Jumat, 10 Februari 2012

Infinitely Yours: Book Review

Judul Novel: Infinitely Yours
Penulis: Orizuka
Genre: Teen Romance (Young-Adult)
Penerbit: GagasMedia
Desain Cover: Jeffri Fernando
Halaman: 294 hlm

Sinopsis

Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi bagaimaba caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?
Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri-dan menjauhkan hati-pada akhirnya akan bertemu kembali.
Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya... Kau, aku dan perjalanan ini.


Benarlah, cetakan pertama novel ini adalah tahun 2011 dan saya baru membaca di cetakan pertama di tahun 2012. Saya sadar sudah hampir setahun atau belum genap setahun saya dihantui sosok Jingga yang entah mengapa membuat saya benar-benar ingin bunuh diri seperti yang dirasakan Rayan. Oh, Om Rayan... kasihan banget kamu Om... aku sampe pengen terjun dari kasur ke lantai baca kisah Om sama mbak Jingga yang kelewatan childishnya. Hahaha, mbak Orizuka suka banget ya nyiksa karakternya, om Rayan apa kabarnya mbak? Hehehe. Oke, ini review..bukan curhatan. Kembali ke novel.

I judge a book by its cover, at almost always. Jadi, sudah pasti kakak Jeffri yang mendesain covernya ini bikin saya jatuh hati, lagi-lagi. Dan baru setalah cetakan keduanya terbit, saya baru bisa membacanya, meskipun hanya pinjaman. Hiks, tapi tenang kok Mbak Orizuka, aku akan beli novelnya kok. Hehe..

Saya nggak tahu harus mulai dari mana. Mbak Orizuka nyaris nggak memberi saya kesempatan untuk mencari kesalahan dan titik lemah novel ketigabelasnya ini. Saya memang pembaca yang agak jahat, mencari letak kekurangannya, hehehe... ya setidaknya saya bisa menyeimbangkan rasa cinta itu dengan sedikit rasa menyelidiki.. looh apa hubungannya. Jadi, saya bingung harus berbicara kekurangannya, mari kita bicara tentang point positifnya.

Pertama. Jingga dan Rayan. Makhluk yang mungkin berasal dari planet yang berbeda ini membuat saya junkir balik, ketawa-ketiwi, sampai menangis maraung *haaalah, lupakan*. Bagi yang sudah membaca novel ini, saya nggak harus jelasin lagi, this novel tells you all. Tapi bagi yang belum, beneran deh, siap-siap bantal buat nyumbat mulut karena ketawa overtaking hingga juungkir balik meringis gemas karena perilaku Jingga dan Rayan yang... masyaallah...saya speechless dan mulai membayangkan apakah ada orang semacam mereka ini? Mereka berdua layaknya nyata. Sifat dan sikap mereka sama-sama punya sisi gelap terang yang jelas. Membuat mereka sepertinya benar-benar berseliweran setiap kali saya membuka halaman demi halaman novel bersetting Seoul ini.

Selain itu, analogi dalam cerita ini benar-benar BENAR. Teori tentang dua kutub magnet yang bertolak belakang jika kutub yang sama disatukan, dan sebaliknya dua kutub berbeda akan saling tarik menarik. Rayan dan Mariska itu kutub yang sama, namun Rayan dan Jingga adalah kutub yang berbeda. ‘Tuhan’ (baca: penulisnya) memang berencana membuat pembacanya memahami satu hal penting. Yaitu bahwa kesamaan atau persamaan tidak bisa bersatu dan bertahan lama, berbeda dengan perbedaan itu sendiri. Adanya perbedaan, itulah letak dimana dua hati itu disatukan dalam satu jalinan. Begitulah, jadi...yang sudah punya pasangan, dan sifat kalian berbeda seratus delapan puluh derajat, lebih baik syukurilah hal itu. Karena itu adalah cara Tuhan menyeimbangkan hidupmu agar tidak berjalan seperti permukaan datar. Life’s is never flat, and that’s the way of love too.

Kekurangan novel Infinitely Yours adalah... hm, mungkin terdapat di narasi tentang tempat-tempat lokasi plot ini ya. Deskripsinya seharusnya bisa lebih luwes dan mengena agar tidak terkesan sedang membaca itenary perjalanan. Tapi itu semua tercover dengan baik bersama cerita 294 halaman yang saya baca hanya dalam waktu semalam. Ini pertama kalinya saya memaksakan diri untuk membaca sebuah novel. Mbak Okke harus bertanggung jawab karena membuat saya lupa diri dan begadang dengan tawa-tawa menggelikan, kening berkerut gemas, dan airmata yang menganak sungai. What a kinda marvelous? Rasanya kayak nonton film, dan nggak pengen ada iklan satu pun yang nyelonong memutus cerita. Begitulah... sudah-sudah... saya bingung harus ngomong apa lagi. Dead speechless!

Maaf ya bagi yang baca... kalian jadi membaca setengah curhatan setengah review buku. T_T

3 komentar:

  1. huaa,, aku jg sukaaa bgt novel ini.. jd ngebayangin kalo di film'in, tp bakalan susah nyari cwo Indo yg mirip KangDongwon,, xD
    dan entah kenapa, aku ngebayangin sosok Jingga itu wajahnya Sulli~ -__-" heu,,
    oh yaa, dan gilanya aku, baca novel ini di bus dg perjalanan Cirebon - Purwokerto.. hahha.. pas part akhir sempet nangis, mungkin penumpang di sebelah ngeliatin, tapi bodo amat.. ituuu I-pad nya Rayan mending buat akuu... (loh??)

    BalasHapus
  2. iya-iyaaa!!

    dan bakal susah banget nyari Narayan Sadewa yang mirip sama Kang Dong Won... huaaa... aku baca novel ini tengah malem dan harus nyumbat mulutku sendiri karena takut ketawaku bikin bangun orang seantero rumah... haha...

    eh, aku bodoh banget deh, kenapa bisa bayangin sosok Jingga ini ayu ting-ting.. ahalaaalalalala nggak mungkiiiin! >,< *tabok muka sendiri*

    btw, thanks for visiting :)

    BalasHapus
  3. Hi.. kemarin aku sempet liat novel ini, sama novel rain over me, tapi ragu2 beli keduanya, tkut crtana ga bgus pdahal covernya bikin ngiler, tapi kyna aku bkal beli deh.. oia, main2 k3 blogku ya, everlastingkoreanbeauty.blogspot.com and be a member, thx..

    BalasHapus