• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia
Judul : Remember When
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media (2011)
Halaman : 252 hlm
ISBN : 9797804879

“Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa.”
Pertama yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah sinopsisnya. Membaca sinopsisnya terasa menyayat hati. Begitulah, aku suka sinopsis yang sudah mampu mencuri perhatianku dengan kata-kata yang tertata rapi dengan makna yang dalam. Aku tidak mengira bila novel ini adalah novel remaja pada umumnya. Ceritanya menurutku sederhana, ide-ide ceritanya pun menurutku sudah sering dipakai oleh penulis lain. Tentang kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia. Empat sahabat yang disatukan dan dipisahkan karena satu hal, yang semua orang sebut sebagai cinta. Kisah remaja SMA yang sudah-sudah memang lebih sering tentang pacaran, putus-nyambung lalu happy ending. Namun entah mengapa Remember When ini membuatku melihat Freya, Adrian, Moses dan Gia seperti aku melihat kejadian nyata. Mereka, perasaan-perasaan mereka, dan kisah mereka seolah begitu real. Perasaan-perasaan yang terbangun pada masing-masing karakter membuat novel remaja ini tidak terkesan picisan seperti kebanyakan teenlit yang hanya mengandalkan konflik jatuh cinta dan pacaran-putus-nyambung lalu happy ending. Remember When, berkat cara penulisan yang bagus telah menegaskan bahwa ide cerita sesimpel dan sesederhana apapun bisa dibuat istimewa dengan cara penulisan dan rangkaian alur dan plot yang tepat.

Freya dan Gia. Dua sahabat yang seperti langit dan bumi. Freya dikenal sebagai gadis yang pintar, introvet dan antisosial entah bagaimana menemukan kecocokan dengan Gia yang dikenal lebih supel, periang, pandai bergaul dan tentunya memiliki kecantikan dewi khayangan. Kisah Remember When ini diawali saat keduanya menerima pernyataan cinta dari Moses dan Adrian yang juga merupakan sahabat karib.

Moses dan Adrian. Keduanya tumbuh dan besar bersama sebagai sahabat sejak kecil hingga merekapun saling mengetahui baik-buruknya masing-masing. Seperti Freya dan Gia, Moses dan Adrian juga merupakan dua pribadi yang bertolak belakang namun bisa menjadi sahabat. Moses lebih cenderung pendiam, kalem dan kutu buku seperti Freya. Sedangkan Adrian lebih ceria, ekspresif, dan populer. Moses adalah tipe cowok kalem yang suka menghabiskan waktu duduk belajar atau membaca buku sedangkan Adrian lebih memilih bermandikan keringat di lapangan basket.
Dan keempatnya memiliki kisah yang klise. Pernyataan cinta, hubungan yang mulai berubah seiring perubahan hati dan pada suatu ketika apa yang sudah mereka tata rapi memang selayaknya dipugar. Mengapa? Karena di tengah perjalanan, mereka menemukan cinta yang tidak lagi bisa disembunyikan, yang terjalin pada dua orang yang ‘dulu’ tidak mungkin terjadi.
Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang membaca kisah Remember When ini. Jadi sepertinya saya tidak akan mereview kisahnya sampai detail, (tidak ada spoiler lebih dari itu). Aku suka mendalami karakter-karakter novel yang kubaca, karena itu aku bisa belajar membuat karakter yang kuat untuk tulisanku sendiri. Nah, di sini aku khusus untuk mendalami karakter Moses. Mengapa Moses? Hm, karena dari Freya, Adrian, Moses dan Gia, Moses-lah yang entah bagaimana kurasa kurang kuat, kurang memiliki sikap. Entah mengapa, di kisah ini dia terkesan tidak begitu memiliki bagian (padahal bukannya ada empat karakter utama ya di sini?). Selain itu aku menemukan sedikit keburukan pada Moses yang memberikan kesan dia terlalu sempurna. Baiklah, inilah Moses di mataku.

Moses. Namanya terdengar asing bagiku karena belum pernah mendengar sebelumnya. Pemuda ini dikenal sebagai ketua OSIS yang memegang peringkat paling atas di sekolah. Pintar bahkan genius, begitulah Moses. Hari-harinya diisi rapat-rapat OSIS, bimbingan belajar, mengerjakan PR, membaca buku dan hal-hal lain yang sepertinya semua anak pintar lakukan. Namun aku tidak tahu mengapa Mbak Winna Efendi tidak memberikan deskripsi penampilan Moses secara fisik. Apakah dia tampan, biasa-biasa saja, aku bahkan nggak keren sama sekali, aku tidak tahu. Hanya ada satu hal ciri dari Moses, yaitu kacamatanya. Jadi gambaranku tentang Moses adalah cowok berkacamata, berseragam abu-abu putih rapi nan kelimis dan berwibawa karena dia ketua OSIS. Tidak ada ciri-ciri fisik tentang seperti apa wajah Moses hingga aku kesulitan membayangkan seperti apa Moses itu. Jika aku berpikir Adrian itu mungkin mirip Zac Efron di High School Musical, Gia seperti Selena Gomez dan Freya seperti Emma Roberts, maka aku tidak bisa membayangkan aktor siapa yang mewakili wajah Moses. Oh, Moses...aku penasaran seperti apa kamu dimata Mbak Winna sebenarnya...

Nah, lebih jauh tentang Moses adalah...aku nggak bisa lebih mengenalnya karena menurutku dia tidak mendapatkan lebih banyak porsi untuk menggambarkan perasaannya lebih jauh. Berbeda dengan Adrian dan Freya yang seolah-olah memiliki lebih banyak ruang untuk bercerita (ingat, Remember When dikisahkan dari sudut pandang masing-masing karakternya). Selain itu Moses berbeda dengan yang lain. Jika Freya memiliki masa lalu pahit karena kehilangan ibunya, dan begitu pula Adrian maka Gia memiliki kisah pahit karena dia sudah merelakan hal yang paling seorang gadis jaga untuk diserahkan pada Adrian meski pada akhinya mereka tidak bisa sama seperti dulu. Apa yang Moses miliki? Apakah hanya luka karena pengkhianatan pacar dan sahabatnya saja? Kurasa dari keempat karakter ini, Moses memiliki nasib yang lebih beruntung daripada yang lain. Freya dan Adrian sama-sama kehilangan ibu. Tapi Moses? Apakah Moses memiliki sedikit saja sejarah hidup yang pahit? Ini membuatku tidak bisa bersimpati pada Moses. Dia terlalu baik, terlalu sempurna. Setidaknya ada satu konflik yang Moses sendiri miliki, mungkin riwayat cintanya pernah ditolak atau dia mencintai seseorang tapi tidak sempat meraih, atau mungkin konflik keluarga seperti yang Freya dan Adrian miliki. Itu yang aku lihat dari Moses.

Mungkin Mbak Winna akan menjawab pertanyaanku, “Mbak, Moses itu kalau jadi nyata mirip aktor siapa, yah?” Hahaha, dan selain itu ada hal yang membuat Moses menjadi agak misterius, hm...Moses emang agak-agak misterius dengan segala sifat-sifatnya. Dan entah mengapa aku jadi terpikirkan apakah Mbak Winna akan membuat kisah Moses sendiri nantinya.
Sekian review dariku yang lebih fokus pada karakter Moses. Review ini memang khusus kubuat setelah membaca ulang Remember When yang sebelumnya sudah pernah kutulis review novelnya. Untuk mengingatkan kesan lagi, awal aku membaca novel ini kurasa ini tidak lebih dari novel-novel remaja biasa. Kebanyakan dan sudah standar dan bahkan konfliknya sangat klise dan cenderung seperti cerita sinetron. Tapi karena keajaiban cara menulis Mbak Winna lah yang membungkus kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia menjadi lebih dari sekedar cerita remaja saja. Seperti yang kukutip di awal review ini, Remember When memiliki makna yang mendalam.

“Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya,”

Namun ironisnya, tidak semua cinta seperti itu. Itu cinta Freya dan Adrian. Bukan Moses atau Gia. Dan bukan pula yang kurasakan. Cinta memiliki jalannya sendiri untuk mempertemukan kedua belahan jiwa, kurasa seperti itulah.

So, I Married the Anti-fan


Judul : So, I Married the Anti-fan
Penulis : Kim Eun Jeong
Genre : Romance, comedy
Kategori : Fiksi, novel terjemahan
ISBN : 978-602-98325-4-9
Tebal : 550 hlmn
Harga : Rp. 60.000 (PO Rp. 54.000+ongkir)
Terbit : Maret 2012

Sinopsis

Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi… Aku adalah antifan-nya.

H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan

Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti. Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikitpun maka mereka tidak segan-segan untuk bertindak.

(untuk info lengkapnya silakan berkunjung ke Penerbit Haru atau ke Twitter @penerbitharu)

====================================================================
My Antifan Story: Jika Aku Idola dan bertemu Antifan-ku


Just The Way My Antifans Hate Me


“Hai,” suaraku kuusahakan terdengar tenang dengan senyum tertarik manis di wajah. Tapi pemuda di depanku malah menyipitkan mata padaku dan berkerut kening. Senyumanku tidak dibalas, senyum yang sudah kulukis dengan kanvas wajah terbaikku dan ketulusan yang masih tersisa dari panggung konser yang baru saja aku turuni. Tapi, pemuda berjaket hitam dengan tulisan ‘Hate You’ itu membuatku terpaku dan menelan ludah. “Dia antifanku,”

Well, berbicara tentang idola dan antifan adalah hal yang sangat menarik. Semua yang diidolakan pasti memiliki kubu berseberangan, kubu yang tidak menyukainya atau alih-alih menyukai, mereka membencinya dan menyebut kubu mereka Antifan. Sebagai idola, keberadaan antifan itu juga merupakan suatu titik penting, sama seperti fans. Membayangkan diri saya dielu-elukan oleh fans yang mencintai saya namun di sisi lain, sekelompok orang mencibir dan merendahkan pasti kecewa rasanya. Dan apa lagi jika bertemu langsung, bertatap muka dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Pastilah antifan saya itu akan memicing ke arah saya dengan dahi berkerut dan diikuti kata-kata yang tidak enak didengar. Tatapan benci bagi siapapun tidak menyenangkan, apa lagi bagi idola yang banyak dicintai tapi juga banyak dibenci. Yah, serba salah memang. Sebagai idola saya nggak bisa memaksa mereka untuk berhenti menjadi antifan, terlebih meminta mereka untuk menyukai saya. Seandainya saya menjadi idola, lalu di suatu kesempatan setelah menggelar konser atau apa, dan bertemu dengan seorang antifan... saya akan tersenyum lembut karena saya tidak membenci antifan, meskipun mereka secara nyata membenci saya. :D. Bersikap seperti apa adanya, dan mencoba mencari hal apa yang salah pada diri saya hingga dia menjadi antifan saya.

Katakanlah saya seorang penyanyi wanita tersohor di antero dunia, kemudian harus menikah dengan orang yang sudah dijodohkan orang tua dan bingo! Dia adalah antifan saya. Setengah bencana, setengah anugerah. Saya harus bersiap-siap menjalani hidup dengan orang yang tidak menyukai saya dan mencoba untuk membuatnya menyukai saya, in case dalam keadaan seperti itu. Tapi hal yang lebih penting adalah, antifan bukan hanya sekedar orang-orang yang anti pada kita (idola), mereka adalah pengingat bagi idola untuk terus memperbaiki diri, berinstrospeksi diri dari apa-apa yang mereka kritikkan pada kita. Antifan itu justru menjadikan dunia idola menjadi lengkap. Dunia idola harus tetap seimbang dengan adanya fans dan antifans.

Tapi di sisi lain saya yakin, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan bisa saja seorang antifan akan berubah menjadi big fan yang justru mendukung idolanya suatu saat. Bukan berarti hal itu tidak mungkin, karena setiap hal memiliki kemungkinan. Begitu juga fans, mereka pun bisa berubah, yang tidak terlalu parah mungkin mereka tidak lagi mengidolakan saya, atau mengidolakan idola lain. Itu bukan suatu masalah yang harus dibesar-besarkan bagi saya. Tapi jika fan malah berubah menjadi antifan, itu artinya saya sudah tidak berhasil menjadi idola yang fans saya harapkan dan itulah waktu saya sebagai idola, untuk memperbaiki diri lagi.

“Jadi, apa yang kamu sukai dariku?”

Manekin yang mungkin terbuat dari es itu tidak bergeming atau tampak ingin menjawab. Tangannya berkacak pinggang sedangkan matanya memicing dengan seribu alasan dia membenci seorang superstar sepertiku ini, aku mencari-cari dari sekilan ribu alasan itu, berharap ada satu hal yang dia sukai dariku.

“Yang aku suka, yang aku suka aku membencimu,”

Aku menelan ludah, baiklah...aku ini bintang terkenal, wanita pula...jadi aku tidak akan bersikap sembarangan, “Kau tahu kenapa aku tidak menghalangimu dan teman-temanmu yang membenciku itu merusak konserku tadi? Kau tahu alasan aku diam saja saat kalian melemparkan telur ke panggung tadi?”

Aku akui antifanku ini mirip dengan idolaku sendiri, seorang aktor film action yang sudah merajai perfilman internasional, tapi dia membenciku.

“Karena aku mencintai antifans-ku, aku menyayangi mereka,”

Dia terbelalak hingga manik matanya nyaris jatuh ke lantai. Sebelum dia semakin tidak percaya aku lanjutkan kalimatku, “Kau, ya..memang antifanku. Tapi bagaimana jika idola yang kau benci ini mencintai antifans-nya?” aku tidak tahu jika dia semakin tersentak kaget. “Eh...aku bukan bermaksud aku mengatakan aku mencintaimu lo, yaa...”

Dia pingsan.


Sekian.

@sofiadhe ditulis dalam rangka partisipasi dalam Kuis My Antifan Story oleh Penerbit Haru ^_^
Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd