filosof Yunani Kuno Heraclitus, Descrates , Plato, Aristoteles dan lain-lainnya hingga ke masa zamannya sekarang. Dia melalui perjalanan filsafat yang penuh petualangan dalam pemikiran-pemikiran yang sangat menarik oleh para filosof itu. Alberto Knox, guru filsafat misteriusnya itu terkadang membuat dunia Sophie jungkir balik begitu pula Hildegaard dan Ayahnya.

Tidak ada kata-kata lebih lagi, buku ini memikat saya dengan ketebalan 800 halaman. Bukan hanya kisah misteri dan fantasinya, tapi pendalaman filsafatnya begitu mudah diterima awam. Saya pernah belajar Filsafat Umum di semester 5 di matakuliah yang sama. Dan menemukan adanya gambaran yang semakin terang tentang apa yang telah saya pelajari, dan bahkan menemukan beberapa titik terang yang selama ini masih redup di kepala saya.


Judul             : Menuju(h)
Penulis     : Aan Syafrani, Iru Irawan, Mahir Pradana, Maradilla Syachridar, Sundea, Theoresia Rumthe dan Valiant Budi.
Penerbit      : GagasMedia (2012)
Halaman      : 250 hlm

Buku ini adalah persembahan dari @salamatahari (Sundea) atas terpilihnya fotoku dalam #KuisMenujuh yang diadakan @salamatahari dan @GagasMedia. Kumpulan cerita ini adalah buku kumpulan cerita kedua setelah Filosofi Kopi yang menjadi salah satu favoritku.

Menuju(h) bercerita tentang hari-hari yang bercerita. Hari-hari yang membentang selama satu minggu penuh. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu dan Minggu.

“Hari punya sistem pergantian yang teratur sehingga ia tak pernah merasa sesak karena ditinggalkan” – Menuju(h)

Ya, begitulah hari. Dia setia mengiringi manusia dalam pergiliran waktu.
Buku ini penuh warna. Masing-masing perncerita memiliki warna dan cara. Mencipta cerita berdasarkan nama hari-hari. Warna Senin tak sama dengan Kamis dan begitulah seterusnya. Mereka bercerita dengan hari-hari. Menghasilkan satu minggu penuh warna dan makna yang berwujud buku Menuju(h) ini.

Dan Jum’at, cerita di hari ini menjadi yang paling berkesan untukku.

Mahir Pradana.
Dia menulis dan bercerita tentang hari Jum’at. Dua ceritanya ‘Follow Friday’ dan ‘Moonliner’ adalah dua cerita yang terhubung, atau memang satu kesatuan cerita? Aku langsung menyukai sosok Safir meski di ‘Follow Friday’ dia jadi yang terintimidasi tapi itulaj proses dimana seseorang mulai menyadari bahwa dirinya pantas untuk mimpi yang lebih besar. Safir, sunggu dia akan menjadi penulis hebat masa depan.

‘Moonliner’ membawanya pada sebuah pemberhentian yang dia tuju, hati Regina. Jika kamu, Safir, benar ada, aku pasti akan senang membaca tulisan-tulisanmu.

Kak Mahir, Safir ini Kak Mahir sendiri, ya? Hihihi ^_^

Aku suka Menuju(h). Satu minggu yang berwarna-warni. Salut untuk ketujuh pencerita. Seandainya seminggu ada delapan hari, aku ingin menyelip di antara kalian. ^_^

Aku jatuh hati pada cover dan ilustrasinya. Jeffri Fernando selalu membingkis buku GagasMedia sehingga menawan hati. Dan untuk Lala Bohang, ilustratornya. Aku suka sekali visual yang kakak buat. It seems like to be childish drawings but they name their character!
Filosofi Kopi karya Dee
Judul: Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: TrueDee Books dan GagasMedia
Halaman: 137 hlm

Sebenarnya sudah lama mengetahui buku kumpulan prosa dan cerpen ini dari teman, namun baru bisa membaca e-booknya, itu pun minta dari adik kelas. Dan begitu membacanya, aku masuk dalam dunia yang Dee rangkai dari untaian kata-kata prosanya yang membentuk dunia. Benar-benar dalam namun mengalir semudah aliran air terjun.


Filosofi Kopi adalah kumpulan prosa pertama yang kubaca. Belum pernah kubaca buku semacam ini, dan aku sangat menikmati aliran kata-kata yang begitu indah dan bermakna. Dee tetap memakai tata bahasa yang ada, baku namun tidak kehilangan kesan puitis dan indah. Dee memang penulis yang memiliki rasa yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Kumpulan prosa-prosanya yang bermakna dalam benar-benar menyentakku dan menemukan diriku sendiri sedang berdiri menghadap sebuah cermin besar.

Ada satu judul yang begitu menarik dan memiliki makna yang aku suka. Mencari Herman. Di sana ada sebuah pepatah yang mengatakan. Bila engkau inginkan satu maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan tapi dua melenyapkan. Aku melihat betapa hidup terkadang egois dan inginkan dua hal sekaligus meski tahu itu sulit.

Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. - Mencari Herman

Spasi. Prosa ini, atau harus kusebut puisi? SPASI. Sungguh, aku mengagumi tulisan Dee ini. Begitu logis dan bisa diterima, logika tentang jeda dan kata yang takkan bermakna tanpa kehadirannya. Spasi. Menjadi favorit juga seorang sahabatku yang juga menggandrungi tulisan Dee karena kutulari virus Perahu Kertas dulu. Aku melihat sebuah fakta yang unik, tanpa ada jeda dan ruang...maka semuanya takkan bermakna. Begitulah spasi, kehadirannya tak terlihat, seolah hanya jarak antarkata yang memisahkan, namun tanpa dia semuanya hanya rangkaian huruf tak bisa dibaca, tak memiliki makna.

Rico de Coro. Imajinasi Dee tidak melulu tentang manusia, benda mati, atau perasaan. Begitu membaca Rico de Coro aku melihat dunia kecil yang Dee sebut sebagai Kerajaan Kecoak Dapur. Dimana seorang pangeran bernama Rico de Coro ternyata jatuh cinta pada seorang manusia, Sarah, anak pemilik rumah dimana kerajaan mereka berdiri. Namun kisahnya berakhir dengan pengorbanan besar Rico demi Sarah, demi putri impiannya. Dari kisah ini terpetik sebuah pelajaran, bahwa pengorbanan memang menyertai cinta. Cinta dan pengorbanan seperti dua mata koin, peluangnya sama 1/2 untuk terjadi.
Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd