• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia
Antologi adalah genre di bulan April untuk Reight Book Club Read Along. Genre ini merupakan salah satu genre yang jarang aku baca dan tak banyak koleksi buku antologi di rak pribadi. Dan bulan ini aku masih membaca buku dari penulis buku bulan Maret lalu yaitu Dee Lestari. Antologi 11 Cerita Pendek dan kumpulan 11 lagu bertajuk Rectoverso menjadi teman membaca bulan April ini. 

 

179 halaman
Bentang Pustaka, 2013

Rectoverso adalah kumpulan 11 cerita pendek yang mengangkat tema besar cinta dan segala pernak-perniknya. Dee Lestari juga menyempurnakan kumpulan cerpennya ini dengan sebuah album bertajuk sama dengan bait-bait syair di awal cerita yang dijadikan lagu. Pasti tahu jargon, “Malaikat juga tahu, aku yang jadi juaranya”, kan? Beberapa lagu dari album ini juga sempat menghiasi ruang dengar penikmat musik Indonesia. Rectoverso adalah paket lengkap. Rectoverso tak hanya hadir dalam bentuk kata-kata di dalam buku atau nada-nada dalam lagu, tapi beberapa judulnya diangkat menjadi satu rangkaian kisah dalam satu judul film.Buku, musik dan film betapa lengkap penginderaan untuk sebuah karya.

Sebelas judul cerita pendek di sini mayoritas adalah tentang cinta dan perasaan yang tak tersampaikan yang tak dimengerti. Kesan itu yang terasa sangat kuat dari kisah-kisahnya. Cerpen pertama “Curhat buat Sahabat” mengisahkan perempuan dan laki-laki yang sudah bersahabat lama yang terjebak dalam friendzone stadium akut. :P
Sementara cerpen “Hanya Isyarat” benar-benar seratus persen kisah ngenes mengagumi dan mencinta seseorang dari jauh tanpa bisa menyampaikan perasaannya.

Adalah mimpi yang menjadi nyata untuk bisa bertemu langsung dan berinteraksi dengan seorang Dewi 'Dee' Lestari. Awalnya saya masih ragu untuk mempercayai bahwa ini benar-benar terjadi. Tanggal 29 Maret 2015, tepatnya di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya, saya melihat sosok nyata penulis idola saya ini. Dalam agenda bertajuk Dee's Coaching Clinic, Mbak Dewi Lestari membuka seluas-luasnya kesempatan bagi yang berkeinginan kuat untuk menulis dan bergelut di dunia sastra untuk berdiskusi seputar dunia penulisan. Ada beberapa poin penting yang dikupas satu per satu di sini yaitu, 1. Berpikir kreatif, 2. Riset menulis, 3. Pemetaan Cerita, 4. Karakter dan beberapa tips menulis ala Dewi Lestari.

Coaching Clinic penulisan ini diawali dengan pembahasan pertanyaan-pertanyaan dari peserta yang sudah dikirimkan melalui e-mail sebelumnya. Hal yang menjadi pondasi coaching clinic kali ini adalah 'berpikir kreatif'. Mbak Dewi Lestari pun memulai diskusi dengan membongkar apa itu berpikir kreatif. Ringkasan tentang isi Dee's Coaching Clinic Surabaya kemarin seluruhnya bersumber dari penjelasan langsung Mbak Dewi Lestari dengan penulisan ulang dan adaptasi sebisa yang saya lakukan.

1. Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif adalah modal dasar bagi seorang penulis. Tapi masih sering kita keliru mendefinisikan apa itu berpikir kreatif. Berpikir untuk harus bikin cerita yang lain dari yang lain akan mengganggu proses kreatif itu sendiri. Menurut Dee Lestari, seseorang yang berpikir kurang kreatif akan hanya berhenti pada dirinya sendiri.

Berpikir kreatif adalah memperluas medan kesadaran diri.

Gelombang adalah novel yang membuka rangkaian kegiatan membacaku tahun 2015. Seolah seperti tarian selamat datang, Alfa Sagala menyambutku dengan gulungan gelombang perasaan yang berkecamuk hingga kini. Dan sebenarnya aku ingin menyimpan sendiri kesanku tentang Gelombang tanpa membuat catatan atau review buku seperti biasanya. I want this feeling for myself, not even a word about my Alfa Sagala I want to share. Tapi godaan bertemu sang kreatornya menumbuhkan semangat lain. I want to meet the author and shout out loud this feeling for Alfa. Sekali lagi, Dee Lestari menghajar para pembacanya dengan melemparkan mereka ke arus kisah Gelombang. Dan membuat kami para pembacanya tetap saja menanti dengan degup jantung penasaran akan Intelegensi Embun Pagi atau #IEP. Sama saja, mau pembaca yang berkomentar tidak puas, kurang dapet greget dan sebagainya dari Gelombang atau pembaca yang serta merta menyukai kisah Alfa Sagala ini. Semuanya tetap berakhir dengan keinginan supaya kisah selanjutnya bisa segera kami nikmati. Bukti ketajaman pena Dee Lestari tetap menggores di hati para pembacanya.

Madre (Kumpulan Cerita)Madre by Dee
My rating: 5 of 5 stars

Menyatakan diri sebagai penyuka tulisan Dee membuat saya sangat berdosa ketika baru membaca Madre kali ini dan bahkan saya masih berusaha mengumpulkan sekeping demi sekeping untuk bisa mendapatkan keempat seri Supernova. Beruntung saya dipinjami, lebih tepatnya minta dipinjami, Madre.

Setelah Filosofi Kopi dan Perahu Kertas, Madre terkesan lebih dewasa dan bijak. Mungkin sama seperti Filosofi Kopi, namun Madre menampilkan sisi dewasa dan bijak yang terkesan dengan tema-tema serius. Sementara Filosofi Kopi lebih dinamis dan terkesan ringan tapi tetap bermakna, Madre memberikan kumpulan perenungan dari setiap judul-judulnya. Mungkin itulah salah satu efek pemberian nama Madre yang terdengar begitu menenangkan seperti mendengar suara Ibu.

Dari judul-judul dalam Madre saya pribadi menyukai tulisan Dee yang terakhir, berjudul Barangkali Cinta. Sangat tepat menjadikan ini penutup dari perenungan-perenungan sejak halaman pertama cerpen Madre hingga kisah Christian dan Starla berakhir dengan pelukan bioskop. Madre dan Menunggu Layang-Layang adalah dua cerpen yang saya suka setelah puisi Barangkali Cinta. Madre dengan pergulatan Tansen mengenai keputusannya untuk lepas dari kebebasan yang dia ciptakan sendiri dan mengurungnya. Menunggu Layang-Layang dengan perdebatan antara persahabatan dan cinta, ego, rasio, emosi dan hati nurani.

Sungguh saya tidak bisa bergerak sejak pertama membaca Madre. Sepertinya ada mantra pengikat atau semacam penarik magis sehingga rantai huruf yang membentuk kumpulan kata buah tangan Dee ini menjadi terlalu sayang untuk ditinggalkan barang sejenak. Saya menyukai Madre seperti ketika saya selesai membaca Filosofi Kopi. Ada kesan yang sama, yakni selalu perenungan dan kejelian dalam mendetailkan pengamatan.

Dee, saya belajar banyak dari dia.

View all my reviews
Filosofi Kopi karya Dee
Judul: Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: TrueDee Books dan GagasMedia
Halaman: 137 hlm

Sebenarnya sudah lama mengetahui buku kumpulan prosa dan cerpen ini dari teman, namun baru bisa membaca e-booknya, itu pun minta dari adik kelas. Dan begitu membacanya, aku masuk dalam dunia yang Dee rangkai dari untaian kata-kata prosanya yang membentuk dunia. Benar-benar dalam namun mengalir semudah aliran air terjun.


Filosofi Kopi adalah kumpulan prosa pertama yang kubaca. Belum pernah kubaca buku semacam ini, dan aku sangat menikmati aliran kata-kata yang begitu indah dan bermakna. Dee tetap memakai tata bahasa yang ada, baku namun tidak kehilangan kesan puitis dan indah. Dee memang penulis yang memiliki rasa yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Kumpulan prosa-prosanya yang bermakna dalam benar-benar menyentakku dan menemukan diriku sendiri sedang berdiri menghadap sebuah cermin besar.

Ada satu judul yang begitu menarik dan memiliki makna yang aku suka. Mencari Herman. Di sana ada sebuah pepatah yang mengatakan. Bila engkau inginkan satu maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan tapi dua melenyapkan. Aku melihat betapa hidup terkadang egois dan inginkan dua hal sekaligus meski tahu itu sulit.

Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. - Mencari Herman

Spasi. Prosa ini, atau harus kusebut puisi? SPASI. Sungguh, aku mengagumi tulisan Dee ini. Begitu logis dan bisa diterima, logika tentang jeda dan kata yang takkan bermakna tanpa kehadirannya. Spasi. Menjadi favorit juga seorang sahabatku yang juga menggandrungi tulisan Dee karena kutulari virus Perahu Kertas dulu. Aku melihat sebuah fakta yang unik, tanpa ada jeda dan ruang...maka semuanya takkan bermakna. Begitulah spasi, kehadirannya tak terlihat, seolah hanya jarak antarkata yang memisahkan, namun tanpa dia semuanya hanya rangkaian huruf tak bisa dibaca, tak memiliki makna.

Rico de Coro. Imajinasi Dee tidak melulu tentang manusia, benda mati, atau perasaan. Begitu membaca Rico de Coro aku melihat dunia kecil yang Dee sebut sebagai Kerajaan Kecoak Dapur. Dimana seorang pangeran bernama Rico de Coro ternyata jatuh cinta pada seorang manusia, Sarah, anak pemilik rumah dimana kerajaan mereka berdiri. Namun kisahnya berakhir dengan pengorbanan besar Rico demi Sarah, demi putri impiannya. Dari kisah ini terpetik sebuah pelajaran, bahwa pengorbanan memang menyertai cinta. Cinta dan pengorbanan seperti dua mata koin, peluangnya sama 1/2 untuk terjadi.
Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd