Jumat, 28 September 2012

Novel Hanami and Giveaway Hanami

Ketertarikanku pada novel baru ini adalah setingnya yang bertema Jepang. Dan saat melihat novel ini ada dalam kumpulan coming soon dari GagasMedia, aku langsung tertarik karena ada sentuhan Jepangnya. Novel karya Fenny Wong ini menarik perhatianku dengan sentuhan Jepangnya. Covernya yang memiliki daya romantis membuatnya menjadi semakin menarik. Ada berikut ini adalah sinopsis dan cover novel tersebut.


Kepada Sakura

Kau adalah hangat. Padamu aku temukan dunia yang ramai dan selalu bahagia. Kau adalah rumah. Tempat aku menitipkan tawa kanak-kanakku, juga menyimpan mimpi tentang sebuah masa depan.
Suatu hari, mungkin rumahku tidak lagi kau. Tidak bisa dan tidak mungkin. Kau hanyalah rumah tempat aku menyimpan berpuluh-puluh frame yang tidak akan lapuk karena waktu. Tempat aku selalu kembali meski mungkin kau tidak lagi berada di sana.
| Keigo

Kau datang menjelma sepi. Lalu, pergi meninggalkanku dalam gigil. Gadis polos dalam kamuflase musim semi, aku membencimu. Tak ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Itulah mengapa aku memilih menjauh.
Namun, kau tahu, hingga mana pun jauh mengantar langkahku, ternyata tak pernah ada yang menamai rindu milikku, sesempurna kau menamainya. Dan, membuatnya akan selalu menjadi milikmu.
| Sakamura Jin

Mungkin novel ini akan menjadi novel pertama Fenny Wong yang kubaca karena aku belum pernah membaca novel-novel Fenny Wong yang lain sebelumnya. Namun aku berharap sekali bisa membaca novel ini.

Untuk teman-teman yang juga tertarik dengan novel Hanami, ada give away dari penulisnya langsung loh! Silakan cek sendiri di blognya Fenny Wong ya...






Selasa, 25 September 2012

Perahu Kertas [book review]

Perahu Kertas karya Dee

Perahu Kertas karya Dee


Menikmati romansa Kugy dan Keenan melalui lembar demi lembar kisah Perahu Kertas. Novel ini menemaniku dalam perjalanan menuju pulau Dewata, Bali untuk tugas English Outing semester ini. Sungguh, baru kali ini aku membaca sebuah kisah dan seolah terjun langsung dalam settingnya. Membacanya dalam perjalanan ke Bali membuatku bisa merasakan bahwa Kugy dan Keenan begitu nyata, ada di dekatku saat aku membaca dan mereka berseliweran dengan adegan-adegan tiap plotnya di depanku.

Perahu Kertas karya Dee ini memiliki ruang eksplorasi yang begitu luas. Durasi kisahnya pun berpindah dari tahun ke tahun dan teras begitu dinamis dan bergerak seperti apa adanya. Dee memang tidak perlu diragukan lagi karya-karyanya yang sudah populer, tapi benar terbukti sudah bahwa Dee penulis yang begitu jeli dengan kisah yang dia tulis. Kugy dia tulis dengan begitu detail dan rapi, caranya menggambarkan seorang Kugy yang berantakan dan pengkhayal menjadikan karakter ini begitu nyata. Keenan, si misterius yang memiliki sejuta kejutan dan keindahan, aku kagum dengan Dee yang menemukan Keenan di hamparan manusia karakter yang pernah ada. Keenan, begitu unik begitu memikat, sama seperti Kugy.

Karakter yang dibangun di Perahu Kertas memanglah memiliki kekuatan dan stabil. Mereka memiliki cela dan sisi baik, seimbang. Itulah yang menghadirkan kesan nyata dan hidup pada setiap karakternya.

Ide cerita dan detail-detailnya. Dee memang begitu kreatif. Apa itu surat untuk Neptunus, Radar Neptunus, Agen Neptunus dan segala pernak-pernik dongeng-dongeng dan lukisan Kugy juga Keenan. Ide-ide unik seperti inilah yang membawa nyawa tersendiri untuk memberi kisah ini sebuah makna.

Sebenarnya sudah sejak novel ini terbit oleh Bentang aku ingin membelinya, namun yah..karena lagi-lagi berurusan dengan kantong yang tidak cukup tebal aku harus menundanya hingga kabar novel ini diangkat ke layar lebar tersebar. Aku mencari versi cover sebelum dijadikan versi movienya tapi mendapatkan novel dengan cover movienya. Yah, tak masalah. Malah senang banget karena bisa melihat Keenan ada di sampul depan. :P
Adipati Dolken alias Keenan
Dan aku memang tidak bisa berkata apa-apa lagi selain, Aku menikmati setiap debaran Kugy dan Keenan, setiap remuk hancur hati mereka dan setiap kata-kata yang merangkai kisah Perahu Kertas ini. Karya yang memang luar biasa dan layak ditransformasi ke sebuah layar lebar. Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menonton filmnya, berharap film Perahu Kertas masih berlayar di area Kediri sampai bulan Oktober saat film part 2nya rilis.

Selasa, 11 September 2012

With You [book review]

With You [book review]

Judul: With You

Penulis: Christian Simamora & Orizuka (GagasDuet)

Penerbit: GagasMedia

Halaman: 298 hlm

ISBN: 9797805735

Ini adalah salah satu novel GagasDuet yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Beautiful Mistake dan With You adalah GagasDuet adalah yang kedua. Saya memang agak ketinggalan, tapi tidak ingin melewatkan novel yang well, saya tahu dari teman-teman kalau GagasDuet Kak Chris dan Kak Orizuka ini bikin geger, dalam arti yang positif tentunya.

Duet Gagas kali ini emang rada-rada kontroversial, *ciee...lebay deeh...* karena kiblat dan aliran Kak Chris dan partnernya Kak Orizuka yang melenceng jauuuuh. Tulisan-tulisan kak Chris terkenal dengan gaya centil, romansa yang meletup-letup dan membuat berdebar jantung yang membacanya, (catet, dari judul-judul buku yang udah Kak Chris tulisan aja udah jelas banget kayak gimana ngegemesinnya tulisan kak Chris itu kaan?) dan Kak Orizuka yang memiliki penulisan yang kalem, teen-centered, melow seperti naik kano di danau paling tenang di dunia namun selalu memberikan kesan mendalam hingga terakhir-terakhir aku nangis baca buku Kak Orizuka yang berjudul Fate, lalu I For You yang juga diterbitkan oleh GagasMedia.

With You terdiri dari dua kisah yang masing-masing ditulis oleh Kak Chris dan Kak Orizuka. Cinderella Rockefella oleh Christian Simamora dan Sunrise oleh Orizuka. Dan berikut adalah review dari saya untuk masing-masing novela ini.

Cinderella Rockefella by Christian Simamora

Gaya centil, meletup-letup, dan selalu menyajikan suatu kisah dengan cara yang membawa nuansa santai dan mengalir selancar air terjun Niagara, Kak Chris emang rajanya bikin pembaca dag-dig-dug seperti yang dirasakan oleh karakter-karakter dalam novela ini. Memang sih saya baru kali ini membaca tulisan kak Chris, tapi dari beberapa teman yang saya jumpai, mereka selalu bilang kalau novel-novel kak Chris emang bener-bener maknyus. Cara bertutur yang terkesan ngeflow dan nggak dibuat-buat melankolis-malah terkesan cablak dan blak-blakan-membuat gaya penulisan seperti Kak Chris ini meninggalkan kesan ‘iiih, gemesss!’ di tengah perjalanan membaca hingga sampai di kata terakhir novelnya.

Dan Oh well, seriously! Abis baca Cinderella Rockefella biasanya di otakku akan berputar lagu apa yang seolah disetel otomatis untuk menyesuaikan kesanku setelah membaca. Dan apa lagu yang saat itu berdendang dalam benakku? Melinda – Cinta Satu Malam, OOOMAIGAT! Cindy beneran jatuh cinta dalam waktu semalaman! GILEEE, Jere kayaknya udah ngejampi-jampiin Cindy lewat kesederhanaan dan apa adanya cowok itu. Dan oh, shit, I gotta say it! And they’re tryin’ to attract one each other! Aku kadang gak terlalu suka sama romansa yang hanya didasari oleh ketertarikan fisik, (say it, dari penceritaan antara Cindy dan Jere udah jelas kalau fisik jadi main appeal di sini, tapi lambat laun mulai berubah dari hati ke hati, halah kayak rubrik di majalah aja.. -__-“). Tapi novela ini pengecualian, begitu membaca, aku terhipnotis sama cara kak Chris bercerita. OMG, master Chris emang jago bikin pembacanya ketawa-ketiwi-merengut-ketawa-senyum-senyum-merengut lagi-lalu akhirnya bilang ‘haaah, ya ampuuun...gemes deh gue!’

Abis baca tulisannya Kak Chris bentuk dan cara mereviewku jadi rada-rada nggak biasa yah...kok aku jadi ikutan centil, sih? Whooaa...

Sunrise by Orizuka

Khas Kak Orizuka. Cerita manis, bergaya remaja yang ringan dan mengalir seperti air mancur yang tenang tapi ada kejutan-kejutan manis yang terselip di scene atau plotnya. Tidak seperti Kak Chris yang hampir selalu membuat pembacanya kipas-kipas karena saking panasnya plot antara Cindy and Jere. Dua gabungan novella yang istimewa, seratus delapan puluh derajat berbeda tapi dengan cantiknya membuat kesan yang sulit dilupakan. Ide cerita di Sunrise ini menurutku tidak terlalu baru (tentang pasangan yang baru putus lalu balikan), tapi selalu Kak Orizuka membungkus kisahnya dengan ide-ide cemerlang lainnya. Memberikan sentuhan romantic dan exotic pantai dan laut di Karimunjawa sukses membawaku merasakan seolah-olah cerita ini bergerak seperti FTV yang kadang aku tonton sepulang dari kampus. Hahaha. Pesona Karimunjawa memang menjadi titik daya tarik dan poin plus. Tapi kisah-kisah antara Juna dan Lyla itulah yang membuatku kadang tersenyum dengan haru dan menahan tawa karena masa remaja mereka. Ungkapan-ungkapan yang dipakai Kak Orizuka inilah yang selalu menarik, membuat gaya penulisannya tidak membosankan dan berciri khas.

Dan patutlah saya memberikan bintang lima dari lima yang saya punya untuk duet ini. It’s totally different but damn so touching! After you stroke down from the roller-coaster effect as you finished reading Cinderella Rockefella, you are to dance slowly but gracefully like you’re dancing on the ocean’s wave when you’re in Sunrise pages. Believe me or not!

Rabu, 05 September 2012

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa [book review]

Judul: Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 300 halama
ISBN:9797805891

Karya ketiga dari Mbak Prisca Primasari (setelah E-clair dan Beautiful Mistake: Chocorreto) ini masih dibalik dengan sentuhan Eropa. Berlatarkan bumi Paris dan sentuhan khas Rusia yang menjadi ciri khas dari Mbak Prisca ini, novel Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa ini menyuguhkan kisah yang unik. Mengapa unik? Karena menurut saya ide cerita mbak Prisca ini tidak umum dipakai. Kisah cinta Vinter dan Florence yang dipertemukan dengan 'kebetulan' yang mungkin hanya bisa terjadi dalam imajinasi saja ini menjadi terasa bukan seperti kebetulan, melainkan takdir yang memang harus terjadi. Mbak Prisca membuat kisah yang begitu singkat, dengan tempo alur yang cepat untuk rentang waktu dan adegan yang terjadi. Namun hal itu tidak membuat saya kehilangan ketertarikan pada kisah Vinter dan Florence ini. Sungguh, kebetulan menjadi terasa nyata dan benar hanya dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Saya sering membaca adanya semacam hal-hal yang terjadi secara kebetulan di sebuah novel. Namun tidak ada yang senyata dan semasuk akal kebetulan yang terjadi antara Florence dan Vinter.


Florence melarikan diri dari rumah karena orang tuanya memaksanya untuk ikut kencan buta dengan laki-laki yang bahkan tidak dia kenal. Memiliki trauma dengan hubungan bersama laki-laki membuat Florence enggan untuk kembali mencobanya. Dia pergi ke Honflour demi melarikan diri dan bertemu secara kebetulan dengan Vinter, seorang laki-laki yang menarik perhatiannya lewat mata biru yang mengingatkannya pada simbol salju. Hari demi hari Florence lalui di Honflour bersama Vinter. Petualangannya bersama pemuda itu menyisakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan pada harinya dia harus meninggalkan Vinter untuk memenuhi janji pada ayah dan ibunya untuk pulang. Aku jadi ingat drama Rooftop Prince yang juga dihiasi dengan kebetulan-kebetulan seperti dalam novel ini. Sungguh, aku pasti sangat terkejut jika menjadi Florence. Mengapa? Yah, lebih seru baca langsung saja di novel ini.

Satu hal yang agak mengganggu saat membaca novel ini adalah, tempo alur yang berubah dengan cepat. Seolah terkesan terburu-buru. Namun itu semua tidak menjadi masalah dan aku tetap menikmati novel ini. Selain aku menyukai novel dengan setting luar negeri, puisi-puisi dan trivia tentang budaya dan musik klasik dalam novel ini membuatku memiliki pengetahuan lebih.

Novel ini memiliki nuansa romantis, melankolis dan dingin. Bukan dingin yang negatif, tapi sejuknya musim dingin. Suasana Eropa, Paris, membuat kesan klasiknya makin kental, terlebih lagi dengan ide menjadikan karakter-karakternya memiliki profesi sebagai seniman, pemain teater, pelukis, dan musisi membuat kesan seperti benar-benar membaca kisah klasik dari Eropa.

Dan saya sedikit bertanya-tanya, mengapa selalu Paris dan Rusia? Sepertinya penulisnya sengaja ingin membangun image karya-karyanya sebagai kisah klasik yang dramatis yah... ^_^

Senin, 03 September 2012

Then I Hate You So [book review]

Judul: Then I Hate You So
Penulis: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Halaman: 320 hlm

Aku gak bisa menikmati jalan ceritanya. Karakternya. Penyampaian penulis tentang alur dan adegannya membuatku tidak merasakan apa-apa ketika membacanya. Mungkin sebagaian pembaca sudah menamatkan novel ini, tapi aku tidak bisa terus membacanya. Jujur, aku kecewa karena ekspektasiku besar untuk novel ini yang bersetting Korea dan Jepang. Dua negara yang menjadi favoritku namun entah mengapa aku tidak bisa terbawa atmosfer yang ada dalam cerita ini. Aku jujur, aku berhenti tanpa mengetahui kelanjutan ceritanya karena semakin aku membaca semakin aku kecewa dengan gaya penulisan yang menurutku tidak cukup menyampaikan rasa karakternya. Aku bukan ahli dalam menilai tulisan seseorang karena aku pun masih belajar menulis juga, namun aku ingin berkata jujur pada penulisnya tentang cara bertuturnya yang terlalu kaku dan tidak mengalir seperti air. Seperti membaca artikel berita saja di bagian pertama novel ini. Kesanku, 'loh, ini novel apa laporan kejadian,sih?' maaf, bukan maksudku untuk mencela atau menyakiti, tapi itulah yang kurasakan ketika membacanya. Aku berusaha bertahan dan terus membaca, namun baru sampai di bab awal (2-3) aku berhenti, karena apa? Karena aku tidak begitu tertarik setelah mencapai bab dimana karakter-karakternya terasa tidak nyata. Satu hal lagi, mungkin karena aku tidak menyukai gaya penulisan Andry ini yang menurutku terlalu lugas dan kurang terasa sastra atau bahasanya kurang puitis. Aku cenderung menikmati tulisan yang mengalir seperti air dan meninggalkan bekas teduh dan melankolis setelah membacanya, jenis-jenis novel yang syarat akan makna puitis dan kental dengan perasaan karakternya. Hal-hal itulah yang tidak bisa kudapatkan dari novel ini dan berakhir dengan aku tidak melanjutkan membaca. Mungkin lain kali aku akan membaca ulang novel ini jika moodku cocok, untuk melihat lagi kenapa aku menaruhnya kembali ke meja dan mengambil novel judul lain karena merasa 'lelah' membaca cerita yang menurutku tidak memiliki benang merah di awalnya. Tapi aku menunggu karta Andry selanjutnya, dan berharap akan memiliki 'crush' dengan karya berikutnya! ^_^
Sekian terimakasih dan mohon maaf sebelumnya.

Remember When [book review]

Judul : Remember When
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media (2011)
Halaman : 252 hlm
ISBN : 9797804879

“Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa.”
Pertama yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah sinopsisnya. Membaca sinopsisnya terasa menyayat hati. Begitulah, aku suka sinopsis yang sudah mampu mencuri perhatianku dengan kata-kata yang tertata rapi dengan makna yang dalam. Aku tidak mengira bila novel ini adalah novel remaja pada umumnya. Ceritanya menurutku sederhana, ide-ide ceritanya pun menurutku sudah sering dipakai oleh penulis lain. Tentang kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia. Empat sahabat yang disatukan dan dipisahkan karena satu hal, yang semua orang sebut sebagai cinta. Kisah remaja SMA yang sudah-sudah memang lebih sering tentang pacaran, putus-nyambung lalu happy ending. Namun entah mengapa Remember When ini membuatku melihat Freya, Adrian, Moses dan Gia seperti aku melihat kejadian nyata. Mereka, perasaan-perasaan mereka, dan kisah mereka seolah begitu real. Perasaan-perasaan yang terbangun pada masing-masing karakter membuat novel remaja ini tidak terkesan picisan seperti kebanyakan teenlit yang hanya mengandalkan konflik jatuh cinta dan pacaran-putus-nyambung lalu happy ending. Remember When, berkat cara penulisan yang bagus telah menegaskan bahwa ide cerita sesimpel dan sesederhana apapun bisa dibuat istimewa dengan cara penulisan dan rangkaian alur dan plot yang tepat.

Freya dan Gia. Dua sahabat yang seperti langit dan bumi. Freya dikenal sebagai gadis yang pintar, introvet dan antisosial entah bagaimana menemukan kecocokan dengan Gia yang dikenal lebih supel, periang, pandai bergaul dan tentunya memiliki kecantikan dewi khayangan. Kisah Remember When ini diawali saat keduanya menerima pernyataan cinta dari Moses dan Adrian yang juga merupakan sahabat karib.

Moses dan Adrian. Keduanya tumbuh dan besar bersama sebagai sahabat sejak kecil hingga merekapun saling mengetahui baik-buruknya masing-masing. Seperti Freya dan Gia, Moses dan Adrian juga merupakan dua pribadi yang bertolak belakang namun bisa menjadi sahabat. Moses lebih cenderung pendiam, kalem dan kutu buku seperti Freya. Sedangkan Adrian lebih ceria, ekspresif, dan populer. Moses adalah tipe cowok kalem yang suka menghabiskan waktu duduk belajar atau membaca buku sedangkan Adrian lebih memilih bermandikan keringat di lapangan basket.
Dan keempatnya memiliki kisah yang klise. Pernyataan cinta, hubungan yang mulai berubah seiring perubahan hati dan pada suatu ketika apa yang sudah mereka tata rapi memang selayaknya dipugar. Mengapa? Karena di tengah perjalanan, mereka menemukan cinta yang tidak lagi bisa disembunyikan, yang terjalin pada dua orang yang ‘dulu’ tidak mungkin terjadi.
Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang membaca kisah Remember When ini. Jadi sepertinya saya tidak akan mereview kisahnya sampai detail, (tidak ada spoiler lebih dari itu). Aku suka mendalami karakter-karakter novel yang kubaca, karena itu aku bisa belajar membuat karakter yang kuat untuk tulisanku sendiri. Nah, di sini aku khusus untuk mendalami karakter Moses. Mengapa Moses? Hm, karena dari Freya, Adrian, Moses dan Gia, Moses-lah yang entah bagaimana kurasa kurang kuat, kurang memiliki sikap. Entah mengapa, di kisah ini dia terkesan tidak begitu memiliki bagian (padahal bukannya ada empat karakter utama ya di sini?). Selain itu aku menemukan sedikit keburukan pada Moses yang memberikan kesan dia terlalu sempurna. Baiklah, inilah Moses di mataku.

Moses. Namanya terdengar asing bagiku karena belum pernah mendengar sebelumnya. Pemuda ini dikenal sebagai ketua OSIS yang memegang peringkat paling atas di sekolah. Pintar bahkan genius, begitulah Moses. Hari-harinya diisi rapat-rapat OSIS, bimbingan belajar, mengerjakan PR, membaca buku dan hal-hal lain yang sepertinya semua anak pintar lakukan. Namun aku tidak tahu mengapa Mbak Winna Efendi tidak memberikan deskripsi penampilan Moses secara fisik. Apakah dia tampan, biasa-biasa saja, aku bahkan nggak keren sama sekali, aku tidak tahu. Hanya ada satu hal ciri dari Moses, yaitu kacamatanya. Jadi gambaranku tentang Moses adalah cowok berkacamata, berseragam abu-abu putih rapi nan kelimis dan berwibawa karena dia ketua OSIS. Tidak ada ciri-ciri fisik tentang seperti apa wajah Moses hingga aku kesulitan membayangkan seperti apa Moses itu. Jika aku berpikir Adrian itu mungkin mirip Zac Efron di High School Musical, Gia seperti Selena Gomez dan Freya seperti Emma Roberts, maka aku tidak bisa membayangkan aktor siapa yang mewakili wajah Moses. Oh, Moses...aku penasaran seperti apa kamu dimata Mbak Winna sebenarnya...

Nah, lebih jauh tentang Moses adalah...aku nggak bisa lebih mengenalnya karena menurutku dia tidak mendapatkan lebih banyak porsi untuk menggambarkan perasaannya lebih jauh. Berbeda dengan Adrian dan Freya yang seolah-olah memiliki lebih banyak ruang untuk bercerita (ingat, Remember When dikisahkan dari sudut pandang masing-masing karakternya). Selain itu Moses berbeda dengan yang lain. Jika Freya memiliki masa lalu pahit karena kehilangan ibunya, dan begitu pula Adrian maka Gia memiliki kisah pahit karena dia sudah merelakan hal yang paling seorang gadis jaga untuk diserahkan pada Adrian meski pada akhinya mereka tidak bisa sama seperti dulu. Apa yang Moses miliki? Apakah hanya luka karena pengkhianatan pacar dan sahabatnya saja? Kurasa dari keempat karakter ini, Moses memiliki nasib yang lebih beruntung daripada yang lain. Freya dan Adrian sama-sama kehilangan ibu. Tapi Moses? Apakah Moses memiliki sedikit saja sejarah hidup yang pahit? Ini membuatku tidak bisa bersimpati pada Moses. Dia terlalu baik, terlalu sempurna. Setidaknya ada satu konflik yang Moses sendiri miliki, mungkin riwayat cintanya pernah ditolak atau dia mencintai seseorang tapi tidak sempat meraih, atau mungkin konflik keluarga seperti yang Freya dan Adrian miliki. Itu yang aku lihat dari Moses.

Mungkin Mbak Winna akan menjawab pertanyaanku, “Mbak, Moses itu kalau jadi nyata mirip aktor siapa, yah?” Hahaha, dan selain itu ada hal yang membuat Moses menjadi agak misterius, hm...Moses emang agak-agak misterius dengan segala sifat-sifatnya. Dan entah mengapa aku jadi terpikirkan apakah Mbak Winna akan membuat kisah Moses sendiri nantinya.
Sekian review dariku yang lebih fokus pada karakter Moses. Review ini memang khusus kubuat setelah membaca ulang Remember When yang sebelumnya sudah pernah kutulis review novelnya. Untuk mengingatkan kesan lagi, awal aku membaca novel ini kurasa ini tidak lebih dari novel-novel remaja biasa. Kebanyakan dan sudah standar dan bahkan konfliknya sangat klise dan cenderung seperti cerita sinetron. Tapi karena keajaiban cara menulis Mbak Winna lah yang membungkus kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia menjadi lebih dari sekedar cerita remaja saja. Seperti yang kukutip di awal review ini, Remember When memiliki makna yang mendalam.

“Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya,”

Namun ironisnya, tidak semua cinta seperti itu. Itu cinta Freya dan Adrian. Bukan Moses atau Gia. Dan bukan pula yang kurasakan. Cinta memiliki jalannya sendiri untuk mempertemukan kedua belahan jiwa, kurasa seperti itulah.