• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia
Dunia Sofia

Selamat Tahun Baru 2017! Menyambut tahun yang baru, Dunia Sofia akan kembali aktif dengan posting resensi buku yang lebih rajin dan teratur lagi. Aku punya setumpuk bacaan yang belum bisa kubaca semua di tahun kemarin dan setumpuk buku yang belum sempat aku resensi. Untuk mengawali tahun ini aku punya empat buku yang rencananya akan aku baca dan baca ulang di bulan Januari ini. Buku-buku itu adalah:






















Orizuka adalah penulis novel Indonesia yang tidak diragukan lagi karya-karyanya. Telah begitu banyak novel remaja dan young-adult yang dia tulis dan mewarnai dunia literasi modern Indonesia. Karyanya yang berjudul ‘The Chronicles of Audy’ ini tentu saja selalu dinantikan oleh para pembaca setia Orizuka dan memberikan warna tersendiri pada karya Orizuka yang berseri seperti Oppa and I series yang ditulis bersama Lia Indra Andriana. Mengusung tema realistic young-adult, Orizuka menyuguhkan kisah hidup seorang gadis bernama Audy Nagisa yang kronik kehidupannya dimulai ketika dia mentok mengerjakan skripsi dan dikejar-kejar tunggakan uang kosannya. Di sini saya akan mereview dua novel sekaligus dari TCA, yaitu TCA: 4R Buku 1 dan TCA: 21 Buku 2. Buku ke-3 dari ‘The Chronicles of Audy’ akan rilis pertengahan tahun ini dan pastinya saya tidak sabar untuk membacanya. Tapi dalam penantian buku ketiganya, saya ingin mengulas tentang dua seri dari ‘The Chronicles of Audy’ ini!

Pandangan Pertama
Didesain dengan nuansa cokelat muda, sampul novel ‘The Chronicles of Audy: 4R’ dan ‘The Chronicles of Audy: 21’ memiliki kesamaan dalam konsep sampul seperti novel-novel serial lain. Tentu saja ini tepat sekali karena novel ini merupakan novel serial. Buku 1 dipulas dengan nuansa merah sementara Buku 2 dengan warna biru. Ilustrasi kotak surat dalam Buku 1 pun mendukung cerita dengan simbolis sementara di buku 2 dengan ilustrasi perahu yang menyimbolkan ‘ship’ atau hubungan antartokohnya. Sampulnya tidak terlalu rumit dan minimalis tapi tetap saja menarik. Pilihan font yang dipakai juga sangat cocok dengan tema novel ini.

Sementara itu, di bagian dalam buku layout benar-benar diperhatikan. Penggunaan font yang tidak terlalu artistik dan rumit membuat nuansa cerita yang mengalir dan ringan dapat dirasakan ketika membaca. Karena ceritanya terpusat pada Audy yang sifatnya apa adanya dan cenderung menggemaskan, font yang dipilih pun mendukung dengan karakter tokoh. Ukuran font sangat pas menurutku, tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Sangat nyaman untuk dibaca. Ada juga bookmark yang terselip di bukunya. Desain bookmark-nya memang sangat unik, yang menggambarkan kelima tokoh utama dari novel ini: Audy, Regan, Romeo, Rex dan Rafael. Tentu saja itu sangat menarik perhatian para pembaca dan membuat pembaca harap-harap cemas dapat bookmark dengan karakter mana. Sepertinya, bookmark Regan banyak banget ya, yang Rex kok jarang sih.. hehehe.



Ini pertama kalinya Blind Date With Book dilaksanakan oleh teman-teman dari Klub Buku Kediri. Meskipun hanya kami berempat (Mbak Dewi, Liya, Andika dan saya), BDWB tetap berjalan seru dan menyenangkan. Kami sepakat bertemu di Monumen Simpang Lima Gumul dan tepat di dalam monumennya kami memulai blind date ini. Nah, Imipramine inilah yang menjadi teman kencanku bulan Mei ini. 

Judul: Imipramine
Penulis: Nova Riyanti Yusuf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:  9792207821 
Paperback, 159 pages

Kesan pertama
Jujur, aku tidak bisa menebak kisah seperti apa yang akan kutemukan dalam buku ini. Mengenal penulisnya pun baru pertama kali ini. Setelah browsing sedikit akhirnya tahu kalau penulis adalah dokter yang juga aktif di bidang politik. Nah, begitu mulai membaca saya langsung pusing. Banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan ilmiah yang tidak semuanya saya mengerti. Dan hal itu cukup membuat alis mengernyit.

Ide Cerita dan Alur
Berbau psiko-seksual, politik dan konspirasi. Intrik konflik tiap tokoh bertautan dengan pengupasan karakterisasi di setiap halamannya adalah ide yang menarik. Tetapi yang aku sayangkan adalah perpindahan sudut pandang antara tokoh yang satu dengan yang lainnya, dan penekanan pada siapa tokoh utamanya tidak begitu diperhatikan oleh penulis. Seharusnya penulis membuat perpindahan karakter atau sudut pandang dengan memberikan petunjuk bagi pembaca. Hal ini membuat saya kurang bisa memahami rantai ceritanya karena seolah-olah semua konflik batin tiap tokoh tumpah ruah tanpa jejak yang jelas. Dan mungkin ini keterbatasan saya sebagai pembaca, saya tidak menemukan apa makna Imipramine yang dimaksud. Imipramine adalah nama sebuah zat obat kimia yang memiliki efek tertentu pada manusia namun seolah-olah di sini ada tokoh yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Impramine.


Layout
Desain kovernya bagus, simpel dan misterius. Tetapi sayang sekali penataan di dalam bukunya tidak diperhatikan dengan baik. Adanya perbedaan jenis font dan judul-judul di awal bagian cerita justru membuat bingung ketika membaca. Apa maksudnya font di bagian sini dibedakan dengan font di bagian yang lain?

Overall, buku ini akan jadi lebih bagus lagi jika kembali diperhatikan tatanan layout isinya dan disempurnakan alur-alurnya yang belum jelas. It was okay but it is not my cup of tea.

pic: Goodreads(dot)com
Judul              : Girls in The Dark
Penulis           : Akiyoshi Rikako
Penerbit          : Haru
Terbit             : Mei 2014
Tebal             : 279 hlm
ISBN             : 978-602-7742-31-4
Genre       : J-Lit, remaja, thirller, dark, psycho, Tantangan Membaca 2015: Buku-buku “karya” Dini Novita Sari

Sinopsis
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu? Gadis itu mati. Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily. Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu. Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyaa, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi... Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang? – Girls in The Dark.

First Impression
Saya tidak pernah membaca novel bergenre thriller, horror, suspense atau apapun yang berbau pertumpahan darah, kegilaan, psycho dan hal-hal gelap seperti ini. Bacaan saya selama ini jika dianalogikan yaitu seperti pelangi, berwarna-warni ceria, juga seperti es-krim tiga rasa cokelat-vanila-strawberry dan berbau teori konspirasi atau sci-fi. Saya anti pada bacaan apapun yang menggandung unsur kegelapan. Tapi Tantangan Membaca ‘karya’ Dini Novita Sari mengubah segalanya. ‘Girls in The Dark’ adalah novel pertama sepanjang sejarah membaca novel saya yang berbau dark-thriller. Jujur saya kurang menyukai genre seperti itu. Saya tidak bisa membaca sesuatu yang berisi adegan berdarah-darah dan pembunuhan. Tapi ‘Girls in The Dark’ ternyata tidak seseram yang saya kira. Cocoklah untuk sebagai kudapan pembuka jika saya ingin menambah daftar bacaan saya dari genre serupa.
Apakah kau pernah merasakan rasa heran dan takjub yang sangat dalam pada satu waktu sekaligus? Hanya ada rasa ingin tahu di otak dan juga hatimu? Hingga rasa-rasanya kau takkan melakukan apapun sampai kau menyuapi rasa ingin tahu itu dengan beberapa sendok penemuan-penemuan dan jawaban?

     
(picture from google)

Hal itulah yang kupelajari dari kisah Ben Wilson (Wonderstruck – Brian Selznick) dan Liesel Memminger (The Book Thief – Markus Zuzak). Kedua anak ini diliputi oleh rasa ingin tahu akan sesuatu yang memanggil hati mereka. Ben Wilson yang tuli melakukan perjalanan dari Minnesota, Gunflint ke New York City hanya berbekal alamat lama pada selembar pembatas buku demi menemukan siapa sebenarnya dirinya. Liesel Meminger yang baru saja kehilangan adik laki-lakinya dan harus tinggal bersama Pria Berhati Akordion dan Wanita Berjubah Petir tidak bisa berhenti mencuri buku-buku yang seharusnya terlarang pada waktu itu. Rasa penasaran mereka bagaikan makhluk buas yang kelaparan.

Sudah menjadi ciri-ciri para anak bahwa mereka memiliki rasa ingin tahu yang tak hanya tinggi tetapi besar. Mereka tak akan berhenti setelah menemukan jawaban untuk pertanyaan pertama mereka, mereka terus mengejar jawaban untuk pertanyaan di kepala mereka yang sama tak terhitungnya dengan jumlah konstelasi bintang di angkasa.



“Terkadang kehidupan menghalangi jalanmu.”

                       


Aku tidak akan pernah menyangka akan terlibat dalam kronik permasalahan hidup semacam ini bila aku tidak membaca Slammed yang ditulis Colleen Hover ini. Sungguh bila waktu itu aku tidak memutuskan ikut membaca bersama Reight Book Club, aku akan melewatkan satu kisah yang ‘berbeda’ dari banyaknya cerita young-adult romance yang tersaji dalam bentuk novel. Sebelumnya, aku tahu novel ini dari Riefa-seorang teman sekampus-yang memiliki English versinya. Ketika Adit memberitahu bahwa Slammed menjadi read-along di RBC, kuputuskan untuk ikut. Setelah kutanyakan seperti apa novel ini pada temanku tadi, tanpa berpikir dua kali, aku ingin membacanya.

Oya, ini pertama kalinya aku ikut read-along di RBC, setelah mengintip beberapa review di blog teman-teman RBC aku menyadari bahwa aku memiliki cara yang berbeda dalam membuat review buku. Namun kali ini aku menyeragamkannya dengan gaya RBC. Kuharap aku bisa ikut terus membaca bersama kalian. :’D


The Truth about Forever: Kebencian Membuatmu Kesepian by Orizuka

My rating: 5 of 5 stars

Judul: The Truth About Forever
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 304 hlm

Novel Orizuka ini sebelumnya sudah diterbitkan dan direpackage lagi dengan cover baru. Sebenarnya sudah dari dulu ingin membaca The Truth About Forever, namun karena stok buku lamanya sudah sulit ditemukan di toko-toko buku, akhirnya baru setelah direpackage aku bisa memiliki buku ini. Yang membuatku tertarik dengan novel Orizuka ini adalah taglinenya yang berbunyi, “Kebencian membuatmu kesepian”. Terdengar sangat dalam dan penuh makna.

The Truth About Forever mengisahkan seorang laki-laki bernama Yogas yang mencari seseorang di kota Yogya, seseorang yang sangat penting baginya sehingga dia harus menemukan orang itu. Selama pencariannya Yogas dipertemukan dengan seorang gadis bawel, tetangga kosnya bernama Kana. Kana adalah gadis manis yang memiliki sifat ramah dan hangat, berbeda sekali dengan Yogas yang cenderung tertutup, dingin dan menyebalkan. Ya bisa ditebak kan, apa yang selanjutnya terjadi antara Yogas dan Kana. Kana pun jatuh cinta kepada Yogas dan sepertinya Yogas pun merasakan hal yang sama, namun jangan harap kisah mereka romantis dan berbunga-bunga. Seperti yang dikatakan Yogas, “Kita tidak punya masa depan,”

Sesuatu Yang Tertunda by Sky Nakayama

My rating: 3 of 5 stars

Judul: Sesuatu Yang Tertunda
Penulis: Sky Nakayama
Penerbit: PlotPoint Publishing
Halaman: 191 hlm

Sudah lama sekali saya tidak mereview buku atau novel, postingan pertama untuk bulan Juni sedikit terlambat nih. Kali ini saya akan mereview novel karya Sky Nakayama yang berjudul Sesuatu Yang Tertunda. Sebelumnya, saya sangat berterimakasih sekali kepada PlotPoint atas kesempatan menang dalam kuis #YangTertunda sehingga saya bisa memiliki novel ini, saya tidak menyangka sekali karena awalnya hanya coba-coba saja dan ternyata menang! Yay~~

Singkatnya, novel ini bercerita tentang Alina, Aria dan Arian dan masa lalu gadis ini. Gadis ini berhasil menarik perhatian dua kakak-adik, Arian dan Aria dan membuat keduanya jatuh cinta. Namun bukan persaingan untuk mendapatkan Alina yang banyak dikisahkan namun justru betapa mereka ini sering menunda untuk mengutarakan perasaan dan mengatakan apa yang mereka ingin katakan sehingga terjalinlah cerita yang bagiku, duh..kasihan Alinanya. Mau tidak mau aku juga bersimpati sama Alina, merasakan perihnya juga bagaimana rasanya perasaan seolah dipermainkan.

Bahagia itu sederhana, menulis dan menerbitkan buku lalu melihat bukunya berjajar di antara rak-rak buku. Begitulah yang saya rasakan ketika mengetahui Project Dear Papa akan diterbitkan oleh Penerbit Gradien secara luas dan bukan hanya indie-published.

Awalnya bersama mbak @lalapurwono dan mbak @MeityIskandar Project Dear Papa ini tercetus. Merupakan salah satu dari proyek menulis dari Dear Books Project, saya beruntung bisa ikut di sana. Project menulis surat cinta untuk ayah ini juga bertepatan dengan Ulang Tahun Ayah waktu itu, bulan Februari 2011. Saya ingin mempersembahkan sebuah hadiah kecil kepada Ayah. Lalu saya pun menulis surat istimewa tersebut dan mengikutkannya pada Project Dear Papa. Setelah proses penyusunan buku oleh kedua korpro yang luar biasa ini, buku Dear Papa pun tersusun menjadi enam buku yang diterbitkan secara indie lewat Nulisbuku(dot)com. Surat cinta saya untuk Ayah ada di buku ke tiga.

Cover Dear Papa 3 yang terbit di Nulisbuku(dot)com


Dan berita membahagiakan itu datang, bahwa ada sebuah penerbit besar yang berminat untuk menerbitkan buku Dear Papa juga Dear Mama—salah satu project Dear Books lainnya. Rasa haru dan bahagia ketika mendapatkan kesempatan ini. Jadi dari enam buku Dear Papa dipilih lagi surat-surat cinta tersebut sehingga terkumpul lebih dari tiga puluh penulis. Buku Dear Papa akan segera terdistribusi meluas di seluruh Gramedia dan toko buku. Tukarkan 40rb anda dengan kumpulan surat manis yang menyentuh dan kesempatan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan karena royalti buku ini akan disumbangkan untuk yayasan sosial.

DEAR PAPA - Selalu Ada Cinta Untuk Papa


Cover Dear Papa terbit dari Penerbit Gradien

Judul: Dear Papa - Selalu Ada Cinta Untuk Papa
Penulis : Penulis-penulis Dear Papa Project (Meity Mutiara, Lala Purwono, dkk termasuk saya lhoo.. hehehe)
Penerbit: Penerbiit Gradien
Tahun terbit: 2013
Harga: Rp. 40.000,-

**Royalti dari buku ini disumbangkan ke yayasan sosial, mari baca kisah-kisah ini dan mari berbagi banyak cinta kasih.

Dunia Sophie
Dunia Sophie by Jostein Gaarder

My rating: 5 of 5 stars


“Wisest is she who knows she does not know.” ― Jostein Gaarder, Sophie's World

Langsung saja mari kita menikmati filsafat yang dibalut dengan dongeng yang begitu memikat.
Taman Firdaus—Sophie Amundsen menerima kiriman surat-surat misterius berisi ucapan selamat ulang tahun yang ditujukan kepada gadis bernama Hilde yang tinggal di Lillesland oleh ayahnya dari Lebanon, namun bukan itu saja yang misteri yang dihadapi Sophie. Seseorang berusaha mengajaknya bermain-main dalam dunia pemikiran—filsafat.

Hari demi hari Sophie diperkenalkan dengan filosof-filosof Yunani Kuno Heraclitus, Descrates , Plato, Aristoteles dan lain-lainnya hingga ke masa zamannya sekarang. Dia melalui perjalanan filsafat yang penuh petualangan dalam pemikiran-pemikiran yang sangat menarik oleh para filosof itu. Alberto Knox, guru filsafat misteriusnya itu terkadang membuat dunia Sophie jungkir balik begitu pula Hildegaard dan Ayahnya.

Tidak ada kata-kata lebih lagi, buku ini memikat saya dengan ketebalan 800 halaman. Bukan hanya kisah misteri dan fantasinya, tapi pendalaman filsafatnya begitu mudah diterima awam. Saya pernah belajar Filsafat Umum di semester 5 di matakuliah yang sama. Dan menemukan adanya gambaran yang semakin terang tentang apa yang telah saya pelajari, dan bahkan menemukan beberapa titik terang yang selama ini masih redup di kepala saya.
Madre (Kumpulan Cerita)Madre by Dee
My rating: 5 of 5 stars

Menyatakan diri sebagai penyuka tulisan Dee membuat saya sangat berdosa ketika baru membaca Madre kali ini dan bahkan saya masih berusaha mengumpulkan sekeping demi sekeping untuk bisa mendapatkan keempat seri Supernova. Beruntung saya dipinjami, lebih tepatnya minta dipinjami, Madre.

Setelah Filosofi Kopi dan Perahu Kertas, Madre terkesan lebih dewasa dan bijak. Mungkin sama seperti Filosofi Kopi, namun Madre menampilkan sisi dewasa dan bijak yang terkesan dengan tema-tema serius. Sementara Filosofi Kopi lebih dinamis dan terkesan ringan tapi tetap bermakna, Madre memberikan kumpulan perenungan dari setiap judul-judulnya. Mungkin itulah salah satu efek pemberian nama Madre yang terdengar begitu menenangkan seperti mendengar suara Ibu.

Dari judul-judul dalam Madre saya pribadi menyukai tulisan Dee yang terakhir, berjudul Barangkali Cinta. Sangat tepat menjadikan ini penutup dari perenungan-perenungan sejak halaman pertama cerpen Madre hingga kisah Christian dan Starla berakhir dengan pelukan bioskop. Madre dan Menunggu Layang-Layang adalah dua cerpen yang saya suka setelah puisi Barangkali Cinta. Madre dengan pergulatan Tansen mengenai keputusannya untuk lepas dari kebebasan yang dia ciptakan sendiri dan mengurungnya. Menunggu Layang-Layang dengan perdebatan antara persahabatan dan cinta, ego, rasio, emosi dan hati nurani.

Sungguh saya tidak bisa bergerak sejak pertama membaca Madre. Sepertinya ada mantra pengikat atau semacam penarik magis sehingga rantai huruf yang membentuk kumpulan kata buah tangan Dee ini menjadi terlalu sayang untuk ditinggalkan barang sejenak. Saya menyukai Madre seperti ketika saya selesai membaca Filosofi Kopi. Ada kesan yang sama, yakni selalu perenungan dan kejelian dalam mendetailkan pengamatan.

Dee, saya belajar banyak dari dia.

View all my reviews


This blog post is dedicated to celebrate Blog Buku Indonesia Anniversary which is book blog My Heaven on Earth rolls a giveaway for the celebration. It is about what book I want to watch as a movie and my thought comes to a sad beautiful tragic The Fault in Our Stars by John Green.

The Fault in Our Stars – John Green

#1 New York Times Bestseller sekaligus Best Young-Adult Fiction Goodreads Choice Awards 2012 ini pasti sudah tidak asing lagi bagi para penikmat novel Young-Adult atau dewasa-muda.

The Fault in Our Stars adalah sebuah novel yang berkisah tentang Hazel Grace, seorang penderita kanker yang memiliki pandangan berbeda tentang hidupnya yang bergantung pada tabung oksigennya. Sebelum dia bertemu dengan Augustus Waters, anak laki-laki yang begitu memikat meskipun pada nyatanya dia hanya punya satu kaki, Hazel Grace cenderung menjalani hari-harinya bersama kanker dengan kemurungan dan hal-hal yang tidak bersemangat. Augustus Waters telah membuatnya merasa bahwa menjadi enam belas tahun yang kemana-mana harus menyeret tabung oksigen di atas troli dan selang pernapasan di mulut dan hidung merupakan hal terindah bagi Hazel. Augustus pula yang mewujudkan keinginan Hazel untuk bisa bertemu dengan penulis favoritnya Peter Van Houten yang malang. Mereka melewati hari-hari penuh kesakitan dan kebahagiaan bersama.
Judul: The Not-So-Amazing Life of @aMrazing
Penulis: Alexander Thian
Penerbit: GagasMedia (2012)
Halaman: 220 hlm

Gue nggak habis pikir gimana kok bisa ada kisah hidup seaneh dan seajaib Mas Konter ini. Udah aneh bin ajaib, cerita di dalamnya terasa gak masuk akal tapih yaah helloww... Nothing is impossible! Gak ada yang gak munking terjadi di dunia ini, kan? Nah, si cerita Mas Alex ‘Konter’ inilah salah satu buktinya. Keanehan dan kenylenehan ceritanya bener-bener bikin aku gak habis pikir. You have the strangest and the most amrazing story!

Yah, harus gue akui kalau kelebihan buku ini ada pada cara tutur Mas Alex ‘Konter’. Penuturannya khas dan gayanya yang selancar aliran air terjun Niagara membuat buku setebal 220 halaman ini aku libas semalaman aja. Selain itu istilah-istilah konyolnya yang segar membuat buku ini easy-to-read and entertaining banget. Meskipun mata dan otakku protes karena membaca dua judul kontrovesial di dalam buku ini. Aku masih nggak habis pikir kenapa selalu ada hal-hal yang menjurus ke arah hal ‘itu’. Padahal kukira isinya aneh dan nyeleneh semua..eh.. ada judul K****M Ona Sutra dan Manager M********I... Mataku perih otakku nangis.

Yah..kalau menurutku itulah yang membuat buku ini less amazingnya. Aku nggak tahu bagian mana yang aneh, nyeleneh atau amazing dari kedua judul di atas. Jujur, menurut gue gak ada sisi amazing-nya sama sekali. L Sorri Om..
Ada satu judul yang ceritanya sangat menyetuh banget. Dummy Seharga Dua Juta. Yap. Ceritanya emang rada-rada gak mungkin untuk kejadian kecuali di dalam imajinasi aja. Tapi kehadiran Pak Soni dan Rama di konternya Om Alex ini benar-benar seperti oasis di tengah sahara. Judul Dummy Seharga Dua Juta ini jadi cerita yang khusus kukasih rating lima bintang.

Di judul Jujur itu Mahal, aku seratus persen setuju tentang satu hal sama Om Alex ini. Hanya orang-orang sepintar anggota NASA, FBI, CIA dan yang ngeri tulisan 5EM4c4M 1n1. Teoriku tentang orang yang 5uKkh4 Nul15 p4k3 tul154n k4y4k 91n1e adalah mereka yang ilmu Aljabarnya udah mentok ke ubun-ubun. Jadi anggepan gue positif aja, orang 4l4y adalah orang PINTAR. Nah, buktinya mereka bisa Aljabar dan ngerti kode-kode rahasia yang bikin gue buta huruf dan angka dadakan.

Preman Jadi-Jadian. Cerita ini yang paling konyol. Sekonyol-konyolnya Shin Chan yang kebelet pipis, lebih konyol si Mas Alex yang ketiban palang yang nggak mau harga dirinya jatoh di mata dua Hyena pegawainya dan kepaksa ngarang cerita supaya nggak kelihatan bodohnya. Namanya bo’ong nggak bakalan awet. Yah, pelajaran yang sangat berharga lagi..

If you think you don’t have the greatest or the most amazing life, then look around, and read this one. You will find what an amazing life is.

Last but not least, thanks to GagasMedia atas paket Admin Mudiknya. Paket THR Gagas baru sampai kemarin. Pas dibuka ada dua buku plus sebuah postcard unyu, salah satunya yang kureview di atas dan yang kedua adalah Hujan dan Teduh. Well, meskipun sudah punya Hujan dan Teduh, thanks a bunch!

Ini dia paket THR yang baru sampai :)


With You [book review]

Judul: With You

Penulis: Christian Simamora & Orizuka (GagasDuet)

Penerbit: GagasMedia

Halaman: 298 hlm

ISBN: 9797805735

Ini adalah salah satu novel GagasDuet yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Beautiful Mistake dan With You adalah GagasDuet adalah yang kedua. Saya memang agak ketinggalan, tapi tidak ingin melewatkan novel yang well, saya tahu dari teman-teman kalau GagasDuet Kak Chris dan Kak Orizuka ini bikin geger, dalam arti yang positif tentunya.

Duet Gagas kali ini emang rada-rada kontroversial, *ciee...lebay deeh...* karena kiblat dan aliran Kak Chris dan partnernya Kak Orizuka yang melenceng jauuuuh. Tulisan-tulisan kak Chris terkenal dengan gaya centil, romansa yang meletup-letup dan membuat berdebar jantung yang membacanya, (catet, dari judul-judul buku yang udah Kak Chris tulisan aja udah jelas banget kayak gimana ngegemesinnya tulisan kak Chris itu kaan?) dan Kak Orizuka yang memiliki penulisan yang kalem, teen-centered, melow seperti naik kano di danau paling tenang di dunia namun selalu memberikan kesan mendalam hingga terakhir-terakhir aku nangis baca buku Kak Orizuka yang berjudul Fate, lalu I For You yang juga diterbitkan oleh GagasMedia.

With You terdiri dari dua kisah yang masing-masing ditulis oleh Kak Chris dan Kak Orizuka. Cinderella Rockefella oleh Christian Simamora dan Sunrise oleh Orizuka. Dan berikut adalah review dari saya untuk masing-masing novela ini.

Cinderella Rockefella by Christian Simamora

Gaya centil, meletup-letup, dan selalu menyajikan suatu kisah dengan cara yang membawa nuansa santai dan mengalir selancar air terjun Niagara, Kak Chris emang rajanya bikin pembaca dag-dig-dug seperti yang dirasakan oleh karakter-karakter dalam novela ini. Memang sih saya baru kali ini membaca tulisan kak Chris, tapi dari beberapa teman yang saya jumpai, mereka selalu bilang kalau novel-novel kak Chris emang bener-bener maknyus. Cara bertutur yang terkesan ngeflow dan nggak dibuat-buat melankolis-malah terkesan cablak dan blak-blakan-membuat gaya penulisan seperti Kak Chris ini meninggalkan kesan ‘iiih, gemesss!’ di tengah perjalanan membaca hingga sampai di kata terakhir novelnya.

Dan Oh well, seriously! Abis baca Cinderella Rockefella biasanya di otakku akan berputar lagu apa yang seolah disetel otomatis untuk menyesuaikan kesanku setelah membaca. Dan apa lagu yang saat itu berdendang dalam benakku? Melinda – Cinta Satu Malam, OOOMAIGAT! Cindy beneran jatuh cinta dalam waktu semalaman! GILEEE, Jere kayaknya udah ngejampi-jampiin Cindy lewat kesederhanaan dan apa adanya cowok itu. Dan oh, shit, I gotta say it! And they’re tryin’ to attract one each other! Aku kadang gak terlalu suka sama romansa yang hanya didasari oleh ketertarikan fisik, (say it, dari penceritaan antara Cindy dan Jere udah jelas kalau fisik jadi main appeal di sini, tapi lambat laun mulai berubah dari hati ke hati, halah kayak rubrik di majalah aja.. -__-“). Tapi novela ini pengecualian, begitu membaca, aku terhipnotis sama cara kak Chris bercerita. OMG, master Chris emang jago bikin pembacanya ketawa-ketiwi-merengut-ketawa-senyum-senyum-merengut lagi-lalu akhirnya bilang ‘haaah, ya ampuuun...gemes deh gue!’

Abis baca tulisannya Kak Chris bentuk dan cara mereviewku jadi rada-rada nggak biasa yah...kok aku jadi ikutan centil, sih? Whooaa...

Sunrise by Orizuka

Khas Kak Orizuka. Cerita manis, bergaya remaja yang ringan dan mengalir seperti air mancur yang tenang tapi ada kejutan-kejutan manis yang terselip di scene atau plotnya. Tidak seperti Kak Chris yang hampir selalu membuat pembacanya kipas-kipas karena saking panasnya plot antara Cindy and Jere. Dua gabungan novella yang istimewa, seratus delapan puluh derajat berbeda tapi dengan cantiknya membuat kesan yang sulit dilupakan. Ide cerita di Sunrise ini menurutku tidak terlalu baru (tentang pasangan yang baru putus lalu balikan), tapi selalu Kak Orizuka membungkus kisahnya dengan ide-ide cemerlang lainnya. Memberikan sentuhan romantic dan exotic pantai dan laut di Karimunjawa sukses membawaku merasakan seolah-olah cerita ini bergerak seperti FTV yang kadang aku tonton sepulang dari kampus. Hahaha. Pesona Karimunjawa memang menjadi titik daya tarik dan poin plus. Tapi kisah-kisah antara Juna dan Lyla itulah yang membuatku kadang tersenyum dengan haru dan menahan tawa karena masa remaja mereka. Ungkapan-ungkapan yang dipakai Kak Orizuka inilah yang selalu menarik, membuat gaya penulisannya tidak membosankan dan berciri khas.

Dan patutlah saya memberikan bintang lima dari lima yang saya punya untuk duet ini. It’s totally different but damn so touching! After you stroke down from the roller-coaster effect as you finished reading Cinderella Rockefella, you are to dance slowly but gracefully like you’re dancing on the ocean’s wave when you’re in Sunrise pages. Believe me or not!

Judul: Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 300 halama
ISBN:9797805891

Karya ketiga dari Mbak Prisca Primasari (setelah E-clair dan Beautiful Mistake: Chocorreto) ini masih dibalik dengan sentuhan Eropa. Berlatarkan bumi Paris dan sentuhan khas Rusia yang menjadi ciri khas dari Mbak Prisca ini, novel Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa ini menyuguhkan kisah yang unik. Mengapa unik? Karena menurut saya ide cerita mbak Prisca ini tidak umum dipakai. Kisah cinta Vinter dan Florence yang dipertemukan dengan 'kebetulan' yang mungkin hanya bisa terjadi dalam imajinasi saja ini menjadi terasa bukan seperti kebetulan, melainkan takdir yang memang harus terjadi. Mbak Prisca membuat kisah yang begitu singkat, dengan tempo alur yang cepat untuk rentang waktu dan adegan yang terjadi. Namun hal itu tidak membuat saya kehilangan ketertarikan pada kisah Vinter dan Florence ini. Sungguh, kebetulan menjadi terasa nyata dan benar hanya dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Saya sering membaca adanya semacam hal-hal yang terjadi secara kebetulan di sebuah novel. Namun tidak ada yang senyata dan semasuk akal kebetulan yang terjadi antara Florence dan Vinter.


Florence melarikan diri dari rumah karena orang tuanya memaksanya untuk ikut kencan buta dengan laki-laki yang bahkan tidak dia kenal. Memiliki trauma dengan hubungan bersama laki-laki membuat Florence enggan untuk kembali mencobanya. Dia pergi ke Honflour demi melarikan diri dan bertemu secara kebetulan dengan Vinter, seorang laki-laki yang menarik perhatiannya lewat mata biru yang mengingatkannya pada simbol salju. Hari demi hari Florence lalui di Honflour bersama Vinter. Petualangannya bersama pemuda itu menyisakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan pada harinya dia harus meninggalkan Vinter untuk memenuhi janji pada ayah dan ibunya untuk pulang. Aku jadi ingat drama Rooftop Prince yang juga dihiasi dengan kebetulan-kebetulan seperti dalam novel ini. Sungguh, aku pasti sangat terkejut jika menjadi Florence. Mengapa? Yah, lebih seru baca langsung saja di novel ini.

Satu hal yang agak mengganggu saat membaca novel ini adalah, tempo alur yang berubah dengan cepat. Seolah terkesan terburu-buru. Namun itu semua tidak menjadi masalah dan aku tetap menikmati novel ini. Selain aku menyukai novel dengan setting luar negeri, puisi-puisi dan trivia tentang budaya dan musik klasik dalam novel ini membuatku memiliki pengetahuan lebih.

Novel ini memiliki nuansa romantis, melankolis dan dingin. Bukan dingin yang negatif, tapi sejuknya musim dingin. Suasana Eropa, Paris, membuat kesan klasiknya makin kental, terlebih lagi dengan ide menjadikan karakter-karakternya memiliki profesi sebagai seniman, pemain teater, pelukis, dan musisi membuat kesan seperti benar-benar membaca kisah klasik dari Eropa.

Dan saya sedikit bertanya-tanya, mengapa selalu Paris dan Rusia? Sepertinya penulisnya sengaja ingin membangun image karya-karyanya sebagai kisah klasik yang dramatis yah... ^_^
Judul : Remember When
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media (2011)
Halaman : 252 hlm
ISBN : 9797804879

“Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa.”
Pertama yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah sinopsisnya. Membaca sinopsisnya terasa menyayat hati. Begitulah, aku suka sinopsis yang sudah mampu mencuri perhatianku dengan kata-kata yang tertata rapi dengan makna yang dalam. Aku tidak mengira bila novel ini adalah novel remaja pada umumnya. Ceritanya menurutku sederhana, ide-ide ceritanya pun menurutku sudah sering dipakai oleh penulis lain. Tentang kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia. Empat sahabat yang disatukan dan dipisahkan karena satu hal, yang semua orang sebut sebagai cinta. Kisah remaja SMA yang sudah-sudah memang lebih sering tentang pacaran, putus-nyambung lalu happy ending. Namun entah mengapa Remember When ini membuatku melihat Freya, Adrian, Moses dan Gia seperti aku melihat kejadian nyata. Mereka, perasaan-perasaan mereka, dan kisah mereka seolah begitu real. Perasaan-perasaan yang terbangun pada masing-masing karakter membuat novel remaja ini tidak terkesan picisan seperti kebanyakan teenlit yang hanya mengandalkan konflik jatuh cinta dan pacaran-putus-nyambung lalu happy ending. Remember When, berkat cara penulisan yang bagus telah menegaskan bahwa ide cerita sesimpel dan sesederhana apapun bisa dibuat istimewa dengan cara penulisan dan rangkaian alur dan plot yang tepat.

Freya dan Gia. Dua sahabat yang seperti langit dan bumi. Freya dikenal sebagai gadis yang pintar, introvet dan antisosial entah bagaimana menemukan kecocokan dengan Gia yang dikenal lebih supel, periang, pandai bergaul dan tentunya memiliki kecantikan dewi khayangan. Kisah Remember When ini diawali saat keduanya menerima pernyataan cinta dari Moses dan Adrian yang juga merupakan sahabat karib.

Moses dan Adrian. Keduanya tumbuh dan besar bersama sebagai sahabat sejak kecil hingga merekapun saling mengetahui baik-buruknya masing-masing. Seperti Freya dan Gia, Moses dan Adrian juga merupakan dua pribadi yang bertolak belakang namun bisa menjadi sahabat. Moses lebih cenderung pendiam, kalem dan kutu buku seperti Freya. Sedangkan Adrian lebih ceria, ekspresif, dan populer. Moses adalah tipe cowok kalem yang suka menghabiskan waktu duduk belajar atau membaca buku sedangkan Adrian lebih memilih bermandikan keringat di lapangan basket.
Dan keempatnya memiliki kisah yang klise. Pernyataan cinta, hubungan yang mulai berubah seiring perubahan hati dan pada suatu ketika apa yang sudah mereka tata rapi memang selayaknya dipugar. Mengapa? Karena di tengah perjalanan, mereka menemukan cinta yang tidak lagi bisa disembunyikan, yang terjalin pada dua orang yang ‘dulu’ tidak mungkin terjadi.
Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang membaca kisah Remember When ini. Jadi sepertinya saya tidak akan mereview kisahnya sampai detail, (tidak ada spoiler lebih dari itu). Aku suka mendalami karakter-karakter novel yang kubaca, karena itu aku bisa belajar membuat karakter yang kuat untuk tulisanku sendiri. Nah, di sini aku khusus untuk mendalami karakter Moses. Mengapa Moses? Hm, karena dari Freya, Adrian, Moses dan Gia, Moses-lah yang entah bagaimana kurasa kurang kuat, kurang memiliki sikap. Entah mengapa, di kisah ini dia terkesan tidak begitu memiliki bagian (padahal bukannya ada empat karakter utama ya di sini?). Selain itu aku menemukan sedikit keburukan pada Moses yang memberikan kesan dia terlalu sempurna. Baiklah, inilah Moses di mataku.

Moses. Namanya terdengar asing bagiku karena belum pernah mendengar sebelumnya. Pemuda ini dikenal sebagai ketua OSIS yang memegang peringkat paling atas di sekolah. Pintar bahkan genius, begitulah Moses. Hari-harinya diisi rapat-rapat OSIS, bimbingan belajar, mengerjakan PR, membaca buku dan hal-hal lain yang sepertinya semua anak pintar lakukan. Namun aku tidak tahu mengapa Mbak Winna Efendi tidak memberikan deskripsi penampilan Moses secara fisik. Apakah dia tampan, biasa-biasa saja, aku bahkan nggak keren sama sekali, aku tidak tahu. Hanya ada satu hal ciri dari Moses, yaitu kacamatanya. Jadi gambaranku tentang Moses adalah cowok berkacamata, berseragam abu-abu putih rapi nan kelimis dan berwibawa karena dia ketua OSIS. Tidak ada ciri-ciri fisik tentang seperti apa wajah Moses hingga aku kesulitan membayangkan seperti apa Moses itu. Jika aku berpikir Adrian itu mungkin mirip Zac Efron di High School Musical, Gia seperti Selena Gomez dan Freya seperti Emma Roberts, maka aku tidak bisa membayangkan aktor siapa yang mewakili wajah Moses. Oh, Moses...aku penasaran seperti apa kamu dimata Mbak Winna sebenarnya...

Nah, lebih jauh tentang Moses adalah...aku nggak bisa lebih mengenalnya karena menurutku dia tidak mendapatkan lebih banyak porsi untuk menggambarkan perasaannya lebih jauh. Berbeda dengan Adrian dan Freya yang seolah-olah memiliki lebih banyak ruang untuk bercerita (ingat, Remember When dikisahkan dari sudut pandang masing-masing karakternya). Selain itu Moses berbeda dengan yang lain. Jika Freya memiliki masa lalu pahit karena kehilangan ibunya, dan begitu pula Adrian maka Gia memiliki kisah pahit karena dia sudah merelakan hal yang paling seorang gadis jaga untuk diserahkan pada Adrian meski pada akhinya mereka tidak bisa sama seperti dulu. Apa yang Moses miliki? Apakah hanya luka karena pengkhianatan pacar dan sahabatnya saja? Kurasa dari keempat karakter ini, Moses memiliki nasib yang lebih beruntung daripada yang lain. Freya dan Adrian sama-sama kehilangan ibu. Tapi Moses? Apakah Moses memiliki sedikit saja sejarah hidup yang pahit? Ini membuatku tidak bisa bersimpati pada Moses. Dia terlalu baik, terlalu sempurna. Setidaknya ada satu konflik yang Moses sendiri miliki, mungkin riwayat cintanya pernah ditolak atau dia mencintai seseorang tapi tidak sempat meraih, atau mungkin konflik keluarga seperti yang Freya dan Adrian miliki. Itu yang aku lihat dari Moses.

Mungkin Mbak Winna akan menjawab pertanyaanku, “Mbak, Moses itu kalau jadi nyata mirip aktor siapa, yah?” Hahaha, dan selain itu ada hal yang membuat Moses menjadi agak misterius, hm...Moses emang agak-agak misterius dengan segala sifat-sifatnya. Dan entah mengapa aku jadi terpikirkan apakah Mbak Winna akan membuat kisah Moses sendiri nantinya.
Sekian review dariku yang lebih fokus pada karakter Moses. Review ini memang khusus kubuat setelah membaca ulang Remember When yang sebelumnya sudah pernah kutulis review novelnya. Untuk mengingatkan kesan lagi, awal aku membaca novel ini kurasa ini tidak lebih dari novel-novel remaja biasa. Kebanyakan dan sudah standar dan bahkan konfliknya sangat klise dan cenderung seperti cerita sinetron. Tapi karena keajaiban cara menulis Mbak Winna lah yang membungkus kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia menjadi lebih dari sekedar cerita remaja saja. Seperti yang kukutip di awal review ini, Remember When memiliki makna yang mendalam.

“Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya,”

Namun ironisnya, tidak semua cinta seperti itu. Itu cinta Freya dan Adrian. Bukan Moses atau Gia. Dan bukan pula yang kurasakan. Cinta memiliki jalannya sendiri untuk mempertemukan kedua belahan jiwa, kurasa seperti itulah.

Judul: Lola and the Boy Next Door

Penulis: Stephanie Perkins

Penerbit: Dutton Books

Halaman: 338 hlm

ISBN:9780525423287

Lola Nolan is just trying to get over her first love by keeping up her relationship with Max, her rockstar boyfriend. Lola comes to the blur of her life when her beautiful nightmare across her over the night. The twins Bells come back, the two of Bell. Calliope and Cricket Bell. Those whom Lola won’t think about even she really tries to forget that in the past they had such a frienemiship. Calliope was too much about her and always be the one who put Lola in a pair of shoe that no one would take it upon to stand on. She always has a crash with Calliope as their last broken friendship. But Cricket? Lola spends all of her life to try to over him.

When the deal with her two dads, her mother who never wants to take care of her and put Lola in Nathan dan Andy’s side while she was supposed to try a new life but always failed. And the deal with the boyfriend, Max. Lola has to proof everyboby that she’s good and deserve to get the one, the one who’s good also, the one whose name is Cricket Bell.

Cricket (geek, innocent, unforgettable)

Kisah ini mungkin mirip dengan kisah-kisah lain serupa. Tentang cinta pertama masa kecil yang tetap tinggal di hati pemiliknya. Tentang keluarga yang harus dipertahankan dan tentang mendapatkan kepercayaan orang. Lola, I say she’s a kinda talented fashion designer someday. She’s smart dan knows what she should do with the wigs, make ups, dress, boots and other accesories rather than she knows how worth she is to deserve someone like a very valuable Cricket Bell. Lola melewati hari-hari terberat dalam hidupnya. Hari-hari dia menjadi pembohong, berbohong pada Nathan dan Andy, kedua ayahnya, berbohong pada Max, pada Cricket dan pada dirinya sendiri.

Clashes and clashes are the part of life. So does it with Lola’s. When she knew that the Bell’s family set back to the house next door, she can’t imagine how to survive when the twins are always shadowing at her windows. Actually, Lola can make it easy, but the more she runs the more everything’s blurred. So Lola stop and take the decision. Desicion to let her self saying the truth. The truth that she can try to love Norah, the mother, again despite of her disapearance when Lola is still baby up to before now. It’s also about the truth that Max is not the one anymore because the one has always been Cricket.

The cherries are meeting in time. When she can see thing clearly and filled with full of Lola. Not the one who was lost and insecured. The first love meets and tied together, like what she has dreamt about. She and Cricket. Lola and the boy next door.

The story is fast moving and naughty. Very teenagers I thought, those who like something like sweets and heartwarming will like this novel. Apart from the part of how stupid Lola, but I can’t judge that the stupiness of Lola doesnt take any part of the story, stupid Lola makes it story, I just can feel a ‘click’ when she and Cricket are going so much with their unrevealed desire each other. Making me jealous so badly, I shouldn’t say that Cricket deserves someone more than Lola while the fact they seem definitely made for being together. (T_T)

It’s the first english teenage novel I read and I surprised with a lot of slangs and free compounding form of words. It’s nnice and great to see that it’s easy made the word that explain the story. Yeah, maybe i am lame for not updating this but i should fill up the blank bottle of my experience in reading teens novels. Especially those written in english. It can help my exploring english and i can increase it as well as i use it when reading. You know what, I think english in the real one is like in the novel tales. The sentences, the expression and the words play. It’s a little distraction with how dump Lola and how coward Cricket, but that’s why this story ends perfectly because it’s like what Cricket said “I know you aren’t perfect. But it’s a person’s imperfections that make them perfect for someone else.”

I LOVE CRICKET!!! @_@


Judul: Best Friends Forever

Penulis: Orizuka

Penerbit: Puspa Populer

Halaman: 168 hlm

Tahun: 2012

ISBN: 9786028287760


Persahabatan Sid, Landa, Rama dan Cokie yang memiliki kisah unik ini benar-benar menarik untuk diikuti. Sayang, HSP dan Love United aku belum membaca dua judul sebelumnya. Hehe, karena ini adalah hadiah ulang tahun dari temanku, sungguh gak nyangka kalau aku dapat novelnya Kak Orizuka. Hohoho...


Aku pikir kalau ceritanya hanya romance remaja seperti yang sudah-sudah. Tapi aku salah. Aku benar-benar salah. Meskipun ceritanya tentang remaja SMP, SMA dan kuliah sama sekali nggak segampang dan seringan teenlit-teenlit lain. Best Friends Forever cenderung mengisahkan Sid, Lando, Rama dan Cokie melalui masalah mereka masing-masing yang disampaikan oleh penulisnya dengan apik. Ide cerita apa saja pasti akan menjadi luar biasa tergantung bagaimana penulis merangkai dan mengolah emosi jalan ceritanya. Dan Best Friends Forever inilah buktinya. Aku menyukai ide-ide sederhana yang digarap menjadi luar biasa. It’s like making something special from the ordinaries. Dan sekali lagi, kak Orizuka menulisnya dengan pas. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Semuanya pas. Hingga saat aku membacanya nggak kerasa udah berakhir ceritanya.


-Sid-

Sid diceritakan sebagai si pirang yang entah bagaimana dia mendapat rambut pirangnya itu. (Kak Orizuka, emangnya Sid kenapa ya kok rambutnya bisa pirang gitu?) hehe, karakternya periang, yang selalu jadi ice breaker bersama Julia pacarnya. Keduanya ini benar-benar cocok, si cowoknya cute dan usil, si Julia cerewet dan meletup-letup. Hahaha, mereka bikin suasana jadi nggak garing.

-Lando-

Lando. Nggak usah dipanjang-panjangin deh. Lando, ini keren, pinter tapi evil mood on-nya nggak bisa di turn off. Sampai-sampai Sid harus siap-siap kalau si Lando ngamuk. Sosok Lando ini seperti prince of ice, yak bener banget. Jika Sid ice breaker, Lando ini cool karena kepinterannya dan cool karena sikap dingin plus juteknya. Tipe-tipe kayak gini nih yang kadang malah bikin klepek-klepek. Jarang ngomong, sekalinya ngomong bikin orang beku jadi es. Whoa...prince of ice.

Rama

Si pahlawan kesiangan. Rama. Huuft. Benar kata Lando, Rama emang nggak pernah bisa berhenti mencampuri urusan orang lain. Dan memang Rama selalu bisa memecahkan masalah orang lain. Rama bahkan yang menyelamatkan Lando dari kemungkinan dia tidak bisa sekolah dan terus menjadi anak brandalan. Rama, the Hero. Yak, dia bijaksana dan suka ngasih ceramah ini itu buat nyadarin orang yang dia hadapin. Sampai-sampai Lando eneg liat Rama dan nggak tahan juga, tapi akhirnya mereka berteman juga. Rama, dia ini sosok penengah yang aduh...keren.

Cokie

Tampan. Tampan. Tampan. Apa lagi? Tampan. Duh, kayaknya Cuma itu yang bisa kubilang tentang Cokie. Eh, satu lagi. Dari keempat karakter itu. Cokie hanya satu kelebihannya, dia yang paling tampan paling banyak fansnya. -___- Cokie kelewat tampannya sih, jadi aku nggak bisa jelasin lebih. Kak Orizuka bisa menjelaskan tampannya Cokie tanpa harus menjelaskan Cokie punya ini, punya itu tapi ya yang baca pasti bayangin gimana tampannya si Cokie ini. Hebat, Kak Ori!

Huh, kayaknya kalau mau review jalan ceritanya nggak asik deh. Hehehe, karena pasti lebih seru kalau kalian dapet kejutan dengan langsung baca aja Best Friends Forever ini.

Kisah mereka berempat diawali dengan kisah Lando (mereka masih SMP nih). Mereka jadi berteman karena satu perkelahian dengan geng SMA lain yang malakin mereka. Nah lalu kisahnya masih pas mereka SMP, tapi udah kelas 9 nih ceritanya jadi udah mau jadi SMA. Nah, ini menceritakan Rama yang bertemu Lara dan seperti biasanya Rama mengurusi masalah orang lain (Lara). Setelah itu mereka lulus dan masuk SMA yang sama. Di sini mulai kisah Lando dan Aida (tapi sayang hanya sedikit). Lalu Sid dan Julia yang dapet masalah sama adik Julia. Dan pas kuliah, ganti kisahnya Cokie deh. Tapi dijamin ini keren banget. Sumpah. Kayak nonton film yang ada ‘several years ago...’ lalu berpindah jadi scene ‘several years later...’ keren deh!

Aku penasaran sama si Lando dan Aida. Gimana ceritanya mereka jadian? Hm, aku sempat berharap kalau akan ada plot tentang Lando dan Aida, udah ngarep eh ternyata udah ganti cerita. Yah, gak apa-apalah. Siapa tahu ntar kak Ori mau bikin lagi. Wehehehe. Pas baca Best Friends Forever sumpah yang ada di otakku, Harry, Liam, Zayn dan Nial yang One Direction! WHOAAA~~~

Baca BFF ini bikin aku lupa kalau novel ini hadiah ulang tahunku yang ke-20. Berasa umurku balik ke 4-5 tahun lalu deh. Hahaha. Bagi yang suka teenlit BFF cocok banget jadi bacaan pas senggang di liburan. Sekali duduk dan nggak bisa berhenti baca. And Orizuka’s novels make me want to meet her directly!!! @_@

Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd