Selasa, 06 November 2012

Menujuh [book review]



Judul             : Menuju(h)
Penulis     : Aan Syafrani, Iru Irawan, Mahir Pradana, Maradilla Syachridar, Sundea, Theoresia Rumthe dan Valiant Budi.
Penerbit      : GagasMedia (2012)
Halaman      : 250 hlm

Buku ini adalah persembahan dari @salamatahari (Sundea) atas terpilihnya fotoku dalam #KuisMenujuh yang diadakan @salamatahari dan @GagasMedia. Kumpulan cerita ini adalah buku kumpulan cerita kedua setelah Filosofi Kopi yang menjadi salah satu favoritku.

Menuju(h) bercerita tentang hari-hari yang bercerita. Hari-hari yang membentang selama satu minggu penuh. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu dan Minggu.

“Hari punya sistem pergantian yang teratur sehingga ia tak pernah merasa sesak karena ditinggalkan” – Menuju(h)

Ya, begitulah hari. Dia setia mengiringi manusia dalam pergiliran waktu.
Buku ini penuh warna. Masing-masing perncerita memiliki warna dan cara. Mencipta cerita berdasarkan nama hari-hari. Warna Senin tak sama dengan Kamis dan begitulah seterusnya. Mereka bercerita dengan hari-hari. Menghasilkan satu minggu penuh warna dan makna yang berwujud buku Menuju(h) ini.

Dan Jum’at, cerita di hari ini menjadi yang paling berkesan untukku.

Mahir Pradana.
Dia menulis dan bercerita tentang hari Jum’at. Dua ceritanya ‘Follow Friday’ dan ‘Moonliner’ adalah dua cerita yang terhubung, atau memang satu kesatuan cerita? Aku langsung menyukai sosok Safir meski di ‘Follow Friday’ dia jadi yang terintimidasi tapi itulaj proses dimana seseorang mulai menyadari bahwa dirinya pantas untuk mimpi yang lebih besar. Safir, sunggu dia akan menjadi penulis hebat masa depan.

‘Moonliner’ membawanya pada sebuah pemberhentian yang dia tuju, hati Regina. Jika kamu, Safir, benar ada, aku pasti akan senang membaca tulisan-tulisanmu.

Kak Mahir, Safir ini Kak Mahir sendiri, ya? Hihihi ^_^

Aku suka Menuju(h). Satu minggu yang berwarna-warni. Salut untuk ketujuh pencerita. Seandainya seminggu ada delapan hari, aku ingin menyelip di antara kalian. ^_^

Aku jatuh hati pada cover dan ilustrasinya. Jeffri Fernando selalu membingkis buku GagasMedia sehingga menawan hati. Dan untuk Lala Bohang, ilustratornya. Aku suka sekali visual yang kakak buat. It seems like to be childish drawings but they name their character!

Kamis, 18 Oktober 2012

Filosofi Kopi [book review]

Filosofi Kopi karya Dee
Judul: Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: TrueDee Books dan GagasMedia
Halaman: 137 hlm

Sebenarnya sudah lama mengetahui buku kumpulan prosa dan cerpen ini dari teman, namun baru bisa membaca e-booknya, itu pun minta dari adik kelas. Dan begitu membacanya, aku masuk dalam dunia yang Dee rangkai dari untaian kata-kata prosanya yang membentuk dunia. Benar-benar dalam namun mengalir semudah aliran air terjun.


Filosofi Kopi adalah kumpulan prosa pertama yang kubaca. Belum pernah kubaca buku semacam ini, dan aku sangat menikmati aliran kata-kata yang begitu indah dan bermakna. Dee tetap memakai tata bahasa yang ada, baku namun tidak kehilangan kesan puitis dan indah. Dee memang penulis yang memiliki rasa yang tidak dimiliki oleh penulis lain. Kumpulan prosa-prosanya yang bermakna dalam benar-benar menyentakku dan menemukan diriku sendiri sedang berdiri menghadap sebuah cermin besar.

Ada satu judul yang begitu menarik dan memiliki makna yang aku suka. Mencari Herman. Di sana ada sebuah pepatah yang mengatakan. Bila engkau inginkan satu maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan tapi dua melenyapkan. Aku melihat betapa hidup terkadang egois dan inginkan dua hal sekaligus meski tahu itu sulit.

Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. - Mencari Herman

Spasi. Prosa ini, atau harus kusebut puisi? SPASI. Sungguh, aku mengagumi tulisan Dee ini. Begitu logis dan bisa diterima, logika tentang jeda dan kata yang takkan bermakna tanpa kehadirannya. Spasi. Menjadi favorit juga seorang sahabatku yang juga menggandrungi tulisan Dee karena kutulari virus Perahu Kertas dulu. Aku melihat sebuah fakta yang unik, tanpa ada jeda dan ruang...maka semuanya takkan bermakna. Begitulah spasi, kehadirannya tak terlihat, seolah hanya jarak antarkata yang memisahkan, namun tanpa dia semuanya hanya rangkaian huruf tak bisa dibaca, tak memiliki makna.

Rico de Coro. Imajinasi Dee tidak melulu tentang manusia, benda mati, atau perasaan. Begitu membaca Rico de Coro aku melihat dunia kecil yang Dee sebut sebagai Kerajaan Kecoak Dapur. Dimana seorang pangeran bernama Rico de Coro ternyata jatuh cinta pada seorang manusia, Sarah, anak pemilik rumah dimana kerajaan mereka berdiri. Namun kisahnya berakhir dengan pengorbanan besar Rico demi Sarah, demi putri impiannya. Dari kisah ini terpetik sebuah pelajaran, bahwa pengorbanan memang menyertai cinta. Cinta dan pengorbanan seperti dua mata koin, peluangnya sama 1/2 untuk terjadi.

Selasa, 16 Oktober 2012

The Not-So-Amazing Life of @aMrazing [book review]

Judul: The Not-So-Amazing Life of @aMrazing
Penulis: Alexander Thian
Penerbit: GagasMedia (2012)
Halaman: 220 hlm

Gue nggak habis pikir gimana kok bisa ada kisah hidup seaneh dan seajaib Mas Konter ini. Udah aneh bin ajaib, cerita di dalamnya terasa gak masuk akal tapih yaah helloww... Nothing is impossible! Gak ada yang gak munking terjadi di dunia ini, kan? Nah, si cerita Mas Alex ‘Konter’ inilah salah satu buktinya. Keanehan dan kenylenehan ceritanya bener-bener bikin aku gak habis pikir. You have the strangest and the most amrazing story!

Yah, harus gue akui kalau kelebihan buku ini ada pada cara tutur Mas Alex ‘Konter’. Penuturannya khas dan gayanya yang selancar aliran air terjun Niagara membuat buku setebal 220 halaman ini aku libas semalaman aja. Selain itu istilah-istilah konyolnya yang segar membuat buku ini easy-to-read and entertaining banget. Meskipun mata dan otakku protes karena membaca dua judul kontrovesial di dalam buku ini. Aku masih nggak habis pikir kenapa selalu ada hal-hal yang menjurus ke arah hal ‘itu’. Padahal kukira isinya aneh dan nyeleneh semua..eh.. ada judul K****M Ona Sutra dan Manager M********I... Mataku perih otakku nangis.

Yah..kalau menurutku itulah yang membuat buku ini less amazingnya. Aku nggak tahu bagian mana yang aneh, nyeleneh atau amazing dari kedua judul di atas. Jujur, menurut gue gak ada sisi amazing-nya sama sekali. L Sorri Om..
Ada satu judul yang ceritanya sangat menyetuh banget. Dummy Seharga Dua Juta. Yap. Ceritanya emang rada-rada gak mungkin untuk kejadian kecuali di dalam imajinasi aja. Tapi kehadiran Pak Soni dan Rama di konternya Om Alex ini benar-benar seperti oasis di tengah sahara. Judul Dummy Seharga Dua Juta ini jadi cerita yang khusus kukasih rating lima bintang.

Di judul Jujur itu Mahal, aku seratus persen setuju tentang satu hal sama Om Alex ini. Hanya orang-orang sepintar anggota NASA, FBI, CIA dan yang ngeri tulisan 5EM4c4M 1n1. Teoriku tentang orang yang 5uKkh4 Nul15 p4k3 tul154n k4y4k 91n1e adalah mereka yang ilmu Aljabarnya udah mentok ke ubun-ubun. Jadi anggepan gue positif aja, orang 4l4y adalah orang PINTAR. Nah, buktinya mereka bisa Aljabar dan ngerti kode-kode rahasia yang bikin gue buta huruf dan angka dadakan.

Preman Jadi-Jadian. Cerita ini yang paling konyol. Sekonyol-konyolnya Shin Chan yang kebelet pipis, lebih konyol si Mas Alex yang ketiban palang yang nggak mau harga dirinya jatoh di mata dua Hyena pegawainya dan kepaksa ngarang cerita supaya nggak kelihatan bodohnya. Namanya bo’ong nggak bakalan awet. Yah, pelajaran yang sangat berharga lagi..

If you think you don’t have the greatest or the most amazing life, then look around, and read this one. You will find what an amazing life is.

Last but not least, thanks to GagasMedia atas paket Admin Mudiknya. Paket THR Gagas baru sampai kemarin. Pas dibuka ada dua buku plus sebuah postcard unyu, salah satunya yang kureview di atas dan yang kedua adalah Hujan dan Teduh. Well, meskipun sudah punya Hujan dan Teduh, thanks a bunch!

Ini dia paket THR yang baru sampai :)


Jumat, 28 September 2012

Novel Hanami and Giveaway Hanami

Ketertarikanku pada novel baru ini adalah setingnya yang bertema Jepang. Dan saat melihat novel ini ada dalam kumpulan coming soon dari GagasMedia, aku langsung tertarik karena ada sentuhan Jepangnya. Novel karya Fenny Wong ini menarik perhatianku dengan sentuhan Jepangnya. Covernya yang memiliki daya romantis membuatnya menjadi semakin menarik. Ada berikut ini adalah sinopsis dan cover novel tersebut.


Kepada Sakura

Kau adalah hangat. Padamu aku temukan dunia yang ramai dan selalu bahagia. Kau adalah rumah. Tempat aku menitipkan tawa kanak-kanakku, juga menyimpan mimpi tentang sebuah masa depan.
Suatu hari, mungkin rumahku tidak lagi kau. Tidak bisa dan tidak mungkin. Kau hanyalah rumah tempat aku menyimpan berpuluh-puluh frame yang tidak akan lapuk karena waktu. Tempat aku selalu kembali meski mungkin kau tidak lagi berada di sana.
| Keigo

Kau datang menjelma sepi. Lalu, pergi meninggalkanku dalam gigil. Gadis polos dalam kamuflase musim semi, aku membencimu. Tak ada kau dan aku dalam cerita masa depan. Itulah mengapa aku memilih menjauh.
Namun, kau tahu, hingga mana pun jauh mengantar langkahku, ternyata tak pernah ada yang menamai rindu milikku, sesempurna kau menamainya. Dan, membuatnya akan selalu menjadi milikmu.
| Sakamura Jin

Mungkin novel ini akan menjadi novel pertama Fenny Wong yang kubaca karena aku belum pernah membaca novel-novel Fenny Wong yang lain sebelumnya. Namun aku berharap sekali bisa membaca novel ini.

Untuk teman-teman yang juga tertarik dengan novel Hanami, ada give away dari penulisnya langsung loh! Silakan cek sendiri di blognya Fenny Wong ya...






Selasa, 25 September 2012

Perahu Kertas [book review]

Perahu Kertas karya Dee

Perahu Kertas karya Dee


Menikmati romansa Kugy dan Keenan melalui lembar demi lembar kisah Perahu Kertas. Novel ini menemaniku dalam perjalanan menuju pulau Dewata, Bali untuk tugas English Outing semester ini. Sungguh, baru kali ini aku membaca sebuah kisah dan seolah terjun langsung dalam settingnya. Membacanya dalam perjalanan ke Bali membuatku bisa merasakan bahwa Kugy dan Keenan begitu nyata, ada di dekatku saat aku membaca dan mereka berseliweran dengan adegan-adegan tiap plotnya di depanku.

Perahu Kertas karya Dee ini memiliki ruang eksplorasi yang begitu luas. Durasi kisahnya pun berpindah dari tahun ke tahun dan teras begitu dinamis dan bergerak seperti apa adanya. Dee memang tidak perlu diragukan lagi karya-karyanya yang sudah populer, tapi benar terbukti sudah bahwa Dee penulis yang begitu jeli dengan kisah yang dia tulis. Kugy dia tulis dengan begitu detail dan rapi, caranya menggambarkan seorang Kugy yang berantakan dan pengkhayal menjadikan karakter ini begitu nyata. Keenan, si misterius yang memiliki sejuta kejutan dan keindahan, aku kagum dengan Dee yang menemukan Keenan di hamparan manusia karakter yang pernah ada. Keenan, begitu unik begitu memikat, sama seperti Kugy.

Karakter yang dibangun di Perahu Kertas memanglah memiliki kekuatan dan stabil. Mereka memiliki cela dan sisi baik, seimbang. Itulah yang menghadirkan kesan nyata dan hidup pada setiap karakternya.

Ide cerita dan detail-detailnya. Dee memang begitu kreatif. Apa itu surat untuk Neptunus, Radar Neptunus, Agen Neptunus dan segala pernak-pernik dongeng-dongeng dan lukisan Kugy juga Keenan. Ide-ide unik seperti inilah yang membawa nyawa tersendiri untuk memberi kisah ini sebuah makna.

Sebenarnya sudah sejak novel ini terbit oleh Bentang aku ingin membelinya, namun yah..karena lagi-lagi berurusan dengan kantong yang tidak cukup tebal aku harus menundanya hingga kabar novel ini diangkat ke layar lebar tersebar. Aku mencari versi cover sebelum dijadikan versi movienya tapi mendapatkan novel dengan cover movienya. Yah, tak masalah. Malah senang banget karena bisa melihat Keenan ada di sampul depan. :P
Adipati Dolken alias Keenan
Dan aku memang tidak bisa berkata apa-apa lagi selain, Aku menikmati setiap debaran Kugy dan Keenan, setiap remuk hancur hati mereka dan setiap kata-kata yang merangkai kisah Perahu Kertas ini. Karya yang memang luar biasa dan layak ditransformasi ke sebuah layar lebar. Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menonton filmnya, berharap film Perahu Kertas masih berlayar di area Kediri sampai bulan Oktober saat film part 2nya rilis.

Selasa, 11 September 2012

With You [book review]

With You [book review]

Judul: With You

Penulis: Christian Simamora & Orizuka (GagasDuet)

Penerbit: GagasMedia

Halaman: 298 hlm

ISBN: 9797805735

Ini adalah salah satu novel GagasDuet yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Beautiful Mistake dan With You adalah GagasDuet adalah yang kedua. Saya memang agak ketinggalan, tapi tidak ingin melewatkan novel yang well, saya tahu dari teman-teman kalau GagasDuet Kak Chris dan Kak Orizuka ini bikin geger, dalam arti yang positif tentunya.

Duet Gagas kali ini emang rada-rada kontroversial, *ciee...lebay deeh...* karena kiblat dan aliran Kak Chris dan partnernya Kak Orizuka yang melenceng jauuuuh. Tulisan-tulisan kak Chris terkenal dengan gaya centil, romansa yang meletup-letup dan membuat berdebar jantung yang membacanya, (catet, dari judul-judul buku yang udah Kak Chris tulisan aja udah jelas banget kayak gimana ngegemesinnya tulisan kak Chris itu kaan?) dan Kak Orizuka yang memiliki penulisan yang kalem, teen-centered, melow seperti naik kano di danau paling tenang di dunia namun selalu memberikan kesan mendalam hingga terakhir-terakhir aku nangis baca buku Kak Orizuka yang berjudul Fate, lalu I For You yang juga diterbitkan oleh GagasMedia.

With You terdiri dari dua kisah yang masing-masing ditulis oleh Kak Chris dan Kak Orizuka. Cinderella Rockefella oleh Christian Simamora dan Sunrise oleh Orizuka. Dan berikut adalah review dari saya untuk masing-masing novela ini.

Cinderella Rockefella by Christian Simamora

Gaya centil, meletup-letup, dan selalu menyajikan suatu kisah dengan cara yang membawa nuansa santai dan mengalir selancar air terjun Niagara, Kak Chris emang rajanya bikin pembaca dag-dig-dug seperti yang dirasakan oleh karakter-karakter dalam novela ini. Memang sih saya baru kali ini membaca tulisan kak Chris, tapi dari beberapa teman yang saya jumpai, mereka selalu bilang kalau novel-novel kak Chris emang bener-bener maknyus. Cara bertutur yang terkesan ngeflow dan nggak dibuat-buat melankolis-malah terkesan cablak dan blak-blakan-membuat gaya penulisan seperti Kak Chris ini meninggalkan kesan ‘iiih, gemesss!’ di tengah perjalanan membaca hingga sampai di kata terakhir novelnya.

Dan Oh well, seriously! Abis baca Cinderella Rockefella biasanya di otakku akan berputar lagu apa yang seolah disetel otomatis untuk menyesuaikan kesanku setelah membaca. Dan apa lagu yang saat itu berdendang dalam benakku? Melinda – Cinta Satu Malam, OOOMAIGAT! Cindy beneran jatuh cinta dalam waktu semalaman! GILEEE, Jere kayaknya udah ngejampi-jampiin Cindy lewat kesederhanaan dan apa adanya cowok itu. Dan oh, shit, I gotta say it! And they’re tryin’ to attract one each other! Aku kadang gak terlalu suka sama romansa yang hanya didasari oleh ketertarikan fisik, (say it, dari penceritaan antara Cindy dan Jere udah jelas kalau fisik jadi main appeal di sini, tapi lambat laun mulai berubah dari hati ke hati, halah kayak rubrik di majalah aja.. -__-“). Tapi novela ini pengecualian, begitu membaca, aku terhipnotis sama cara kak Chris bercerita. OMG, master Chris emang jago bikin pembacanya ketawa-ketiwi-merengut-ketawa-senyum-senyum-merengut lagi-lalu akhirnya bilang ‘haaah, ya ampuuun...gemes deh gue!’

Abis baca tulisannya Kak Chris bentuk dan cara mereviewku jadi rada-rada nggak biasa yah...kok aku jadi ikutan centil, sih? Whooaa...

Sunrise by Orizuka

Khas Kak Orizuka. Cerita manis, bergaya remaja yang ringan dan mengalir seperti air mancur yang tenang tapi ada kejutan-kejutan manis yang terselip di scene atau plotnya. Tidak seperti Kak Chris yang hampir selalu membuat pembacanya kipas-kipas karena saking panasnya plot antara Cindy and Jere. Dua gabungan novella yang istimewa, seratus delapan puluh derajat berbeda tapi dengan cantiknya membuat kesan yang sulit dilupakan. Ide cerita di Sunrise ini menurutku tidak terlalu baru (tentang pasangan yang baru putus lalu balikan), tapi selalu Kak Orizuka membungkus kisahnya dengan ide-ide cemerlang lainnya. Memberikan sentuhan romantic dan exotic pantai dan laut di Karimunjawa sukses membawaku merasakan seolah-olah cerita ini bergerak seperti FTV yang kadang aku tonton sepulang dari kampus. Hahaha. Pesona Karimunjawa memang menjadi titik daya tarik dan poin plus. Tapi kisah-kisah antara Juna dan Lyla itulah yang membuatku kadang tersenyum dengan haru dan menahan tawa karena masa remaja mereka. Ungkapan-ungkapan yang dipakai Kak Orizuka inilah yang selalu menarik, membuat gaya penulisannya tidak membosankan dan berciri khas.

Dan patutlah saya memberikan bintang lima dari lima yang saya punya untuk duet ini. It’s totally different but damn so touching! After you stroke down from the roller-coaster effect as you finished reading Cinderella Rockefella, you are to dance slowly but gracefully like you’re dancing on the ocean’s wave when you’re in Sunrise pages. Believe me or not!

Rabu, 05 September 2012

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa [book review]

Judul: Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 300 halama
ISBN:9797805891

Karya ketiga dari Mbak Prisca Primasari (setelah E-clair dan Beautiful Mistake: Chocorreto) ini masih dibalik dengan sentuhan Eropa. Berlatarkan bumi Paris dan sentuhan khas Rusia yang menjadi ciri khas dari Mbak Prisca ini, novel Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa ini menyuguhkan kisah yang unik. Mengapa unik? Karena menurut saya ide cerita mbak Prisca ini tidak umum dipakai. Kisah cinta Vinter dan Florence yang dipertemukan dengan 'kebetulan' yang mungkin hanya bisa terjadi dalam imajinasi saja ini menjadi terasa bukan seperti kebetulan, melainkan takdir yang memang harus terjadi. Mbak Prisca membuat kisah yang begitu singkat, dengan tempo alur yang cepat untuk rentang waktu dan adegan yang terjadi. Namun hal itu tidak membuat saya kehilangan ketertarikan pada kisah Vinter dan Florence ini. Sungguh, kebetulan menjadi terasa nyata dan benar hanya dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Saya sering membaca adanya semacam hal-hal yang terjadi secara kebetulan di sebuah novel. Namun tidak ada yang senyata dan semasuk akal kebetulan yang terjadi antara Florence dan Vinter.


Florence melarikan diri dari rumah karena orang tuanya memaksanya untuk ikut kencan buta dengan laki-laki yang bahkan tidak dia kenal. Memiliki trauma dengan hubungan bersama laki-laki membuat Florence enggan untuk kembali mencobanya. Dia pergi ke Honflour demi melarikan diri dan bertemu secara kebetulan dengan Vinter, seorang laki-laki yang menarik perhatiannya lewat mata biru yang mengingatkannya pada simbol salju. Hari demi hari Florence lalui di Honflour bersama Vinter. Petualangannya bersama pemuda itu menyisakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan pada harinya dia harus meninggalkan Vinter untuk memenuhi janji pada ayah dan ibunya untuk pulang. Aku jadi ingat drama Rooftop Prince yang juga dihiasi dengan kebetulan-kebetulan seperti dalam novel ini. Sungguh, aku pasti sangat terkejut jika menjadi Florence. Mengapa? Yah, lebih seru baca langsung saja di novel ini.

Satu hal yang agak mengganggu saat membaca novel ini adalah, tempo alur yang berubah dengan cepat. Seolah terkesan terburu-buru. Namun itu semua tidak menjadi masalah dan aku tetap menikmati novel ini. Selain aku menyukai novel dengan setting luar negeri, puisi-puisi dan trivia tentang budaya dan musik klasik dalam novel ini membuatku memiliki pengetahuan lebih.

Novel ini memiliki nuansa romantis, melankolis dan dingin. Bukan dingin yang negatif, tapi sejuknya musim dingin. Suasana Eropa, Paris, membuat kesan klasiknya makin kental, terlebih lagi dengan ide menjadikan karakter-karakternya memiliki profesi sebagai seniman, pemain teater, pelukis, dan musisi membuat kesan seperti benar-benar membaca kisah klasik dari Eropa.

Dan saya sedikit bertanya-tanya, mengapa selalu Paris dan Rusia? Sepertinya penulisnya sengaja ingin membangun image karya-karyanya sebagai kisah klasik yang dramatis yah... ^_^

Senin, 03 September 2012

Then I Hate You So [book review]

Judul: Then I Hate You So
Penulis: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Halaman: 320 hlm

Aku gak bisa menikmati jalan ceritanya. Karakternya. Penyampaian penulis tentang alur dan adegannya membuatku tidak merasakan apa-apa ketika membacanya. Mungkin sebagaian pembaca sudah menamatkan novel ini, tapi aku tidak bisa terus membacanya. Jujur, aku kecewa karena ekspektasiku besar untuk novel ini yang bersetting Korea dan Jepang. Dua negara yang menjadi favoritku namun entah mengapa aku tidak bisa terbawa atmosfer yang ada dalam cerita ini. Aku jujur, aku berhenti tanpa mengetahui kelanjutan ceritanya karena semakin aku membaca semakin aku kecewa dengan gaya penulisan yang menurutku tidak cukup menyampaikan rasa karakternya. Aku bukan ahli dalam menilai tulisan seseorang karena aku pun masih belajar menulis juga, namun aku ingin berkata jujur pada penulisnya tentang cara bertuturnya yang terlalu kaku dan tidak mengalir seperti air. Seperti membaca artikel berita saja di bagian pertama novel ini. Kesanku, 'loh, ini novel apa laporan kejadian,sih?' maaf, bukan maksudku untuk mencela atau menyakiti, tapi itulah yang kurasakan ketika membacanya. Aku berusaha bertahan dan terus membaca, namun baru sampai di bab awal (2-3) aku berhenti, karena apa? Karena aku tidak begitu tertarik setelah mencapai bab dimana karakter-karakternya terasa tidak nyata. Satu hal lagi, mungkin karena aku tidak menyukai gaya penulisan Andry ini yang menurutku terlalu lugas dan kurang terasa sastra atau bahasanya kurang puitis. Aku cenderung menikmati tulisan yang mengalir seperti air dan meninggalkan bekas teduh dan melankolis setelah membacanya, jenis-jenis novel yang syarat akan makna puitis dan kental dengan perasaan karakternya. Hal-hal itulah yang tidak bisa kudapatkan dari novel ini dan berakhir dengan aku tidak melanjutkan membaca. Mungkin lain kali aku akan membaca ulang novel ini jika moodku cocok, untuk melihat lagi kenapa aku menaruhnya kembali ke meja dan mengambil novel judul lain karena merasa 'lelah' membaca cerita yang menurutku tidak memiliki benang merah di awalnya. Tapi aku menunggu karta Andry selanjutnya, dan berharap akan memiliki 'crush' dengan karya berikutnya! ^_^
Sekian terimakasih dan mohon maaf sebelumnya.

Remember When [book review]

Judul : Remember When
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media (2011)
Halaman : 252 hlm
ISBN : 9797804879

“Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia, suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa.”
Pertama yang membuatku tertarik dengan novel ini adalah sinopsisnya. Membaca sinopsisnya terasa menyayat hati. Begitulah, aku suka sinopsis yang sudah mampu mencuri perhatianku dengan kata-kata yang tertata rapi dengan makna yang dalam. Aku tidak mengira bila novel ini adalah novel remaja pada umumnya. Ceritanya menurutku sederhana, ide-ide ceritanya pun menurutku sudah sering dipakai oleh penulis lain. Tentang kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia. Empat sahabat yang disatukan dan dipisahkan karena satu hal, yang semua orang sebut sebagai cinta. Kisah remaja SMA yang sudah-sudah memang lebih sering tentang pacaran, putus-nyambung lalu happy ending. Namun entah mengapa Remember When ini membuatku melihat Freya, Adrian, Moses dan Gia seperti aku melihat kejadian nyata. Mereka, perasaan-perasaan mereka, dan kisah mereka seolah begitu real. Perasaan-perasaan yang terbangun pada masing-masing karakter membuat novel remaja ini tidak terkesan picisan seperti kebanyakan teenlit yang hanya mengandalkan konflik jatuh cinta dan pacaran-putus-nyambung lalu happy ending. Remember When, berkat cara penulisan yang bagus telah menegaskan bahwa ide cerita sesimpel dan sesederhana apapun bisa dibuat istimewa dengan cara penulisan dan rangkaian alur dan plot yang tepat.

Freya dan Gia. Dua sahabat yang seperti langit dan bumi. Freya dikenal sebagai gadis yang pintar, introvet dan antisosial entah bagaimana menemukan kecocokan dengan Gia yang dikenal lebih supel, periang, pandai bergaul dan tentunya memiliki kecantikan dewi khayangan. Kisah Remember When ini diawali saat keduanya menerima pernyataan cinta dari Moses dan Adrian yang juga merupakan sahabat karib.

Moses dan Adrian. Keduanya tumbuh dan besar bersama sebagai sahabat sejak kecil hingga merekapun saling mengetahui baik-buruknya masing-masing. Seperti Freya dan Gia, Moses dan Adrian juga merupakan dua pribadi yang bertolak belakang namun bisa menjadi sahabat. Moses lebih cenderung pendiam, kalem dan kutu buku seperti Freya. Sedangkan Adrian lebih ceria, ekspresif, dan populer. Moses adalah tipe cowok kalem yang suka menghabiskan waktu duduk belajar atau membaca buku sedangkan Adrian lebih memilih bermandikan keringat di lapangan basket.
Dan keempatnya memiliki kisah yang klise. Pernyataan cinta, hubungan yang mulai berubah seiring perubahan hati dan pada suatu ketika apa yang sudah mereka tata rapi memang selayaknya dipugar. Mengapa? Karena di tengah perjalanan, mereka menemukan cinta yang tidak lagi bisa disembunyikan, yang terjalin pada dua orang yang ‘dulu’ tidak mungkin terjadi.
Mungkin sebagian teman-teman sudah banyak yang membaca kisah Remember When ini. Jadi sepertinya saya tidak akan mereview kisahnya sampai detail, (tidak ada spoiler lebih dari itu). Aku suka mendalami karakter-karakter novel yang kubaca, karena itu aku bisa belajar membuat karakter yang kuat untuk tulisanku sendiri. Nah, di sini aku khusus untuk mendalami karakter Moses. Mengapa Moses? Hm, karena dari Freya, Adrian, Moses dan Gia, Moses-lah yang entah bagaimana kurasa kurang kuat, kurang memiliki sikap. Entah mengapa, di kisah ini dia terkesan tidak begitu memiliki bagian (padahal bukannya ada empat karakter utama ya di sini?). Selain itu aku menemukan sedikit keburukan pada Moses yang memberikan kesan dia terlalu sempurna. Baiklah, inilah Moses di mataku.

Moses. Namanya terdengar asing bagiku karena belum pernah mendengar sebelumnya. Pemuda ini dikenal sebagai ketua OSIS yang memegang peringkat paling atas di sekolah. Pintar bahkan genius, begitulah Moses. Hari-harinya diisi rapat-rapat OSIS, bimbingan belajar, mengerjakan PR, membaca buku dan hal-hal lain yang sepertinya semua anak pintar lakukan. Namun aku tidak tahu mengapa Mbak Winna Efendi tidak memberikan deskripsi penampilan Moses secara fisik. Apakah dia tampan, biasa-biasa saja, aku bahkan nggak keren sama sekali, aku tidak tahu. Hanya ada satu hal ciri dari Moses, yaitu kacamatanya. Jadi gambaranku tentang Moses adalah cowok berkacamata, berseragam abu-abu putih rapi nan kelimis dan berwibawa karena dia ketua OSIS. Tidak ada ciri-ciri fisik tentang seperti apa wajah Moses hingga aku kesulitan membayangkan seperti apa Moses itu. Jika aku berpikir Adrian itu mungkin mirip Zac Efron di High School Musical, Gia seperti Selena Gomez dan Freya seperti Emma Roberts, maka aku tidak bisa membayangkan aktor siapa yang mewakili wajah Moses. Oh, Moses...aku penasaran seperti apa kamu dimata Mbak Winna sebenarnya...

Nah, lebih jauh tentang Moses adalah...aku nggak bisa lebih mengenalnya karena menurutku dia tidak mendapatkan lebih banyak porsi untuk menggambarkan perasaannya lebih jauh. Berbeda dengan Adrian dan Freya yang seolah-olah memiliki lebih banyak ruang untuk bercerita (ingat, Remember When dikisahkan dari sudut pandang masing-masing karakternya). Selain itu Moses berbeda dengan yang lain. Jika Freya memiliki masa lalu pahit karena kehilangan ibunya, dan begitu pula Adrian maka Gia memiliki kisah pahit karena dia sudah merelakan hal yang paling seorang gadis jaga untuk diserahkan pada Adrian meski pada akhinya mereka tidak bisa sama seperti dulu. Apa yang Moses miliki? Apakah hanya luka karena pengkhianatan pacar dan sahabatnya saja? Kurasa dari keempat karakter ini, Moses memiliki nasib yang lebih beruntung daripada yang lain. Freya dan Adrian sama-sama kehilangan ibu. Tapi Moses? Apakah Moses memiliki sedikit saja sejarah hidup yang pahit? Ini membuatku tidak bisa bersimpati pada Moses. Dia terlalu baik, terlalu sempurna. Setidaknya ada satu konflik yang Moses sendiri miliki, mungkin riwayat cintanya pernah ditolak atau dia mencintai seseorang tapi tidak sempat meraih, atau mungkin konflik keluarga seperti yang Freya dan Adrian miliki. Itu yang aku lihat dari Moses.

Mungkin Mbak Winna akan menjawab pertanyaanku, “Mbak, Moses itu kalau jadi nyata mirip aktor siapa, yah?” Hahaha, dan selain itu ada hal yang membuat Moses menjadi agak misterius, hm...Moses emang agak-agak misterius dengan segala sifat-sifatnya. Dan entah mengapa aku jadi terpikirkan apakah Mbak Winna akan membuat kisah Moses sendiri nantinya.
Sekian review dariku yang lebih fokus pada karakter Moses. Review ini memang khusus kubuat setelah membaca ulang Remember When yang sebelumnya sudah pernah kutulis review novelnya. Untuk mengingatkan kesan lagi, awal aku membaca novel ini kurasa ini tidak lebih dari novel-novel remaja biasa. Kebanyakan dan sudah standar dan bahkan konfliknya sangat klise dan cenderung seperti cerita sinetron. Tapi karena keajaiban cara menulis Mbak Winna lah yang membungkus kisah Freya, Moses, Adrian dan Gia menjadi lebih dari sekedar cerita remaja saja. Seperti yang kukutip di awal review ini, Remember When memiliki makna yang mendalam.

“Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya,”

Namun ironisnya, tidak semua cinta seperti itu. Itu cinta Freya dan Adrian. Bukan Moses atau Gia. Dan bukan pula yang kurasakan. Cinta memiliki jalannya sendiri untuk mempertemukan kedua belahan jiwa, kurasa seperti itulah.

Selasa, 24 Juli 2012

I For You [book review]

Judul: I For You
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Halaman: 379 halaman
ISBN: 978-979-780-554-8
Tahun: 2012 cetakan kedua

I FOR YOU – Cinta yang selalu menjagaku


Princessa dan Benji memang ditakdirkan untuk selamanya. Itulah yang seharusnya. Namun, suatu ketika tameng yang selama ini menjaga mereka untuk tetap bersama mulai perlahan-lahan pudar karena suatu hal yang bernama cinta. Bagaimana jadinya apabila kisah dongeng berakhir tidak seperti dongeng-dongeng putri dan pangerannya? Tidak ada ‘dan mereka pun bahagian selamanya...’ untuk mengakhiri kisah mereka? Bagaimana jika putri yang seharusnya dijaga oleh seorang yang sudah dijadikan pangeran baginya menemukan sosok pangeran lain? Dan bagaimanakah kisah pangeran yang tidak bisa memilih antara tanggung jawab dan hatinya? Surya dan Bulan hanya kakak-adik yang hidup dalam tekanan kesusahan ekonomi setelah kedua orang tua mereka meninggal. Kehidupan mereka tidak lagi sama seperti remaja-remaja lainnya yang diwarnai dengan hura-hura, bersenang-senang, bermalas-malasan dan pacaran.

Bagi Surya hal yang menduduki peringkat nomor satu dalam hidupnya adalah belajar, suatu janji yang dulu belum sempat dia buktikan pada ayah dan ibunya. Surya hanya ingin fokus hingga dia mencapai apa yang dia impikan namun saat seorang putri manja dan polos masuk ke hari-harinya, ke hidupnya... Surya mulai tidak mengerti mengapa hatinya justru bertolak belakang dengan otaknya. Bulan yang sehari-harinya harus mengurus rumah, menyiapkan roti untuk
dijual di kantin sekolah menjadi gadis yang sangat kuat, lebih kuat daripada yang Benji duga. Sosoknya yang sederhana menyimpan kekuatan yang begitu besar, hingga seolah tidak ada lagi yang bisa melindunginya membuat Benji selalu merasa remeh saat bertemu dengannya.



Princessa – bermata hazel, berambut cokelat yang indah, namun sifat terus terangnya terkadang membuatnya terkesan sombong dan tidak peduli. Tidak ada yang tidak ingin seperi dia, semuanya ingin menjadi seorang putri yang memiliki pangeran seperti Benji, menjadi Cessa.

Benjamin (Benji) – sosok pangeran sempurna, tampan, baik hati dan...hm, dia memang seorang pangeran.

Surya – cowok jutek nan galak ini memang harus diacungi jempol, kegeniusannya memang sudah terbukti. Namun memang menjadi Surya tidaklah mudah.

Bulan – sederhana dan bercahaya seperti bulan. Kesederhanaanya membuat seorang pangeran seperti Benji bahkan merasa Bulan telah ‘memanah hatinya’.



Mereka dipertemukan, disatukan lalu dipisahkan. Semuanya harus menerima keadaan yang tidak mereka pahami, hati mereka pun tidak mempercayai mengapa semua itu harus terjadi. Yang mereka harus lakukan hanyalah untuk saling mempercayai. Untuk saling mempercayai bahwa mereka ada diperuntukkan satu sama lain, saling melengkapi.

“Nggak semua fakta harus dikatakan” – Benji

“Tidak semua permintaan maaf harus diterima” – Benji

“Selambat apapun lo jalan, gue ikutin:” – Surya



Kisah I For You ini mengingatkan aku pada suatu novel karya Winna Efendi berjudul Remember When yang mengisahkan empat orang, (Moses, Freya, Adrian dan Gia), sedangkan disini ada Surya, Cessa, Benji dan Bulan. Keempat-empatnya memiliki kisah yang sangat berbeda, namun ada benang merah yang sama. Kalau mau tahu ya beli dan baca dua-duanya saja (Remember When dan I For You). Sama-sama menyentuh di hati.

Mungkin semuanya pun sudah tahu nama Orizuka di dunia kepenulisan dan novelis, penulis yang satu ini memang memiliki something special yang selalu diwujudkan dalam buku-bukunya. Meskipun idenya sangat sederhana dan bahkan sudah pernah ada dan dibuat, kelebihan seorang penulis terletak bagaimana dia menyampaikan dan merangkai ide tersebut menjadi sesuatu yang berbeda. Dan Kak Orizuka, you did it awesome! Karena hal-hal seperti inilah yang membuat saya juga selalu berpacu ingin menjadi penulis yang bisa membuat hal sederhana menjadi luar biasa, one of my best inspiration is Orizuka and her novels. Meskipun dulu aku melewatkan karya-karya terdahulu kak Orizuka, aku yakin mereka semua pasti bagus. Sejauh ini aku sudah membaca, (Oppa and I, Fate, Infinitely Yours, Best Friends Forever, dan I For You) dan semuanya benar-benar sederhana namun memiliki keistimewaan tersendiri. Someday I want my own novels becomes as touching as Kak Orizuka’s! hehehehe.

Sabtu, 21 Juli 2012

Lola and the Boy Next Door [book review]

Judul: Lola and the Boy Next Door

Penulis: Stephanie Perkins

Penerbit: Dutton Books

Halaman: 338 hlm

ISBN:9780525423287

Lola Nolan is just trying to get over her first love by keeping up her relationship with Max, her rockstar boyfriend. Lola comes to the blur of her life when her beautiful nightmare across her over the night. The twins Bells come back, the two of Bell. Calliope and Cricket Bell. Those whom Lola won’t think about even she really tries to forget that in the past they had such a frienemiship. Calliope was too much about her and always be the one who put Lola in a pair of shoe that no one would take it upon to stand on. She always has a crash with Calliope as their last broken friendship. But Cricket? Lola spends all of her life to try to over him.

When the deal with her two dads, her mother who never wants to take care of her and put Lola in Nathan dan Andy’s side while she was supposed to try a new life but always failed. And the deal with the boyfriend, Max. Lola has to proof everyboby that she’s good and deserve to get the one, the one who’s good also, the one whose name is Cricket Bell.

Cricket (geek, innocent, unforgettable)

Kisah ini mungkin mirip dengan kisah-kisah lain serupa. Tentang cinta pertama masa kecil yang tetap tinggal di hati pemiliknya. Tentang keluarga yang harus dipertahankan dan tentang mendapatkan kepercayaan orang. Lola, I say she’s a kinda talented fashion designer someday. She’s smart dan knows what she should do with the wigs, make ups, dress, boots and other accesories rather than she knows how worth she is to deserve someone like a very valuable Cricket Bell. Lola melewati hari-hari terberat dalam hidupnya. Hari-hari dia menjadi pembohong, berbohong pada Nathan dan Andy, kedua ayahnya, berbohong pada Max, pada Cricket dan pada dirinya sendiri.

Clashes and clashes are the part of life. So does it with Lola’s. When she knew that the Bell’s family set back to the house next door, she can’t imagine how to survive when the twins are always shadowing at her windows. Actually, Lola can make it easy, but the more she runs the more everything’s blurred. So Lola stop and take the decision. Desicion to let her self saying the truth. The truth that she can try to love Norah, the mother, again despite of her disapearance when Lola is still baby up to before now. It’s also about the truth that Max is not the one anymore because the one has always been Cricket.

The cherries are meeting in time. When she can see thing clearly and filled with full of Lola. Not the one who was lost and insecured. The first love meets and tied together, like what she has dreamt about. She and Cricket. Lola and the boy next door.

The story is fast moving and naughty. Very teenagers I thought, those who like something like sweets and heartwarming will like this novel. Apart from the part of how stupid Lola, but I can’t judge that the stupiness of Lola doesnt take any part of the story, stupid Lola makes it story, I just can feel a ‘click’ when she and Cricket are going so much with their unrevealed desire each other. Making me jealous so badly, I shouldn’t say that Cricket deserves someone more than Lola while the fact they seem definitely made for being together. (T_T)

It’s the first english teenage novel I read and I surprised with a lot of slangs and free compounding form of words. It’s nnice and great to see that it’s easy made the word that explain the story. Yeah, maybe i am lame for not updating this but i should fill up the blank bottle of my experience in reading teens novels. Especially those written in english. It can help my exploring english and i can increase it as well as i use it when reading. You know what, I think english in the real one is like in the novel tales. The sentences, the expression and the words play. It’s a little distraction with how dump Lola and how coward Cricket, but that’s why this story ends perfectly because it’s like what Cricket said “I know you aren’t perfect. But it’s a person’s imperfections that make them perfect for someone else.”

I LOVE CRICKET!!! @_@


BEST FRIENDS FOREVER [book review]

Judul: Best Friends Forever

Penulis: Orizuka

Penerbit: Puspa Populer

Halaman: 168 hlm

Tahun: 2012

ISBN: 9786028287760


Persahabatan Sid, Landa, Rama dan Cokie yang memiliki kisah unik ini benar-benar menarik untuk diikuti. Sayang, HSP dan Love United aku belum membaca dua judul sebelumnya. Hehe, karena ini adalah hadiah ulang tahun dari temanku, sungguh gak nyangka kalau aku dapat novelnya Kak Orizuka. Hohoho...


Aku pikir kalau ceritanya hanya romance remaja seperti yang sudah-sudah. Tapi aku salah. Aku benar-benar salah. Meskipun ceritanya tentang remaja SMP, SMA dan kuliah sama sekali nggak segampang dan seringan teenlit-teenlit lain. Best Friends Forever cenderung mengisahkan Sid, Lando, Rama dan Cokie melalui masalah mereka masing-masing yang disampaikan oleh penulisnya dengan apik. Ide cerita apa saja pasti akan menjadi luar biasa tergantung bagaimana penulis merangkai dan mengolah emosi jalan ceritanya. Dan Best Friends Forever inilah buktinya. Aku menyukai ide-ide sederhana yang digarap menjadi luar biasa. It’s like making something special from the ordinaries. Dan sekali lagi, kak Orizuka menulisnya dengan pas. Tidak berlebihan dan tidak kurang. Semuanya pas. Hingga saat aku membacanya nggak kerasa udah berakhir ceritanya.


-Sid-

Sid diceritakan sebagai si pirang yang entah bagaimana dia mendapat rambut pirangnya itu. (Kak Orizuka, emangnya Sid kenapa ya kok rambutnya bisa pirang gitu?) hehe, karakternya periang, yang selalu jadi ice breaker bersama Julia pacarnya. Keduanya ini benar-benar cocok, si cowoknya cute dan usil, si Julia cerewet dan meletup-letup. Hahaha, mereka bikin suasana jadi nggak garing.

-Lando-

Lando. Nggak usah dipanjang-panjangin deh. Lando, ini keren, pinter tapi evil mood on-nya nggak bisa di turn off. Sampai-sampai Sid harus siap-siap kalau si Lando ngamuk. Sosok Lando ini seperti prince of ice, yak bener banget. Jika Sid ice breaker, Lando ini cool karena kepinterannya dan cool karena sikap dingin plus juteknya. Tipe-tipe kayak gini nih yang kadang malah bikin klepek-klepek. Jarang ngomong, sekalinya ngomong bikin orang beku jadi es. Whoa...prince of ice.

Rama

Si pahlawan kesiangan. Rama. Huuft. Benar kata Lando, Rama emang nggak pernah bisa berhenti mencampuri urusan orang lain. Dan memang Rama selalu bisa memecahkan masalah orang lain. Rama bahkan yang menyelamatkan Lando dari kemungkinan dia tidak bisa sekolah dan terus menjadi anak brandalan. Rama, the Hero. Yak, dia bijaksana dan suka ngasih ceramah ini itu buat nyadarin orang yang dia hadapin. Sampai-sampai Lando eneg liat Rama dan nggak tahan juga, tapi akhirnya mereka berteman juga. Rama, dia ini sosok penengah yang aduh...keren.

Cokie

Tampan. Tampan. Tampan. Apa lagi? Tampan. Duh, kayaknya Cuma itu yang bisa kubilang tentang Cokie. Eh, satu lagi. Dari keempat karakter itu. Cokie hanya satu kelebihannya, dia yang paling tampan paling banyak fansnya. -___- Cokie kelewat tampannya sih, jadi aku nggak bisa jelasin lebih. Kak Orizuka bisa menjelaskan tampannya Cokie tanpa harus menjelaskan Cokie punya ini, punya itu tapi ya yang baca pasti bayangin gimana tampannya si Cokie ini. Hebat, Kak Ori!

Huh, kayaknya kalau mau review jalan ceritanya nggak asik deh. Hehehe, karena pasti lebih seru kalau kalian dapet kejutan dengan langsung baca aja Best Friends Forever ini.

Kisah mereka berempat diawali dengan kisah Lando (mereka masih SMP nih). Mereka jadi berteman karena satu perkelahian dengan geng SMA lain yang malakin mereka. Nah lalu kisahnya masih pas mereka SMP, tapi udah kelas 9 nih ceritanya jadi udah mau jadi SMA. Nah, ini menceritakan Rama yang bertemu Lara dan seperti biasanya Rama mengurusi masalah orang lain (Lara). Setelah itu mereka lulus dan masuk SMA yang sama. Di sini mulai kisah Lando dan Aida (tapi sayang hanya sedikit). Lalu Sid dan Julia yang dapet masalah sama adik Julia. Dan pas kuliah, ganti kisahnya Cokie deh. Tapi dijamin ini keren banget. Sumpah. Kayak nonton film yang ada ‘several years ago...’ lalu berpindah jadi scene ‘several years later...’ keren deh!

Aku penasaran sama si Lando dan Aida. Gimana ceritanya mereka jadian? Hm, aku sempat berharap kalau akan ada plot tentang Lando dan Aida, udah ngarep eh ternyata udah ganti cerita. Yah, gak apa-apalah. Siapa tahu ntar kak Ori mau bikin lagi. Wehehehe. Pas baca Best Friends Forever sumpah yang ada di otakku, Harry, Liam, Zayn dan Nial yang One Direction! WHOAAA~~~

Baca BFF ini bikin aku lupa kalau novel ini hadiah ulang tahunku yang ke-20. Berasa umurku balik ke 4-5 tahun lalu deh. Hahaha. Bagi yang suka teenlit BFF cocok banget jadi bacaan pas senggang di liburan. Sekali duduk dan nggak bisa berhenti baca. And Orizuka’s novels make me want to meet her directly!!! @_@

Senin, 09 Juli 2012

Beautiful Mistake [Book Review]


Judul : Beautiful Mistake

Penulis: Sefryana Khairil & Prisca Primasari

Penerbit: GagasMedia (2012)

Halaman: 260 hlm

ISBN: 979-780-539-0

Well, meski agak telat membaca karya duet mbak Sefry dan mbak Prisca ini aku merasakan benang merah antara kedua kisah berbeda yang terbukukan dalam satu judul Beautiful Mistake. Dreamland dan Chokoreto memang dua kisah yang sama sekali tidak berhubungan namun punya benang merah sehingga bisa disimpulkan menjadi Beautiful Mistake. Salut untuk kedua penulis hebat ini!

Aku tidak terlalu rajin mereview buku, hanya sebagian yang jadi favortiku aku review. Karena itu mungkin reviewku terlalu dangkal, yah…hehehe, tapi memang ini yang mungkin bisa menjadi feedback dariku mengenai karya-karya penulis favoritku. Maklum ya mbak Sef, mbak Pris… :D

~~~Dreamland~~~


Ini tentang mimpi yang sudah tidak bisa Nadine lanjutkan, harapannya yang harus dia hapus. Tapi suatu ketika Nadine menemukan harapan baru dan mimpi yang baru bersama Fajar, hanya saja lelaki itu terlalu takut akan semua hal dan ragu pada mimpi yang ingin dia wujudkan bersama Nadine, sosok yang hadir dalam kehampaan yang ditinggalkan seseorang di hati Fajar. (Sedikit aja, nanti jadi spoiler gak seru, kan?)

Anyway, aku pikir kisahnya sederhana tapi penulisnya membuatnya istimewa dari caranya bertutur. Mbak Sefry yang kuketahui juga menyukai dunia fotografi seakan-akan menghadirkan sosok Nadine dari dirinya, kisah ini memang lebih baik ditulis sepanjang kisah Dreamland, tidak terlalu panjang…apabila kisah Nadine dan Fajar dijadikan satu novel sendiri mungkin tidak akan terasa ‘dreamland’nya, tidak akan menjadi seistimewa Dreamland ini. :) Aku menyukai quotes dan beberapa bagian dari Dreamland yang syarat makna. Khas mbak Sefry.

Salah satunya adalah: “Ada yang aneh dan ada yang hilang, aku coba cari ternyata nggak bisa aku temuin karena semua yang hilang itu ada di kamu.” – Dreamland by Sefryana Khairil.

Mungkin karena sudah dijatah berapa halaman, jadi kesannya plot bergerak begitu cepat. Aku agak bingung sama Fajar yang memang benar menurutku dia pengecut. Hehe, maaf ya Om Fajar, soalnya Om sih bikin mbak Nadine bingung…(iya nggak mbak Nadine?). Dan juga temennya Nadine yang terkesan tidak mendukung Nadine dan Fajar, berbeda dengan Omen yang seringkali menasihati Fajar dengan bijak. Setting Bali, fotografer dan bartender, ay! Mbak Sef, briliaant~~!

***Chokoreto***

Karya mbak Prisca identik dengan Jepang, Rusia, musik klasik, dan cokelat. Bagi mbak Prisca mungkin menulis karyanya adalah pekerjaan paling menyenangkan karena bisa menuliskan apa yang menjadi kesukaannya menjadi sebuah karya yang bisa dibaca banyak orang, menjadi lebih dari sekedar naskah, menjadi buku. :D Chokoreto…Hmm, cokelat dan musik klasik, alunan piano…yah, aku mungkin seperti Yuki dalam Chokoreto yang tidak pandai mengutarakan apa pikiran dan isi hatinya dengan mudah di depan banyak orang, tapi mungkin aku juga tidak sepandai mbak Prisca yang mampu menuliskan kisah Chokoreto menjadi begitu istimewa. :D

Masih tentang mimpi dan kenyataan yang bertolak belakang.

Akai tahu bahwa hatinya tidak berada di kafe cokelat Chokoreto karena setiap hari dia masih menyembunyikan mimpinya untuk bisa berdiri di balairung Eropa yang megah dengan piano grand gagah. Impiannya sejak dulu untuk menjadi pianis seperti yang ibunya impikan juga mau tidak mau harus menunggu atau bahkan ditinggalkan. Akai tidak ingin kehilangan ayah setelah dia kehilangan ibunya. Tapi hari itu dia tahu ada yang berubah dari dirinya, saat tetangga barunya Yuki memainkan piano mesikpun itu hanya simplifikasi dari gubahan ternama.

Yuki, nasibnya malang sekali. Dia tidak mampu mewujudkan mimpinya sendiri. Menjadi penulis ternyata tidak hanya tentang menulis, mengajukan ke penerbit, menunggu berbulan-bulan untuk tahu apakah akan terbit, menghadapi editor yang konon galak, ini itu dan lagi sebagainya, tapi juga membuatnya harus berhadapan dengan orang banyak dalam kegiatan promosi. Yuki phobia untuk berbicara di depan banyak orang, dia akan berubah kaku, seperti robot rusak saat menghadapi banyak orang. Tapi dia ingin sekali karyanya bisa dibaca banyak orang. Dan mau tidak mau dia harus berlatih untuk terbiasa berbicara di depan umum. Dan Kai-kunlah yang membantunya meniti mimpinya perlahan.

Begitu pula Yuki, dia pun membantu Akai untuk mengembalikan mimpi yang sempat Akai ingin lupakan. Karena Yukilah, Kai kembali bermain piano setelah meninggalkannya.

Bersama cokelat panas dan musik klasik, kisah Chokoreto benar-benar khas mbak Prisca. Dengan sentuhan musik klasik dan Rusia, lalu latar Jepangnya membuat Chokoreto enak dibaca. Ada juga quote favoritku. “Kita akan selalu bersama yang kita cintai…” terlepas bagaimana pengertian ‘bersama’ itu ya…aku memaknainya bersama bukan hanya kita hidup bersama orang yang kita cintai secara fisik, namun lebih. :) Hanya saja aku ingin sekali bertanya, mengapa selalu Jepang? Mengapa selalu musik klasik dan Rusia, mbak Pris? Kapan-kapan Korea atau asli Indonesia boleh juga mbak… :D hehehe.. ^^V

Beautiful Mistake. Dreamland dan Chokoreto memang dua kesalahan indah yang pada akhirnya menjadi terasa begitu benar dan indah. Disanalah benang merahnya. :-) Thanks to the duet!

…dan mungkin yang aku pahami dari novela ini adalah…

~~Terkadang kita membutuhkan orang lain untuk mewujudkan mimpi kita.~~