Jumat, 10 April 2015

Ally: All These Lives (book review)

Mass Market Paperback, 264 pages
Published January 22nd 2015 by Gramedia Pustaka Utama
original title Ally: All These Lives
ISBN 139786020308845
 SINOPSIS

Apa yang akan kaulakukan jika satu menit yang lalu kau anak tunggal orangtuamu, lalu satu menit kemudian ada seseorang yang muncul entah dari mana dan duduk di sampingmu mengaku sebagai adikmu? Apa yang kaulakukan jika kau menemukan foto di meja, menampilkan dirimu dan seseorang yang belum pernah kaulihat? Apa yang kaulakukan jika kau pulang ke rumah dan menemukan bahwa di dalam rumah itu sudah ada dirimu yang lain?


Kehidupan Ally memang bukan kehidupan biasa. Kerap kali ia mendapati dirinya ditempatkan dalam kehidupan yang seolah miliknya, tapi ternyata bukan. Dan tiba-tiba kata “pulang” punya makna yang baru. Apakah Ally akan memiliki kesempatan untuk “pulang”? Akankah ia bisa kembali pada cinta yang ditinggalkannya di kehidupannya yang lain?

Ini bukan kisah biasa. Ini kisah yang akan membuatmu berpikir kembali tentang arti hidup dan arti cinta yang sebenarnya. 

Kesan pertama
Sebelum mendetail tentang novel ini, aku ini sedikit membahas kesan pertamaku ketika mengupas segel plastik buku ini. Aku harus jujur jika desain sampulnya menurutku sedikit kurang kuat dan catchy–bagiku. Meskipun elemen gambar yang dipakai di sampul depan memang mewakili isi cerita Ally, tapi menurutku pengerjaannya kurang artistik dan terburu-buru. Sorry for saying the truth, tapi kalau bukan karena ceritanya aku pasti akan meletakkan buku ini lagi ke rak. I am a reader that judge book by its cover. Tapi tenang saja, itu tidak berlaku bagi manusia, kok. Mengapa saya harus sesaklek itu? Karena bagi saya cover atau sampul buku itu salah satu bentuk apresiasi penerbit dan penulis atas karya itu sendiri, yaitu novelnya. Jika sampul buku kurang dieksekusi dengan matang, tentu saja akan mempengaruhi pembaca dan karya itu sendiri. Entahlah, mungkin ini soal selera? Tapi coba diteliti lagi. Pemilihan gambar yang menjadibackground sampul juga terkesan ‘asal-asalan’ entah dari mana dan okelah ingin menunjukkan sekelumit clue tentang isi buku dimana tokohnya berpindah-pindah kehidupan dan lokasi. Tapi menurutku ada visualisasi lain yang lebih menarik. Bisa dibuat sebuah visualisasi yang menggambarkan seorang gadis yaitu tokohnya berdiri sendiri di tengah background gelap dengan ekspresi yang kuat yang menunjukkan ‘kefrustasian’ tokoh atas keanehan hidupnya. Aku tidak bermaksud mengurangi daya tarik buku ini, tapi kuharap di buku-buku selanjutnya, Mbak Arleen sebagai penulis memberi perhatian pada performance fisik buku. Aku tidak mengharapkan cover yang penuh warna dan gambar lucu seperti di buku dongeng anak-anaknya yang lain, tapi…. Oh, please ada banyak desain sampul buku di luar sana yang bisa jadi referensi. Please, paling tidak berikan perhatian pada sampul buku, kasihan novelnya sudah bagus banget ceritanya. Ih, gemes deh. Dan juga aku ingin mengkritik layout dalam. Sebelumnya aku ingin bertanya, apakah GPU sudah mematok ukuran dan jenis font yang dipakai dalam genre-genre novel tertentu? Jika ini sudah patokan dari penerbit, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika belum, mungkin bisa lebih mempertimbangkan kenyamanan pembaca. Ukuran font-nya terlalu kecil bagiku. Tak masalah dengan pilihan jenis fontnya, tapi dengan jenis yang dipakai dan ukuran sekecil itu, tidak nyaman untuk mata minus. Mohon mempertimbangkan itu. Aku padahal sudah suka banget sama ceritanya.
The Story
Ally: All These Lives merupakan kisah seorang gadis bernama Alison yang memiliki kemampuan hidup parallel universe. Harus kuakui tidak mudah bagiku menjelaskan alur kehidupan Ally. Tapi akan aku coba. Jadi, Ally memiliki kemampuan untuk berpindah dari satu alam semesta ke alam semesta lain. Bagi yang belum familiar dengan teori parallel universe, bisa googling sendiri sekalian ya, saya tidak mau menyesatkan. Nah, uniknya kisah Ally di sini dia harus berhadapan dengan serentetan kehilangan berkali-kali. Aku tidak bisa membayangkan jika hidupku yang sekarang, dimana ada orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku, diambil begitu saja dalam kedipan mata. ITU GILA! Dan inilah situasi yang dihadapi oleh Ally. Aku heran bagaimana dia tidak jadi gila. Aku juga penasaran apakah di semesta yang entah ke berapa, ada Ally yang jadi gila karena kondisinya ini? Apakah ada Ally yang akhirnya bunuh diri karena stres menghadapi hidupnya yang aneh? Kemampuan Ally bukanlah sesuatu yang keren atau heroik, bagiku ini seperti kutukan. Banyak sekali kehilangan yang harus dia alami. Ide cerita yang brilian, aku belum pernah membaca drama sci-fi seperti ini. Hidup Ally yang tidak menentu membuatku cemas setiap kali dia mengalami Saat Kehilangan atau saat dimana di berpindah semesta. Aku pun bisa terjun merasakan perasaan bagaimana jika dia alam semesta yang lain ada orang yang kita cintai, terkejut mendapati kita ‘menghilang’ dan kita tahu bahwa mereka hidup tanpa kita, mereka bersedih tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Ada yang sedikit menggangguku dari kisah Ally ini. Dia tidak pernah kembali ke semesta yang sudah dia tinggalkan. Ally selalu pergi menuju semesta lain yang baru untuknya dimana segalanya berbeda. Dia hanya sekali–kalau aku tidak salah ingat–kembali ke semestanya yang dia tinggalkan. Dan mengapa Ally di sini seolah hanya sebagai korban keadaan. Cerita yang disuguhkan memang sudah bagus, tapi tentu saja sebagai pembaca aku berekspektasi tinggi pada ide ceritanya yang menarik. Berharap ada petualangan yang seru dan mendebarkan dan tidak hanya seputar hubungan percintaan Ally dan konflik batin Ally sendiri. Aku berharap ada kejutan yang lebih dahsyat, tapi ternyata tidak. Aku bahkan berharap kisah Ally akan berseri dan petualangannya mengarungi semesta paralel semakin seru dan dia bisa mengendalikan kemampuannya itu, bukan hanya sebagai penerima keadaan. Kisahnya diceritakan sejak Ally kecil, remaja, dewasa hingga menikah punya ada dan cucu. Menurutku, aduh sayang sekali. Pasti dalam rentang waktu itu, banyak kejadian aneh, mendebarkan, petualangan yang bisa diceritakan lebih dalam dalam novel serial. Aku sangat berharap akan itu tapi ternyata penulis mengakhiri kisahnya demikian. Jujur, jika boleh Ally dibuat sekuelnya lagi.
Saran untuk penulisnya, porsi dialog dan narasinya kurang seimbang dan masih mengulang-ulang hal yang sama. Sayang sekali jika ide cerita yang bagus ini tidak dimaksimalkan. Sebagai pembaca saya bisanya mengomentari dari sisi saya, maaf jika komentarnya lebih berisi kritikan. Tapi itu karena saya suka sekali dengan ide cerita dan kisah Ally, oleh karena itu saya berharap sangat. Tidak ada typo yang berarti atau mengganggu kenyamanan membaca, bahkan saya merasa tidak ada typo sama sekali. Namun itu tadi, tampilan layout dalamnya perlu dipertimbangkan lagi ukuran fontnya.
Tiga Bintang untuk Ally: All These Lives

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar