• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia

ig: @sofiadheril

Judul: The Problem With Forever
Penulis: Jennifer L. Armentrout
Alih Bahasa: Airien Kusumawardani
Editor: Fidyastria Saspida
Desain Sampul: Credit to Dream catcher ©123RF Butterflies ©Freepik.com
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2017
Halaman: 427 hlm
ISBN: 978-602-04-3622-7
Genre: Young-Adult, Romance
Rating-ku: 3 🌟

Blurb:
"Tdk apa-apa, Ingat? Aku janji aku akan melindungimu selamanya. Tapi jangan bersuara." Dia meremas bahu Mallory.
"Diam saja, dan saat... saat aku kembali, aku akan baca cerita untukmu, oke? Cerita si kelinci bodoh itu."
Jangan bersuara.
Suara langkah kaki terdengar di koridor.
Jangan bersuara.
Bagi Mallory 'Mouse' Dodge, diam adalah pelindung. Baginya, cara terbaik untuk bertahan hidup adalah dengan tidak mengatakan apa-apa. Empat tahun berlalu sejak mimpi buruknya terjadi, dan dia mulai khawatir rasa takut akan membuatnya terperangkap selamanya.
Tapi masa lalu yang buruklah yang membuat hidup Mallory terkurung. Apalagi setelah satu sosok yang dulu dikenalnya kini datang tanpa dia duga. Pada akhirnya Mallory harus memilih, tetap diam atau berbicara dengan lantang—demi semua orang yang dicintainya, kehidupan yang diinginkannya, dan kenyataan yang harus diutarakannya.

First Impression
Awalnya aku tahu buku ini versi Englishnya lebih dulu, kukira buku ini adalah sejenis buku non-fiksi. Semacam ‘Note to Self’-nya Conor Franta. Tetapi ternyata The Problem With Forever adalah novel young-adult yang cukup populer di luar sana. Ketika melihat versi terjemahan Elex Media ini, aku lumayan tertarik dengan covernya dan saat @tourianpeekybook mencari bookstagrammer untuk book tour novel ini, aku enggak ragu untuk ikutan. Yeay, dan aku senang sekali karena terpilih untuk kedua kalinya (setelah book tour Kersik Luai). 
IG @sofiadheril

Judul: Kersik Luai
Penulis: LM Cendana
Editor: Nurti Lestari
Desain Sampul: LM Cendana
Penerbit: Histeria
Tahun Terbit: 2017
Halaman: 508 hlm
ISBN: 978-602-6380-98-2
Genre: Distopia, Fantasi, Indonesian Dystopia
Rating-ku: 🌟🌟🌟🌟/5



Blurb:
Beberapa dekade selanjutnya, Tanah Air memasuki era distopia yang telah dikuasai golongan oligarkis. Seorang manusia buatan, Btari, yang dinyatakan sebagai kloningan gagal hendak dibuang menuju pelosok negeri untuk dijadikan budak. Di tengah perjalanan, helikopter yang ditumpanginya ditembak jatuh di Laut Jawa. Di pesisir pantai, ia ditemukan seorang revolusioner, Nagara, yang mengajarkannya banyak hal. Kemanusiaan, nasionalisme, dan cinta.

First Impression
Penasaran. Sejauh yang kutahu, belum banyak penulis dalam negeri yang menghasilkan karya dari genre distopia, fantasi dan science-fiction. Penasaran adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan saat pertama mengetahui novel Kersik Luai. Dan ketika di Instagram @tourianpeekybook ada event pencarian host untuk book tour buku ini, aku langsung mendaftar dan yay! Terpilih. 

Kersik Luai mencoba mengangkat isu-isu yang erat dengan perubahan budaya yang terjadi di Indonesia di masa depan ketika teknologi sudah menguasai hidup manusianya hingga ke akar. Namun, dibalik itu masih ada orang-orang yang memegang kuat warisan budaya dan adat istiadat pribumi dan mereka yang hanya ingin kesatuan negaranya seperti dulu ketika Bhinneka Tunggal Ika masih dipegang teguh oleh setiap warganya. Selain itu, ide besar cerita ini sangat menarik dan memperkaya sastra kita yang selama ini masih berputar-putar di genre romance. Berbalut science-fiction dan distopia, Kersik Luai mengisahkan tentang keadaan yang bisa berakibat buruk jika sebagai warga Indonesia, kita lupa untuk melestarikan budaya yang menjadi jati diri Indonesia.
Goodreads

Judul: The Forbidden Wish
Penulis: Jessica Khoury
Alih Bahasa: Mustika
Editor: Novianita
Desain Sampul: Junweise
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: Maret, 2017
Halaman: 404 hlm
ISBN: 978-602-60443-3-4
Genre: Fantasi, Retelling
Rating-ku: 🌟🌟🌟🌟/5


Gadis itu adalah Jinni terkuat dari semua jin.
Pemuda itu adalah pencuri jalanan.
Saat Aladdin menemukan lampu Zahra, gadis itu dilontarkan kembali ke dunia yang tidak dilihatnya selama ratusan tahun. Kemerdekaannya terikat pada lampu, mengharuskannya untuk memenuhi tiga permintaan Aladdin.
Namun, saat raja dari para jin menawarkan kebebasan kepada Zahra, gadis itu mengambil kesempatan itu, hanya untuk menyadari bahwa dia jatuh cinta pada pencuri jalanan itu.
Saat kemerdekaannya hanya bisa diraih dengan mengkhianati Aladdin, jalan manakah yang akan dia pilih? Apakah kebebasannya sepadan dengan kehancuran hatinya?


First Impression
Begitu pertama melihat kemunculan buku ini di katalog Spring, aku excited banget pingin tahu gimana cerita retelling Aladdin dan Jinni ini. Seperti The Lunar Chronicles yang juga merupakan retelling dari beberapa dongeng seperti Cinderella, Little Redding Hood, Rapunzel dan Snow White itu, The Forbidden Wish menyajikan sentuhan kisah dari fantasi Timur Tengah. Tentu saja waktu itu enggak ragu lagi buat pre-order buku ini. 

Dan, membaca buku ini lebih seru lagi karena aku ikut reading project di @readersquad.id! Kegiatan ini berisi kegiatan baca bareng dengan judul buku yang sama dan setiap hari sesuai jadwal, pesertanya mengupdate perkembangan kegiatan membacanya lewat akun Instagram masing-masing. Alhasil, aku gemes sendiri dengan ceritanya dan enggak bisa tahan pingin bikin artwork berupa foto-foto. Wah, pertama kalinya ikut baca bareng dan memberikan kesan yang enggak terlupakan karena salah satu artwork-ku dinotice sama Jessica Khoury! Waaaak! Aku tahu, ini lebay. Hahaha. Tapi dari sini aku mulai pingin main #bookstagram.

Goodreads

Judul: Underwater
Penulis: Marisa Reichardt
Alih Bahasa: Mery Riansyah
Editor: Ayu Yudha
Desain Sampul: emsn32
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: 2017
Halaman: 330 hlm
ISBN: 9786026044341
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Mental Illness
Rating-ku: 4🌟🌟🌟🌟/dari 5🌟

Blurb:
Memaafkanmu akan membuatku bisa memaafkan diriku sendiri.
Morgan tidak bisa keluar dari pintu depan apartemennya, rumah yang dia tinggali bersama ibu dan adik laki-lakinya. Gadis itu merasa sedang berada di bawah air, tidak mampu naik ke permukaan, tidak mampu bertemu dengan teman-temannya, tidak mampu ke sekolah.

Saat Morgan kira dia tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi, seorang cowok pindah ke sebelah rumahnya. Evan mengingatkannya pada laut yang asin, dan semangat yang dia dapatkan dari berenang. Mungkin, Evan adalah bantuan yang dia butuhkan untuk terhubung kembali dengan dunia luar....

First Impression
Kepingan blurb di ataslah yang pertama kalinya menarik perhatianku untuk novel ini. Awalnya, aku tidak ada ekspektasi apa-apa (akhir-akhir ini memang tidak punya ekspektasi berlebih untuk bacaan tertentu karena kebanyakan yang kubaca adalah karya debut) sampai aku mulai membaca bab awal novel ini. Enggak kerasa aja udah dapat beberapa halaman. Ringan, tapi sekaligus menyimpan muatan yang berat dan menarik dan membuat penasaran sejak awal. Meskipun aku sudah menebak garis besar ceritanya (dan ternyata tebakanku benar, yay!), yang membuat aku terus membacanya hingga akhir adalah benar-benar penasaran dengan endingnya.

Sebagian diri Morgan Grant akan mengingatkan kita (mungkin) pada diri kita sendiri yang berada di tengah stress, depresi dan frustrasi saat mengalami kejadian buruk. Sebagian diri Morgan Grant berbagi denganmu tentang hal-hal yang tak sanggup kamu bicarakan dengan orang lain kecuali dirimu sendiri. Dia juga mencoba menunjukkan bahwa dia masih memiliki kekuatan saat keadaan membuatnya harus bertindak demi orang-orang yang dicintai. Meskipun jika itu artinya kita harus memberanikan diri menghadapi ketakutan terbesar.
Goodreads

Judul: Holding Up The Universe
Penulis: Jennifer Niven
Bahasa: Inggris
Desain Sampul: Copyright Shutterstock, 2016
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 388 hlm
ISBN: 9780141357058
Rating-ku: 3 🌟🌟🌟 dari/5 🌟


Blurb:
Everyone thinks they know Libby Strout, but no one’s ever looked past her weight to see who she really is. Since her mum’s death, Libby’s been hiding, but now she’s ready for high school.
I want to be the girt who can do anything.
Everyone thinks they know Jack Masselin too-sexy, aloof and too cool for school. But Jack’s swaggering confidence is hiding a secret he must keep at all costs.
Be charming. Be hilarious. Don’t get too close to anyone.
Then Jack meets Libby. And their worlds change.
Because sometimes when you meet someone, the whole universe just comes into focus.

First Impression
Tahun lalu, aku excited banget pas pertama kali tahu buku ini akan rilis. Selepas baca buku pertama Jennifer Niven, ‘All The Bright Places’ (omaigat, aku belum bikin reviewnyaaa), aku nunggu-nunggu buku baru penulis ini karena tema-tema kehidupan remaja dan dewasa-muda yang dia angkat berbeda dari penulis-penulis teenlit luar negeri lainnya. Setelah tenggelam bersama kisah Finch dan Violet di ‘All The Bright Places’, dengan masalah hidup-mati mereka, aku enggak mau melewatkan ‘Holding Up The Universe’, karena aku jujur bener-bener bosen dengan novel teenlit dalam negeri/luar negeri yang begitu-begitu aja dari dulu. Yap, Niven menawarkan bumbu tema yang belum pernah aku baca sebelumnya. Mental illness. Neurological disease. Loss.

This is what I know about loss: It doesn’t get better. (1) You just get (somewhat) used to it. (2) You never stop missing the people who go away. (3) For something that isn’t there anymore, it weighs a ton. – Libby Strout.


Goodreads
Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Agustus 2015
Tebal: 344 hlm
Bahasa: Indonesia
ISBN13: 9786020318929

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan. 

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


*

Sebelum aku berkata apa-apa tentang novel ini, izinkan aku untuk pecah telor setelah sekian lama absen dari ruang resensi-meresensi buku. Yey, akhirnya di awal tahun 2017 aku mulai meresensi buku yang kubaca! And, I’m glad to have Critical Eleven as the first book I reviewed. It’s from national bestseller author, tho.

Lalu izinkan aku angkat topi kepada Ika Natassa yang telah membuatku merasakan turbulence sepanjang membaca kisah Ale-Anya ini *bow*. Seriously, aku merasakan turbulensi otak dan hati di halaman pertama hingga akhir. Yang mana hal itu berarti something amazing and something ‘bad’ happen when I’m reading this novel. 

What’s up with the something ‘bad’? Apakah itu benar-benar sesuatu yang buruk? Mungkin.

Ini adalah pertama kalinya aku membaca karya Ika Natassa. Dan jujur aku menyesal mengapa tidak membaca karya-karyanya yang lain, sejak lama. Sesuai dengan judul posting ini, ‘Critical Review for Ika Natassa’s Critical Eleven’, karena turbulensi-turbulensi yang kualami selama membaca, aku tergerak untuk melihat karya ini di luar garis entertainment reading. Karena sesuatu di buku ini sangat menarik perhatianku, membuatku tidak tahan untuk bertanya-tanya, menggeretku untuk berpikir. I’ve never found such mind-evoking novel like this in 2016. Mari mulai ngobrolin buku ini!

Pict: google.
Judul: The Chronicles of Audy: O2
Penulis: Orizuka
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun terbit: 2016
Halaman: 364 hlm
ISBN: 9786027742864

Hai, namaku Audy. Umurku masih 22 tahun. Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai cowok yang kusukai memutuskan untuk meneruskan sekolah ke luar negeri.
Ketika aku sedang berpikir tentang nasib hubungan kami, dia memintaku menunggu.
Namun ternyata, tidak cuma itu. Dia juga memberikan pertanyaan yang membuatku ketakutan setengah mati.
Di saat aku sedang kena galau tingkat tinggi, masalah baru (lagi-lagi) muncul.
Seseorang yang tak pernak kulirik sebelumnya, sekarang meminta perhatianku!
Ini adalah kronik dari kehidupanku yang sepertinya akan selalu ribet. Kronik dari seorang Audy.



Summary
Yey, akhirnya seri terakhir dari The Chronicles of Audy sudah rilis! Semenjak mengikuti seri ini aku tidak bisa tidak menantikan kelanjutan dari cerita Audy. Orizuka memang hampir tidak pernah membuatku kecewa dengan kisah yang dia tulis.

Audy Nagisa adalah mahasiswa tingkat akhir yang seperti pada umumnya, terkena masa kritis kuliah yaitu skripsi. Awal pelik kehidupan Audy dimulai saat dia butuh uang untuk membayar kos yang membuatnya jebak dalam kontrak sepihak dengan Regan Rashad, pengacara muda tampan yang sedang membutuhkan pengasuh untuh adiknya terkecilnya bernama Rafael. Hidup Audy pun terbelit di antara anggota keluarga Rashad lain yaitu Romeo anak kedua dan Rex anak ketiga. Dimulai dari tersiksanya menjadi pengasuh Rafael si anak ajaib sekaligus naksir Regan dan patah hati karena Regan sudah punya tunangan. Lalu ditembak si berondong Rex. Lalu Romeo yang tiba-tiba mencari-cari perhatian. Dan tidak boleh ketinggalan adalah skripsi yang tak kunjung selesai. Audy mendapati kisah hidupnya mendapatkan sedikit titik terang.


(pic: google)

Jenny Han
Penerbit Spring
356 hlm, September 2015

Masih dalam maraton reading challege tahun ini bersama Reight Book Club, bulan Mei ini adalah bulan Romance. Jujur sejujurnya, aku sedikit banyak menghindari membaca kisah-kisah yang melankolis, romantis ataupun erotis. Entahlah, rasanya setiap kali aku memegang buku dengan sampul bernuansa romantis dan manis, dalam hati aku meringis. Kapan hari-hariku sewarna dengan sampul novel-novel romance yang ada di rak bukuku. Dan aku pun sadar bahwa sebagian besar buku milikku yang ada adalah romance dari remaja hingga dewasa muda, beberapa ada juga sih yang dewasa (ehem). Dan kenapa aku jadi curcol di review buku yang harusnya profesional ini? Oke, aku mulai membuat diriku sendiri tampak menyedihkan di laman yang harusnya menampilkan reviewku yang memang sebagian besar adalah curhatan (selama membaca buku dan yang berkaitan dengan buku). Oke, pada dasarnya saya cenderung curcol saat menulis. -__-

Untuk genre Romance bulai Mei, aku memilih buku sekuel dari ‘To All The Boys I’ve Loved Before’ karangan Jenny Han yang berjudul ‘P.S. I Still Love You’. Sebelumnya aku sudah membaca buku pertamanya dan benar-benar gemas dan kesal dengan Lara Jean. Bagaimana kisahnya di buku sekuelnya ini? Makin menarik tentunya.

Sinopsis
Lara Jean tidak mengira akan benar-benar jatuh cinta pada Peter. Dia dan Peter tadinya hanya berpura-pura. Tapi tiba-tiba saja mereka tidak lagi pura-pura. Sekarang, Lara Jean tambah bingung dengan perasaannya dan juga dengan situasi yang dia hadapi.
Saat seorang pemuda dari masa lalunya tiba-tiba kembali ke dalam kehidupannya, percikan yang pernah dia rasakan pun kembali. Bisakah seorang gadis jatuh cinta pada dua pemuda sekaligus?

Ringkasan
Kisah Lara Jean dan Peter Kavinsky ternyata berlanjut. Yang tadinya hanya sandiwara kini benar-benar dilakoni keduanya. Kontrak pura-pura pacaran tempo hari, yang menarik permasalahan untuk mendatangi hidup Lara Jean yang aman dan tenang-tenang saja dan mengguncangnya. Lara Jean benar-benar menulis surat cintanya lagi kepada Peter dan ingin menyerahkan surat itu pada pemuda tersebut. Begitu perasaan Lara Jean yang sebenarnya diketahui oleh Peter, mereka pun kembali terjalin dalam hubungan. Kali ini sungguhan. Oh betapa Lara Jean adalah gadis yang paling beruntung.























Orizuka adalah penulis novel Indonesia yang tidak diragukan lagi karya-karyanya. Telah begitu banyak novel remaja dan young-adult yang dia tulis dan mewarnai dunia literasi modern Indonesia. Karyanya yang berjudul ‘The Chronicles of Audy’ ini tentu saja selalu dinantikan oleh para pembaca setia Orizuka dan memberikan warna tersendiri pada karya Orizuka yang berseri seperti Oppa and I series yang ditulis bersama Lia Indra Andriana. Mengusung tema realistic young-adult, Orizuka menyuguhkan kisah hidup seorang gadis bernama Audy Nagisa yang kronik kehidupannya dimulai ketika dia mentok mengerjakan skripsi dan dikejar-kejar tunggakan uang kosannya. Di sini saya akan mereview dua novel sekaligus dari TCA, yaitu TCA: 4R Buku 1 dan TCA: 21 Buku 2. Buku ke-3 dari ‘The Chronicles of Audy’ akan rilis pertengahan tahun ini dan pastinya saya tidak sabar untuk membacanya. Tapi dalam penantian buku ketiganya, saya ingin mengulas tentang dua seri dari ‘The Chronicles of Audy’ ini!

Pandangan Pertama
Didesain dengan nuansa cokelat muda, sampul novel ‘The Chronicles of Audy: 4R’ dan ‘The Chronicles of Audy: 21’ memiliki kesamaan dalam konsep sampul seperti novel-novel serial lain. Tentu saja ini tepat sekali karena novel ini merupakan novel serial. Buku 1 dipulas dengan nuansa merah sementara Buku 2 dengan warna biru. Ilustrasi kotak surat dalam Buku 1 pun mendukung cerita dengan simbolis sementara di buku 2 dengan ilustrasi perahu yang menyimbolkan ‘ship’ atau hubungan antartokohnya. Sampulnya tidak terlalu rumit dan minimalis tapi tetap saja menarik. Pilihan font yang dipakai juga sangat cocok dengan tema novel ini.

Sementara itu, di bagian dalam buku layout benar-benar diperhatikan. Penggunaan font yang tidak terlalu artistik dan rumit membuat nuansa cerita yang mengalir dan ringan dapat dirasakan ketika membaca. Karena ceritanya terpusat pada Audy yang sifatnya apa adanya dan cenderung menggemaskan, font yang dipilih pun mendukung dengan karakter tokoh. Ukuran font sangat pas menurutku, tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Sangat nyaman untuk dibaca. Ada juga bookmark yang terselip di bukunya. Desain bookmark-nya memang sangat unik, yang menggambarkan kelima tokoh utama dari novel ini: Audy, Regan, Romeo, Rex dan Rafael. Tentu saja itu sangat menarik perhatian para pembaca dan membuat pembaca harap-harap cemas dapat bookmark dengan karakter mana. Sepertinya, bookmark Regan banyak banget ya, yang Rex kok jarang sih.. hehehe.




Judul: Time After Time
Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: Gagasmedia
Tahun: 2015
Halaman: 280 hlm
ISBN: 9789797807894
Genre: fantasy, romance, time travel

Waktu bisa saja mengelabuimu
Mengambil yang kau inginkan. Menjauhkan yang kau impikan. Memberi yang tak pernah kau harapkan. Mendatangkan seseorang yang nyaris tak kau duga.
Lewat sebuah paket misterius, pintu masa lalu terbuka. Kau tiba-tiba saja diberi kesempatan menelusuri rahasia. Akankah kau mengambil kesempatan yang mungkin hanya ada dalam dongeng belaka?
Lasja yang masih berkabung atas kematian ayahnya memutuskan mengambil kesempatan ini. Ada kenangan indah bersama sang Ayah yang ingin ia ulang. Ada rahasia tentang Ibu yang ingin ia ketahui kebenarannya.
Namun ada kalanya, masa lalu memang seharusnya dibiarkan menjadi masa lalu. Perjalanan waktu itu seharusnya tak pernah terjadi. Untuk apa jika hanya membuatnya kehilangan lagi?
Ketika kehilangan satu hal, kau akan mendapatkan hal lain yang lebih berarti. Lasja pernah percaya akan hal itu. Tetapi, tidak kali ini, ketika tidak hanya cinta, masa lalu pun ternyata mengkhianatinya.
Ia hanya ingin kembali, bagaimanapun caranya. Akankah waktu mampu membawa gadis itu kembali juga membuatnya jatuh cinta sekali lagi?

~ First Impression ~
Pertama kali tahu tentang novel ini lewat gambar yang diunggah sama Adit di facebooknya. Aku masih ingat gambar itu sebuah tagline tentang novel terbarunya ini. Dan aku langsung antusias tak sabar ingin novel itu cepat terbit. Kali ini Adit memberikan sentuhan fantasi dalam kisah romannya. Selain itu akhirnya Gagasmedia memberikan sentuhan berbeda pada karya-karya yang diterbitkannya karena sejauh ini aku belum pernah tahu ada genre fantasi yang diterbitkan Gagasmedia. Dan ketika semua proses menunggu novel ini selesai dan covernya diunggah secara resmi oleh Gagasmedia, aku semakin berharap bisa mengikuti kisah Lasja dalam Time After Time. Ohya, novel ini merupakan seri Time Travel yang dikeluarkan oleh Gagasmedia tahun ini. Setelah sukses dengan seri Setiap Tempat Punya Cerita, seri 7 Deadly Sins, tahun ini Gagasmedia memiliki banyak proyek buku seri yang segenre meskipun tidak secara cerita saling berhubungan. Selain seri Time Travel ini adalah seri Love Cycle.

Sebagai penyuka fantasi dan sci-fi—meskipun belum bisa dikatakan fans beneran—aku selalu tertarik dengan sesuatu yang bernapaskan fantasi dan sci-fi. Pengetahuanku tentang karya-karya fantasi dan sci-fi sendiri pun sama sekali tidak bisa dikatakan banyak. Selain itu, belum banyak penulis tanah air yang memfokuskan dan mengkhususkan diri sebagai penulis fiksi ilmiah dan fantasi secara penuh. Dan ketika novel ini rilis, aku beneran nggak sabar pengen baca!



Judul               : To All The Boys I’ve Loved Before
Penulis            : Jenny Han
Penerbit          : Penerbit Spring
Tahun terbit   : April, 2015 (cetakan pertama)
Halaman         : 380 hlm
ISBN               : 9786027150515
Genre              : Novel Remaja, Terjemahan
Penerjemah    : Airien Kusumawardani

Lara Jean menyimpan surat-surat cintanya di sebuah kotak topi pemberian ibunya.
Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai—totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.
Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan—entah oleh siapa.
Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya—termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya dan cowok terkeren di sekolah.

S
ebelumnya aku ingin berterima kasih kepada Penerbit Spring dan @Libri Ra karena berkat blog tour dan giveaway-nya aku bisa mendapatkan novel keren ini! Aku juga sangat menikmati event blog tour ini dan berhasil mengikuti hampir seluruh blog tour dan giveawaynya. Tapi sayang sekali aku tidak bisa ikut kuis Finale-nya karena ada masalah dengan laptop. Tetapi, rasanya mendapatkan novel To All The Boys I’ve Loved Before saja ini sudah sangat aku syukuri dan ini membuatku sangat senang. Baru novel ini yang bisa kulibas habis hanya dalam waktu singkat tahun ini! Aku hanya butuh waktu satu kali duduk selama tiga jam mulai jam dua belas malam sampai jam tiga pagi untuk mengikuti kisah Lara Jean dan surat-surat cintanya.
~ First Impression ~
Kurasa bukan aku saja yang jatuh hati pada novel ini karena sampulnya yang sangat cantik. Penampilan novel ini dengan sampul yang sudah terkonsep sangat matang ini sangat menarik. Selain enak dipandang, sampul To All The Boys I’ve Loved Before ini menurutku sudah sebagus poster film. Konsep yang begitu matang dan terencana terlihat jelas dari sampulnya dan juga model yang menjadi Lara Jean di sampul tersebut sungguh amat mendekati kemiripan dengan tokoh Lara Jean.
Dari segi ceritanya, kisah Lara Jean sudah menarik untuk dibaca. Di zaman modern seperti sekarang cewek seperti apa sih yang masih menulis surat diam-diam untuk cowok yang dia taksir? Bagaimana nasib cewek itu kalau sampai surat-suratnya diterima oleh orang-orang yang dia tulis dalam surat cintanya? Ini mungkin bukan ide paling brilian, tetapi kisah Lara Jean sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Ini pertama kalinya Blind Date With Book dilaksanakan oleh teman-teman dari Klub Buku Kediri. Meskipun hanya kami berempat (Mbak Dewi, Liya, Andika dan saya), BDWB tetap berjalan seru dan menyenangkan. Kami sepakat bertemu di Monumen Simpang Lima Gumul dan tepat di dalam monumennya kami memulai blind date ini. Nah, Imipramine inilah yang menjadi teman kencanku bulan Mei ini. 

Judul: Imipramine
Penulis: Nova Riyanti Yusuf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:  9792207821 
Paperback, 159 pages

Kesan pertama
Jujur, aku tidak bisa menebak kisah seperti apa yang akan kutemukan dalam buku ini. Mengenal penulisnya pun baru pertama kali ini. Setelah browsing sedikit akhirnya tahu kalau penulis adalah dokter yang juga aktif di bidang politik. Nah, begitu mulai membaca saya langsung pusing. Banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan ilmiah yang tidak semuanya saya mengerti. Dan hal itu cukup membuat alis mengernyit.

Ide Cerita dan Alur
Berbau psiko-seksual, politik dan konspirasi. Intrik konflik tiap tokoh bertautan dengan pengupasan karakterisasi di setiap halamannya adalah ide yang menarik. Tetapi yang aku sayangkan adalah perpindahan sudut pandang antara tokoh yang satu dengan yang lainnya, dan penekanan pada siapa tokoh utamanya tidak begitu diperhatikan oleh penulis. Seharusnya penulis membuat perpindahan karakter atau sudut pandang dengan memberikan petunjuk bagi pembaca. Hal ini membuat saya kurang bisa memahami rantai ceritanya karena seolah-olah semua konflik batin tiap tokoh tumpah ruah tanpa jejak yang jelas. Dan mungkin ini keterbatasan saya sebagai pembaca, saya tidak menemukan apa makna Imipramine yang dimaksud. Imipramine adalah nama sebuah zat obat kimia yang memiliki efek tertentu pada manusia namun seolah-olah di sini ada tokoh yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Impramine.


Layout
Desain kovernya bagus, simpel dan misterius. Tetapi sayang sekali penataan di dalam bukunya tidak diperhatikan dengan baik. Adanya perbedaan jenis font dan judul-judul di awal bagian cerita justru membuat bingung ketika membaca. Apa maksudnya font di bagian sini dibedakan dengan font di bagian yang lain?

Overall, buku ini akan jadi lebih bagus lagi jika kembali diperhatikan tatanan layout isinya dan disempurnakan alur-alurnya yang belum jelas. It was okay but it is not my cup of tea.

pic: Goodreads(dot)com
Judul              : Girls in The Dark
Penulis           : Akiyoshi Rikako
Penerbit          : Haru
Terbit             : Mei 2014
Tebal             : 279 hlm
ISBN             : 978-602-7742-31-4
Genre       : J-Lit, remaja, thirller, dark, psycho, Tantangan Membaca 2015: Buku-buku “karya” Dini Novita Sari

Sinopsis
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu? Gadis itu mati. Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily. Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu. Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyaa, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi... Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang? – Girls in The Dark.

First Impression
Saya tidak pernah membaca novel bergenre thriller, horror, suspense atau apapun yang berbau pertumpahan darah, kegilaan, psycho dan hal-hal gelap seperti ini. Bacaan saya selama ini jika dianalogikan yaitu seperti pelangi, berwarna-warni ceria, juga seperti es-krim tiga rasa cokelat-vanila-strawberry dan berbau teori konspirasi atau sci-fi. Saya anti pada bacaan apapun yang menggandung unsur kegelapan. Tapi Tantangan Membaca ‘karya’ Dini Novita Sari mengubah segalanya. ‘Girls in The Dark’ adalah novel pertama sepanjang sejarah membaca novel saya yang berbau dark-thriller. Jujur saya kurang menyukai genre seperti itu. Saya tidak bisa membaca sesuatu yang berisi adegan berdarah-darah dan pembunuhan. Tapi ‘Girls in The Dark’ ternyata tidak seseram yang saya kira. Cocoklah untuk sebagai kudapan pembuka jika saya ingin menambah daftar bacaan saya dari genre serupa.
Mass Market Paperback, 264 pages
Published January 22nd 2015 by Gramedia Pustaka Utama
original title Ally: All These Lives
ISBN 139786020308845
 SINOPSIS

Apa yang akan kaulakukan jika satu menit yang lalu kau anak tunggal orangtuamu, lalu satu menit kemudian ada seseorang yang muncul entah dari mana dan duduk di sampingmu mengaku sebagai adikmu? Apa yang kaulakukan jika kau menemukan foto di meja, menampilkan dirimu dan seseorang yang belum pernah kaulihat? Apa yang kaulakukan jika kau pulang ke rumah dan menemukan bahwa di dalam rumah itu sudah ada dirimu yang lain?


Kehidupan Ally memang bukan kehidupan biasa. Kerap kali ia mendapati dirinya ditempatkan dalam kehidupan yang seolah miliknya, tapi ternyata bukan. Dan tiba-tiba kata “pulang” punya makna yang baru. Apakah Ally akan memiliki kesempatan untuk “pulang”? Akankah ia bisa kembali pada cinta yang ditinggalkannya di kehidupannya yang lain?

Ini bukan kisah biasa. Ini kisah yang akan membuatmu berpikir kembali tentang arti hidup dan arti cinta yang sebenarnya. 

Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd