Jumat, 14 Juni 2013

The Truth about Forever [book review]



My rating: 5 of 5 stars

Judul: The Truth About Forever
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 304 hlm

Novel Orizuka ini sebelumnya sudah diterbitkan dan direpackage lagi dengan cover baru. Sebenarnya sudah dari dulu ingin membaca The Truth About Forever, namun karena stok buku lamanya sudah sulit ditemukan di toko-toko buku, akhirnya baru setelah direpackage aku bisa memiliki buku ini. Yang membuatku tertarik dengan novel Orizuka ini adalah taglinenya yang berbunyi, “Kebencian membuatmu kesepian”. Terdengar sangat dalam dan penuh makna.

The Truth About Forever mengisahkan seorang laki-laki bernama Yogas yang mencari seseorang di kota Yogya, seseorang yang sangat penting baginya sehingga dia harus menemukan orang itu. Selama pencariannya Yogas dipertemukan dengan seorang gadis bawel, tetangga kosnya bernama Kana. Kana adalah gadis manis yang memiliki sifat ramah dan hangat, berbeda sekali dengan Yogas yang cenderung tertutup, dingin dan menyebalkan. Ya bisa ditebak kan, apa yang selanjutnya terjadi antara Yogas dan Kana. Kana pun jatuh cinta kepada Yogas dan sepertinya Yogas pun merasakan hal yang sama, namun jangan harap kisah mereka romantis dan berbunga-bunga. Seperti yang dikatakan Yogas, “Kita tidak punya masa depan,”

Yang paling menyedihkan di kisah Yogas dan Kana ini adalah setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Yogas, tak henti-hentinya dia mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan Kana. Namun itulah yang harus dia lakukan untuk kebaikan Kana, namun Yogas tidak tahu sedang berhadapan dengan gadis seperti apa, ketulusan Kana tidak main-main kepada Yogas.

Mengapa Yogas berkata sekejam itu dan mengapa Kana tetap bersikeras untuk selalu berada di samping Yogas apapun yang terjadi? Temukan sendiri kisah Yogas dan Kana dalam The Truth About Forever. Novel ini adalah jenis penguras airmata yang paling baik. Sebelumnya aku membaca Eclair dari Prisca Primasari dan The Fault in Our Stars karya John Green, keduanya juga merupakan penguras airmata.

Ide cerita dalam novel ini sangat menarik. Meskipun mungkin sudah banyak cerita yang serupa namun Orizuka selalu memiliki path tertentu yang membawa pembacanya menemukan kisah yang berbeda dari yang lainnya. Ide cerita dalam novel ini diolah dengan sangat baik sehingga menyatu dengan logis dan tepat.

Karakter dalam kisah inipun begitu alamiah, terkesan tidak dibuat-buat dan berada di posisinya dengan baik. Yogas dan Kana yang menjadi tokoh sentral muncul dengan karakter yang kuat. Begitu pula dengan tokoh-tokoh pendukungnya, meskipun hanya tokoh pendukung, karakter mereka muncul dan memiliki kekuatan dalam menentukan cerita. Aku menyukai karakter Yogas dengan segala kekurangan dan kelebihan dia. Di titik paling lemahnya, dia rela menjadi kesepian karena dia masih mementingkan orang lain. Yogas di luarnya saja yang galak dan terkesan jahat tapi di balik itu, Yogas adalah laki-laki yang baik yah meskipun emang agak menyeramkan karena Yogas punya dendam. Sedangkan Kana adalah gadis yang kuat, pendiriannya tidak tergoyahkan—yang mengingatkan diriku kepada diriku sendiri—Kana adalah gadis yang tulus dan baik. Meskipun ternyata Kana juga tidak sekuat yang dia duga, namun Kana tetap berusaha menjadi kuat untuk Yogas.

Orizuka adalah salah satu penulis tanah air favoritku, cara penulisan dan penuturannya yang baik telah terbukti dengan begitu banyaknya novel-novel young-adult nya yang telah diterbitkan. Simpel dan tidak muluk-muluk, tidak perlu terlalu berpuitis. Orizuka memiliki kelebihan dalam mengolah konflik dan ide ceritanya sehingga meskipun gaya penulisannya tidak begitu puitis, novel-novelnya selalu berkesan di hati.

Tapi aku kurang sreg dengan akhir ceritanya, kenapa harus dengan cara seperti itu? Kesannya sangat mendadak dan terlalu cepat. Aku tidak bisa membocorkannya di sini karena akan jadi spoiler nanti. Tapi endingnya memang tepat kalau dibuat seperti itu, hanya saja caranya yang menurutku kurang apa yaaa? Kurang make sense sama ceritanya. Ah entahlah, tapi itu tidak terlalu masalah bagiku karena rating untuk The Truth About Forever karta Orizuka ini tetap lima dari lima bintang!

I love Yogas’s words recorded in his iPod, but I just can’t share it here because it won’t be a surprise for you, the readers! I pick a line that I love the most, here is...

“Gue akan ngusahain nggak mati dulu sebelum ketemu lo lagi. Tapi kalo Tuhan berkendak lain, maafin gue karena udah ninggalin lo.”

It’s the part I cried a lot...

Dan tulisan Kana dalam lembar persembahan di novelnya, aku suka bagian ini...

“Yogas, sekian tahun aku bertanya-tanya untuk apa aku dilahirkan? Dan sekarang aku tahu jawabannya. Untuk bertemu denganmu. Untuk membuat perubahan. Dan, untuk hidup bersama perubahan itu. Sekalipun aku nggak pernah menyesal pernah bertemu denganmu.”

...and I just can’t stop crying. Angkat topi untuk Orizuka.

The Truth About Forever mengajarkan aku tentang rasa kesepian. Kesepian ternyata lebih menyakitkan dari penyakit manapun. Kesepian bisa membunuh dengan sangat perlahan dan rapi sehingga tidak akan meninggalkan jejak apapun. Untuk itulah kita membutuhkan seseorang yang peduli pada kita untuk membunuh kesepian itu. It’s like I put myself in Yogas’s shoes and think that maybe I need to find someone like Kana.


1 komentar:

  1. gue akan ngusahain gak mati dulu sebelum ketemu lo lagi, tapi kalau tuhan berkehendak lain maaafin gue karena udah ninggalin lo.. duhh kata-nya jleb banget..
    sosok kana memang istimewa di novel ini.. dia membuktikan bahwa cinta tak perlu memandang ekurangan,, yang dia tahu cinta adalah cinta dari hati tak mengenal kondisi.. dari novel ini juga kita di ajarkan bahwa tak ada yang tahu dengan yang namanya hari esok..tak ada yang bisa mendahului takdir..ka orizuka mamng keren bisa mengajak pembaca hanyut dalam ceritanya..




    Numpang promo ya jangan lupa juga buat berkunjung ke blog saya:
    obat kista tradisional.
    obat pelangsing herbal
    terimakasih sebelumnya

    BalasHapus