Rabu, 15 Maret 2017

Semua Ikan Di Langit

Goodreads
Judul: Semua Ikan Di Langit
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Grasindo
Halaman: 259 hlm
ISBN: 9786023758067

Sinopsis
Pekerjaan saya memang kedengaran membosankan—mengelilingi tempat yang itu-itu saja, diisi kaki-kaki berkeringat dan orang-orang berisik, diusik cicak-cicak kurang ajar, mendengar lagu aneh tentang tahu berbentuk bulat dan digoreng tanpa persiapan sebelumnya—tapi saya menggemarinya. Saya senang mengetahui cerita manusia dan kecoa dan tikus dan serangga yang mampir. Saya senang melihat isi tas yang terbuka, membaca buku yang dibalik-balik di kursi belakang, turut mendengarkan musik yang dinyanyikan di kepala seorang penumpang... bahkan kadang-kadang menyaksikan aksi pencurian.

Trayek saya memang hanya melewati Dipatiukur-Leuwipanjang, sebelum akhirnya bertemu Beliau, dan memulai trayek baru: mengelilingi angkasa, melintasi dimensi ruang dan waktu.

 


First Impression & Aftertaste Reading
Baiklah, setelah bulan Februari yang aku lalui tanpa membaca satu pun buku dengan beres, aku akan akhirnya berhasil menyelesaikan satu judul yang awal tahun ini tampaknya sudah menjadi perbincangan di dunia buku dan penulis sana. Lega sekali, setelah merasa gen membaca dalam tubuh aku tidak berfungsi akhirnya buku ini menjadi semacam enzim yang mengaktifkan fungsi aku kembali. Kembali untuk membaca dan ‘membaca’.

IG: @sofiadheril
Ini adalah pertama kalinya aku membaca karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Silakan lempari aku ikan julung-julung karena pengakuan yang memalukan ini, tapi aku akan senang. Mungkin memang harus seperti ini jalannya, ya. Aku berjodoh dengan buku Semua Ikan Di Langit ketika aku jenuh dengan bacaan dengan format ‘normal’ dan aku yang dalam keadaan absurd membutuhkan sesuatu yang unik seperti buku ini.

Namun, aku baru mulai membacanya tanggal 10 Maret dan selesai 15 Maret. Apa yang terjadi sejak review buku terakhir aku di blog ini hingga tanggal 10 Maret 2017? Bukan sesuatu yang perlu diceritakan memang, tapi bisa dibilang tidak ada buku yang membuat aku ‘betah’.

Krisis itu berakhir sudah setelah selesai membaca Semua Ikan Di Langit (semoga).

Aftertaste reading yang aku rasakan tidak bisa aku ungkap semuanya di sini. Karena itu sangat bersifat personal. Aku yakin, Semua Ikan Di Langit akan memberikan dampak dan efek yang berbeda-beda kepada setiap pembacanya yang ‘berhasil’ menangkap isyarat buku ini. Aku tidak bisa bilang aku sudah berhasil, tapi aku mendapati ini menjadi sesuatu yang akan lebih istimewa jika aku simpan sendiri.

Tetapi, aku akan tetap mengulasnya, kok.

The Title, Cover, Illustration
Ada apa dengan Semua Ikan Di Langit? Mengapa Ikan di langit dan bukan di lautan? Bagi aku yang bosan dengan kenormalan, tentu yang seperti ini yang aku butuhkan untuk kembali memaknainya menjadi sesuatu yang bisa aku terima dan menjadi ‘kenormalan’ baru. Sampulnya adalah salah satu alasan kenapa aku mau membaca buku Ziggy kali ini. Setelah kecewa dengan kemiripan (hampir 90%) sampul lama ‘Jakarta Sebelum Pagi’ dengan buku karya Jandy Nelson ‘I’ll Give You The Sun’, aku cukup apresiasi pada penggarapan buku ini. Sampulnya memang mencirikan bukunya. Entah kemiripan sampul buku yang terdahulu itu adalah ketidaksengajaan atau apa pun, itu juga yang membuat aku menunda membaca karya Ziggy. Dan tentu saja ini penting bagi penggarap sampul buku, di mana saja. Tolong ya, kalau buat sampul jangan sembarangan.

Mengetahui bahwa ilustrasi di dalam buku ini adalah karya Ziggy sendiri tentu saja menjadi poin alasan tambahan untuk memutuskan buku ini akan masuk buku berilustrasi yang aku sukai.

The Story Idea
Mungkin aku paham perasaan para juri Sayembara Novel DKJ 2016 ketika membaca draft buku ini. Mungkin juga tidak. Seluruh ide, apa yang terjadi dalam buku ini seperti bukan berasal dari Bumi saja.

The Plot and POV
Kisahnya di awali saat Saya, sebuah bus dalam kota mendapati dirinya punya trayek baru selain mengantar orang-orang di darat. Dia melakukan perjalanan penuh kisah bersama sesosok anak laki-laki yang bus dalam kota itu panggil sebagai Beliau. Mereka menyelamatkan Nad, seekor kecoa yang terjebak di luar angkasa di tengah ruang penyiksaan. Mereka melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu, mereka juga sama-sama hancur dan bersedih di satu waktu.

Sudut pandang diceritakan secara sudut pandang orang pertama, oleh bus dalam kota berwarna biru yang bisa mengetahui kisah-kisah manusia lewat kaki-kaki manusia yang menginjak lantai besinya.

The Characters
Ada beberapa karakter utama dan pendukung yang memiliki cerita masing-masing, tetapi aku hanya akan memunculkan tiga yang paling penting (menurutku).

Bus dalam kota. Pemikirannya yang polos, mendamba, dan gerak-geriknya yang riang mengingatkanku pada seseorang yang berhati seperti akordion, Hans Hubberman, di buku ‘The Book Thief’ karya Markus Zuzak. Hans Hubbermann tentu saja manusia bukan bus dalam kota. Tetapi ketulusan dan keriangan mereka serupa. Aku juga menemukan sebagian kecil diriku pada bus dalam kota ini. 

Nad. Kecoa dari Rusia yang terjebak di ruang angkasa. Bagaimana dia bisa tiba di sana? Dia akan menceritakan segala pengetahuannya yang bijak dan kritis selama perjalanannya dengan bus dalam kota dan Beliau. Dia sosok kecoa yang cerdas dan banyak pengetahuan. Mungkin karena itu pula dia meragukan Beliau.

Beliau. Nah, ini sulit. Dia selalu melayang di dalam bus. Aku tidak mau menjelaskan tentang Beliau. Silakan baca sendiri, jika tidak paham tidak apa-apa. Beliau tidak akan marah (mungkin).

The First Act – 1/3 Part
Saya salah strategi ketika pertama kali membuka halaman pertamanya. Saya masih menggunakan logika ‘normal’ yang saya sendiri merasa bosan. Saya sempat berpikir sedang berbicara dengan kucing yang melihat penuh damba pada ikan julung-julung. Lalu saya menutup buku ini. Beberapa jam kemudian, saya membacanya lagi ketika tidak punya pretensi apa-apa. Dan di sinilah saya, akhirnya bikin review buku setelah tidak berfungsi baik akhir-akhir ini. Bagian sepertiga pertama menceritakan karakter-karakternya dengan cara unik dan yah memang karena seluruh isi buku ini unik.

The Second Act – 2/3 Part
Mulai muncul konflik di antara Saya (bus dalam kota), Nad dan Beliau serta tokoh lain. Konflik ini yang membuat saya tidak bisa menjelaskan Beliau tanpa menyuruh kalian membaca buku ini sendiri.

The Third Act – 3/3 Part
Sudahlah, baca saja sendiri, ya.

Ending
Masih tanya lagi?

Best part, Best Structure Sentence, Best Quotes
Bagian terbaik dari buku ini adalah konflik bus dalam kota, Nad dan Beliau di bab ‘Bunga Bakung Laut’ dan bagimana bus dalam kota melindungi keyakinannya terhadap Beliau dan semua tanya sesosok bus dalam kota terjawab di bab ‘Tapak Kaki’.


Mengapa Beliau tidak pernah mau menapakkan kakinya dan berbincang-bincang dengan saya? Hlm 239 (Tapak Kaki).


Writing Hacks from Semua Ikan Di Langit
Kesimpulan saya tentang buku Semua Ikan Di Langit adalah segalanya yang tentang sudut pandang. Sudut pandang adalah senjata utama untuk menulis. Percaya tidak percaya, bukan kemampuan berdiksi (bisa diakali dengan rajin mengecek kamus), mengolah cerita (bisa latihan memainkan plot dengan sering-sering menulis) dan lain-lain. Bukan juga sudut pandang orang pertama, kedua atau ketiga, melainkan Sudut Pandang.

Bagaimana kamu (penulis) memandang segala yang pernah kamu lihat dan ketahui. Bagaimana kerja pola pikir yang terjadi di dalam kepala. A larger landscape of how you see the world inside yourself and beyong yourself. Sudut pandang dan cara pandangmu adalah modal utama untuk menulis. Itu juga yang akan menentukan seperti apa tulisanmu nanti. Itu yang akan sangat memengaruhi sejauh apa arti menulis untuk seorang penulis. Semakin luas sudut pandang dan semakin beragam caramu memandang segala sesuatu (semoga kamu tidak meledak dengan segala pengetahuan itu), akan banyak hal yang bisa kamu tuliskan dan ceritakan.

Sebagai penutup, saya berikan empat bintang untuk Semua Ikan Di Langit, satu bintang khusus kusimpan untuk ikan julung-julung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar