Kamis, 16 Maret 2017

Harry Potter and The Cursed Child

The eight story. Nineteen years later...
It was always difficult being Harry Potter and it isn’t much easier now that he is an overworked employee of the Ministry of Magic, a husband, a father of three school-age children.

While Harry grapples with a past that refuses to stay where it belongs, his youngest son Albus must struggle with the weight of a family legacy he never wanted. As past and present fuse ominously, both father and son learn the uncomfortable truth: sometimes, darkness comes from unexpected places.

IG: sofiadheril

First Impression
Ini pertama kalinya aku membaca sebuah naskah drama dan karena aku sudah mengikuti cerita Harry Potter sejak lama, tidak sulit untuk tetap membayangkan scene-scene yang ada di buku ini. Awalnya aku pikir aku akan kurang menyukainya tetapi aku salah. Membaca cerita dengan format yang berbeda dari yang sudah-sudah ternyata memberikan pandangan segar tentang cara bercerita.

Buku ini ditulis berdasarkan cerita asli dari J.K. Rowling yang digarap bersama dengan John Tiffany and Jack Throne. Itu tadi, meskipun berformat skrip drama, semua yang disajikan hanya melalui dialog ini ternyata imaginable sekali (ya, mungkin karena sudah mengenal dunia Harry Potter sebelumnya). 

Mengisahkan kehidupan Albus putra bungsu Harry Potter, yang harus terjebak dalam bayang-bayang nama besar ayahnya dan harapan orang-orang disekitarnya agar dia menjadi seorang Potter sebagaimana harusnya.

Semua konflik dimulai karena hubungan Harry dan Albus sendiri sangat kaku. Sikap Albus yang tidak seceria kakaknya James dan juga sikap Harry yang entah bagaimana selalu meragukan dirinya bahwa dia sudah menjadi ayah yang baik untuk Albus. Kombinasi konflik yang mengerucut ketika Albus justru ditempatkan di rumah Slytherin ketimbang di Gryffindor. Semuanya mulai berbeda.
Terlebih lagi ketika Scorpius Malfoy masuk ke dalam hidup Albus sebagai sosok teman yang akan menjadi sahabatnya untuk mengarungi sebuah petualangan. Petualangan berbahaya yang Albus pikir bisa menolong ayahnya dari sebuah ancaman.

Buku ini menyajikan kejutan-kejutan di setiap bagiannya. Terutama petualangan Albus dan Scorpius yang melibatkan Time Turner. Berkali-kali mereka membolak-balikkan waktu demi sesuatu yang mereka yakini bisa menyelamatkan dunia sihir. Petualangan yang juga membuat Harry dan Draco bersatu untuk menemukan putra mereka yang terjebak dalam waktu-waktu yang berkelindan akibat ulah Time Turner.

The Tittle and The Cover
Cerita apa saja bisa muncul sejak buku ketujuh Deathly Hallows. Semua potensi bisa muncul entah itu mengisahkan Harry sendiri lagi atau yang lainnya. Tetapi Judul dan cerita yang diambil sebagai kisah kedelapan ini, ‘Harry Potter and The Cursed Child’ sangat cocok untuk melengkapi ketujuh kisah Harry Potter sebelumnya. Sisa-sisa misteri dan residu masa lalu dari pertempuran Harry dengan Voldemort menjadi bumbu yang sesuai untuk membuat satu lagi cerita yang lebih berkesan dewasa dan bijak. Karena, ini bukan hanya kisah anak-anak pemberani tetapi juga menjadi kisah keluarga dan bagaimana seorang ayah menjadi ‘ayah’. 

Cover bukunya tentu saja sesuai dengan apa yang ingin diusung, menyajikan sesuatu yang baru. Memikat dengan warna kuning keemasan.

The Story Idea
J.K. Rowling adalah salah satu penulis yang cerdas dalam meramu ide menjadi kisah yang khas J.K. Rowling sendiri. Meski digarap oleh dua tangan lain yang berbeda, kekhasan J.K. Rowling tidak bisa dipandang sebelah mata juga. Tetap mengandung unsur riddle, hubungan-hubungan yang saling berkelindan antara para tokohnya.

Tema besar dari buku ini adalah: petualangan, persahabatan, keluarga: hubungan ayah-anak.

POV
Sebagian besar kamera cerita diambil dari Albus dan Scorpius. Mereka memang menjadi sentral dari kisah ini. Aku suka bagaimana akhirnya perlahan-lahan J.K. Rowling tidak menjadikan Harry Potter satu-satunya tokoh yang memengaruhi cerita. Ya, memang harus ada sosok lain, dan tepat sekali menghadirkan sosok Albus yang bertentangan dengan Harry sendiri.

The Characters
Albus Potter. Sejak merasa dirinya tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Potter, Albus menjadi sosok yang agak pemarah, pemurung dan menjauh dari keluarganya. Terutama dari Harry. Dia sangat berbeda dengan James yang lebih usil dan suka mengganggunya. Tetapi di balik sikapnya yang agak ‘menyebalkan’ itu juga tersimpan sifat ‘pemberontak’ dan ‘pemberani’. Mirip sekali dengan Harry.

Scorpius Malfoy. Dituduh sebagai putra dari Pangeran Kegelapan, Lord Voldemort, sedih karena kondisi ibunya yang semakin memburuk, gagal memenuhi harapan Draco untuk menjadi seorang Malfoy sejati. Kombinasi masalah yang tidak jauh-jauh dari Albus Potter. Karena itu juga Scorpius bisa sangat cepat berteman dengan Albus. Tetapi, sosok Scorpius ini memang sama sekali tidak seperti para Malfoy yang lain. Dia justru ramah dan menyenangkan.

Dua sejoli ini menggerakkan cerita dengan kombinasi yang sangat pas.

The First Act – 1/3 Part
Di awali dengan masalah antara Albus dan Harry, isu bahwa Voldemort memiliki anak, penemuan Time Turner yang menghebohkan seluruh Kementerian Sihir, antara menyimpan benda itu dan mengambil risiko sewaktu-waktu bisa dicuri atau menghancurkan semuanya. Dan Amos yang berharap Harry bisa membawa putranya Cedric Diggory dari kematian (Triwizard Tournament). Semua kejadian yang awalnya tak berkaitan menemukan titik temunya ketika seorang anak kecil mulai berulah, Albus.

The Second Act – 2/3 Part
Persahabatan antara Albus dan Scorpius membawa mereka terjebak kekacauan waktu yang bisa mengubah takdir semua orang. Tidak hanya diri mereka sendiri, apa yang mereka lakukan dengan Time Turner benar-benar akan mengubah dunia jika mereka tidak berhasil mengatasinya. Konflik semakin mengerucut, semakin seru.

The Third Act – 3/3 Part
Ketika masa lalu dan masa depan berada di ujung tanduk, nyaris jauh ke perubahan yang mengerikan, semuanya terselamatkan berkat dua sosok ayah yang ingin menyelamatkan putra-putra mereka. Bagian ketika Harry dan Draco bisa bekerja sama astagaaa... mereka manis sekali. 

The Ending
Kesampingkan dulu kehebatan sihir dengan mantra atau alat bantu sihir lainnya. Kisah ini tidak hanya menyajikan sesuatu yang heroik melainkan kisah keluarga. Hubungan ayah dan anak selalu ‘membuatku gatal’, memang. Bukan berarti Albus dan Harry langsung cocok dan menjadi akrab, mereka justru memulai awal baru untuk menjalin hubungan ayah dan anak dengan cara mereka sendiri. Menemukan cara sendiri untuk saling menyayangi.

Empat Bintang untuk ‘Harry Potter and The Cursed Child’!

Best part, Best Structure Sentence, Best Quotes
Bagian paling favorit dari skrip ini tentu saja dialog Albus dan Harry di bagian-bagian akhir buku.


HARRY
Those name you have – they shouldn’t ve a burden. Albus Dumbledore had his trials too you know – and Severus Snape, well you knw all about him –
ALBUS
They were good men.
HARRY
They were great men with huge flaws, and you know what – those flaws almost made them greater.


Writing Hacks From ‘Harry Potter and The Cursed Child’

Membaca naskah drama atau skrip film seperti ini sangat membantu untuk menangkap bagaimana dialog menggerakkan cerita tanpa adanya narasi dan deskripsi. Dialog sudah pasti menjadi poin penting yang tidak bisa terlepas dari elemen tulisan yang lainnya. Dialog adalah suara asli dari karakter yang perlu benar-benar lepas dari sosok penulis. Hadir sebagai satu persona baru yang menjadikan karakterisasi atau penokohan menjadi kuat.

J.K Rowling memiliki kemampuan menciptakan banyak sekali tokoh dengan karakter yang memiliki perbedaan tegas dan bisa tampak di sepanjang ceritanya. Serta bagaimana mengeksekusi karakter tersebut untuk bisa terjalin dengan karakter lainnya melalui dialog.

Jujur, dialog adalah bagian yang cukup sulit untuk dibuat jika belum benar-benar mengenal tokoh yang sedang ditulis. Maka, sering-sering berdialog dengan karakter yang sedang ditulis bisa menjadi cara pendekatan yang baik untuk membentuk karakter yang punya ‘nyawa’ ketika tersaji pada pembaca. Bukan sekumpulan orang yang bicara tanpa arah yang jelas.

Sementara dalam naskah drama seperti ini, tantangan terbesar adalah memuat segala unsur yang biasanya dicakup oleh narasai dan deskripsi harus bisa terwakili dengan sepatah dua patah dialog. Tantangan terbesar lagi adalah bagaimana dialog juga mewakili alur cerita dan plot.

Membaca naskah drama bisa menjadi salah satu latihan untuk memainkan dan membuat dialog yang menarik dan menggerakkan cerita yang sedang kamu tulis.

Cheers!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar