Senin, 03 September 2012

Remember When [book review]

Judul : Remember When
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media (2011)
Halaman : 252 hlm
ISBN : 9797804879

“Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa.”
Pertama yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah sinopsisnya. Membaca sinopsisnya terasa menyayat hati. Begitulah, aku suka sinopsis yang sudah mampu mencuri perhatianku dengan kata-kata yang tertata rapi dengan makna yang dalam. Aku tidak mengira bila novel ini adalah novel remaja pada umumnya. Ceritanya menurutku sederhana, ide-ide ceritanya pun menurutku sudah sering dipakai oleh penulis lain. Tentang kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia. Empat sahabat yang disatukan dan dipisahkan karena satu hal, yang semua orang sebut sebagai cinta. Kisah remaja SMA yang sudah-sudah memang lebih sering tentang pacaran, putus-nyambung lalu happy ending. Namun entah mengapa Remember When ini membuatku melihat Freya, Adrian, Moses dan Gia seperti aku melihat kejadian nyata. Mereka, perasaan-perasaan mereka, dan kisah mereka seolah begitu real. Perasaan-perasaan yang terbangun pada masing-masing karakter membuat novel remaja ini tidak terkesan picisan seperti kebanyakan teenlit yang hanya mengandalkan konflik jatuh cinta dan pacaran-putus-nyambung lalu happy ending. Remember When, berkat cara penulisan yang bagus telah menegaskan bahwa ide cerita sesimpel dan sesederhana apapun bisa dibuat istimewa dengan cara penulisan dan rangkaian alur dan plot yang tepat.

Freya dan Gia. Dua sahabat yang seperti langit dan bumi. Freya dikenal sebagai gadis yang pintar, introvet dan antisosial entah bagaimana menemukan kecocokan dengan Gia yang dikenal lebih supel, periang, pandai bergaul dan tentunya memiliki kecantikan dewi khayangan. Kisah Remember When ini diawali saat keduanya menerima pernyataan cinta dari Moses dan Adrian yang juga merupakan sahabat karib.

Moses dan Adrian. Keduanya tumbuh dan besar bersama sebagai sahabat sejak kecil hingga merekapun saling mengetahui baik-buruknya masing-masing. Seperti Freya dan Gia, Moses dan Adrian juga merupakan dua pribadi yang bertolak belakang namun bisa menjadi sahabat. Moses lebih cenderung pendiam, kalem dan kutu buku seperti Freya. Sedangkan Adrian lebih ceria, ekspresif, dan populer. Moses adalah tipe cowok kalem yang suka menghabiskan waktu duduk belajar atau membaca buku sedangkan Adrian lebih memilih bermandikan keringat di lapangan basket.
Dan keempatnya memiliki kisah yang klise. Pernyataan cinta, hubungan yang mulai berubah seiring perubahan hati dan pada suatu ketika apa yang sudah mereka tata rapi memang selayaknya dipugar. Mengapa? Karena di tengah perjalanan, mereka menemukan cinta yang tidak lagi bisa disembunyikan, yang terjalin pada dua orang yang ‘dulu’ tidak mungkin terjadi.
Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang membaca kisah Remember When ini. Jadi sepertinya saya tidak akan mereview kisahnya sampai detail, (tidak ada spoiler lebih dari itu). Aku suka mendalami karakter-karakter novel yang kubaca, karena itu aku bisa belajar membuat karakter yang kuat untuk tulisanku sendiri. Nah, di sini aku khusus untuk mendalami karakter Moses. Mengapa Moses? Hm, karena dari Freya, Adrian, Moses dan Gia, Moses-lah yang entah bagaimana kurasa kurang kuat, kurang memiliki sikap. Entah mengapa, di kisah ini dia terkesan tidak begitu memiliki bagian (padahal bukannya ada empat karakter utama ya di sini?). Selain itu aku menemukan sedikit keburukan pada Moses yang memberikan kesan dia terlalu sempurna. Baiklah, inilah Moses di mataku.

Moses. Namanya terdengar asing bagiku karena belum pernah mendengar sebelumnya. Pemuda ini dikenal sebagai ketua OSIS yang memegang peringkat paling atas di sekolah. Pintar bahkan genius, begitulah Moses. Hari-harinya diisi rapat-rapat OSIS, bimbingan belajar, mengerjakan PR, membaca buku dan hal-hal lain yang sepertinya semua anak pintar lakukan. Namun aku tidak tahu mengapa Mbak Winna Efendi tidak memberikan deskripsi penampilan Moses secara fisik. Apakah dia tampan, biasa-biasa saja, aku bahkan nggak keren sama sekali, aku tidak tahu. Hanya ada satu hal ciri dari Moses, yaitu kacamatanya. Jadi gambaranku tentang Moses adalah cowok berkacamata, berseragam abu-abu putih rapi nan kelimis dan berwibawa karena dia ketua OSIS. Tidak ada ciri-ciri fisik tentang seperti apa wajah Moses hingga aku kesulitan membayangkan seperti apa Moses itu. Jika aku berpikir Adrian itu mungkin mirip Zac Efron di High School Musical, Gia seperti Selena Gomez dan Freya seperti Emma Roberts, maka aku tidak bisa membayangkan aktor siapa yang mewakili wajah Moses. Oh, Moses...aku penasaran seperti apa kamu dimata Mbak Winna sebenarnya...

Nah, lebih jauh tentang Moses adalah...aku nggak bisa lebih mengenalnya karena menurutku dia tidak mendapatkan lebih banyak porsi untuk menggambarkan perasaannya lebih jauh. Berbeda dengan Adrian dan Freya yang seolah-olah memiliki lebih banyak ruang untuk bercerita (ingat, Remember When dikisahkan dari sudut pandang masing-masing karakternya). Selain itu Moses berbeda dengan yang lain. Jika Freya memiliki masa lalu pahit karena kehilangan ibunya, dan begitu pula Adrian maka Gia memiliki kisah pahit karena dia sudah merelakan hal yang paling seorang gadis jaga untuk diserahkan pada Adrian meski pada akhinya mereka tidak bisa sama seperti dulu. Apa yang Moses miliki? Apakah hanya luka karena pengkhianatan pacar dan sahabatnya saja? Kurasa dari keempat karakter ini, Moses memiliki nasib yang lebih beruntung daripada yang lain. Freya dan Adrian sama-sama kehilangan ibu. Tapi Moses? Apakah Moses memiliki sedikit saja sejarah hidup yang pahit? Ini membuatku tidak bisa bersimpati pada Moses. Dia terlalu baik, terlalu sempurna. Setidaknya ada satu konflik yang Moses sendiri miliki, mungkin riwayat cintanya pernah ditolak atau dia mencintai seseorang tapi tidak sempat meraih, atau mungkin konflik keluarga seperti yang Freya dan Adrian miliki. Itu yang aku lihat dari Moses.

Mungkin Mbak Winna akan menjawab pertanyaanku, “Mbak, Moses itu kalau jadi nyata mirip aktor siapa, yah?” Hahaha, dan selain itu ada hal yang membuat Moses menjadi agak misterius, hm...Moses emang agak-agak misterius dengan segala sifat-sifatnya. Dan entah mengapa aku jadi terpikirkan apakah Mbak Winna akan membuat kisah Moses sendiri nantinya.
Sekian review dariku yang lebih fokus pada karakter Moses. Review ini memang khusus kubuat setelah membaca ulang Remember When yang sebelumnya sudah pernah kutulis review novelnya. Untuk mengingatkan kesan lagi, awal aku membaca novel ini kurasa ini tidak lebih dari novel-novel remaja biasa. Kebanyakan dan sudah standar dan bahkan konfliknya sangat klise dan cenderung seperti cerita sinetron. Tapi karena keajaiban cara menulis Mbak Winna lah yang membungkus kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia menjadi lebih dari sekedar cerita remaja saja. Seperti yang kukutip di awal review ini, Remember When memiliki makna yang mendalam.

“Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya,”

Namun ironisnya, tidak semua cinta seperti itu. Itu cinta Freya dan Adrian. Bukan Moses atau Gia. Dan bukan pula yang kurasakan. Cinta memiliki jalannya sendiri untuk mempertemukan kedua belahan jiwa, kurasa seperti itulah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar