Rabu, 03 Juni 2015

Review Novel The Chronicles of Audy























Orizuka adalah penulis novel Indonesia yang tidak diragukan lagi karya-karyanya. Telah begitu banyak novel remaja dan young-adult yang dia tulis dan mewarnai dunia literasi modern Indonesia. Karyanya yang berjudul ‘The Chronicles of Audy’ ini tentu saja selalu dinantikan oleh para pembaca setia Orizuka dan memberikan warna tersendiri pada karya Orizuka yang berseri seperti Oppa and I series yang ditulis bersama Lia Indra Andriana. Mengusung tema realistic young-adult, Orizuka menyuguhkan kisah hidup seorang gadis bernama Audy Nagisa yang kronik kehidupannya dimulai ketika dia mentok mengerjakan skripsi dan dikejar-kejar tunggakan uang kosannya. Di sini saya akan mereview dua novel sekaligus dari TCA, yaitu TCA: 4R Buku 1 dan TCA: 21 Buku 2. Buku ke-3 dari ‘The Chronicles of Audy’ akan rilis pertengahan tahun ini dan pastinya saya tidak sabar untuk membacanya. Tapi dalam penantian buku ketiganya, saya ingin mengulas tentang dua seri dari ‘The Chronicles of Audy’ ini!

Pandangan Pertama
Didesain dengan nuansa cokelat muda, sampul novel ‘The Chronicles of Audy: 4R’ dan ‘The Chronicles of Audy: 21’ memiliki kesamaan dalam konsep sampul seperti novel-novel serial lain. Tentu saja ini tepat sekali karena novel ini merupakan novel serial. Buku 1 dipulas dengan nuansa merah sementara Buku 2 dengan warna biru. Ilustrasi kotak surat dalam Buku 1 pun mendukung cerita dengan simbolis sementara di buku 2 dengan ilustrasi perahu yang menyimbolkan ‘ship’ atau hubungan antartokohnya. Sampulnya tidak terlalu rumit dan minimalis tapi tetap saja menarik. Pilihan font yang dipakai juga sangat cocok dengan tema novel ini.

Sementara itu, di bagian dalam buku layout benar-benar diperhatikan. Penggunaan font yang tidak terlalu artistik dan rumit membuat nuansa cerita yang mengalir dan ringan dapat dirasakan ketika membaca. Karena ceritanya terpusat pada Audy yang sifatnya apa adanya dan cenderung menggemaskan, font yang dipilih pun mendukung dengan karakter tokoh. Ukuran font sangat pas menurutku, tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Sangat nyaman untuk dibaca. Ada juga bookmark yang terselip di bukunya. Desain bookmark-nya memang sangat unik, yang menggambarkan kelima tokoh utama dari novel ini: Audy, Regan, Romeo, Rex dan Rafael. Tentu saja itu sangat menarik perhatian para pembaca dan membuat pembaca harap-harap cemas dapat bookmark dengan karakter mana. Sepertinya, bookmark Regan banyak banget ya, yang Rex kok jarang sih.. hehehe.

Selasa, 02 Juni 2015

Time After Time [book review]




Judul: Time After Time
Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: Gagasmedia
Tahun: 2015
Halaman: 280 hlm
ISBN: 9789797807894
Genre: fantasy, romance, time travel

Waktu bisa saja mengelabuimu
Mengambil yang kau inginkan. Menjauhkan yang kau impikan. Memberi yang tak pernah kau harapkan. Mendatangkan seseorang yang nyaris tak kau duga.
Lewat sebuah paket misterius, pintu masa lalu terbuka. Kau tiba-tiba saja diberi kesempatan menelusuri rahasia. Akankah kau mengambil kesempatan yang mungkin hanya ada dalam dongeng belaka?
Lasja yang masih berkabung atas kematian ayahnya memutuskan mengambil kesempatan ini. Ada kenangan indah bersama sang Ayah yang ingin ia ulang. Ada rahasia tentang Ibu yang ingin ia ketahui kebenarannya.
Namun ada kalanya, masa lalu memang seharusnya dibiarkan menjadi masa lalu. Perjalanan waktu itu seharusnya tak pernah terjadi. Untuk apa jika hanya membuatnya kehilangan lagi?
Ketika kehilangan satu hal, kau akan mendapatkan hal lain yang lebih berarti. Lasja pernah percaya akan hal itu. Tetapi, tidak kali ini, ketika tidak hanya cinta, masa lalu pun ternyata mengkhianatinya.
Ia hanya ingin kembali, bagaimanapun caranya. Akankah waktu mampu membawa gadis itu kembali juga membuatnya jatuh cinta sekali lagi?

~ First Impression ~
Pertama kali tahu tentang novel ini lewat gambar yang diunggah sama Adit di facebooknya. Aku masih ingat gambar itu sebuah tagline tentang novel terbarunya ini. Dan aku langsung antusias tak sabar ingin novel itu cepat terbit. Kali ini Adit memberikan sentuhan fantasi dalam kisah romannya. Selain itu akhirnya Gagasmedia memberikan sentuhan berbeda pada karya-karya yang diterbitkannya karena sejauh ini aku belum pernah tahu ada genre fantasi yang diterbitkan Gagasmedia. Dan ketika semua proses menunggu novel ini selesai dan covernya diunggah secara resmi oleh Gagasmedia, aku semakin berharap bisa mengikuti kisah Lasja dalam Time After Time. Ohya, novel ini merupakan seri Time Travel yang dikeluarkan oleh Gagasmedia tahun ini. Setelah sukses dengan seri Setiap Tempat Punya Cerita, seri 7 Deadly Sins, tahun ini Gagasmedia memiliki banyak proyek buku seri yang segenre meskipun tidak secara cerita saling berhubungan. Selain seri Time Travel ini adalah seri Love Cycle.

Sebagai penyuka fantasi dan sci-fi—meskipun belum bisa dikatakan fans beneran—aku selalu tertarik dengan sesuatu yang bernapaskan fantasi dan sci-fi. Pengetahuanku tentang karya-karya fantasi dan sci-fi sendiri pun sama sekali tidak bisa dikatakan banyak. Selain itu, belum banyak penulis tanah air yang memfokuskan dan mengkhususkan diri sebagai penulis fiksi ilmiah dan fantasi secara penuh. Dan ketika novel ini rilis, aku beneran nggak sabar pengen baca!

To All The Boys I’ve Loved Before [book review]



Judul               : To All The Boys I’ve Loved Before
Penulis            : Jenny Han
Penerbit          : Penerbit Spring
Tahun terbit   : April, 2015 (cetakan pertama)
Halaman         : 380 hlm
ISBN               : 9786027150515
Genre              : Novel Remaja, Terjemahan
Penerjemah    : Airien Kusumawardani

Lara Jean menyimpan surat-surat cintanya di sebuah kotak topi pemberian ibunya.
Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai—totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.
Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan—entah oleh siapa.
Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya—termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya dan cowok terkeren di sekolah.

S
ebelumnya aku ingin berterima kasih kepada Penerbit Spring dan @Libri Ra karena berkat blog tour dan giveaway-nya aku bisa mendapatkan novel keren ini! Aku juga sangat menikmati event blog tour ini dan berhasil mengikuti hampir seluruh blog tour dan giveawaynya. Tapi sayang sekali aku tidak bisa ikut kuis Finale-nya karena ada masalah dengan laptop. Tetapi, rasanya mendapatkan novel To All The Boys I’ve Loved Before saja ini sudah sangat aku syukuri dan ini membuatku sangat senang. Baru novel ini yang bisa kulibas habis hanya dalam waktu singkat tahun ini! Aku hanya butuh waktu satu kali duduk selama tiga jam mulai jam dua belas malam sampai jam tiga pagi untuk mengikuti kisah Lara Jean dan surat-surat cintanya.
~ First Impression ~
Kurasa bukan aku saja yang jatuh hati pada novel ini karena sampulnya yang sangat cantik. Penampilan novel ini dengan sampul yang sudah terkonsep sangat matang ini sangat menarik. Selain enak dipandang, sampul To All The Boys I’ve Loved Before ini menurutku sudah sebagus poster film. Konsep yang begitu matang dan terencana terlihat jelas dari sampulnya dan juga model yang menjadi Lara Jean di sampul tersebut sungguh amat mendekati kemiripan dengan tokoh Lara Jean.
Dari segi ceritanya, kisah Lara Jean sudah menarik untuk dibaca. Di zaman modern seperti sekarang cewek seperti apa sih yang masih menulis surat diam-diam untuk cowok yang dia taksir? Bagaimana nasib cewek itu kalau sampai surat-suratnya diterima oleh orang-orang yang dia tulis dalam surat cintanya? Ini mungkin bukan ide paling brilian, tetapi kisah Lara Jean sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Sabtu, 23 Mei 2015

Arrivals



Imipramine [book review]

Ini pertama kalinya Blind Date With Book dilaksanakan oleh teman-teman dari Klub Buku Kediri. Meskipun hanya kami berempat (Mbak Dewi, Liya, Andika dan saya), BDWB tetap berjalan seru dan menyenangkan. Kami sepakat bertemu di Monumen Simpang Lima Gumul dan tepat di dalam monumennya kami memulai blind date ini. Nah, Imipramine inilah yang menjadi teman kencanku bulan Mei ini. 

Judul: Imipramine
Penulis: Nova Riyanti Yusuf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN:  9792207821 
Paperback, 159 pages

Kesan pertama
Jujur, aku tidak bisa menebak kisah seperti apa yang akan kutemukan dalam buku ini. Mengenal penulisnya pun baru pertama kali ini. Setelah browsing sedikit akhirnya tahu kalau penulis adalah dokter yang juga aktif di bidang politik. Nah, begitu mulai membaca saya langsung pusing. Banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan ilmiah yang tidak semuanya saya mengerti. Dan hal itu cukup membuat alis mengernyit.

Ide Cerita dan Alur
Berbau psiko-seksual, politik dan konspirasi. Intrik konflik tiap tokoh bertautan dengan pengupasan karakterisasi di setiap halamannya adalah ide yang menarik. Tetapi yang aku sayangkan adalah perpindahan sudut pandang antara tokoh yang satu dengan yang lainnya, dan penekanan pada siapa tokoh utamanya tidak begitu diperhatikan oleh penulis. Seharusnya penulis membuat perpindahan karakter atau sudut pandang dengan memberikan petunjuk bagi pembaca. Hal ini membuat saya kurang bisa memahami rantai ceritanya karena seolah-olah semua konflik batin tiap tokoh tumpah ruah tanpa jejak yang jelas. Dan mungkin ini keterbatasan saya sebagai pembaca, saya tidak menemukan apa makna Imipramine yang dimaksud. Imipramine adalah nama sebuah zat obat kimia yang memiliki efek tertentu pada manusia namun seolah-olah di sini ada tokoh yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Impramine.


Layout
Desain kovernya bagus, simpel dan misterius. Tetapi sayang sekali penataan di dalam bukunya tidak diperhatikan dengan baik. Adanya perbedaan jenis font dan judul-judul di awal bagian cerita justru membuat bingung ketika membaca. Apa maksudnya font di bagian sini dibedakan dengan font di bagian yang lain?

Overall, buku ini akan jadi lebih bagus lagi jika kembali diperhatikan tatanan layout isinya dan disempurnakan alur-alurnya yang belum jelas. It was okay but it is not my cup of tea.

Rabu, 15 April 2015

Giveaway 'To All The Boys I've Loved Before' by Biondy

Siapa sih yang gak kepengen dapat buku gratis? Apa lagi kalau bukunya itu novel karya Jenny Han, To All The Boys I’ve Loved Before yang diterjemahkan oleh Penerbit Spring. Dalam rangka blog tour dan giveaways, Penerbit Spring bekerja sama dengan beberapa blogger buku. Salah satunya adalah Biondy (http://kireinasekai.blogspot.com).

Nah, siapapun boleh ikutan giveaways ini, lho! Hadiahnya juga keren banget, ada novel To All The Boys I’ve Loved Before by Jenny Han dan hadiah kejutan menarik dari Penerbit Spring bagi pemenang kuis finale. Serangkaian event blog tour dan giveaways ini mengharuskan siapa saja yang ikut untuk blog-walking ke blog-blog buku yang jadi host-nya. Di setiap host akan ada giveaway berhadiah novel TATBILB dan ada potongan puzzle yang harus dilengkapi untuk dikumpulkan ke Penerbit Spring untuk ikut kuis finalenya.

Gak sabar pengen ikutan? Langsung saja kunjungi website Penerbit Spring atau fanpage-nya. Kalian juga bisa langsung mampir ke blog Biondy di (http://kireinasekai.blogspot.com) untuk ikutan giveaway yang dia adakan di blognya sekarang! Tunggu apa lagi? Ayo ikutan, siapa tahu bisa beruntung dapat hadiah keren dari Penerbit Spring!

Selasa, 14 April 2015

Girls in The Dark [book review]


pic: Goodreads(dot)com
Judul              : Girls in The Dark
Penulis           : Akiyoshi Rikako
Penerbit          : Haru
Terbit             : Mei 2014
Tebal             : 279 hlm
ISBN             : 978-602-7742-31-4
Genre       : J-Lit, remaja, thirller, dark, psycho, Tantangan Membaca 2015: Buku-buku “karya” Dini Novita Sari

Sinopsis
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu? Gadis itu mati. Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily. Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu. Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyaa, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi... Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang? – Girls in The Dark.

First Impression
Saya tidak pernah membaca novel bergenre thriller, horror, suspense atau apapun yang berbau pertumpahan darah, kegilaan, psycho dan hal-hal gelap seperti ini. Bacaan saya selama ini jika dianalogikan yaitu seperti pelangi, berwarna-warni ceria, juga seperti es-krim tiga rasa cokelat-vanila-strawberry dan berbau teori konspirasi atau sci-fi. Saya anti pada bacaan apapun yang menggandung unsur kegelapan. Tapi Tantangan Membaca ‘karya’ Dini Novita Sari mengubah segalanya. ‘Girls in The Dark’ adalah novel pertama sepanjang sejarah membaca novel saya yang berbau dark-thriller. Jujur saya kurang menyukai genre seperti itu. Saya tidak bisa membaca sesuatu yang berisi adegan berdarah-darah dan pembunuhan. Tapi ‘Girls in The Dark’ ternyata tidak seseram yang saya kira. Cocoklah untuk sebagai kudapan pembuka jika saya ingin menambah daftar bacaan saya dari genre serupa.

Jumat, 10 April 2015

Ally: All These Lives (book review)

Mass Market Paperback, 264 pages
Published January 22nd 2015 by Gramedia Pustaka Utama
original title Ally: All These Lives
ISBN 139786020308845
 SINOPSIS

Apa yang akan kaulakukan jika satu menit yang lalu kau anak tunggal orangtuamu, lalu satu menit kemudian ada seseorang yang muncul entah dari mana dan duduk di sampingmu mengaku sebagai adikmu? Apa yang kaulakukan jika kau menemukan foto di meja, menampilkan dirimu dan seseorang yang belum pernah kaulihat? Apa yang kaulakukan jika kau pulang ke rumah dan menemukan bahwa di dalam rumah itu sudah ada dirimu yang lain?


Kehidupan Ally memang bukan kehidupan biasa. Kerap kali ia mendapati dirinya ditempatkan dalam kehidupan yang seolah miliknya, tapi ternyata bukan. Dan tiba-tiba kata “pulang” punya makna yang baru. Apakah Ally akan memiliki kesempatan untuk “pulang”? Akankah ia bisa kembali pada cinta yang ditinggalkannya di kehidupannya yang lain?

Ini bukan kisah biasa. Ini kisah yang akan membuatmu berpikir kembali tentang arti hidup dan arti cinta yang sebenarnya. 

Kamis, 02 April 2015

Dee's Coaching Clinic Surabaya: Berpikir Kreatif dalam Menulis Fiksi


Adalah mimpi yang menjadi nyata untuk bisa bertemu langsung dan berinteraksi dengan seorang Dewi 'Dee' Lestari. Awalnya saya masih ragu untuk mempercayai bahwa ini benar-benar terjadi. Tanggal 29 Maret 2015, tepatnya di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya, saya melihat sosok nyata penulis idola saya ini. Dalam agenda bertajuk Dee's Coaching Clinic, Mbak Dewi Lestari membuka seluas-luasnya kesempatan bagi yang berkeinginan kuat untuk menulis dan bergelut di dunia sastra untuk berdiskusi seputar dunia penulisan. Ada beberapa poin penting yang dikupas satu per satu di sini yaitu, 1. Berpikir kreatif, 2. Riset menulis, 3. Pemetaan Cerita, 4. Karakter dan beberapa tips menulis ala Dewi Lestari.

Coaching Clinic penulisan ini diawali dengan pembahasan pertanyaan-pertanyaan dari peserta yang sudah dikirimkan melalui e-mail sebelumnya. Hal yang menjadi pondasi coaching clinic kali ini adalah 'berpikir kreatif'. Mbak Dewi Lestari pun memulai diskusi dengan membongkar apa itu berpikir kreatif. Ringkasan tentang isi Dee's Coaching Clinic Surabaya kemarin seluruhnya bersumber dari penjelasan langsung Mbak Dewi Lestari dengan penulisan ulang dan adaptasi sebisa yang saya lakukan.

1. Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif adalah modal dasar bagi seorang penulis. Tapi masih sering kita keliru mendefinisikan apa itu berpikir kreatif. Berpikir untuk harus bikin cerita yang lain dari yang lain akan mengganggu proses kreatif itu sendiri. Menurut Dee Lestari, seseorang yang berpikir kurang kreatif akan hanya berhenti pada dirinya sendiri.

Berpikir kreatif adalah memperluas medan kesadaran diri.

Senin, 16 Maret 2015

Review Wonder R.J Palacio


Novel yang membuatku tidak meragukan pepatah:
from Google.

Entah mengapa aku merasa sangat berjodoh dengan novel anak-anak. Bisa kubilang kalau aku lebih jatuh cinta pada novel anak-anak daripada novel-novel young-adult atau dewasa. Mungkin karena pada dasarnya aku memang menyukai anak-anak. Salah satu novel yang kubaca di bulan Maret 2015 ini adalah Wonder karya R.J Palacio. Sudah sejak Januari ingin kubaca tapi harus kembali ke rak karena beberapa kesibukan lainnya.



Judul             : Wonder
Penulis          : R.J Palacio
Penerbit        : Corgi Childrens
Tahun terbit : Januari 2012
Halaman       : 315
Bahasa           : Inggris
Genre             : Novel Anak-anak 

You can't blend in when you were born to stand out.
My name is August. I won't describe what I look like. Whatever you're thinking, it's probably worse.

August Pullman wants to be an ordinary ten-year-old. He does ordinary things. He eats ice cream. He plays on his Xbox. He feels ordinary - inside.

But Auggie is far from ordinary. Ordinary kids don't make other ordinary kids run away screaming in playgrounds. Ordinary kids don't get stared at wherever they go.

Born with a terrible facial abnormality, Auggie has been home-schooled by his parents his whole life, in an attempt to protect him from the cruelty of the outside world. Now, for the first time, he's being sent to a real school - and he's dreading it. All he wants is to be accepted - but can he convince his new classmates that he's just like them, underneath it all?

Narrated by Auggie and the people around him whose lives he touches forever, Wonder is a funny, frank, astonishingly moving debut to read in one sitting, pass on to others, and remember long after the final page. (Goodreads synopsis).
 
Wonder mengisahkan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama August Pullman. Auggie begitu panggilannya, adalah anak yang normal seperti anak-anak kebanyakan kecuali dalam satu hal. Wajahnya. Ia mengidap sebuah kelainan genetik yang mengakibatkan wajahnya tidak seperti orang normal kebanyakan. Serangkaian operasi bedah sudah dilalui Auggie sejak ia masih bayi namun tetap saja tidak banyak membantu. Kedua mata Auggie tidak pada tempat yang semestinya, salah satu matanya turun hingga ke pipi dan yang satu lebih kecil dari yang lain. Hidung Auggie pun jika kuimajinasikan menyerupai hidung rata Voldemort. Dan mulutnya sumbing karena bentuk rahang Auggie yang tidak normal. Kedua telinganya pun berada di posisi yang tidak seimbang.

Selasa, 10 Maret 2015

Membaca Gelombang - Dee Lestari

Gelombang adalah novel yang membuka rangkaian kegiatan membacaku tahun 2015. Seolah seperti tarian selamat datang, Alfa Sagala menyambutku dengan gulungan gelombang perasaan yang berkecamuk hingga kini. Dan sebenarnya aku ingin menyimpan sendiri kesanku tentang Gelombang tanpa membuat catatan atau review buku seperti biasanya. I want this feeling for myself, not even a word about my Alfa Sagala I want to share. Tapi godaan bertemu sang kreatornya menumbuhkan semangat lain. I want to meet the author and shout out loud this feeling for Alfa. Sekali lagi, Dee Lestari menghajar para pembacanya dengan melemparkan mereka ke arus kisah Gelombang. Dan membuat kami para pembacanya tetap saja menanti dengan degup jantung penasaran akan Intelegensi Embun Pagi atau #IEP. Sama saja, mau pembaca yang berkomentar tidak puas, kurang dapet greget dan sebagainya dari Gelombang atau pembaca yang serta merta menyukai kisah Alfa Sagala ini. Semuanya tetap berakhir dengan keinginan supaya kisah selanjutnya bisa segera kami nikmati. Bukti ketajaman pena Dee Lestari tetap menggores di hati para pembacanya.

Paperback edition (2014)
Love the BLACK COVER version so much!