Kamis, 09 Juni 2016

ALL SHE WAS WORTH

from google. Aku suka sekali covernya. Cocok!
Judul: All She Was Worth – 'Melacak Jejak'
Penulis: Miyuki Miyabe
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Halaman: 480 hlm
ISBN: 978-602-03-2686-3

Genre: Misteri, Detektif

Yeay, akhirnya Reight Book Club baca bareng sampai di bulan Juni! Saatnya untuk baca buku bergenre Misteri. Sebenarnya aku jarang sekali membaca genre ini dan benar-benar tidak tahu referensi buku misteri yang bagus. Jadi aku bertanya pada salah satu teman yang suka baca misteri dan dapat beberapa rekomendasi salah satunya All She Was Worth karya Miyuki Miyabe ini. Saat meminta referensi, aku memastikan novelnya tidak memuat hal-hal berdarah-darah atau proses pembunuhan sadis. Jadi pilihanku jatuh pada novel ini yang ternyata setelah kubaca sangat menarik. Yuk, simak lebih lanjut!

Sinopsis
Seorang perempuan cantik lenyap tanpa jejak, namun hasil penyelidikan menunjukkan dia bukanlah sosok seperti yang ditampilkan selama ini. Apakah dia korban, pembunuh, atau kedua-duanya? Di negara yang melacak para penduduknya dengan saksama, bagaimana bisa dua perempuan memiliki identitas yang sama, lalu menghilang tanpa jejak? Di tengah masyarakat Jepang yang serba konsumtif, banyak orang terjebak utang, lalu jatuh ke dalam jerat para rentenir gelap yang sangat berbahaya, sehingga kadang-kadang pembunuhan menjadi satu-satunya jalan keluar.

Ringkasan
Shunsuke Honma sedang cuti dari pekerjaannya sebagai detektif saat Jun Kurisaka, keponakan jauhnya dari mendiang istrinya Chizuko datang padanya meminta bantuan untuk mencari tunangannya yang menghilang—Shoko Sekine. Saat Honma bersedia membantu masalah Jun pun dia tidak tahu bahwa masalah hilangnya seorang gadis ini akan menjadi serangkaian penyelidikan yang melibatnya banyak sekali orang dan akhirnya mengerucut pada pembunuhan. Shoko Sekine yang dikenal bukanlah Shoko Sekine sesungguhnya. Ada seorang gadis yang merebut identitasnya dan hidup sebagai Shoko Sekine. Honma berusaha mengungkap misteri identitas itu dan dihadapkan oleh masalah finansial dan perdata dan pidana yang ternyata lebih rumit daripada yang dia perkirakan. Hingga pada waktunya, Honma dan rekan-rekannya yang membantunya menemukan jejak-jejak gadis misterius itu, misteri tersebut menemukan ujungnya yaitu—Kyoko Shinjo.

First Impression
Sebelum membacanya aku sudah mengantisipasi kalau aku akan kesulitan mengikuti pola ceritanya karena tidak terbiasa dengan genre ini. Namun yang unik justru itu, bagaimana detektif Honma berusaha kesana kemari mencari dan melacak jejak Kyoko Shinjo dan menemukan petunjuk-petunjuk yang tak terduga sebelumnya—bahkan dia mendapatkannya dari Makoto, putranya yang masih usia dua belas tahun secara tidak sengaja. Aku berharap tidak ada tusuk-tusukan yang berdarah-darah dan benarlah-syukurlah. Tetapi yang membuat agak mengerikan memang permasalahan pengambil alihan identitas seseorang yang mengharuskan pelaku membunuh orang itu demi mendapatkan kehidupan baru. Itu sangat-sangat membuat merinding. Bayangkan itu terjadi padamu. Hiiiiy.

How Did I Experience This Book?
Belum terbiasa dengan novel misteri-detektif ini, aku membaca pelan-pelan sambil memahami alur cerita dan detail-detail cerita. Ternyata hal itu memberikan sensasi yang agak pusing tapi nagih. Seperti mengerjakan soal matematika remeh tapi sulit penyelesaiannya. Nah, banyak hal baru yang kupelajari dari novel ini yaitu mengenai kondisi ekonomi Jepang saat itu dimana sedang marak kredit dan kartu kredit yang ternyata membuat banyak orang bangkrut dan terperosok ke dalam utang besar dan menghalalkan segala cara untuk terlepas dari utang. Aku bahkan baru tahu istilah ‘kebangkrutan pribadi’ dan tindakan kriminal mengambil alih identitas seseorang. Tidak hanya mengakui diri sebagai orang lain atau memalsukan dokumen biasa tetapi benar-benar melenyapkan orang itu demi mengambil ahli hidup orang itu dan menjadi orang itu. Itu dilakukan supaya terlepas dari kejaran rentenir dan tuntutan utang. Itu semua sangat seru di buku ini. Dan proses pengungkapan pelaku kejahatannya melibatkan banyak orang. Sepanjang cerita aku resah dan ngeri membayangkan ada orang yang mampu melakukan kejahatan seperti itu.

Character
Aku suka sekali karakter Makoto, anak dari detektif Honma. Dia ini tipe anak yang cerewet tapi sangat menyayangi ayahnya. Perhatian Makoto pada ayahnya sangat hangat dan membuat aura buku ini tidak semengerikan yang kubayangkan. Dan juga karakter Isaka, tetangga Honma yang membantu mengurus rumah yang lucu dan sering melontarkan komentar tentang penyelidikan Honma. Ini membuatku merasa kisah ini bisa jadi nyata karena karakter-karakternya bisa dengan mudah mewujud seolah sungguhan.

Plot
Untuk Plot aku belum bisa banyak berkomentar untuk jenis novel ini. Selain menyajikan plot kisah, penulisnya juga memberikan keterangan tentang istilah-istilah finansial seperti ‘kebangkrutan pribadi’ dan kondisi budaya konsumtif masyarakat Jepang di tahun 90-an. Agak kaku sih (ya jelas karena topiknya aja serius :P) tapi plotnya bisa membuatku bertahan membaca sampai akhir.

POV
Orang ketiga dan lebih banyak fokus pada Honma. (Ya, iyalah, detektifnya keles).

Tema
Detektif. Budaya konsumtif. Pengambilalihan identitas. Pembunuhan berencana.

Quotes
Aku suka paragraf terakhir dari buku ini, penggalannya adalah:

Pertanyaan-pertanyaanku tidak penting. Aku ingin mendengar ceritamu. Bagian-bagian yang belum pernah kauceritakan pada siapa pun, nyawa-nyawa yang kaubawa serta ke mana-mana.


Ending
Memuaskan. Bahkan endingnya bisa memberikan ruang untuk pembaca supaya bisa berimajinasi sendiri bagaimana akhir misteri itu tanpa khawatir menjadi tidak jelas dan tidak punya akhir. Akhirnya si pelaku ketemu dan pembaca akan membayangkan sendiri dia bagaimana semua kedoknya dibongkar.

Benefit
Pesan dari novel ini: Konsumerisme atau budaya konsumtif adalah awal dari banyak masalah. Bijaklah dengan cara mengolah finansial dan cara hidup.

Question
Aku senang karena penerjemahannya juga sangat rapi. Tetapi aku ada sedikit pertanyaan. Apakah novel ini diterjemahan dari bahasa Jepang langsung ke Bahasa Indonesia atau dari Bahasa Inggri ke Bahasa Indonesia? Karena ada panggilan ‘Sir’ yang harusnya diterjemahkan ‘Tuan’ saja menurutku. Jika seperti itu, apa alasannya memakai ‘Sir’ ketimbang ‘Tuan’?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar