• Home
  • Stories I Write
    • The Neighborhood
    • Everything Starts to Shine
    • Love in Fall
    • Not All Stars Belong to The Sky
      • Pemantik Api
      • Isvargita
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Writing Hacks
  • REVIEW POLICY AND RATING SYSTEM
  • CONTACT ME
Dunia Sofia
Filosofi Kopi karya Dee
Judul: Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: TrueDee Books dan GagasMedia
Halaman: 137 hlm

Sebenarnya sudah lama mengetahui buku kumpulan prosa dan cerpen ini dari teman, namun baru bisa membaca e-booknya, itu pun minta dari adik kelas. Dan begitu membacanya, aku masuk dalam dunia yang Dee rangkai dari untaian kata-kata prosanya yang membentuk dunia. Benar-benar dalam namun mengalir semudah aliran air terjun.


Filosofi Kopi adalah kumpulan prosa pertama yang kubaca. Belum pernah kubaca buku semacam ini, dan aku sangat menikmati aliran kata-kata yang begitu indah dan bermakna. Dee tetap memakai tata bahasa yang ada, baku namun tidak kehilangan kesan puitis dan indah. Dee memang penulis yang memiliki rasa yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Kumpulan prosa-prosanya yang bermakna dalam benar-benar menyentakku dan menemukan diriku sendiri sedang berdiri menghadap sebuah cermin besar.

Ada satu judul yang begitu menarik dan memiliki makna yang aku suka. Mencari Herman. Di sana ada sebuah pepatah yang mengatakan. Bila engkau inginkan satu maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan tapi dua melenyapkan. Aku melihat betapa hidup terkadang egois dan inginkan dua hal sekaligus meski tahu itu sulit.

Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. - Mencari Herman

Spasi. Prosa ini, atau harus kusebut puisi? SPASI. Sungguh, aku mengagumi tulisan Dee ini. Begitu logis dan bisa diterima, logika tentang jeda dan kata yang takkan bermakna tanpa kehadirannya. Spasi. Menjadi favorit juga seorang sahabatku yang juga menggandrungi tulisan Dee karena kutulari virus Perahu Kertas dulu. Aku melihat sebuah fakta yang unik, tanpa ada jeda dan ruang...maka semuanya takkan bermakna. Begitulah spasi, kehadirannya tak terlihat, seolah hanya jarak antarkata yang memisahkan, namun tanpa dia semuanya hanya rangkaian huruf tak bisa dibaca, tak memiliki makna.

Rico de Coro. Imajinasi Dee tidak melulu tentang manusia, benda mati, atau perasaan. Begitu membaca Rico de Coro aku melihat dunia kecil yang Dee sebut sebagai Kerajaan Kecoak Dapur. Dimana seorang pangeran bernama Rico de Coro ternyata jatuh cinta pada seorang manusia, Sarah, anak pemilik rumah dimana kerajaan mereka berdiri. Namun kisahnya berakhir dengan pengorbanan besar Rico demi Sarah, demi putri impiannya. Dari kisah ini terpetik sebuah pelajaran, bahwa pengorbanan memang menyertai cinta. Cinta dan pengorbanan seperti dua mata koin, peluangnya sama 1/2 untuk terjadi.
Judul: I For You
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 379 halaman
ISBN: 978-979-780-554-8
Tahun: 2012 cetakan kedua

I FOR YOU – Cinta yang selalu menjagaku


Princessa dan Benji memang ditakdirkan untuk selamanya. Itulah yang seharusnya. Namun, suatu ketika tameng yang selama ini menjaga mereka untuk tetap bersama mulai perlahan-lahan pudar karena suatu hal yang bernama cinta. Bagaimana jadinya apabila kisah dongeng berakhir tidak seperti dongeng-dongeng putri dan pangerannya? Tidak ada ‘dan mereka pun bahagian selamanya...’ untuk mengakhiri kisah mereka? Bagaimana jika putri yang seharusnya dijaga oleh seorang yang sudah dijadikan pangeran baginya menemukan sosok pangeran lain? Dan bagaimanakah kisah pangeran yang tidak bisa memilih antara tanggung jawab dan hatinya? Surya dan Bulan hanya kakak-adik yang hidup dalam tekanan kesusahan ekonomi setelah kedua orang tua mereka meninggal. Kehidupan mereka tidak lagi sama seperti remaja-remaja lainnya yang diwarnai dengan hura-hura, bersenang-senang, bermalas-malasan dan pacaran.

Bagi Surya hal yang menduduki peringkat nomor satu dalam hidupnya adalah belajar, suatu janji yang dulu belum sempat dia buktikan pada ayah dan ibunya. Surya hanya ingin fokus hingga dia mencapai apa yang dia impikan namun saat seorang putri manja dan polos masuk ke hari-harinya, ke hidupnya... Surya mulai tidak mengerti mengapa hatinya justru bertolak belakang dengan otaknya. Bulan yang sehari-harinya harus mengurus rumah, menyiapkan roti untuk
dijual di kantin sekolah menjadi gadis yang sangat kuat, lebih kuat daripada yang Benji duga. Sosoknya yang sederhana menyimpan kekuatan yang begitu besar, hingga seolah tidak ada lagi yang bisa melindunginya membuat Benji selalu merasa remeh saat bertemu dengannya.



Princessa – bermata hazel, berambut cokelat yang indah, namun sifat terus terangnya terkadang membuatnya terkesan sombong dan tidak peduli. Tidak ada yang tidak ingin seperi dia, semuanya ingin menjadi seorang putri yang memiliki pangeran seperti Benji, menjadi Cessa.

Benjamin (Benji) – sosok pangeran sempurna, tampan, baik hati dan...hm, dia memang seorang pangeran.

Surya – cowok jutek nan galak ini memang harus diacungi jempol, kegeniusannya memang sudah terbukti. Namun memang menjadi Surya tidaklah mudah.

Bulan – sederhana dan bercahaya seperti bulan. Kesederhanaanya membuat seorang pangeran seperti Benji bahkan merasa Bulan telah ‘memanah hatinya’.



Mereka dipertemukan, disatukan lalu dipisahkan. Semuanya harus menerima keadaan yang tidak mereka pahami, hati mereka pun tidak mempercayai mengapa semua itu harus terjadi. Yang mereka harus lakukan hanyalah untuk saling mempercayai. Untuk saling mempercayai bahwa mereka ada diperuntukkan satu sama lain, saling melengkapi.

“Nggak semua fakta harus dikatakan” – Benji

“Tidak semua permintaan maaf harus diterima” – Benji

“Selambat apapun lo jalan, gue ikutin:” – Surya



Kisah I For You ini mengingatkan aku pada suatu novel karya Winna Efendi berjudul Remember When yang mengisahkan empat orang, (Moses, Freya, Adrian dan Gia), sedangkan disini ada Surya, Cessa, Benji dan Bulan. Keempat-empatnya memiliki kisah yang sangat berbeda, namun ada benang merah yang sama. Kalau mau tahu ya beli dan baca dua-duanya saja (Remember When dan I For You). Sama-sama menyentuh di hati.

Mungkin semuanya pun sudah tahu nama Orizuka di dunia kepenulisan dan novelis, penulis yang satu ini memang memiliki something special yang selalu diwujudkan dalam buku-bukunya. Meskipun idenya sangat sederhana dan bahkan sudah pernah ada dan dibuat, kelebihan seorang penulis terletak bagaimana dia menyampaikan dan merangkai ide tersebut menjadi sesuatu yang berbeda. Dan Kak Orizuka, you did it awesome! Karena hal-hal seperti inilah yang membuat saya juga selalu berpacu ingin menjadi penulis yang bisa membuat hal sederhana menjadi luar biasa, one of my best inspiration is Orizuka and her novels. Meskipun dulu aku melewatkan karya-karya terdahulu kak Orizuka, aku yakin mereka semua pasti bagus. Sejauh ini aku sudah membaca, (Oppa and I, Fate, Infinitely Yours, Best Friends Forever, dan I For You) dan semuanya benar-benar sederhana namun memiliki keistimewaan tersendiri. Someday I want my own novels becomes as touching as Kak Orizuka’s! hehehehe.

So, I Married the Anti-fan


Judul : So, I Married the Anti-fan
Penulis : Kim Eun Jeong
Genre : Romance, comedy
Kategori : Fiksi, novel terjemahan
ISBN : 978-602-98325-4-9
Tebal : 550 hlmn
Harga : Rp. 60.000 (PO Rp. 54.000+ongkir)
Terbit : Maret 2012

Sinopsis

Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi… Aku adalah antifan-nya.

H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan

Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti. Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikitpun maka mereka tidak segan-segan untuk bertindak.

(untuk info lengkapnya silakan berkunjung ke Penerbit Haru atau ke Twitter @penerbitharu)

====================================================================
My Antifan Story: Jika Aku Idola dan bertemu Antifan-ku


Just The Way My Antifans Hate Me


“Hai,” suaraku kuusahakan terdengar tenang dengan senyum tertarik manis di wajah. Tapi pemuda di depanku malah menyipitkan mata padaku dan berkerut kening. Senyumanku tidak dibalas, senyum yang sudah kulukis dengan kanvas wajah terbaikku dan ketulusan yang masih tersisa dari panggung konser yang baru saja aku turuni. Tapi, pemuda berjaket hitam dengan tulisan ‘Hate You’ itu membuatku terpaku dan menelan ludah. “Dia antifanku,”

Well, berbicara tentang idola dan antifan adalah hal yang sangat menarik. Semua yang diidolakan pasti memiliki kubu berseberangan, kubu yang tidak menyukainya atau alih-alih menyukai, mereka membencinya dan menyebut kubu mereka Antifan. Sebagai idola, keberadaan antifan itu juga merupakan suatu titik penting, sama seperti fans. Membayangkan diri saya dielu-elukan oleh fans yang mencintai saya namun di sisi lain, sekelompok orang mencibir dan merendahkan pasti kecewa rasanya. Dan apa lagi jika bertemu langsung, bertatap muka dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Pastilah antifan saya itu akan memicing ke arah saya dengan dahi berkerut dan diikuti kata-kata yang tidak enak didengar. Tatapan benci bagi siapapun tidak menyenangkan, apa lagi bagi idola yang banyak dicintai tapi juga banyak dibenci. Yah, serba salah memang. Sebagai idola saya nggak bisa memaksa mereka untuk berhenti menjadi antifan, terlebih meminta mereka untuk menyukai saya. Seandainya saya menjadi idola, lalu di suatu kesempatan setelah menggelar konser atau apa, dan bertemu dengan seorang antifan... saya akan tersenyum lembut karena saya tidak membenci antifan, meskipun mereka secara nyata membenci saya. :D. Bersikap seperti apa adanya, dan mencoba mencari hal apa yang salah pada diri saya hingga dia menjadi antifan saya.

Katakanlah saya seorang penyanyi wanita tersohor di antero dunia, kemudian harus menikah dengan orang yang sudah dijodohkan orang tua dan bingo! Dia adalah antifan saya. Setengah bencana, setengah anugerah. Saya harus bersiap-siap menjalani hidup dengan orang yang tidak menyukai saya dan mencoba untuk membuatnya menyukai saya, in case dalam keadaan seperti itu. Tapi hal yang lebih penting adalah, antifan bukan hanya sekedar orang-orang yang anti pada kita (idola), mereka adalah pengingat bagi idola untuk terus memperbaiki diri, berinstrospeksi diri dari apa-apa yang mereka kritikkan pada kita. Antifan itu justru menjadikan dunia idola menjadi lengkap. Dunia idola harus tetap seimbang dengan adanya fans dan antifans.

Tapi di sisi lain saya yakin, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan bisa saja seorang antifan akan berubah menjadi big fan yang justru mendukung idolanya suatu saat. Bukan berarti hal itu tidak mungkin, karena setiap hal memiliki kemungkinan. Begitu juga fans, mereka pun bisa berubah, yang tidak terlalu parah mungkin mereka tidak lagi mengidolakan saya, atau mengidolakan idola lain. Itu bukan suatu masalah yang harus dibesar-besarkan bagi saya. Tapi jika fan malah berubah menjadi antifan, itu artinya saya sudah tidak berhasil menjadi idola yang fans saya harapkan dan itulah waktu saya sebagai idola, untuk memperbaiki diri lagi.

“Jadi, apa yang kamu sukai dariku?”

Manekin yang mungkin terbuat dari es itu tidak bergeming atau tampak ingin menjawab. Tangannya berkacak pinggang sedangkan matanya memicing dengan seribu alasan dia membenci seorang superstar sepertiku ini, aku mencari-cari dari sekilan ribu alasan itu, berharap ada satu hal yang dia sukai dariku.

“Yang aku suka, yang aku suka aku membencimu,”

Aku menelan ludah, baiklah...aku ini bintang terkenal, wanita pula...jadi aku tidak akan bersikap sembarangan, “Kau tahu kenapa aku tidak menghalangimu dan teman-temanmu yang membenciku itu merusak konserku tadi? Kau tahu alasan aku diam saja saat kalian melemparkan telur ke panggung tadi?”

Aku akui antifanku ini mirip dengan idolaku sendiri, seorang aktor film action yang sudah merajai perfilman internasional, tapi dia membenciku.

“Karena aku mencintai antifans-ku, aku menyayangi mereka,”

Dia terbelalak hingga manik matanya nyaris jatuh ke lantai. Sebelum dia semakin tidak percaya aku lanjutkan kalimatku, “Kau, ya..memang antifanku. Tapi bagaimana jika idola yang kau benci ini mencintai antifans-nya?” aku tidak tahu jika dia semakin tersentak kaget. “Eh...aku bukan bermaksud aku mengatakan aku mencintaimu lo, yaa...”

Dia pingsan.


Sekian.

@sofiadhe ditulis dalam rangka partisipasi dalam Kuis My Antifan Story oleh Penerbit Haru ^_^

Judul Buku: Please Look After Mom

Penulis: Shin Kyung Sook

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: November 2011

Halaman: 296 hlm

Alih bahasa: Tanti Lesmana


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakang. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tidak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya dan mimpi-mimpinya.

Review:
Kisah yang ditulis Shin Kyung Sook ini begitu memilukan sekaligus indah. Hilangnya seorang ibu yang tidak pernah terpikirkan oleh anak-anaknya, suaminya dan iparnya membuat mereka semua-keluarga yang dulu lebih mengabaikan sang Ibu daripada mendengar dan mencoba mengenalnya lebih jauh-sadar bahwa mereka sama sekali tidak begitu mengenal wanita yang penuh kekuatan dan kasih sayang itu.

Suami yang tidak bisa diandalkan, singkatnya. Sang Ibu harus memeras keringatnya membesarkan anak-anaknya. Saat dewasa mereka semua lebih mementingkan pekerjaan dan enggan untuk bersentuhan dengan Ibu secara lebih emosional, dan belum lagi kakak ipar yang malah terlihat seperti ibu mertua yang mengkritik apapun yang perempuan bernama Park So-nyo itu lakukan.

Begitu indah dan menyesakkan dada kisah ini dirangkai dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Dimulai dengan pembukaan dimana seolah pembaca adalah anak perempuan terakhir sang Ibu lalu anak laki-laki pertamanya, hingga point of view kisah ini diambil dari sisi ayah, suami sang Ibu, Istri, ipar yang hilang ini. Membuat setiap scene dan plotnya memang berubah sangat dinamis. Terasa sekali setiap perubahan point of view dengan emosi dan karakter yang berbeda-beda. Lalu saat sudut pandanganya berubah menjadi point of view sang Ibu, kisah ini semakin memilukan dengan rangkaian kata yang penuh emosi dan karakter kuat Ibu. Saat membaca buku Please Look After Mom ini, pembaca seolah disentakkan dengan kata kau, kamu. Seolah kisah ini adalah milik sang pembaca, dan buku ini mengingatkan tentang apa, siapa dan bagaimana perjuangan Ibu untuk menghidupi anak-anaknya, melayani suaminya yang suka pergi entah kemana dan mencoba bersabar saat ipar yang seolah mertua itu mulai membuatnya bingung dan kesal.

Kisah ini menggetarkan hati dengan ide-ide penulisnya yang bisa menggambarkan bagaimana seorang ibu bersikap dan mengambil keputusan demi anak-anak dan keluarganya.

Ibu, tiga huruf menjadi satu kata yang jika dijelaskan mungkin tinta selautan takkan cukup untuk menuliskan betapa besarnya pengorbanan dan kasih sayang yang mereka berikan. Ibu, ibu berarti wanita... istri dan ibu untuk anak-anaknya.

Quotes Favorite

Mana bisa kita hanya melakukan apa yang kita sukai? Ada hal-hal yang mesti dilakukan, entah suka atau tidak. –Ibu

Bagaimana kau bisa hidup kalau tidak bisa menaruh percaya pada orang lain? Lebih banyak orang yang baik daripada yang jahat. –Ibu

Kalau kau mau angkat kaki dari dunia yang indah ini, silahkan saja minum-minum terus. –Ibu

Aku bahagia menjalani sekian banyak hari dalam hidupku, karena aku memilikimu. –Ibu

Kau membandingkan dirimu dengan ibu, akan tetapi Ibu sungguh tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Seandainya kau berada dalam posisi Ibu, kau tidak akan melarikan diri seperti ini, lari dari rasa takut. –Ibu


Postingan Lama Beranda

HELLO THERE!

I am Sofia, the author of this blog. This is memorabilia of my adventure as a writer, a reader, a translator and a light seeker •

BBI #1701352

BBI #1701352

Categories

Adult Artikel BBIHUT6 BBIHUT6Marathon Blue Valley Series Book Tour Book Tour Host Books Cover Debut Author Dee Dee's Coaching Clinic Dewi Lestari Distopia Dystopia English Falcon Publishing Fantasy Fantasy-Mistery Fiction Filosofi Gramedia Graphic Novel Harry Potter Historical Romance Indonesia Indonesian Author Indonesian Novel J-Lit Korea Lara Jean Metropop National Bestseller Novel Novel DKJ Poems PostingBareng Reading Challenge Reight Book Club Resensi Retelling Review Romance Romantics Sastra Supernova Teen Thriller Time Travel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie blog tour character child story detektif giveaway literature misteri movie murder orizuka prosa sci-fi suspense tips menulis young-adult

TO READ

The Graveyard Book
Gerbang Trinil
Girl in Translation
Hollow City
Hallucinations
The Man Who Touched His Own Heart: True Tales of Science, Surgery, and Mystery
The Geography of You and Me
All The Bright Places


Dheril Sofia's favorite books »
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

@SOFIADHERIL

Copyright 2014 Dunia Sofia.
Designed by Odd