Senin, 27 Februari 2012

The Windflower Book Review

The Windflower - Pemenang RRA Award untuk kategori Best Classic Historical Romance (1994)

Judul: The Windflower – takluk di bawah pesonamu
Penulis: Sharon dan Tom Curtis
Penerbit: GagasMedia
Alih bahasa: Endang Sulistyowati
Halaman: 626 hlm
Tahun terbit: 2011
ISBN: 9789797805142
Genre: Dewasa/Adult

Sinopsis:
Merry Wilding mendambakan petualangan... namun yang dia dapat malah penculikan dan dikirim ke kapal yang paling ditakuti di lautan.

Merry tidak punya pilihan lain kecuali tunduk pada perintah pemilik kapal, sang bajak laut misterius berambut keemasan. Dan meskipun kata-kata setajam duri sering meluncur keluar dari sana. Bibir itu juga yang mengenalkan gadis itu pada ciuman memabukkan yang tak akan pernah dia lupakan. Laki-laki itu tampak begitu berbahaya, sekaligus membuatnya hampir tak bisa bernapas karena dikuasai gairah.

Devon Crandall hanya bermaksud untuk merayu tawanannya itu sedikit dan mengorek informasi darinya. Tapi dia tidak pernah menduga sepasang mata biru milik perempuan itu bisa membuat Devon semakin mengingininya.

Sang bajak laut dan tawanannya saling membujuk, saling menggoda...siapa akhirnya yang jadi pemenangnya?


My review:

The First is always about the cover. Dari semua edisi The Windflower baik dalam bahasa inggris atau yang sudah diterjemahkan, cover dari Mbak Anissa dari GagasMedia ini yang paling bagus dan sesuai dengan mata saya. Windflower itu sendiri adalah nama sejenis bunga yang menjadi sebutan untuk Merry dari Devon. Desainnya bagus seperti sebuah lukisan cat minyak. Always nice to see the cover.

Well, seharusnya saya pikir ulang untuk membaca novel bergenre dewasa. Ingat, DE-WA-SA. Tentunya saya sempat syok dan semakin terperangah dengan plot-plot yang menggambarkan genre dewasa tersebut. Tapi di sisi lain, cerita yang ditulis oleh pasangan suami-istri Sharon dan Tom Curtis ini sebenarnya menarik, tentunya bukan dilihat dari seberapa intens adegan romantis di sini.

Kisah yang menceritakan penculikan Merry dari kapal yang akan membawanya ke Inggris menjadi semakin menegangkan dan membuat ‘petualangan’ tidak terbayangkan. Merry, gadis yang polos tidak pernah tahu dunia luar kecuali ladang jagungnya, harus berhadapan dan mengalami serangkaian kejadian yang menyedihkan, memalukan dan menegangkan bersama segerombolan perompak di Black Joke. Belum lagi dia harus berurusan dengan pria misterius bernama Devon. Devon salah satu perompak di sana. Namun pesonanya sama sekali tidak memancarkan perompak bengis dan kejam, tapi bukan berarti Devon tidak memiliki sifat perompak itu. Merry harus menerima perlakukan tidak menyenangkan bahkan menyakitkan jika Devon mulai tidak bisa menguasai akal sehatnya. Tapi saat itulah, mereka berdua mulai menyadari bahwa sejak pertemuan pertama mereka di kedai minuman, dimana Merry dibawa oleh Carl, kakaknya untuk menggambar wajah-wajah perompak itu untuk kepentingan pemerintahan Amerika, mereka sudah jatuh cinta.

Perjalanan kapal Black Joke benar-benar memberikan banyak pelajaran pada Merry. Hingga cinta yang murni itu terbukti ketika malaria menyerangnya. Devon seperti orang gila karena setiap detik dia mengkhawatirkan kondisi Merry yang semakin buruk. Di sinilah Devon menampakkan betapa dia menyayangi Merry. Namun perlahan misteri di antara Merry dan Devon yang mereka sembunyikan mulai terkuak. Sang perompak dan tawanannya, mereka sudah mengetahui rahasia mereka.

Di luar bagaimana adegan yang menurut saya terlalu ‘romantis’, saya menyukai ceritanya, kecuali pada bagian yang membuat kepala saya pening. Yah, bisa dibaca sendiri novel yang menerima anugerah RRA tahun 1994 sebagai Best Classic Historical Romance ini, asalkan sudah sesuai dengan usia (Hehehehe). Baru di bab ke-24 dari 32 bab saya menyukai kisah ini. Tentang bagaimana takdir ternyata memang sudah berkata bahwa Merry dan Devon akan bersatu, tentang cinta yang bersatu dalam sebuah pernikahan. Tidak menyangka jika hubungan ‘aneh’ sang perompak dan tawanannya yang selama di kapal menjadi semakin aneh dan menegangkan itu berakhir dengan manis. Pada bagian bab ke 32, endingnya, saya sebut itu yang manis, bukan romantis ala novel-novel bergenre dewasa, yaa...

“Merry Wilding, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan di dunia ini,” ujar Devon dengan suara yang sangat lembut, “Mungkin termasuk satu atau dua hal yang tidak kau inginkan, Tapi pertama-tama, Cinta, aku akan memberikan namaku,”

Bukankah itu bisa disebut sebuah lamaran yang sangat manis? Siapa yang menyangka jika Devon adalah seorang the Duke of Cyr?

Ada beberapa bagian yang membuat narasi menjadi terlalu membosankan dan menjenuhkan. Narasi yang terlalu bertele-tele dengan kalimat berfrase panjang memang identik terjadi di novel terjemahan karena memang bahasa awalnya, bahasa Inggris, memiliki susunan kalimat yang tidak sesederhana bahasa indonesia. Saya tidak tahu apakah plot romantis di sini yang menjadikan novel ini meraih penghargaan, apakah karena penulisnya menggambarkan bagaimana adegan dua tokoh yang saling jatuh cinta itu yang membuat novel ini istimewa? Tapi menurut saya yang membuat novel ini berkesan baik dan bagus bagi saya adalah beberapa dialog yang saya kutip dari Merry dan Devon.

Quotes:

“Betapa indahnya hidup kita. Aku memberimu hidupku dan semua momen di dalamnya,” – Merry

“Dan, aku akan memberimu hidupku, dalam kedamaian, dan jika datang cobaan yang berat, aku juga akan memberikan jiwaku padamu,” – Devon.

“Cintaku, aku akan selalu membawanya bersamaku, dan menjaganya,” – Merry.

Untuk yang ingin membaca kisah perompak dan tawanannya ini, harus membaca sendiri bagaimana petualangan dan kisah yang terjadi di atas kapal Black Joke ini. Tapi tidak disarankan untuk pembaca remaja di bawah sembilan belas tahun yaaa... Ini genrenya belum sesuai untuk yang masih unyu-unyu dan imut-imut. Masih ada novel lain yang sesuai dan bagus kok. Inget, novel juga punya standarisasi usia yang membatasi siapa boleh membaca. Jadilah pembaca yang bijak dengan memilih bacaan yang sesuai dan bermanfaat, serta mendukung usia kamu. You should find the right and appropriate one to read if you want to have good mind after reading the book. Always nice to be wise, right? Ingat itu yaa. Saya juga akan menerapkan cara ini. Setelah ini lebih baik saya mengkonsumsi genre remaja dan anak-anak saja, bagi saya sendiri saya belum pantas membaca genre dewasa, *inget usia yang remaja bukan dewasa juga bukan...*

Dan saya nggak bisa membayangkan bagaimana jika novel ini difilmkan. Oh, Tuhan, tidak... *mungkin saya nonton yang udah disensor saja deeeh..., :P* Seandainya novel ini bukan genre dewasa, atau setidaknya masih di level remaja yang ringan-ringan, saya akan menjadikan The Windflower sebagai favorit saya. Tapi, sepertinya ada yang lain untuk jadi pilihan. Cukup dengan tiga bintang dari lima bintang saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar