Gelombang adalah novel yang membuka rangkaian kegiatan
membacaku tahun 2015. Seolah seperti tarian selamat datang, Alfa Sagala
menyambutku dengan gulungan gelombang perasaan yang berkecamuk hingga kini. Dan
sebenarnya aku ingin menyimpan sendiri kesanku tentang Gelombang tanpa membuat
catatan atau review buku seperti biasanya. I want this feeling for myself,
not even a word about my Alfa Sagala I want to share. Tapi godaan
bertemu sang kreatornya menumbuhkan semangat lain. I want to meet the author
and shout out loud this feeling for Alfa. Sekali lagi, Dee Lestari
menghajar para pembacanya dengan melemparkan mereka ke arus kisah Gelombang.
Dan membuat kami para pembacanya tetap saja menanti dengan degup jantung
penasaran akan Intelegensi Embun Pagi atau #IEP. Sama saja, mau pembaca yang
berkomentar tidak puas, kurang dapet greget dan sebagainya dari Gelombang atau
pembaca yang serta merta menyukai kisah Alfa Sagala ini. Semuanya tetap
berakhir dengan keinginan supaya kisah selanjutnya bisa segera kami nikmati.
Bukti ketajaman pena Dee Lestari tetap menggores di hati para pembacanya.
Apakah kau pernah merasakan rasa heran dan takjub yang sangat dalam pada
satu waktu sekaligus? Hanya ada rasa ingin tahu di otak dan juga hatimu? Hingga
rasa-rasanya kau takkan melakukan apapun sampai kau menyuapi rasa ingin tahu
itu dengan beberapa sendok penemuan-penemuan dan jawaban?
(picture from google)
Hal itulah yang kupelajari dari kisah Ben Wilson (Wonderstruck – Brian
Selznick) dan Liesel Memminger (The Book Thief – Markus Zuzak). Kedua anak ini
diliputi oleh rasa ingin tahu akan sesuatu yang memanggil hati mereka. Ben
Wilson yang tuli melakukan perjalanan dari Minnesota, Gunflint ke New York City
hanya berbekal alamat lama pada selembar pembatas buku demi menemukan siapa
sebenarnya dirinya. Liesel Meminger yang baru saja kehilangan adik laki-lakinya
dan harus tinggal bersama Pria Berhati Akordion dan Wanita Berjubah Petir tidak
bisa berhenti mencuri buku-buku yang seharusnya terlarang pada waktu itu. Rasa
penasaran mereka bagaikan makhluk buas yang kelaparan.
Sudah menjadi ciri-ciri para anak bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu
yang tak hanya tinggi tetapi besar. Mereka tak akan berhenti setelah menemukan
jawaban untuk pertanyaan pertama mereka, mereka terus mengejar jawaban untuk
pertanyaan di kepala mereka yang sama tak terhitungnya dengan jumlah konstelasi
bintang di angkasa.
“Terkadang kehidupan menghalangi jalanmu.”
Aku tidak akan pernah menyangka akan terlibat dalam kronik permasalahan
hidup semacam ini bila aku tidak membaca Slammed yang ditulis Colleen
Hover ini. Sungguh bila waktu itu aku tidak memutuskan ikut membaca bersama
Reight Book Club, aku akan melewatkan satu kisah yang ‘berbeda’ dari banyaknya
cerita young-adult romance yang tersaji dalam bentuk novel. Sebelumnya, aku
tahu novel ini dari Riefa-seorang teman sekampus-yang memiliki English
versinya. Ketika Adit memberitahu bahwa Slammed menjadi read-along di RBC,
kuputuskan untuk ikut. Setelah kutanyakan seperti apa novel ini pada temanku
tadi, tanpa berpikir dua kali, aku ingin membacanya.
Oya, ini pertama kalinya aku ikut read-along di RBC, setelah mengintip
beberapa review di blog teman-teman RBC aku menyadari bahwa aku memiliki cara
yang berbeda dalam membuat review buku. Namun kali ini aku menyeragamkannya
dengan gaya RBC. Kuharap aku bisa ikut terus membaca bersama kalian. :’D
