Minggu, 22 Januari 2017

Senandika Prisma [Review and Writing Hacks]


Blue Valley Series – Senandika Prisma

Judul: Senandika Prisma
Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: Falcon Publishing
Tahun Terbit: Desember 2016
Tebal: 212 hlm
ISBN: 978-602-60514-2-4
 
Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Rumah nomor 6 kedatangan penghuni baru. Cokelat dan berbulu. Hadiah untuk seorang anak laki-laki yang riang dan lucu. Bibir mungilnya selalu mengulas senyum yang dapat menghapus kesedihan dan menularkan keceriaan.

Namun, kehidupan selalu punya kejutan. Rumah nomor 6 menyimpan kutukan. Gadis manis yang tinggal di sana perlahan kehilangan harapan. Pernikahan yang sudah direncanakan lambat laun berubah menjadi angan belaka. Prisma bertahan di ambang kehancuran. Dia menanggung semua luka untuk menemukan kembali yang telah hilang.
---

Lebih duluan mana; memiliki atau kehilangan? Apa bagian terburuk dari memiliki? Tak segalanya yang meskipun sudah dimiliki bisa menjadi sesuai yang kita inginkan. Apa bagian terburuk dari kehilangan? Tidak adanya hal itu dalam hari-hari hidup kita di depan sana? Rasa rindu atau tidak bisa move on?

Aku tahu hal terburuk di antara keduanya. Kehilangan hal yang paling berharga sebelum bisa memilikinya.

Hal di atas adalah palu besar yang memukul kepalaku begitu selesai membaca Senandika Prisma. Kehilangan, tepatnya ambiguous loss, menjadi tema yang diangkat Aditia Yudis untuk buku kesembilannya ini. Salah satu novel dari Blue Valley Series ini menghadirkan kisah Prisma yang sedang menanti hari pernikahannya tiba, tetapi sesuatu harus terenggut darinya sebelum mimpi itu bisa terwujud.

Senandika Prisma menjadi yang kedua aku baca tahun ini. Aku mencantumkannya sebagai salah satu buku di BBI Read and Review Reading Challenge 2017 di kategori Name in The Book. Yuk, kita bahas lebih jauh tentang Prisma dan senandikanya!

Senin, 02 Januari 2017

Critical Review for Ika Natassa’s ‘Critical Eleven’


Goodreads
Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Agustus 2015
Tebal: 344 hlm
Bahasa: Indonesia
ISBN13: 9786020318929

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan. 

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


*

Sebelum aku berkata apa-apa tentang novel ini, izinkan aku untuk pecah telor setelah sekian lama absen dari ruang resensi-meresensi buku. Yey, akhirnya di awal tahun 2017 aku mulai meresensi buku yang kubaca! And, I’m glad to have Critical Eleven as the first book I reviewed. It’s from national bestseller author, tho.

Lalu izinkan aku angkat topi kepada Ika Natassa yang telah membuatku merasakan turbulence sepanjang membaca kisah Ale-Anya ini *bow*. Seriously, aku merasakan turbulensi otak dan hati di halaman pertama hingga akhir. Yang mana hal itu berarti something amazing and something ‘bad’ happen when I’m reading this novel. 

What’s up with the something ‘bad’? Apakah itu benar-benar sesuatu yang buruk? Mungkin.

Ini adalah pertama kalinya aku membaca karya Ika Natassa. Dan jujur aku menyesal mengapa tidak membaca karya-karyanya yang lain, sejak lama. Sesuai dengan judul posting ini, ‘Critical Review for Ika Natassa’s Critical Eleven’, karena turbulensi-turbulensi yang kualami selama membaca, aku tergerak untuk melihat karya ini di luar garis entertainment reading. Karena sesuatu di buku ini sangat menarik perhatianku, membuatku tidak tahan untuk bertanya-tanya, menggeretku untuk berpikir. I’ve never found such mind-evoking novel like this in 2016. Mari mulai ngobrolin buku ini!

Minggu, 01 Januari 2017

January's Reading

Dunia Sofia

Selamat Tahun Baru 2017! Menyambut tahun yang baru, Dunia Sofia akan kembali aktif dengan posting resensi buku yang lebih rajin dan teratur lagi. Aku punya setumpuk bacaan yang belum bisa kubaca semua di tahun kemarin dan setumpuk buku yang belum sempat aku resensi. Untuk mengawali tahun ini aku punya empat buku yang rencananya akan aku baca dan baca ulang di bulan Januari ini. Buku-buku itu adalah: