• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia
Judul: Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 300 halama
ISBN:9797805891

Karya ketiga dari Mbak Prisca Primasari (setelah E-clair dan Beautiful Mistake: Chocorreto) ini masih dibalik dengan sentuhan Eropa. Berlatarkan bumi Paris dan sentuhan khas Rusia yang menjadi ciri khas dari Mbak Prisca ini, novel Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa ini menyuguhkan kisah yang unik. Mengapa unik? Karena menurut saya ide cerita mbak Prisca ini tidak umum dipakai. Kisah cinta Vinter dan Florence yang dipertemukan dengan 'kebetulan' yang mungkin hanya bisa terjadi dalam imajinasi saja ini menjadi terasa bukan seperti kebetulan, melainkan takdir yang memang harus terjadi. Mbak Prisca membuat kisah yang begitu singkat, dengan tempo alur yang cepat untuk rentang waktu dan adegan yang terjadi. Namun hal itu tidak membuat saya kehilangan ketertarikan pada kisah Vinter dan Florence ini. Sungguh, kebetulan menjadi terasa nyata dan benar hanya dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Saya sering membaca adanya semacam hal-hal yang terjadi secara kebetulan di sebuah novel. Namun tidak ada yang senyata dan semasuk akal kebetulan yang terjadi antara Florence dan Vinter.


Florence melarikan diri dari rumah karena orang tuanya memaksanya untuk ikut kencan buta dengan laki-laki yang bahkan tidak dia kenal. Memiliki trauma dengan hubungan bersama laki-laki membuat Florence enggan untuk kembali mencobanya. Dia pergi ke Honflour demi melarikan diri dan bertemu secara kebetulan dengan Vinter, seorang laki-laki yang menarik perhatiannya lewat mata biru yang mengingatkannya pada simbol salju. Hari demi hari Florence lalui di Honflour bersama Vinter. Petualangannya bersama pemuda itu menyisakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan pada harinya dia harus meninggalkan Vinter untuk memenuhi janji pada ayah dan ibunya untuk pulang. Aku jadi ingat drama Rooftop Prince yang juga dihiasi dengan kebetulan-kebetulan seperti dalam novel ini. Sungguh, aku pasti sangat terkejut jika menjadi Florence. Mengapa? Yah, lebih seru baca langsung saja di novel ini.

Satu hal yang agak mengganggu saat membaca novel ini adalah, tempo alur yang berubah dengan cepat. Seolah terkesan terburu-buru. Namun itu semua tidak menjadi masalah dan aku tetap menikmati novel ini. Selain aku menyukai novel dengan setting luar negeri, puisi-puisi dan trivia tentang budaya dan musik klasik dalam novel ini membuatku memiliki pengetahuan lebih.

Novel ini memiliki nuansa romantis, melankolis dan dingin. Bukan dingin yang negatif, tapi sejuknya musim dingin. Suasana Eropa, Paris, membuat kesan klasiknya makin kental, terlebih lagi dengan ide menjadikan karakter-karakternya memiliki profesi sebagai seniman, pemain teater, pelukis, dan musisi membuat kesan seperti benar-benar membaca kisah klasik dari Eropa.

Dan saya sedikit bertanya-tanya, mengapa selalu Paris dan Rusia? Sepertinya penulisnya sengaja ingin membangun image karya-karyanya sebagai kisah klasik yang dramatis yah... ^_^
The Windflower - Pemenang RRA Award untuk kategori Best Classic Historical Romance (1994)

Judul: The Windflower – takluk di bawah pesonamu
Penulis: Sharon dan Tom Curtis
Penerbit: GagasMedia
Alih bahasa: Endang Sulistyowati
Halaman: 626 hlm
Tahun terbit: 2011
ISBN: 9789797805142
Genre: Dewasa/Adult

Sinopsis:
Merry Wilding mendambakan petualangan... namun yang dia dapat malah penculikan dan dikirim ke kapal yang paling ditakuti di lautan.

Merry tidak punya pilihan lain kecuali tunduk pada perintah pemilik kapal, sang bajak laut misterius berambut keemasan. Dan meskipun kata-kata setajam duri sering meluncur keluar dari sana. Bibir itu juga yang mengenalkan gadis itu pada ciuman memabukkan yang tak akan pernah dia lupakan. Laki-laki itu tampak begitu berbahaya, sekaligus membuatnya hampir tak bisa bernapas karena dikuasai gairah.

Devon Crandall hanya bermaksud untuk merayu tawanannya itu sedikit dan mengorek informasi darinya. Tapi dia tidak pernah menduga sepasang mata biru milik perempuan itu bisa membuat Devon semakin mengingininya.

Sang bajak laut dan tawanannya saling membujuk, saling menggoda...siapa akhirnya yang jadi pemenangnya?


My review:

The First is always about the cover. Dari semua edisi The Windflower baik dalam bahasa inggris atau yang sudah diterjemahkan, cover dari Mbak Anissa dari GagasMedia ini yang paling bagus dan sesuai dengan mata saya. Windflower itu sendiri adalah nama sejenis bunga yang menjadi sebutan untuk Merry dari Devon. Desainnya bagus seperti sebuah lukisan cat minyak. Always nice to see the cover.

Well, seharusnya saya pikir ulang untuk membaca novel bergenre dewasa. Ingat, DE-WA-SA. Tentunya saya sempat syok dan semakin terperangah dengan plot-plot yang menggambarkan genre dewasa tersebut. Tapi di sisi lain, cerita yang ditulis oleh pasangan suami-istri Sharon dan Tom Curtis ini sebenarnya menarik, tentunya bukan dilihat dari seberapa intens adegan romantis di sini.

Kisah yang menceritakan penculikan Merry dari kapal yang akan membawanya ke Inggris menjadi semakin menegangkan dan membuat ‘petualangan’ tidak terbayangkan. Merry, gadis yang polos tidak pernah tahu dunia luar kecuali ladang jagungnya, harus berhadapan dan mengalami serangkaian kejadian yang menyedihkan, memalukan dan menegangkan bersama segerombolan perompak di Black Joke. Belum lagi dia harus berurusan dengan pria misterius bernama Devon. Devon salah satu perompak di sana. Namun pesonanya sama sekali tidak memancarkan perompak bengis dan kejam, tapi bukan berarti Devon tidak memiliki sifat perompak itu. Merry harus menerima perlakukan tidak menyenangkan bahkan menyakitkan jika Devon mulai tidak bisa menguasai akal sehatnya. Tapi saat itulah, mereka berdua mulai menyadari bahwa sejak pertemuan pertama mereka di kedai minuman, dimana Merry dibawa oleh Carl, kakaknya untuk menggambar wajah-wajah perompak itu untuk kepentingan pemerintahan Amerika, mereka sudah jatuh cinta.

Perjalanan kapal Black Joke benar-benar memberikan banyak pelajaran pada Merry. Hingga cinta yang murni itu terbukti ketika malaria menyerangnya. Devon seperti orang gila karena setiap detik dia mengkhawatirkan kondisi Merry yang semakin buruk. Di sinilah Devon menampakkan betapa dia menyayangi Merry. Namun perlahan misteri di antara Merry dan Devon yang mereka sembunyikan mulai terkuak. Sang perompak dan tawanannya, mereka sudah mengetahui rahasia mereka.

Di luar bagaimana adegan yang menurut saya terlalu ‘romantis’, saya menyukai ceritanya, kecuali pada bagian yang membuat kepala saya pening. Yah, bisa dibaca sendiri novel yang menerima anugerah RRA tahun 1994 sebagai Best Classic Historical Romance ini, asalkan sudah sesuai dengan usia (Hehehehe). Baru di bab ke-24 dari 32 bab saya menyukai kisah ini. Tentang bagaimana takdir ternyata memang sudah berkata bahwa Merry dan Devon akan bersatu, tentang cinta yang bersatu dalam sebuah pernikahan. Tidak menyangka jika hubungan ‘aneh’ sang perompak dan tawanannya yang selama di kapal menjadi semakin aneh dan menegangkan itu berakhir dengan manis. Pada bagian bab ke 32, endingnya, saya sebut itu yang manis, bukan romantis ala novel-novel bergenre dewasa, yaa...

“Merry Wilding, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan di dunia ini,” ujar Devon dengan suara yang sangat lembut, “Mungkin termasuk satu atau dua hal yang tidak kau inginkan, Tapi pertama-tama, Cinta, aku akan memberikan namaku,”

Bukankah itu bisa disebut sebuah lamaran yang sangat manis? Siapa yang menyangka jika Devon adalah seorang the Duke of Cyr?

Ada beberapa bagian yang membuat narasi menjadi terlalu membosankan dan menjenuhkan. Narasi yang terlalu bertele-tele dengan kalimat berfrase panjang memang identik terjadi di novel terjemahan karena memang bahasa awalnya, bahasa Inggris, memiliki susunan kalimat yang tidak sesederhana bahasa indonesia. Saya tidak tahu apakah plot romantis di sini yang menjadikan novel ini meraih penghargaan, apakah karena penulisnya menggambarkan bagaimana adegan dua tokoh yang saling jatuh cinta itu yang membuat novel ini istimewa? Tapi menurut saya yang membuat novel ini berkesan baik dan bagus bagi saya adalah beberapa dialog yang saya kutip dari Merry dan Devon.

Quotes:

“Betapa indahnya hidup kita. Aku memberimu hidupku dan semua momen di dalamnya,” – Merry

“Dan, aku akan memberimu hidupku, dalam kedamaian, dan jika datang cobaan yang berat, aku juga akan memberikan jiwaku padamu,” – Devon.

“Cintaku, aku akan selalu membawanya bersamaku, dan menjaganya,” – Merry.

Untuk yang ingin membaca kisah perompak dan tawanannya ini, harus membaca sendiri bagaimana petualangan dan kisah yang terjadi di atas kapal Black Joke ini. Tapi tidak disarankan untuk pembaca remaja di bawah sembilan belas tahun yaaa... Ini genrenya belum sesuai untuk yang masih unyu-unyu dan imut-imut. Masih ada novel lain yang sesuai dan bagus kok. Inget, novel juga punya standarisasi usia yang membatasi siapa boleh membaca. Jadilah pembaca yang bijak dengan memilih bacaan yang sesuai dan bermanfaat, serta mendukung usia kamu. You should find the right and appropriate one to read if you want to have good mind after reading the book. Always nice to be wise, right? Ingat itu yaa. Saya juga akan menerapkan cara ini. Setelah ini lebih baik saya mengkonsumsi genre remaja dan anak-anak saja, bagi saya sendiri saya belum pantas membaca genre dewasa, *inget usia yang remaja bukan dewasa juga bukan...*

Dan saya nggak bisa membayangkan bagaimana jika novel ini difilmkan. Oh, Tuhan, tidak... *mungkin saya nonton yang udah disensor saja deeeh..., :P* Seandainya novel ini bukan genre dewasa, atau setidaknya masih di level remaja yang ringan-ringan, saya akan menjadikan The Windflower sebagai favorit saya. Tapi, sepertinya ada yang lain untuk jadi pilihan. Cukup dengan tiga bintang dari lima bintang saya.
Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd