Selasa, 18 April 2017

'Holding Up The Universe' & How To Love Yourself

Goodreads

Judul: Holding Up The Universe
Penulis: Jennifer Niven
Bahasa: Inggris
Desain Sampul: Copyright Shutterstock, 2016
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 388 hlm
ISBN: 9780141357058
Rating-ku: 3 🌟🌟🌟 dari/5 🌟


Blurb:
Everyone thinks they know Libby Strout, but no one’s ever looked past her weight to see who she really is. Since her mum’s death, Libby’s been hiding, but now she’s ready for high school.
I want to be the girt who can do anything.
Everyone thinks they know Jack Masselin too-sexy, aloof and too cool for school. But Jack’s swaggering confidence is hiding a secret he must keep at all costs.
Be charming. Be hilarious. Don’t get too close to anyone.
Then Jack meets Libby. And their worlds change.
Because sometimes when you meet someone, the whole universe just comes into focus.

First Impression
Tahun lalu, aku excited banget pas pertama kali tahu buku ini akan rilis. Selepas baca buku pertama Jennifer Niven, ‘All The Bright Places’ (omaigat, aku belum bikin reviewnyaaa), aku nunggu-nunggu buku baru penulis ini karena tema-tema kehidupan remaja dan dewasa-muda yang dia angkat berbeda dari penulis-penulis teenlit luar negeri lainnya. Setelah tenggelam bersama kisah Finch dan Violet di ‘All The Bright Places’, dengan masalah hidup-mati mereka, aku enggak mau melewatkan ‘Holding Up The Universe’, karena aku jujur bener-bener bosen dengan novel teenlit dalam negeri/luar negeri yang begitu-begitu aja dari dulu. Yap, Niven menawarkan bumbu tema yang belum pernah aku baca sebelumnya. Mental illness. Neurological disease. Loss.

This is what I know about loss: It doesn’t get better. (1) You just get (somewhat) used to it. (2) You never stop missing the people who go away. (3) For something that isn’t there anymore, it weighs a ton. – Libby Strout.


The Title
‘Holding Up The Universe’ memberiku kesan di cerita buku ini terdapat sesuatu yang cukup berat dan besar untuk ditanggung oleh orang-orang di dalamnya. Menggambarkan permasalahan yang sedang ditanggung oleh dua tokoh utamanya. Selama membacanya pun aku menemukan benang merah kaitan antara judulnya dengan konflik-konflik dan masalah yang dikisahkan. Judul yang cocok dan menarik untuk sebuah cerita.

The Cover
Sampulnya terlihat simpel dengan warna broken white dengan ornamen bulat-bulat biru. Di antara ornamen yang tampak seperti titik-titik cat air yang tidak fokus itu justru ada satu yang bold, utuh berbentuk seperti kelereng. Mengingatkanku pada kalimat akhir di blurb... Because sometimes when you meet someone, the whole universe just comes into focus. Desain sampulnya bisa tampak bersahaja, sederhana, tapi artistik, dan tetap mewakili cerita dan ide dalam buku.

The Story Idea
Pada dasarnya, Jennifer Niven memiliki ide cerita yang standard untuk novel-novel remaja. Mengisahkan remaja di masa-masa awal bersekolah, serba-serbi kehidupan sekolah, remaja lengkap dengan bagian relationshipnya, pacaran, hubungan keluarga yang kurang baik. Ide cerita HUTU, mempertemukan seorang cewek bernama Libby dengan cowok bernama Jack di sekolah, segala masalah mereka bertemu pada satu titik yang membuat mereka enggak hanya saling dekat tapi menguatkan satu sama lain dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Plot & POV
Untuk Plot, novel ini menceritakan hubungan Jack dan Libby secara alur maju-mundur. Kenapa? Karena ada kejutan tentang bagaimana Jack dan Libby bertemu di masa lalu, sehingga alur mundur digunakan untuk merunut cerita jauh-jauh hari sebelum hari H Libby berkonflik dengan Jack. 

Sementara sudut pandang yang digunakan adalah POV 1, masing-masing dari Jack dan Libby secara bergantian. Baik alur maju atau alur mundurnya ada yang menggunakan pov Libby dan Jack, mengisahkan kehidupan mereka sebelum dan sesudah kejadian besar itu terjadi.

The Characters
Biasanya yang kutahu, novel teenlit kalau ya bukan cowok cakep, jago basket, keren tapi dingin, cowok cakep ramah, penyayang yang pinter banget, atau gabungan keduanya dipasangkan dengan cewek kurang beruntung, cupu, atau cewek agak pecicilan yang badass versus cewek ketua geng yang centil (kayak sinetron). Formula ini sudah membosankan buatku.

Karakter-karakter yang dihadirkan Jennifer Niven dibukunya selalu punya masalah internal sendiri. Masalah yang tidak mudah, yang tidak kecil. Semisal di All The Bright Places, ada Finch dengan masalah bipolar-nya dan Violet yang menderita depresi selepas kematian kakaknya. Mungkin kebanyakan pembaca enggan bahkan ogah membaca novel yang mengangkat tema seperti ini, mencari hiburan ringan dengan novel-novel yang notabene bertema cinta pertama, persaingan kelas yang bagiku sudah not my cup of tea. Tapi Holding Up The Universe memiliki karakter yang memang enggak sesuram Finch dan Violet.

Libby Strout dikenal sebagai The Fattest Teenager of America karena sempat diliput oleh media setempat saat dirinya terjebak di dalam rumah sendirian dalam keadaan cukup mengenaskan karena berat badannya yang overweight. Ya, karakter Libby memang unik. Dia digambarkan sebagai cewek dengan berat badan di atas rata-rata remaja normal. Dengan kondisi yang seperti itu, dia sering mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang disekitarnya. Melihatnya dari ukuran tubuhnya, bukan melihat sosok gadis di dalam dirinya.

Libby merasa dunia tidak pernah menginginkan kehadirannya. Tapi dia sosok yang optimis dan lucu. Bisa nge-dance! Dan bercita-cita jadi dancer pro. Libby mungkin punya rasa percaya diri yang lebih besar dari ukuran tubuhnya yang membuatnya bersinar sehingga Jack bisa melihatnya, mengenalinya sementara seluruh dunia asing untuk Jack.
 
Sementara Jack Masselin... Nah, dia punya satu kondisi spesial, peculiar, dan langka. Prosopagnosia. Suatu keadaan di mana penderitanya tidak mampu mengenali wajah-wajah orang-orang di sekitarnya yang disebabkan oleh kerusakan pada bagian otak tertentu. No, dia bukan idiot, bukan terbelakang mental. Dia cowok keren, disukai banyak orang, baik, dan sexy. Dia hidup senormal mungkin dengan menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya dia sangat bingung dengan dunia dan orang-orang di sekitarnya. Jack menggunakan petunjuk-petunjuk seperti ciri-ciri wajah, bentuk rambut, pakaian, suara untuk mengingat-ingat teman-teman, orangtua dan adiknya.

Ten minutes later, I’m reading everything I can find on prosopagnosia, which leads me to an artist named Chuck Close, neurologist/author Oliver Sacks and Brad Pitt. According to the Internet, they all have face blindness. I mean, Brad Pitt.
What if the entire world was face-blind? – Libby (p. 105)

Apa bahayanya tidak mengenali wajah orang yang kamu kenal? Kamu pasti enggak bisa jelasin ke pacar kamu, kenapa kamu nyium cewek lain sementara kamu ngira cewek asing itu pacar kamu. Well, kamu bakal enggak mau dituduh nyulik anak orang seperti Jack karena mengira anak yang dia bawa itu adiknya. Padahal bukan. Dunia sangat membingungkan untuk Jack dan Jack-Jack lain di luar sana. Lalu tentang masa depan, yang terasa sulit dibayangkan akan berjalan mudah bagi penderita prosopagnosia ini.

The First Act – 1/3 Part
Bagian awal-awal cerita menceritakan kehidupan Libby dan Jack di masa sekarang tapi belum juga bertemu. Mereka baru bertemu saat memasuki bagian second arc-nya. Awalnya agak slow pace and aku sempat bosan karena ‘boom’ momentnya belum juga terjadi.

The Second Act – 2/3 Part
Hey, tapi pertemuan Jack dan Libby ini sangat menarik! Begitu masuk moment yang kumaksud ‘boom’ tadi, aku memutuskan untuk menamatkan novel ini. Yah, sekarang coba sebutkan cara dua karakter cewek cowok di novel teenlit ketemuan. Di hari pertama ospek/mos? Ketabrak pas jalan di lorong? Telat upacara bendera bareng? Dihukum guru BK bareng? Sementara Jack dan Libby bertemu, berkonflik dengan cara yang enggak bakal kamu sangka deh pokoknya.

The Third Act – 3/3 Part
Masalah-masalah makin meruncing, keadaan Jack dengan ‘keistimewaannya’, Libby yang lagi-lagi kehilangan kepercayaan dirinya. Moment-moment menyakitkan... Huh.

The Ending
Nope. I won’t tell a thing.

Best part, Best Structure Sentence, Best Quotes
Waaaah, banyak banget quote yang bagus tapi tetap berkesan remaja dan enggak tua-tua kayak petuah kuno. Daan yang penting quotenya enggak galau-galau, menye-menye yang sok puitis dan bikin mual.

“Sometimes people are just shitty. Sometimes they’re shitty because they’re afraid. Sometimes they choose to be shitty to others before others can be shitty to them. Like self-defensive shittiness.” – Jack (p. 91)

Why don’t they see it? Why doesn’t someone say, ‘Hey, you seem burdened by the world. Let me take that burden for a while so you don’t have to carry it around all the time.’ – Libby (p. 170)

I dig for a while, and it’s peaceful, like I’m the only living soul for miles. But my mind’s not in it. My heart’s not in it. Too much of my life feels like this already—trying to recycle something old into something new and better, disguising someone else’s trash as some fresh, shiny thing. – Jack (p. 175)

It’s okay to be a person. We’re all afraid. We all get hurt. It’s okay to hurt. You’d be so much more likable if you just acted human. – Jack (p. 261)

It’s easy to give everyone what they want. What’s expected. The problem with doing this is you lose sight of where you truly begin and where the fake you, the one who tries to be everything to everyone, ends. – Jack (p. 320)

It’s not moving on, Libbs. It’s moving differently. That’s all it is. Different life. Different world. Different rules. We don’t ever leave that old world behind. We just create a new one. – Libby (p. 370)

Dua quote di bawah ini yang paling jadi favoritkuuu~~~

As for the rest of you, remember this: YOU ARE WANTED. Big, small, tall, short, pretty, plain, friendly, shy. Don’t let anyone tell you otherwise, not even yourself. Especially not yourself. – Libby (p. 317)

I want you to know I’m rooting for you. – Jack

Buat yang masih ragu-ragu baca cerita dengan tema serupa ini, yang mungkin kalian sebut sick lit, mental illness, atau apalah... kalian perlu baca All The Bright Place dan Holding Up The Universe. Apa lagi yang suka nulis cerita remaja, kalian bisa menghadirkan tema-tema yang lebih berisi daripada tren novel remaja pada umumnya. Ciptakan atmosfer membaca baru.

Kenapa rating-nya cuma tiga? Yah, ekspektasiku HUTU akan lebih membuatku terhenyak daripada ATBP. Akan lebih suram atau lebih pelik daripada Finch dan Violet. Yang kedua, karena bagian awal masih terlalu slow dan enggak langsung ke intinya. Tapi 2/3 buku ini sangat worth to read karena kamu bakal paham arti menghargai orang lain dan menyayangi diri kamu sendiri lengkap dengan kelebihan dan kekurangan yang kamu punya. 💛💛💛

Writing Hacks From ‘Holding Up The Universe

Untuk WH kali ini aku mau ngomongin soal TEMA.

Seperti yang sempat aku singgung di atas soal tema cerita remaja yang masih berputar di sana, aku mencari bacaan yang mampu membungkus tema agak berat menjadi sesuatu yang enjoyable dan tidak membebani. Aku rasa tema menjadi hal yang harus dipikirkan ketika ingin menulis atau sedang menulis. Ketika sedang menulis ide yang muncul begitu saja, ada baiknya kita berpikir sejenak untuk memikirkan ulang tema apa sebenarnya yang ingin kita angkat atau ingin kita perjelas dalam tulisan.

Goodreads
Di ‘All The Bright Places’, Niven berbicara tentang mental illness, depresi dan keputusan-keputusan hidup-mati yang terjadi pada dua remaja, bagaimana caranya untuk berdamai dengan diri sendiri dan bagaimana untuk menghargai hidup yang begitu menyiksa. Di ‘Holding Up The Universe’, dia lagi-lagi memuat hal yang cukup mengejutkan yaitu sebuah kondisi syaraf langka yaitu prosopagnosia. Di buku ini dia juga berbicara bagaimana menerima keadaan diri sendiri dengan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Menghargai seseorang bukan melalui penampilan luarnya melainkan jati diri orang tersebut.

Tema seperti dua novel Jennifer Niven ini masih jarang diminati di Indonesia, belum banyak kudapati pembaca yang rela waktunya digunakan untuk membaca hal-hal yang terkesan kelam dan mengajak untuk berpikir sedikit lebih keras dibandingkan galau. Yap, jujur yang tampak sekarang, pembaca remaja misalnya lebih suka diajakin galau dengan novel-novel remaja daripada membangun pemikiran. Halah bahasaku. -___- Yuk, makanya mulailah baca buku yang sekiranya enggak cuma menghibur kamu tapi ngasih waktu kamu untuk berpikir lebih daripada menghayati kegalauanmu. Galau jangan dipupuk.

Salam Jangan-Timpuk-Aku,
Dheril Sofia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar