Sabtu, 20 April 2013

Madre [Book-Review]

Madre (Kumpulan Cerita)Madre by Dee
My rating: 5 of 5 stars

Menyatakan diri sebagai penyuka tulisan Dee membuat saya sangat berdosa ketika baru membaca Madre kali ini dan bahkan saya masih berusaha mengumpulkan sekeping demi sekeping untuk bisa mendapatkan keempat seri Supernova. Beruntung saya dipinjami, lebih tepatnya minta dipinjami, Madre.

Setelah Filosofi Kopi dan Perahu Kertas, Madre terkesan lebih dewasa dan bijak. Mungkin sama seperti Filosofi Kopi, namun Madre menampilkan sisi dewasa dan bijak yang terkesan dengan tema-tema serius. Sementara Filosofi Kopi lebih dinamis dan terkesan ringan tapi tetap bermakna, Madre memberikan kumpulan perenungan dari setiap judul-judulnya. Mungkin itulah salah satu efek pemberian nama Madre yang terdengar begitu menenangkan seperti mendengar suara Ibu.

Dari judul-judul dalam Madre saya pribadi menyukai tulisan Dee yang terakhir, berjudul Barangkali Cinta. Sangat tepat menjadikan ini penutup dari perenungan-perenungan sejak halaman pertama cerpen Madre hingga kisah Christian dan Starla berakhir dengan pelukan bioskop. Madre dan Menunggu Layang-Layang adalah dua cerpen yang saya suka setelah puisi Barangkali Cinta. Madre dengan pergulatan Tansen mengenai keputusannya untuk lepas dari kebebasan yang dia ciptakan sendiri dan mengurungnya. Menunggu Layang-Layang dengan perdebatan antara persahabatan dan cinta, ego, rasio, emosi dan hati nurani.

Sungguh saya tidak bisa bergerak sejak pertama membaca Madre. Sepertinya ada mantra pengikat atau semacam penarik magis sehingga rantai huruf yang membentuk kumpulan kata buah tangan Dee ini menjadi terlalu sayang untuk ditinggalkan barang sejenak. Saya menyukai Madre seperti ketika saya selesai membaca Filosofi Kopi. Ada kesan yang sama, yakni selalu perenungan dan kejelian dalam mendetailkan pengamatan.

Dee, saya belajar banyak dari dia.

View all my reviews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar