Senin, 27 Februari 2012

The Windflower Book Review

The Windflower - Pemenang RRA Award untuk kategori Best Classic Historical Romance (1994)

Judul: The Windflower – takluk di bawah pesonamu
Penulis: Sharon dan Tom Curtis
Penerbit: GagasMedia
Alih bahasa: Endang Sulistyowati
Halaman: 626 hlm
Tahun terbit: 2011
ISBN: 9789797805142
Genre: Dewasa/Adult

Sinopsis:
Merry Wilding mendambakan petualangan... namun yang dia dapat malah penculikan dan dikirim ke kapal yang paling ditakuti di lautan.

Merry tidak punya pilihan lain kecuali tunduk pada perintah pemilik kapal, sang bajak laut misterius berambut keemasan. Dan meskipun kata-kata setajam duri sering meluncur keluar dari sana. Bibir itu juga yang mengenalkan gadis itu pada ciuman memabukkan yang tak akan pernah dia lupakan. Laki-laki itu tampak begitu berbahaya, sekaligus membuatnya hampir tak bisa bernapas karena dikuasai gairah.

Devon Crandall hanya bermaksud untuk merayu tawanannya itu sedikit dan mengorek informasi darinya. Tapi dia tidak pernah menduga sepasang mata biru milik perempuan itu bisa membuat Devon semakin mengingininya.

Sang bajak laut dan tawanannya saling membujuk, saling menggoda...siapa akhirnya yang jadi pemenangnya?


My review:

The First is always about the cover. Dari semua edisi The Windflower baik dalam bahasa inggris atau yang sudah diterjemahkan, cover dari Mbak Anissa dari GagasMedia ini yang paling bagus dan sesuai dengan mata saya. Windflower itu sendiri adalah nama sejenis bunga yang menjadi sebutan untuk Merry dari Devon. Desainnya bagus seperti sebuah lukisan cat minyak. Always nice to see the cover.

Well, seharusnya saya pikir ulang untuk membaca novel bergenre dewasa. Ingat, DE-WA-SA. Tentunya saya sempat syok dan semakin terperangah dengan plot-plot yang menggambarkan genre dewasa tersebut. Tapi di sisi lain, cerita yang ditulis oleh pasangan suami-istri Sharon dan Tom Curtis ini sebenarnya menarik, tentunya bukan dilihat dari seberapa intens adegan romantis di sini.

Kisah yang menceritakan penculikan Merry dari kapal yang akan membawanya ke Inggris menjadi semakin menegangkan dan membuat ‘petualangan’ tidak terbayangkan. Merry, gadis yang polos tidak pernah tahu dunia luar kecuali ladang jagungnya, harus berhadapan dan mengalami serangkaian kejadian yang menyedihkan, memalukan dan menegangkan bersama segerombolan perompak di Black Joke. Belum lagi dia harus berurusan dengan pria misterius bernama Devon. Devon salah satu perompak di sana. Namun pesonanya sama sekali tidak memancarkan perompak bengis dan kejam, tapi bukan berarti Devon tidak memiliki sifat perompak itu. Merry harus menerima perlakukan tidak menyenangkan bahkan menyakitkan jika Devon mulai tidak bisa menguasai akal sehatnya. Tapi saat itulah, mereka berdua mulai menyadari bahwa sejak pertemuan pertama mereka di kedai minuman, dimana Merry dibawa oleh Carl, kakaknya untuk menggambar wajah-wajah perompak itu untuk kepentingan pemerintahan Amerika, mereka sudah jatuh cinta.

Perjalanan kapal Black Joke benar-benar memberikan banyak pelajaran pada Merry. Hingga cinta yang murni itu terbukti ketika malaria menyerangnya. Devon seperti orang gila karena setiap detik dia mengkhawatirkan kondisi Merry yang semakin buruk. Di sinilah Devon menampakkan betapa dia menyayangi Merry. Namun perlahan misteri di antara Merry dan Devon yang mereka sembunyikan mulai terkuak. Sang perompak dan tawanannya, mereka sudah mengetahui rahasia mereka.

Di luar bagaimana adegan yang menurut saya terlalu ‘romantis’, saya menyukai ceritanya, kecuali pada bagian yang membuat kepala saya pening. Yah, bisa dibaca sendiri novel yang menerima anugerah RRA tahun 1994 sebagai Best Classic Historical Romance ini, asalkan sudah sesuai dengan usia (Hehehehe). Baru di bab ke-24 dari 32 bab saya menyukai kisah ini. Tentang bagaimana takdir ternyata memang sudah berkata bahwa Merry dan Devon akan bersatu, tentang cinta yang bersatu dalam sebuah pernikahan. Tidak menyangka jika hubungan ‘aneh’ sang perompak dan tawanannya yang selama di kapal menjadi semakin aneh dan menegangkan itu berakhir dengan manis. Pada bagian bab ke 32, endingnya, saya sebut itu yang manis, bukan romantis ala novel-novel bergenre dewasa, yaa...

“Merry Wilding, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan di dunia ini,” ujar Devon dengan suara yang sangat lembut, “Mungkin termasuk satu atau dua hal yang tidak kau inginkan, Tapi pertama-tama, Cinta, aku akan memberikan namaku,”

Bukankah itu bisa disebut sebuah lamaran yang sangat manis? Siapa yang menyangka jika Devon adalah seorang the Duke of Cyr?

Ada beberapa bagian yang membuat narasi menjadi terlalu membosankan dan menjenuhkan. Narasi yang terlalu bertele-tele dengan kalimat berfrase panjang memang identik terjadi di novel terjemahan karena memang bahasa awalnya, bahasa Inggris, memiliki susunan kalimat yang tidak sesederhana bahasa indonesia. Saya tidak tahu apakah plot romantis di sini yang menjadikan novel ini meraih penghargaan, apakah karena penulisnya menggambarkan bagaimana adegan dua tokoh yang saling jatuh cinta itu yang membuat novel ini istimewa? Tapi menurut saya yang membuat novel ini berkesan baik dan bagus bagi saya adalah beberapa dialog yang saya kutip dari Merry dan Devon.

Quotes:

“Betapa indahnya hidup kita. Aku memberimu hidupku dan semua momen di dalamnya,” – Merry

“Dan, aku akan memberimu hidupku, dalam kedamaian, dan jika datang cobaan yang berat, aku juga akan memberikan jiwaku padamu,” – Devon.

“Cintaku, aku akan selalu membawanya bersamaku, dan menjaganya,” – Merry.

Untuk yang ingin membaca kisah perompak dan tawanannya ini, harus membaca sendiri bagaimana petualangan dan kisah yang terjadi di atas kapal Black Joke ini. Tapi tidak disarankan untuk pembaca remaja di bawah sembilan belas tahun yaaa... Ini genrenya belum sesuai untuk yang masih unyu-unyu dan imut-imut. Masih ada novel lain yang sesuai dan bagus kok. Inget, novel juga punya standarisasi usia yang membatasi siapa boleh membaca. Jadilah pembaca yang bijak dengan memilih bacaan yang sesuai dan bermanfaat, serta mendukung usia kamu. You should find the right and appropriate one to read if you want to have good mind after reading the book. Always nice to be wise, right? Ingat itu yaa. Saya juga akan menerapkan cara ini. Setelah ini lebih baik saya mengkonsumsi genre remaja dan anak-anak saja, bagi saya sendiri saya belum pantas membaca genre dewasa, *inget usia yang remaja bukan dewasa juga bukan...*

Dan saya nggak bisa membayangkan bagaimana jika novel ini difilmkan. Oh, Tuhan, tidak... *mungkin saya nonton yang udah disensor saja deeeh..., :P* Seandainya novel ini bukan genre dewasa, atau setidaknya masih di level remaja yang ringan-ringan, saya akan menjadikan The Windflower sebagai favorit saya. Tapi, sepertinya ada yang lain untuk jadi pilihan. Cukup dengan tiga bintang dari lima bintang saya.

Jumat, 24 Februari 2012

Once Upon a Love Book Review

Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu. Pertahananku begitu rapuh akan pesonamu. Potongan-potongan kejadian indah berlompatan, menyesaki benakku dengan imaji dirimu; dari caramu membuatku tersipu, tatapan dalam langsung ke arahku, sampai kata-kata manis yang kuingat selalu.

Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu. Kau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang harusnya kusimpan di dalam kotak dan kubuang jauh-jauh….

Dan di suatu hari tak terduga itu, aku tersenyum dan menangis pilu karena dirimu

Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: GagasMedia
Tahun: 2011
Halaman: 192 hlm

my review:

Entah bagaimana Ferio sudah hadir dan tinggal di hati Lolita. Ya, Lolita mencintai Ferio dengan segenap hati dan segalanya. Mendamba padanya dan mengharap padanya. Lolita menginginkan Ferio sebagai cintanya.

Lolita. Nama itu mungkin pernah hadir dalam hari-hari Ferio. Namun tak sebanding dengan bagaimana Drupadi mengisi semua harinya, mendampinginya, bersahabat dengannya, lalu jatuh cinta padanya. Setidaknya Ferio merasa jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Drupadi mungkin memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat padanya, namun Ferio tidak pernah tahu jika untuk memilikinya saja seperti hal yang mustahil akan terjadi.

Drupadi begitu mengenal Ferio melebihi siapapun. Gadis itu terlalu memasuki kehidupan pemuda itu dalam-dalam dan dia sadar jika dia sudah tinggal di sana begitu lama, begitu dekat. Dia sadar jika ada perasaan yang mulai tumbuh menindih rasa persahabatan itu. Mengubahnya merasakan kenangan manis dengan Ferio, Banana Boy itu. Namun, persahabatan, cinta dan keyakinan membuatnya harus memilih di antara ketiga hal itu. Drupadi meninginkan Ferio, namun dia tidak bisa. Karenanya dia tidak memilih cinta.

Seperti rantai yang tak bersambut, Ferio harus menerima keputusan Drupadi untuk tidak pernah menjalin hubungan selain persahabatan. Dan malangnya Lolita harus merasakan nasib yang sama seperti Ferio. Cinta mereka tidak pernah bisa bersatu. Ketiganya. Drupadi... Ferio... Lolita... mereka seperti anak rantai yang lepas dari kaitannya.

Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan...sebuah kisah yang indah menyakitkan.


"You Better Move On." -Ferio to Lolita.
-Once Upon a Love by Aditia Yudis.


find also in http://www.goodreads.com/book/show/12983905-once-upon-a-love

Selasa, 21 Februari 2012

SeoulVivor a giveaway from @KoreanUpdates and Penerbit Haru


A lot of thanks and grateful to @KoreanUpdates @sayaquavi @t4tz18 for Seoul Vivor gift!
I just can’t believe that I was one of the 5 winners of #KadoTahunBaruKU


Ketika dapat info tentang kuis menulis itenary ke Seoul ini, awalnya aku kurang percaya diri untuk ikutan, tapi karena semangat menulis dan pergi ke Korea suatu hari nanti...aku ikut juga. Bahkan diawal sampai salah menulis alamat Twitter, tapi terimakasih banyak pada admin Joo yang ngasih ijin diperbaiki.
Announcement via Twitter:


Buku Seoul Vivor emang kereen banget dan bermanfaat untuk Kpoppers seperti saya ini yang ingin sekali ke Seoul! Daebaak @KoreanUpdates @sayaquavi @t4tz18!!!
I know how hard to elect the contestants. But, a big great thanks for you all!

###

My Book Review of SeoulVivor
Penulis: Lia Indra Andriana dan Tatz Sutrisno
Penerbit: Haru
Halaman: 210 full color
ISBN: 9786029832525

Fangiriling adalah hal yang sangat diimpikan oleh K-poppers. Bisa berkeliling Korea Selatan, Seoul adalah impian yang terwujud melalui buku ini. SeoulVivor sudah sharing banyak hal bagi pemula yang ingin fangirling sampai ke sana. Buku ini menyuguhkan itenari perjalanan ala pemula yang tetap nyaman asik dan menyenangkan dilengkapi dengan gambar dan ilusitrasi menarik full colours. SeoulVivor tentunya patut dimiliki dan dibaca oleh siapapun K-poppers itu! Daebaaak dua eonnie yang sudah melancong hingga Seoul, I do hope that someday I gotta be there!!! Big thanks to two of writers and Korean Updates!

Sunshine Becomes You a Book Review


Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2012
Halaman: 432 hlm
ISBN: 9789792278132

Sinopsis:
Ini kisah yang terjadi di bawah langit New York... Tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan... Tentang impian yang bertahan di antara keraguan... Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.
Awalnya, Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu-malaikat kegelapan yang membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa, dan Alex bertanya-tanya bagaimana dia bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapan.
Awalnya, mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai-sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.


My Review:

Alex Hirano harus menerima jika pertemuan pertamanya dengan gadis bernama Mia Clark itu akan menjadi bencana bagi karir pianisnya. Jadwal sepanjang tahun harus dia batalkan karena tangannya harus dibebat setelah gadis itu terguling dan menubruknya. Membuatnya cacat, begitu Alex selalu mengungkit masalah. Sementara Mia adalah seorang gadis yang penuh perasaan bersalah, dan tulus ingin membantu. Guru tari di sekolah tari di New York itu menawarkan waktu-waktunya yang berharga untuk membantu Alex di rumahnya, ya sebagai pengurus rumah dan pembantu. Setidaknya begitulah kesepakatan yang mereka jalani. Mia menawarkan bantuan sukarela namun dia tidak tahu dengan siapa dia berurusan. Alex, si pangeran es ini cukup memperlakukannya dengan tidak baik namun ternyata benih lain mulai tumbuh di antara mereka.

Itu diawali saat Alex melihat tarian Mia di sekolah lamanya, Julliard. Mereka tidak tahu jika dulu mereka satu almamater. Saat itu Alex terpesona pada malaikat kegelapannya. Namun dia sadar, jika Ray Hirano, adiknya itu juga mengincar gadis bermata hitam itu.
Cinta tumbuh di antara Alex dan Mia, begitulah jadinya. Namun di tengah derita penyakit jantungnya Mia ingin menyembunyikan hal itu dari Alex karena dia tidak ingin mengkhawatirkanya, hingga Alex menemukan sendiri jika ternyata gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta pada kopi buatan Mia itu mengidap penyakit jantung. Saat Mia memutuskan untuk kembali ke panggung pertunjukan, Alex sangsi karena kondisi Mia yang tidak baik. Namun itu mimpi Mia seumur hidupnya dan dia memilih, dia sudah memilih.

Serangan itu terjadi setelah pertunjukan selesai. Serangan yang membuat Mia harus dirawat intensif di rumah sakit. Saat itulah menjadi hal yang paling memilukan, Mia ingin menghindar dari Alex karena tidak ingin menambah beban pria itu. Namun Alex tidak bisa hidup tanpa berada di sisi Mia. Dan maut yang harus memisahkannya. Lagu yang Alex buat tatkala dia ingat pada Mia, Sunshine Becomes You, adalah lagu yang mengingatkannya tentang cahaya matahari dan rumput hijau saat pikirannya tertuju pada Mia.


I’d like to apriciate Ilana Tan who paint a lot of colours here, in her fifth novel, Sunshine Becomes You. It’s been always surprising since her writing has proven that imagination and words combined into a bundle of amazing papers. Ilana Tan selalu membawa pembacanya ke alur cerita yang melankolis dan lembut. Tidak membuat pembacanya bosan di tengah karena pengantarnya sudah menarik pembacanya dan mungkin meski endingnya sudah tertebak, tetap saja akan ada senyum dan airmata yang mengakhiri lembaran novelnya ditutup. Kisah Alex Hirano dan Mia Clark bukanlah ide cerita yang spesial. Mereka bertemu, membenci, jatuh cinta dan salah satu harus meninggalkan salah satunya. Namun, sekali lagi dengan balutan setting dan diksi kata yang membuat pembaca tidak pernah merasa jenuh membuat semuanya terbaca dengan spesial. Namun saya lebih menyukai Autumn in Paris karya dari tetralogi 4 Musim karya Ilana Tan. Kisah Alex dan Mia di Sunshine Becomes You tidak sememilukan Autumn in Paris yang membuat saya menitikan airmata hingga halaman terakhir 4 of 5 stars to Sunshine Becomes You.

Jumat, 10 Februari 2012

Just The Way My Antifans Hate Me [Kuis: My Antifan Story Penerbit Haru]

So, I Married the Anti-fan


Judul : So, I Married the Anti-fan
Penulis : Kim Eun Jeong
Genre : Romance, comedy
Kategori : Fiksi, novel terjemahan
ISBN : 978-602-98325-4-9
Tebal : 550 hlmn
Harga : Rp. 60.000 (PO Rp. 54.000+ongkir)
Terbit : Maret 2012

Sinopsis

Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi… Aku adalah antifan-nya.

H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.

Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan

Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti. Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya.

Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikitpun maka mereka tidak segan-segan untuk bertindak.

(untuk info lengkapnya silakan berkunjung ke Penerbit Haru atau ke Twitter @penerbitharu)

====================================================================
My Antifan Story: Jika Aku Idola dan bertemu Antifan-ku


Just The Way My Antifans Hate Me


“Hai,” suaraku kuusahakan terdengar tenang dengan senyum tertarik manis di wajah. Tapi pemuda di depanku malah menyipitkan mata padaku dan berkerut kening. Senyumanku tidak dibalas, senyum yang sudah kulukis dengan kanvas wajah terbaikku dan ketulusan yang masih tersisa dari panggung konser yang baru saja aku turuni. Tapi, pemuda berjaket hitam dengan tulisan ‘Hate You’ itu membuatku terpaku dan menelan ludah. “Dia antifanku,”

Well, berbicara tentang idola dan antifan adalah hal yang sangat menarik. Semua yang diidolakan pasti memiliki kubu berseberangan, kubu yang tidak menyukainya atau alih-alih menyukai, mereka membencinya dan menyebut kubu mereka Antifan. Sebagai idola, keberadaan antifan itu juga merupakan suatu titik penting, sama seperti fans. Membayangkan diri saya dielu-elukan oleh fans yang mencintai saya namun di sisi lain, sekelompok orang mencibir dan merendahkan pasti kecewa rasanya. Dan apa lagi jika bertemu langsung, bertatap muka dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Pastilah antifan saya itu akan memicing ke arah saya dengan dahi berkerut dan diikuti kata-kata yang tidak enak didengar. Tatapan benci bagi siapapun tidak menyenangkan, apa lagi bagi idola yang banyak dicintai tapi juga banyak dibenci. Yah, serba salah memang. Sebagai idola saya nggak bisa memaksa mereka untuk berhenti menjadi antifan, terlebih meminta mereka untuk menyukai saya. Seandainya saya menjadi idola, lalu di suatu kesempatan setelah menggelar konser atau apa, dan bertemu dengan seorang antifan... saya akan tersenyum lembut karena saya tidak membenci antifan, meskipun mereka secara nyata membenci saya. :D. Bersikap seperti apa adanya, dan mencoba mencari hal apa yang salah pada diri saya hingga dia menjadi antifan saya.

Katakanlah saya seorang penyanyi wanita tersohor di antero dunia, kemudian harus menikah dengan orang yang sudah dijodohkan orang tua dan bingo! Dia adalah antifan saya. Setengah bencana, setengah anugerah. Saya harus bersiap-siap menjalani hidup dengan orang yang tidak menyukai saya dan mencoba untuk membuatnya menyukai saya, in case dalam keadaan seperti itu. Tapi hal yang lebih penting adalah, antifan bukan hanya sekedar orang-orang yang anti pada kita (idola), mereka adalah pengingat bagi idola untuk terus memperbaiki diri, berinstrospeksi diri dari apa-apa yang mereka kritikkan pada kita. Antifan itu justru menjadikan dunia idola menjadi lengkap. Dunia idola harus tetap seimbang dengan adanya fans dan antifans.

Tapi di sisi lain saya yakin, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan bisa saja seorang antifan akan berubah menjadi big fan yang justru mendukung idolanya suatu saat. Bukan berarti hal itu tidak mungkin, karena setiap hal memiliki kemungkinan. Begitu juga fans, mereka pun bisa berubah, yang tidak terlalu parah mungkin mereka tidak lagi mengidolakan saya, atau mengidolakan idola lain. Itu bukan suatu masalah yang harus dibesar-besarkan bagi saya. Tapi jika fan malah berubah menjadi antifan, itu artinya saya sudah tidak berhasil menjadi idola yang fans saya harapkan dan itulah waktu saya sebagai idola, untuk memperbaiki diri lagi.

“Jadi, apa yang kamu sukai dariku?”

Manekin yang mungkin terbuat dari es itu tidak bergeming atau tampak ingin menjawab. Tangannya berkacak pinggang sedangkan matanya memicing dengan seribu alasan dia membenci seorang superstar sepertiku ini, aku mencari-cari dari sekilan ribu alasan itu, berharap ada satu hal yang dia sukai dariku.

“Yang aku suka, yang aku suka aku membencimu,”

Aku menelan ludah, baiklah...aku ini bintang terkenal, wanita pula...jadi aku tidak akan bersikap sembarangan, “Kau tahu kenapa aku tidak menghalangimu dan teman-temanmu yang membenciku itu merusak konserku tadi? Kau tahu alasan aku diam saja saat kalian melemparkan telur ke panggung tadi?”

Aku akui antifanku ini mirip dengan idolaku sendiri, seorang aktor film action yang sudah merajai perfilman internasional, tapi dia membenciku.

“Karena aku mencintai antifans-ku, aku menyayangi mereka,”

Dia terbelalak hingga manik matanya nyaris jatuh ke lantai. Sebelum dia semakin tidak percaya aku lanjutkan kalimatku, “Kau, ya..memang antifanku. Tapi bagaimana jika idola yang kau benci ini mencintai antifans-nya?” aku tidak tahu jika dia semakin tersentak kaget. “Eh...aku bukan bermaksud aku mengatakan aku mencintaimu lo, yaa...”

Dia pingsan.


Sekian.

@sofiadhe ditulis dalam rangka partisipasi dalam Kuis My Antifan Story oleh Penerbit Haru ^_^

Infinitely Yours: Book Review

Judul Novel: Infinitely Yours
Penulis: Orizuka
Genre: Teen Romance (Young-Adult)
Penerbit: GagasMedia
Desain Cover: Jeffri Fernando
Halaman: 294 hlm

Sinopsis

Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi bagaimaba caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?
Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri-dan menjauhkan hati-pada akhirnya akan bertemu kembali.
Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya... Kau, aku dan perjalanan ini.


Benarlah, cetakan pertama novel ini adalah tahun 2011 dan saya baru membaca di cetakan pertama di tahun 2012. Saya sadar sudah hampir setahun atau belum genap setahun saya dihantui sosok Jingga yang entah mengapa membuat saya benar-benar ingin bunuh diri seperti yang dirasakan Rayan. Oh, Om Rayan... kasihan banget kamu Om... aku sampe pengen terjun dari kasur ke lantai baca kisah Om sama mbak Jingga yang kelewatan childishnya. Hahaha, mbak Orizuka suka banget ya nyiksa karakternya, om Rayan apa kabarnya mbak? Hehehe. Oke, ini review..bukan curhatan. Kembali ke novel.

I judge a book by its cover, at almost always. Jadi, sudah pasti kakak Jeffri yang mendesain covernya ini bikin saya jatuh hati, lagi-lagi. Dan baru setalah cetakan keduanya terbit, saya baru bisa membacanya, meskipun hanya pinjaman. Hiks, tapi tenang kok Mbak Orizuka, aku akan beli novelnya kok. Hehe..

Saya nggak tahu harus mulai dari mana. Mbak Orizuka nyaris nggak memberi saya kesempatan untuk mencari kesalahan dan titik lemah novel ketigabelasnya ini. Saya memang pembaca yang agak jahat, mencari letak kekurangannya, hehehe... ya setidaknya saya bisa menyeimbangkan rasa cinta itu dengan sedikit rasa menyelidiki.. looh apa hubungannya. Jadi, saya bingung harus berbicara kekurangannya, mari kita bicara tentang point positifnya.

Pertama. Jingga dan Rayan. Makhluk yang mungkin berasal dari planet yang berbeda ini membuat saya junkir balik, ketawa-ketiwi, sampai menangis maraung *haaalah, lupakan*. Bagi yang sudah membaca novel ini, saya nggak harus jelasin lagi, this novel tells you all. Tapi bagi yang belum, beneran deh, siap-siap bantal buat nyumbat mulut karena ketawa overtaking hingga juungkir balik meringis gemas karena perilaku Jingga dan Rayan yang... masyaallah...saya speechless dan mulai membayangkan apakah ada orang semacam mereka ini? Mereka berdua layaknya nyata. Sifat dan sikap mereka sama-sama punya sisi gelap terang yang jelas. Membuat mereka sepertinya benar-benar berseliweran setiap kali saya membuka halaman demi halaman novel bersetting Seoul ini.

Selain itu, analogi dalam cerita ini benar-benar BENAR. Teori tentang dua kutub magnet yang bertolak belakang jika kutub yang sama disatukan, dan sebaliknya dua kutub berbeda akan saling tarik menarik. Rayan dan Mariska itu kutub yang sama, namun Rayan dan Jingga adalah kutub yang berbeda. ‘Tuhan’ (baca: penulisnya) memang berencana membuat pembacanya memahami satu hal penting. Yaitu bahwa kesamaan atau persamaan tidak bisa bersatu dan bertahan lama, berbeda dengan perbedaan itu sendiri. Adanya perbedaan, itulah letak dimana dua hati itu disatukan dalam satu jalinan. Begitulah, jadi...yang sudah punya pasangan, dan sifat kalian berbeda seratus delapan puluh derajat, lebih baik syukurilah hal itu. Karena itu adalah cara Tuhan menyeimbangkan hidupmu agar tidak berjalan seperti permukaan datar. Life’s is never flat, and that’s the way of love too.

Kekurangan novel Infinitely Yours adalah... hm, mungkin terdapat di narasi tentang tempat-tempat lokasi plot ini ya. Deskripsinya seharusnya bisa lebih luwes dan mengena agar tidak terkesan sedang membaca itenary perjalanan. Tapi itu semua tercover dengan baik bersama cerita 294 halaman yang saya baca hanya dalam waktu semalam. Ini pertama kalinya saya memaksakan diri untuk membaca sebuah novel. Mbak Okke harus bertanggung jawab karena membuat saya lupa diri dan begadang dengan tawa-tawa menggelikan, kening berkerut gemas, dan airmata yang menganak sungai. What a kinda marvelous? Rasanya kayak nonton film, dan nggak pengen ada iklan satu pun yang nyelonong memutus cerita. Begitulah... sudah-sudah... saya bingung harus ngomong apa lagi. Dead speechless!

Maaf ya bagi yang baca... kalian jadi membaca setengah curhatan setengah review buku. T_T

Rain Over Me: Book Review


Judul Novel: Rain Over Me
Penulis: Arini Putri
Genre: Teen Romance
Penerbit: GagasMedia
Desain Cover: Dwi Anissa Anindhika
Halaman: 352 hlm

Sinopsis:
Ini cinta yang sulit. Kau dan aku ditakdirkan tak saling memiliki. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau.
Namun, ketika dia hadir dalam hidup-mu di antara kita-aku pun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggenggam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya. Dia melakukan semua yang ingin aku berikan padamu.
Dan hari ini, aku memandangi senja pertama yang kunikmati tanpa dirimu. Aku belajar berbahagia untukmu. Dia yang paling tepat. Aku tahu itu-tapi..., bagaimana denganku?
Bagaimana caraku bahagia tanpa dirimu?


Well, pertama kali GagasMedia memposting sinopsis ini melalui fanbase mereka di sini. Aku tersentak tak percaya. Sungguh, siapa pun yang menulis sinopsis itu pasti sudah sangat keterlaluan. Sedikit membuatku meratapi nasib yang sejalan dengan cuplikan singkat yang hanya ada di belakang cover biru nan indah itu. Dan sukses membuat saya mati kutu karena ingin segera membaca dan memiliki buku itu. Love at first sight dimulai dari desain cover birunya yang biruuuuu muda, warna seperti ini warna yang paling aku suka, langsung jatuh cinta tanpa alasan dan alasan itu muncul saat membaca sinopsisnya. GagasMedia memiliki buku-buku yang cantik luar dalam.

Dan, saya perlu perjuangan cukup berat untuk mendapatkan buku ini, meski tidak perlu berperang atau menyiapkan bom bunuh diri sih, *halah...apa sih?* sedikit bercerita, saya hampir saya berebut dengan seorang gadis yang juga hendak membeli buku itu. Tapi apa daya, daripada saya jadi pelanggan yang jahat, saya biarkan dia mengambil kopi terakhir novel ini sedangkan saya hanya bisa mencakar-cakar rak buku toko buku itu *stooop, sedikit berlebihan sih memang*. Dan Mbak Arini Putri telah membuat saya kembang-kempis merasakan drama dalam bentuk tulisan yang dia ramu dalam novel pertamanya ini. Rain Over Me secara keseluruhan bagi saya adalah novel bagus, favorit saya pula. Ceritanya sangat pelik, tapi tidak membuat pembaca berkerut-kerut kening karena bingung alur ceritanya. Yang utama, karakternya memang cukup bagus dan memuaskan. Tapi di sini ada beberapa kekurangannya:

Pertama, karakter Yuna dan Yoon Jeon-Seuk. Mereka berdua ini terlampau sempurna dan membuat saya jadi nggak begitu simpati. Hehehehe, Yuna baiknya minta ampun dan Jeon-Seuk berhati mulia seperti pangeran. Berbeda sekali dengan Hyun-Bin dan Chae-Rin yang memiliki sisi gelap dan terang yang seimbang, itu membuat 2 karakter tersebut lebih real untuk di kenali. Dan untuk ide cerita, sebenarnya ide cerita ini sudah banyak, namun karena penulisnya sangat pandai dan memiliki diksi yang bernilai lima dari lima bintang saya, kisah ini menjadi begitu menyentuh dan dramatic banget.

Kekurangannya masih sekitar typo dan kata ganti yang kurang tepat, kata ganti kepemilikan yang seharusnya –ku menjadi –nya. Dan beberapa cetakan yang kurang jelas. Tapi, tetap saja itu semua menjadi tertutupi dengan keseruan cerita ini.
Kelebihannya adalah novel ini seperti drama Korea, ya mungkin karena inspirasi mbak Arin ini juga datang dari sebuah drama Korea. Tapi overall benar-benar seperti drama. Point of view yang diambil dari setiap tokoh membuat pembaca seolah menonton kejadian lewat penuturan ‘aku’ sang tokoh itu.

Bagian favorit saya di novel ini adalah endingnya. Endingnya sudah tertebak, tapi bagian Jeon-Seuk yang datang ke TK tempat Yuna mengajar itu benar-benar ide bagus. Dialog mereka menyentuh sekali hingga saya tidak percaya kalau novelnya sudah habis saya baca. Pengen ada terusan cerita jadinya, (*eeh, jangan deh ntar malah jadi berepisod-episod kayak sinetron di negara in...*sensor*)

Untuk mbak Arin, teruslah menulis ya mbak. Aku tahu suatu hari nanti Kyuhyun-oppa akan berduet denganmu, eh... apa hubungannya coba? Hehehe, ya kali aja dia dengar novelmu dan terinspirasi membuatkan sountrack dan menjadikan novel mbak jadi drama beneran dan dimainkan oleh Kim Bum dan Kim So Eun. *ooke, ini mulai nggak jelas deh* But. Gamsa hamnida, eonni... Sudah berhasil menohok saya dengan sinopsis dan membuat saya tersenyum kembali dengan cerita eonni. ^_^ Hwaiting!

Kamis, 02 Februari 2012

Manusia Setengah Salmon: Book Review

Judul Buku: Manusia Setengah Salmon
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 264 hlm

Pertama, aku gak nyangka kalau akhirnya bisa baca buku ini karena awalnya aku gak pede lihat sampulnya. Sumpah bikin takut! Nah, tapi karena seorang temen yang demen banget sama Raditya, dia sama aku tukeran buku. Pas lihat sampulnya aja, bener kata bang Raditya Dika...bikin mau muntah. Anyway, akhirnya dua hari selesai baca buku ini dengan kesimpulan bahwa Manusia Setengah Salmon ini sebenarnya buku galau tingkat dewa (iiih lebaay), tapi kenapa tetep gak kehilangan sense humor dan kocaknya? Karena ditulis sama Raditya Dika.

Di awal-awal baca, rasanya aku kurang dapet sense humornya, entah kenapa meski sampai bab Bakar Saja Keteknya-yang kebanyakan jadi favoritnya pembaca-aku belum juga ‘ngeh’ dengan ini buku. Kebanyakan aku gak paham sama joke-nya dan ngerasa garing aja (hehehe, sorry ya bang Raditya, aku emang baru kali ini baca buku abang, *ditimpuk RadityaDika’s Lovers*). Nah, baru di bab setelah Jomblonology aku dapet apa itu yang aku sebut joke yang mendidik. Lebih Baik Sakit Hati, wiuuh...emang kedengerannya galau bin gamang. Tapi ini bab bikin pembaca mikir lebih dalem apa itu artinya sakit gigi sama sakit hati. Dan ternyata sakit gigi sama sakit hati itu gak beda jauh. Sakit gigi (seperti di bab Lebih Baik Sakit Hati) itu bisa jadi tanda kalau kita udah ngrasa jadi dewasa-tapi entah mengapa aku gak paham sama spekulasi ini. Well, bab ini jadi favorit aku karena ceritanya yang emang bener-bener bikin aku ngakak pas bacanya dan di akhirnya jadi mikir lebih dalem tentang hal sepele. Gini nih yang gua suka!

Di bab terakhir ‘Manusia Setengah Salmon’ kegalauan dan kegamangan’ terjadi seperti badai matahari. Kontras banget dengan bab-bab sebelumnya di awal yang penuh sama hal absurd dan konyol lainnya. Malahan di bab terakhir ini bang Dika muncul dengan begitu bijak memaknai apa itu ikan Salmon yang pindah-pindah. Bahkan sampai proton dan elektron aja tak luput dari sampel yang diambil bang Dika buat deskripsiin bagaimana seluruh hal di dunia-sekecil apapun-akan mengalami perpindahan. Well, di balik keabsurdan dan kekonyolan Manusia Setengah Salmon, ada banyak pelajaran yang harus bisa diambil. Kenapa kok harus? Karena sebagian banyak pembaca humor atau komedi pengennya cuma ambil sisi kocak dan menghiburnya dan lupa bahwa banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik.

Satu hal yang aku gak suka dari buku ini adalah...ehm, bukannya gak suka sih. Tapi lebih tepatnya ngeri dan takut. Itu adalah cover depannya. Dari sekian banyak bukunya bang Dika..cuma ini yang bikin aku ogah ngeliat sampulnya. Setiap habis baca Manusia Setengah Salmon, aku pasti nggak ngebiarin wajah Manusia Setengah Salmon itu kelihatan. Setiap kali aku lihat, aku jadi ngebayangi bang Dika bener-bener berubah jadi siluman setengah manusia setengah ikan salmon yang megap-megap di depan dokter gigi yang pengen nyabut giginya.

Aduh, salut yang bikin desain covernya, Adriano Rudiman, sukses bikin kucing tetangga gak mau makan ikan lagi.