Selasa, 25 April 2017

'Underwater' & Mental Illness in YA Novels

Goodreads

Judul: Underwater
Penulis: Marisa Reichardt
Alih Bahasa: Mery Riansyah
Editor: Ayu Yudha
Desain Sampul: emsn32
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: 2017
Halaman: 330 hlm
ISBN: 9786026044341
Genre: Young Adult, Realistic Fiction, Mental Illness
Rating-ku: 4🌟🌟🌟🌟/dari 5🌟

Blurb:
Memaafkanmu akan membuatku bisa memaafkan diriku sendiri.
Morgan tidak bisa keluar dari pintu depan apartemennya, rumah yang dia tinggali bersama ibu dan adik laki-lakinya. Gadis itu merasa sedang berada di bawah air, tidak mampu naik ke permukaan, tidak mampu bertemu dengan teman-temannya, tidak mampu ke sekolah.

Saat Morgan kira dia tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi, seorang cowok pindah ke sebelah rumahnya. Evan mengingatkannya pada laut yang asin, dan semangat yang dia dapatkan dari berenang. Mungkin, Evan adalah bantuan yang dia butuhkan untuk terhubung kembali dengan dunia luar....

First Impression
Kepingan blurb di ataslah yang pertama kalinya menarik perhatianku untuk novel ini. Awalnya, aku tidak ada ekspektasi apa-apa (akhir-akhir ini memang tidak punya ekspektasi berlebih untuk bacaan tertentu karena kebanyakan yang kubaca adalah karya debut) sampai aku mulai membaca bab awal novel ini. Enggak kerasa aja udah dapat beberapa halaman. Ringan, tapi sekaligus menyimpan muatan yang berat dan menarik dan membuat penasaran sejak awal. Meskipun aku sudah menebak garis besar ceritanya (dan ternyata tebakanku benar, yay!), yang membuat aku terus membacanya hingga akhir adalah benar-benar penasaran dengan endingnya.

Sebagian diri Morgan Grant akan mengingatkan kita (mungkin) pada diri kita sendiri yang berada di tengah stress, depresi dan frustrasi saat mengalami kejadian buruk. Sebagian diri Morgan Grant berbagi denganmu tentang hal-hal yang tak sanggup kamu bicarakan dengan orang lain kecuali dirimu sendiri. Dia juga mencoba menunjukkan bahwa dia masih memiliki kekuatan saat keadaan membuatnya harus bertindak demi orang-orang yang dicintai. Meskipun jika itu artinya kita harus memberanikan diri menghadapi ketakutan terbesar.

Selasa, 18 April 2017

'Holding Up The Universe' & How To Love Yourself

Goodreads

Judul: Holding Up The Universe
Penulis: Jennifer Niven
Bahasa: Inggris
Desain Sampul: Copyright Shutterstock, 2016
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 388 hlm
ISBN: 9780141357058
Rating-ku: 3 🌟🌟🌟 dari/5 🌟


Blurb:
Everyone thinks they know Libby Strout, but no one’s ever looked past her weight to see who she really is. Since her mum’s death, Libby’s been hiding, but now she’s ready for high school.
I want to be the girt who can do anything.
Everyone thinks they know Jack Masselin too-sexy, aloof and too cool for school. But Jack’s swaggering confidence is hiding a secret he must keep at all costs.
Be charming. Be hilarious. Don’t get too close to anyone.
Then Jack meets Libby. And their worlds change.
Because sometimes when you meet someone, the whole universe just comes into focus.

First Impression
Tahun lalu, aku excited banget pas pertama kali tahu buku ini akan rilis. Selepas baca buku pertama Jennifer Niven, ‘All The Bright Places’ (omaigat, aku belum bikin reviewnyaaa), aku nunggu-nunggu buku baru penulis ini karena tema-tema kehidupan remaja dan dewasa-muda yang dia angkat berbeda dari penulis-penulis teenlit luar negeri lainnya. Setelah tenggelam bersama kisah Finch dan Violet di ‘All The Bright Places’, dengan masalah hidup-mati mereka, aku enggak mau melewatkan ‘Holding Up The Universe’, karena aku jujur bener-bener bosen dengan novel teenlit dalam negeri/luar negeri yang begitu-begitu aja dari dulu. Yap, Niven menawarkan bumbu tema yang belum pernah aku baca sebelumnya. Mental illness. Neurological disease. Loss.

This is what I know about loss: It doesn’t get better. (1) You just get (somewhat) used to it. (2) You never stop missing the people who go away. (3) For something that isn’t there anymore, it weighs a ton. – Libby Strout.

Senin, 17 April 2017

'Lengking Burung Kasuari' dan Nostalgia Anak-anak


Goodreads: Lengking Burung Kasuari

Judul: Lengking Burung Kasuari
Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Editor: Sasa
Desain Sampul/Isi: Fauzi Fahmi/Nur Wulan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2017
Halaman: 224 hlm
ISBN: 9786020339825
Penghargaan: Pemenang Unggulan Sayembara Novel DKJ 2016
Rating-ku: 🌟🌟🌟🌟/4 dari 5 🌟

Blurb:
“Tukang potong kep sedang mencari kepala anak-anak.”
Aku bergeming. Tak merasa perlu gemetar seperti ketika pertama kali mengetahui kep itu artinya apa. “Ah, yang macam beginian cuma cerita omong kosong saja,” aku menyahut begitu dengan nada tak acuh.
Sendy jadi tersinggung. Ia mendelik, mengangkat kepalanya, dan memelototiku, “Baik, kalau tidak percaya. Coba saja kalau tidak percaya. Lihat akibatnya nanti.”
“Jembatannya sudah jadi. Tidak perlu lagi kepala anak-anak,” aku menantangnya.
“Perlu kepala anak-anak,” Sendy ngotot. “Tetap perlu.”
“Mau ditanam di mana lagi?”
“Di bawah jembatan. Memang mau di mana lagi?”
“Kenapa mau tidak takut sama dia?” tanyaku. “Kamu anak-anak juga, sama seperti aku.”
“Tidak sama. Tukang potong kep suka kepala anak-anak berambut lurus.”

First Impression
Aku hampir meninggalkan tokbuk Gramedia Kediri dengan tangan kosong hari itu. Sewaktu aku lewat di deretan dekat pintu keluar dan melihat buku ini, mataku langsung tertuju pada pojok kiri atas. Terdapat logo Pemenang Unggulan Novel DKJ 2017. Dengan semakin banyaknya buku-buku baru yang terbit, aku justru sering bingung untuk membeli mana yang worth to read, worth to spend. Akhirnya pilihanku jatuh pada buku-buku berlogo ini. Begitu aku baca blurb di atas, tentu saja aku hanya bisa membawanya menghampiri meja kasir.

Sekilas cerita buku ini benar-benar membawaku ke masa anak-anak, saat aku masih suka main masak-masakan, siang-siang ketika terik matahari panas, menolak perintah ibuk tidur siang. Bermain tak kenal waktu. Dan juga tukang potong kep. Sementara di daerahku punya julukan sendiri, tukang pek (Bhs. Jawa: ‘pek’ artinya memiliki/merebut/culik). Nah, enggak dinyana sebutannya mirip banget, cuma dibalik. Jadi, setiap kali dulu aku ngotot main terus di halaman rumah siang-siang. Pasti diancam dengan, “Nanti kamu digondol sama tukang pek, diikat, dimasukan ke dalam karung dan enggak bisa kembali ke rumah.

Penggambaran tukang potong kep di Lengking Burung Kasuari pun mirip banget. Menceritakan kehidupan anak-anak dari keluarga tentara yang tinggal di kompleks perumahan dinas (begitu yang kutangkap), penulis mencoba menghadirkan konflik anak-anak, keluarga, masalah-masalah domestik, hingga politik di buku ini. Tidak melupakan sentuhan tentang kehidupan di tengah-tengah keberagaman, Nunuk Y. Kusmiana menghadirkan ritme hidup keluarga tentara Indonesia yang senantiasa bersinggungan dengan masalah yang ada di tahun 1970 ini, ketika Irian Jaya bergabung dengan Republik Indonesia.

Jadi, apakah benar ini cerita thriller anak-anak seperti yang digambarkan blurb?